http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/5/27/n1.htm


Penjenguk Soeharto Diusir
Jakarta (Bali Post) -
Seleksi para tamu masih saja dilakukan keluarga Soeharto. Rombongan yang dikoordinatori istri mendiang aktivis HAM Munir, Suciwati, ditolak menjenguk. Ia bersama lebih dari 50 orang korban dan keluarga korban kekerasan Orde Baru diusir dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, Jumat (26/5) kemarin. 

Para penjenguk itu merupakan gabungan dari keluarga Munir, keluarga korban Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, keluarga korban 1965, keluarga korban Kerusuhan Mei 1998, korban Tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli), korban Tanjung Priok dan keluarga korban penculikan. Sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian hitam-hitam.

Tindakan itu dilakukan belasan petugas satuan keamanan (satpam) RSPP dan sejumlah pengawal pribadi keluarga Cendana. Padahal, rombongan itu sudah di lift yang akan membawanya ke lantai lima, tempat perawatan Soeharto. Suciwati dkk. dihalang-halangi masuk lift. Mereka dipaksa keluar dan hanya diizinkan untuk mengisi buku tamu di lobi RSPP. 

Rombongan penjenguk ini sempat protes. Namun, pengawal keluarga Soeharto itu tetap bersikukuh menghalanginya. Pengawal itu meyakinkan bahwa keluarga Cendana pasti menolak kedatangan mereka, karena belum berkoordinasi. Akhirnya, para penjenguk mengalah. Mereka hanya meletakkan karangan bunga di depan pintu lobi RSPP.

Karangan bunga setinggi 150 cm tersebut bertuliskan ''Keluarga Korban Pelanggaran HAM Berdoa Semoga Lekas Sembuh dan Menuntut Soeharto Lekas Diadili''. Setelah dipastikan tak bisa menjenguk, rombongan itu membubarkan diri beberapa menit kemudian. Pengusiran ini merupakan kali kedua bagi penjenguk Soeharto. Sebelumnya, pada 17 Mei lalu, 10 orang dari Front Penegak Tritura (FTP) tidak diizinkan menemui Soeharto.

Menurut Suciwati, kedatangan mereka ke RSPP sebagai bentuk upaya memastikan sejarah dan hukum. Bagi keluarga korban, penguasa Orba tersebut dianggap bersalah dan harus diadili. ''Kami juga ikut mendoakan agar Soeharto lekas sembuh dan bisa diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama berkuasa,'' tuturnya.   

Dirut RSPP dr. Adji Suprajitno mengakui penolakan rombongan Suciwati memang atas kehendak dirinya. Pasalnya, Suciwati dkk. tidak mengantongi izin. ''Kalau rombongan tidak bisa, karena harus seizin saya untuk ketertiban rumah sakit ini. Saya harus lihat dahulu keperluan mereka apa. Tidak semua orang bisa diizinkan menjenguk Pak Harto,'' katanya.  

Berkaitan dengan keadaan kesehatan Soeharto, menurut Adji, terus membaik dan makin stabil. Hal itu ditandai dengan meningkatnya kadar hemoglobin menjadi 10,6 gram persen. Nafsu makannya juga berangsur membaik, tetapi suplai makanan masih dibatasi. Ia hanya diizinkan memakan makanan yang lunak-lunak, agar fungsi pencernaannya tidak mengalami gangguan lagi.

Selain itu, gangguan influenza yang sempat menyerang Soeharto sudah berkurang. Begitu pula dengan intensitas kejang-kejang mioklonik. Dari hasil pemeriksaan tim dokter, fungsi organnya relatif sama seperti hari sebelumnya. Hal itulah yang membuat kepala keluarga Cendana ini tampak lebih tenang. Tetapi, tim dokter masih menjalankan serangkaian tindakan fisioterapi.

Siangnya, Soeharto dijenguk Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah. Menurutnya, kunjungan itu atas alasan kemanusiaan. Soeharto sendiri di ruang perawatan ditemani Mbak Tutut. Ia sedang tidur dan napasnya sudah teratur. Kondisinya lebih baik ketimbang sebelumnya. Selama di RSPP, biaya perwatannya ditanggung sendiri. Depsos tidak akan pernah menanggung biaya pengobatan itu.

''Tidak usah diributkan soal biaya perawatan Pak Harto, karena Depsos sama sekali tidak menanggung biayanya. Selama beliau dirawat, belum ada koordinasi antara Depsos dengan pihak keluarganya,'' jelasnya. 

Diungkapkan, bagi keluarga Cendana, biaya perawatan Soeharto tak jadi masalah. Keluarga itu memiliki dana cukup untuk membayar ongkos rumah sakit. Pihaknya juga tak pernah dihubungi Kejaksaan Agung untuk maksud pemeriksaan kesehatan Soeharto yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Dana Depsos tak pernah keluar untuk keperluan itu. ''Jadi, tak perlu diributkan lagi,'' selorohnya. (kmb3/kmb7)




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke