yg saya posting diatas itu, pakar dari IPB lho ....
masalahnya dia beneran gak punya jiwa entrepreneurship dan punya gak dia
kemampuan membawa produknya ke pasar sebagai solusi, baik dari sisi teknis,
kesehatan dan bisnis ???



On 5/27/06, Saeful Rohman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ya di negeri ini biasanya gledug ces, apal ga itu lho, anjing menggonggong
> kafilah berlalu. Kalau berita formalin dah lewat ya sudah kembali ke asal
> pake formalin lagi. Penyebab utamanya ya selain
> tidak ada alternatif lain juga ongkos produksi yang kelewat gede
> dibandingkan penghasilan yang didapat, solusinya ? kan banyak pakar dari
> berbagai disiplin ilmu di negeri ini.
>
> -----Original Message-----
> From: "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Date: Sat, 27 May 2006 08:10:28 +0700
> Subject: Re: [ppiindia] Makanan Berformalin,Mengapa Marak Lagi?
>
> > sebabnya hanya satu : KARENA TIDAK ADA ALTERNATIF LAIN.
> >
> > kisahnya dibawah ini.  diambil dari blog curhatannya mbak ARis ..
> >
> > *Dibalik Chitosan, IPB, Workshop dan Media *
> > http://nuraulia.multiply.com/journal
> > Jan 25, '06 12:34 AM ET
> >
> >
> > Selasa (25/1), aris mengikuti workshop 'Keamanan Pangan Mie basah :
> > Mencari Jalan keluar dari Masalah Formalin dan Boraks."
> > Workshop yang bagus dan rasanya aris dibahagiakan karena bisa bersua
> > dengan para guru-guruku di Departemen Ilmu Teknologi Pangan (ITP).
> > Workshop ini merupakan kerjasama antara IT, PT ISM Bogasari Flour Mills,
> > Australian Wheat Board dan Jejaring Intejen Pangan BPOM RI.
> >
> >
> >
> > Ah…. sayangnya setelah mengikuti semua itu aris jadi tahu dan semangat
> > aris lunglai. Sesampai di kost aris lebih suka mendekam di tempat tidur,
> > pusing, rasa bersalah dan ah entahlah…. Teman sekamarku menyapa,
> > " Mbak lagi sakit ya." Aku hanya diam. Terlalu banyak yang ingin
> > kukatakan sehingga aku terdiam lama.
> >
> >
> >
> > Pagi ini baru aris bisa mengeluarkan uneg-unegku pada beberapa
> > teman kantorku.
> >
> > I am very guilty. Booming isu chitosan yang mungkin dianggap berkah
> > sebagian orang itu, akulah salah satu yang berkontribusi dalam
> > melakukan kesalahan. Tapi sungguh aris hanya ingin membantu
> > mencari jalan keluar. Ketika temanku sekantor dulu bilang,
> > "Ris kira-kira apa solusi pengawet yang bisa menggantikan Formalin?
> > ". Aris menjawab," Pa klo tidak salah di Fakultas Perikanan sedang
> > meneliti chitosan, dulu sih katanya harga produksinya mahal.
> > Itu lho chitosan yang berasal dari chitin kerang, udang dan ranjungan."
> > Kebetulan setahun silam pasca mengikuti presentasi hasil penelitian para
> > peneliti muda dan mewancarai salah satunya.
> >
> >
> >
> > Yah, aris nggak tahu, secara insting satu-satunya peneliti muda
> > yang kuwawancari itu ya peneliti dibidang chitosan itu seorang.
> > Aris begitu tertarik saat itu dan membuat rilisnya,
> > sayang rilis itu hanya tembus di Pikiran Rakyat. Itu Setahun lalu.
> >
> >
> >
> > Aris tiada menyangka obrolon itu dijadikan referensi Bapak ini
> > untuk menyelidiki siapa sesungguhnya pakar chitosan dan membuat
> > press conference. Aris kemudian bingung kenapa yang keluar nama
> > peneliti chitosan bu Linawati, sedang dulu aris mewancarai seorang
> > bapak-bapak. Tanda Tanya itu hanya kusimpan dalam hati. Ada apa ini?
> > Yah mungkin beliau adalah pembimbing penelitiannya kali atau
> > something like that lah.
> >
> > Hingga pasca press conference, boominglah Chitosan diberbagai
> > media termasuk tv. I am very glad. Aku ikut bahagia bisa membantu.
> >
> >
> >
> > Keesokannya, arislah yang terpilih untuk pergi ke CV.Dinar Tangerang
> > dimana produksi chitosan bersama rekan wartawan dari Bogor.
> > Aris senang sekali melihat aneka rupa hewan laut. Subhanallah indah
> nian,
> > wah luar biasa macam-macem coraknya dan rupa-rupanya.
> > Lebih indah lagi lihat terumbu karang atau coral. Ko bisa ya di laut
> > melambai-lambai lunak berwarna-warni dan mempesona, tapi kalau
> > diangkat ke darat serta mati jadi keras, membatu dan jelek banget.
> > Harganya pun mahal. Coral itu untuk diekspor.
> >
> >
> >
> > Tengah hari banyaklah wartawan berdatangan. Mereka tidak tahu apa
> > yang kita dilakukan sebelumnya. Temanku yang biasa menyiapkan
> > conference press telah membuat suatu scenario. Salahkah dia, tentu
> tidak!.
> > Sebagai seorang humas dia harus bisa mengangkat nama IPB dengan
> > mempersiapkan rekontruksi pembuatan chitosan, bukankah itu tujuan PR
> IPB?
> > Aris hanya menyayangkan keterburuan pakar IPB tentang Chitosan itu, jika
> > belum mengantongi izin dari menteri Kesehatan kenapa mengatakan CV.Dinar
> > siap memproduksi. Kenapa malu untuk berkata tidak! Aris tahu semua
> > rekayasa ini. Hatiku terluka pakar ini belum siap untuk meluncurkan
> > chitosan.
> > Dan banyak hal lain yang aku tak bisa ungkapkan.
> >
> >
> >
> > Memang kata beliau chitosan bisa memperlama waktu simpan bakso,
> > mie basah dll. tapi Amankah Chitosan buatan beliau inih? Kenapa
> > teman-teman wartawan ndak menanyakan ini. Sedih lagi, kenapa ada
> > wartawan yang menulis ini temuan IPB. That's the big mistake. Klo orang
> luar
> >
> > negeri baca tuh berita tertawalah dunia. Chitosan tuh sudah digunakan
> lama
> > di dunia, Indonesia yang gaptek aja. Maaf! Aris merasa aris ikut
> > berkontribusi
> > dalam kesalahan "konspirasi public" yang membuat pedagang tahu, bakso
> dll
> > berbesar hati. Adakah yang bisa merasakan mereka, dagangan mereka nggak
> > laku, gulung tikar. Mereka butuh hidup. Butuh solusi segera.
> Berulangkali
> > Ibu
> > Lina melayani permintaan dari pedagang kapan chitosan beredar. Bagaimana
> > bisa beredar! Pertama surat izin belum keluar, kedua produksi aja baru
> > perdana, ketiga amankah buatan beliau itu.
> >
> >
> >
> > Aris jadi tahu waktu di Workshop hari Selasa itu. Memang ada rasa
> jealous
> > antara ITP dan THP (teknologi hasil Perikanan) tapi bisakah ini
> > diselesaikan.
> > Untuk mengetahui produk itu aman atau tidak, perlu uji penelitian yang
> > membutuhkan waktu minimal 1 tahun. Chitosan akan diransumkan kepada bayi
> > tikus atau bayi kelinci, kemudian dibedah dan diteliti effect
> mengkonsumsi
> > chitosan. Kalau bayi tikusnya belum ada, kita harus mengkawinkan
> tikusnya
> > dulu dan menunggu bayinya lahir. Lebih lama lagi kan. terus itu baru
> hewan
> > percobaan apakah effeknya sama dengan manusia. Ini butuh waktu lama
> lagi.
> > Keburu, kelaparan perut para anak istri pedagang kecil dan UKM kita.
> >
> >
> >
> >
> > Salah satu pembicara dari ITP merekomendasikan tentang perbaikan
> sanitasi
> > produksi UKM dan pedagang dll. Itu betul, tapi ah… bagaimana mereka mau
> > memikirkan sanitasi lha wong mereka bingung apa yang mau dimakan.
> > Sanitasi akan difikirkan bila perut mereka sudah kenyang. Aris lihat
> berita
> > di TV, ada penduduk di Sukabumi makan sehari dengan singkong mentah
> > karena nggak bisa beli minyak dan beras. Duh gusti……… adakah para
> pejabat
> > pemerintah mau merelakan Volvo dan mercy mereka untuk dijual buat
> mereka.
> >
> >
> > Para pembicara dan peserta workshop kemudian membuat rekomendasi
> > pada pemerintah. Pemerintah lagi, pemerintah lagi, apa nggak kapok.
> > Maukah pemerintah peduli pada rakyat, sedang DPR saja dalam voting
> > angket impor beras kalah suara. Nggak bisa membuat impor beras ditolak.
> > Melengkapi keputusan Pemerintah yang sejak awal sangat setuju impor
> beras.
> >
> >
> > Andai pemerintah sejak dulu peduli, maka tak perlu ada bahan pengawet
> > akibat sanitasi yang buruk dan produk makanan kita nggak tahan lama.
> > Soalnya sudah terkontaminasi mikroba dulu sebelum dijual dan dikonsumsi.
> > Pengawet makanan kan tujuannya untuk memperlama dan mempertahankan
> > kualitas produknya. Kalau produk pangan bersih dan higeinis maka mikroba
> > yang tumbuh sedikit, kita tak perlu pengawet. Yah… peningkatan sanitasi
> dan
> > fasilitas butuh dana. Emang pemerintah mau kasih ya? Mengaharapkan
> > pemerintah lagi…… apa nggak salah. Bisa kalau sistemnya nggak sekarang.
> > Andai pemerintah peduli pendidikan masyarakatnya, pasti memurahkan
> > pendidikan. Sehingga masyarakat tahu apa itu formalin, boraks dan
> pewarna
> > tekstil serta bahayanya. Pasti mereka tak mau pakai bahan-bahan kimia
> > berbahaya itu. Semua ini akumulatif dari masalah.
> >
> > Aris kadang lelah mendengar, pakar-pakar di Indonesia selalu berusaha
> > keras mencari solusi setiap akibat dari masalah. tapi tak berusaha keras
> > untuk mencegah termasuk pemerintah. Ah… benarlah kita terlalu banyak
> > berkata-kata yang kurang mumpuni mengubah masyarakat.
> >
> > ===
> >
> > setelah membaca berbagai info diatas, bagaimana pendapat anda
> > ttg isu borax dan chitosan itu ??? aku berani memprediksi dalam
> > 3 bulan ini, di paar pasar, formalin akan dipakai secara bebas lagi.
> >
> >
> > On 5/27/06, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/5/27/o3.htm
> > >
> > >
> > > Makanan Berformalin,Mengapa Marak Lagi?
> > >
> > >
> > > SIDAK Tim Pokja Propinsi Bali yang mengawasi penyalahgunaan formalin
> di
> > > Bangli dan Gianyar hasilnya mengejutkan. Di dua tempat itu masih
> ditemukan
> > > penggunaan formalin dalam mengawetkan makanan. Bahan makanan yang
> mengandung
> > > formalin yakni tahu dan udang.
> > >
> > > Namun, yang tidak mengejutkan adalah tindakan yang dilakukan tim Pokja
> > > yang beranggotakan berbagai instansi. Seperti pelanggaran sebelumnya,
> mereka
> > > yang terbukti menyalahgunakan zat pengawet tersebut hanya diingatkan
> agar
> > > tak mengulangi perbuatannnya. Selain itu, bahan makanan yang tersisa
> > > dimusnahkan. Itu saja!
> > >
> > > Banyak yang menyebutkan penggunaan formalin merupakan dampak dari
> kenaikan
> > > harga BBM yang semakin melambung tinggi. Formalin digunakan industri
> kecil
> > > untuk menekan ongkos produksi serendah mungkin. Dengan begitu produksi
> tetap
> > > berjalan, daya beli masyarakat tetap terjaga meski kualitas produksi
> tidak
> > > lagi mendapat perhatian.
> > >
> > > Namun, bukan berarti tindakan tidak dilakukan, dengan alasan membela
> > > industri kecil. Sebab, dampaknya jauh lebih besar. Utamanya pada
> masyarakat
> > > kecil yang lebih akrab dengan bahan makanan yang berharga murah.
> > >
> > > Dari pengulangan temuan-temuan penggunaan formalin, semestinya
> pemerintah
> > > memikirkan kembali langkah-langkah penindakan yang lebih tegas.
> Pemerintah
> > > melalui aparat terkait dapat melakukan tindakan tegas terhadap pelaku
> > > industri yang menggunakan zat-zat pengawet yang membahayakan
> masyarakat.
> > > Pelaku dapat dijerat dengan undang-undang tentang perlindungan
> konsumen
> > > dengan pasal 8 ayat 1 dengan sanksi penjara 5 tahun dan denda Rp 2
> milyar.
> > >
> > > Selain melakukan pengawasan terhadap penggunaan formalin, pemerintah
> harus
> > > setiap saat mensosialisasikan bahaya penggunaan formalin bagi
> kesehatan.
> > > Demikian juga penyuluhan pengenalan ciri-ciri makanan yang mengandung
> > > formalin.
> > >
> > > Namun yang terjadi saat ini, intensitas pengawasan yang dilakukan
> hanya
> > > tiga bulan sekali. Itu pun hanya menyusuri pasar-pasar tradisional.
> > > Sasarannya tentu pedagang kecil yang tak tahu-menahu tentang
> penggunaan
> > > formalin.
> > >
> > > Kalau kita perhatikan ada tiga hal mengapa penggunaan formalin masih
> > > marak. Pertama, lemahnya menindakan hukum terhadap pengusaha yang
> terbukti
> > > menggunakan formalin. Kedua, rendahnya intensitas sidak yang dilakukan
> tim
> > > propinsi maupun kabupaten, sehingga membuka peluang pengusaha untuk
> main
> > > kucing-kucingan. Ketiga, tiadanya daftar dan alamat pengusaha yang
> > > memproduksi bahan makanan yang biasa menggunakan pengawet. Ketiadaan
> data
> > > ini karena lemahnya pengawasan dan pelaporan yang dilakukan aparat
> terbawah,
> > > utamanya kepala desa.
> > >
> > > Oleh karena itu, pemerintah melalui tim Pokja sudah semestinya
> melakukan
> > > penindakan utamanya pada produsen bahan makanan yang berformalin.
> Dengan
> > > penegakan tersebut diharapkan akan menimbulkan efek jera, baik bagi
> pelaku
> > > maupun pengusaha sejenis yang berpotensi menggunakan formalin.
> > >
> > > Namun, kita juga akui keterbatasan itu dikarenakan rendahnya anggaran
> > > untuk mendukung kegiatan tersebut. Sebab, secara umum anggaran
> kesehatan
> > > yang dianggarkan dalam APBD Bali dan kabupaten/kota jauh lebih kecil
> > > daripada anggaran sektor lainnya.
> > >
> > > Padahal, dalam kondisi yang ''gawat'' seperti saat ini -- di mana
> > > penggunaan formalin masih banyak -- semestinya pemerintah menyediakan
> > > anggaran khusus dalam menunjang pengawasan. Sebab, tanpa pengawasan
> yang
> > > berkelanjutan, penggunaan formalin akan terus marak yang pada akhirnya
> akan
> > > menurunkan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
> > >
> > > Meningkatkan anggaran ini tidak lepas dari kepedulian DPRD untuk
> > > ''memaksa'' eksekutif melakukan itu. Setidaknya DPRD harus berani
> memotong
> > > anggaran para pejabat atau anggota DPRD yang tidak begitu penting.
> Seperti
> > > studi banding yang diprogramkan belasan kali dalam setahun. Ini akan
> sangat
> > > membantu dalam memberantas penyalahgunaan formalin pada makanan.
> > >
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> ***************************************************************************
> > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia
> > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> > >
> > >
> ***************************************************************************
> > >
> __________________________________________________________________________
> > > Mohon Perhatian:
> > >
> > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> ***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> ***************************************************************************
> >
> __________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke