Pseudo-Reforms
oleh Awidya Santikajaya
Sabtu, 27-Mei-2006, 02:20:30
"Tidak ada yang bisa disalahkan. Semua itu adalah kesalahan kolektif bangsa. Perkataan Amien Rais pada 2002 itu perlu dijadikan sebagai awal untuk melihat seberapa jauh kita memaknai kegagalan reformasi. Sering kita mencari kambing hitam atas kematian reformasi. Padahal, jangan-jangan kebuntuan reformasi justru akibat kesalahan kita.
Ketika pemerintahan Soeharto tumbang delapan tahun lalu, rakyat Indonesia memiliki ekspektasi yang begitu besar akan terjadinya perubahan signifikan yang berpihak kepada rakyat. Tetapi, kenyataan yang jauh dari harapan menyebabkan euforia berubah menjadi kekecewaan yang begitu mendalam.
Tindakan frustrasi yang berwujud berbagai kerusuhan pun terjadi seperti dalam kasus pilkada Tuban beberapa waktu lalu. Selaras dengan itu, kerinduan terhadap hadirnya kembali rezim otoriter yang dianggap lebih aman dan nyaman muncul di kalangan khalayak. Terlihat bahwa gairah masyarakat dalam menyalakan api reformasi semakin tergerus.
Menafikan Aspirasi
Begitu banyaknya aksi ekstraparlementer berwujud demonstrasi menunjukkan bahwa reformasi masih menafikan keran aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Reformasi dan agendanya selama ini hanya dijalankan oleh dan untuk kepentingan segelintir orang. Kaum-kaum yang berada pada exclusive claves mengobarkan neoaristokrasi demi melindungi kepentingan mereka.
Kondisi yang asimetris ini menyebabkan reformasi yang terjadi hanya mencakup pada perubahan tingkat institusional belaka. Begitu banyak lembaga dan mekanisme baru dalam mewujudkan demokrasi. Tetapi, hal itu tidak disertai revolusi berpikir dan perubahan kultural yang memadai.
Misalnya, mudah bagi kita melihat begitu banyak partai politik. Tetapi, tetap saja budaya otoriter mendominasi semua partai. Belum lagi kewajiban berkomunikasi dengan masyarakat sering diabaikan.
Akibatnya, cita-cita reformasi, yaitu untuk mewujudkan kondisi sosial yang lebih baik tidak lagi menjadi prioritas. Reformasi juga diwarnai membeludaknya lembaga baru yang berjumlah sekitar lima puluh. Hanya prestasi ini haruslah dievaluasi dengan melihat seberapa jauh efektivitas lembaga-lembaga itu dalam perbaikan bangsa.
Reformasi yang terjadi di Indonesia adalah reformasi prosedural, bukan substansi. Hal itu dibuktikan dengan pemilu multipartai yang ternyata tidak otomatis menghasilkan pemimpin yang bisa melakukan transformasi sosial dan mengkhidmatkan diri pada kepentingan rakyat. Partisipasi rakyat dalam proses reformasi dan demokrasi disalahgunakan sebagai bahan legalisasi status quo belaka.
Hilangnya Spirit
Reformasi semu diakibatkan tidak adanya kemauan untuk memunculkan solusi bersama atas segala masalah bangsa. Reformasi hanya dilakukan setengah-setengah tanpa arah yang jelas.
Hal itu terjadi karena konflik kepentingan antarkelompok yang semakin menjadi-jadi. Setiap komponen bangsa sibuk menunjukkan eksistensinya. Akibatnya, agenda reformasi yang demikian berat justru terdesak oleh isu-isu populer yang sebetulnya tidak menyentuh substansi permasalahan bangsa. Yang justru berkembang adalah fanatisme sempit berkedok agama, suku, dan kedaerahan. Dari sinilah timbul ketidakpercayaan antarberbagai pihak yang mengganggu agenda reformasi.
Dalam era reformasi sejujurnya kita telah kehilangan karakter keindonesiaan. Reformasi diidentikkan dengan kecenderungan menampilkan identitas yang berbau lokal dan eksklusif. Padahal, tanpa adanya kebanggaan sebagai sebuah bangsa, mustahil bagi kita untuk bangkit. Pada puncaknya disintegrasi bangsa tinggal menunggu waktu.
Menegaskan kembali identitas adalah hal yang wajib segera dilakukan. Tentu kita tidak ingin terjebak seperti Uni Soviet yang gara-gara reformasi politik ekonominya (atau lebih populer dengan sebutan perestroika dan glasnost) pecah berkeping-keping. Sebaliknya, perlu bagi kita menengok China yang melakukan reformasi ekonomi dengan gemilang karena ada identitas yang dipegang dengan kuat, yaitu sosialisme politik.
Bung Karno dengan segala kekurangannya pernah membangun karakter bangsa yang demikian kuat, sehingga Indonesia begitu disegani berbagai bangsa. Sekarang hal itu susah ditemui lagi. Citra bangsa yang penuh toleransi, menjunjung persatuan, gotong-royong, berketuhanan, dan sebagainya telah luntur.
Rekonstruksi
Kegagalan reformasi adalah resultan dari tak jelasnya karakter bangsa. Jika Singapura memiliki etos kerja keras, Jepang memiliki etos disiplin, dapat dikatakan bahwa Indonesia tidaklah memiliki etos sama sekali. Tak heran agenda reformasi yang telah direncanakan dan dibangun tidak segera ditindaklanjuti dengan serius.
Membangun karakter bangsa membutuhkan kerja keras dan konsistensi. Kultur kebaikan yang bersifat universal yang pernah dibangga-banggakan haruslah dipopulerkan kembali. Aplikasi wawasan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari adalah titik tolak mengembalikan reformasi pada khittah-nya, jauh dari kepentingan pragmatis.
Pesimistis rasanya jika transformasi kultural diemban oleh generasi uzur. Mahasiswa sebagai penarik gerbong reformasi haruslah menumbuhkan semangat itu dengan tidak melulu ber-patronase ria. Sudah saatnya kita melaksanakan reformasi dengan ketulusan dan kebersamaan, bukan saling menyalahkan.
*Penulis adalah mahasiswa Fekon UI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

