dari 3000 orang.
On 5/27/06, imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> terimakasih atas tanggapan dari mbak fau:
>
> memang benar seperti yang di ungkapkan oleh mbak fau,
> soal bangunan tahan gempa sebetulnya sudah "terfikirkan"
> oleh kita, misalnya dari artikel ini:
>
> <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/10/daerah/1471634.htm>
>
> ( juga di situs-2 Litbang Departemen Pranswil? / PU )
>
> tapi masalahnya memang susah di "enforcement" nya.
> Lha wong bangunan sekolah-2 SD saja banyak yang
> runtuh ( tanpa ada gempa pun ), apalagi mengharapkan
> penerapan standar tsb. untuk rumah-2 penduduk.
>
> Seperti kita ketahui, untuk mitigasi bencana gempa,
>
> - sumber bencana/gempa sudah tidak bisa kita apa-2
> kan lagi, karena sudah merupakan nature bumi.
> Dalam kasus bencana banjir, kita masih bisa
> melakukan "modifikiasi" DAS (Daerah Aliran Sungai)
> dalam batas-2 tertentu untuk mengurangi dampak banjir.
>
> - menghindari daerah gempa juga susah, otherwise
> separuh pulau Jawa (bag. selatan) dan separuh
> pulau Sumatera (pesisir pantai barat) harus kita
> kosongkan.
>
> - untuk bencana gempa, sebagian besar jatuhnya korban
> adalah karena tertimpa bangunan yang notabene
> adalah "artifak" buatan manusia sendiri (bukan
> "artifak alam/buatan NYA"), jadi seharusnya ada
> di dalam "kontrol" kita), yaitu dengan menerapkan
> desain bangunan yang lebih tahan terhadap gempa.
>
> Masalahnya apakah kita perlu menunggu lebih banyak
> "schock therapy" semacam ini (yaitu dengan jatuhnya
> ribuan korban) lagi sampai kita semua tergerak untuk
> memprioritaskan pembangunan rumah tahan gempa.
>
> Untuk kasus Iran misalnya, melihat begitu banyaknya
> korban gempa di Iran (dalam range 10.000 an atau lebih
> yang tewas) di tahun 1998-2000, itu seharusnya menjadi
> prioritas agenda pemerintah Iran. Saya berharap bencana
> semacam itu tidak akan terjadi lagi, tetapi seandainya
> hal yang sama persis terulang lagi di Iran dan dengan
> jumlah korban yang sama banyaknya, lalu pemerintah Iran
> kembali nanti baru "terkaget-kaget" lagi dan tergopoh-2
> lagi melakukan pertolongan (sambil meminta bantuan negara-2
> lain), maka saya khawatir, kebijakan pemerintahan Ahmadenijad
> ini tergolong "zalim", karena menaruh prioritas pembangunan
> di tempat yang "salah". Bencana gempa besar serupa juga
> menimpa Turki di tahun-2 yang sama dengan jumlah korban
> yang juga sangat besar.
>
> Kita bisa membandingkan bencana gempa yang besar yang
> pernah terjadi di kota sebesar Los Angeles, juga di
> Jepang; nyatanya jumlah korban nya relatif kecil waktu
> itu, padahal itu menimpa kota sebesar itu. Oki saya
> cenderung di sini ada faktor "kelalaian manusia"; dalam
> kasus Iran dan Turki: "kelalaian" pemerintah Iran dan
> Turki.
>
> ***
>
> Kalau saya gunakan intuisi saya ( yang awam dalam soal
> teknik sipil/bangunan ): saya akan menganjurkan pemerintah
> dalam hal ini Departemen Prasarana Wilayah dan Pemukiman
> ( Dep Praswilkim? ) mencoba "memanfaatkan" momen ini sebagi
> "schock therapy" untuk memotivasi masyarakat agar mereka
> setelah ini siap untuk menerapkan aturan standar bangunan
> yang lebih baik.
>
> Mumpung saat ini bangunan-2 yang rusak "belum sempat"
> diperbaiki, kalau saya Menteri Praswilkim, saya akan
> manfaatkan momen ini untuk melakukan survey / pengamatan
> data lapangan ( yang mungkin sulit didapatkan di laboratorium )
> untuk meng-identifikasi:
>
> => bangunan-2 penduduk yang seperti apa yang
> secara statistik terbukti "tahan gempa"
>
> => bangunan-2 penduduk yang seperti apa yang
> secara statistik terbukti tidak tahan gempa
>
> Benar, bahwa ilmu & teknologi bangunan tahan gempa
> mrpk ilmu yang saat ini sudah cukup matang, litarturnya
> cukup banyak, contoh-2 desain/prototip yang bisa ditiru
> cukup banyak.
>
> Tetapi ini mrpk kesempatan untuk mengumpulkan sampel data
> yang benar-2 riil dari lapangan dan dalam konteks Indonesia
> ( dari segi lokasi/geografis/geologi, juga dari segi
> arsitektur & tingkat sosial-ekonomi nya ). Siapa tahu
> dari sini kita bisa "menemukan" struktur bangunan "typical"
> Indonesia (typical artinya bangunan tsb. bisa dianggap
> sesuai dengan tingkat rata-2 sosial ekonomi rakyat Indonesia)
> yang relatif "tahan gempa"; mungkin tinggal di modifikasi
> sedikit untuk menambah "margin keamanannya".
>
> Itu bisa dilakukan dengan mengumpulkan foto-2 sampel berbagai
> bangunan di daerah bencana, baik yang rusak dan yang tidak
> rusak. Dengan perangkat teknologi foto digital serta perangkat
> GPS, data-2 ini nanti akan bisa di integrasikan menjadi suatu
> GIS (Geographycal Information System) yang bisa di analisis
> secara komkprehensif oleh berbagai pakar untuk perumusan
> kebijakan.
>
> * Soal kabar yang direlay om Roy, mungkin coba kita
> tunggu saja konfirmasi dari sumber lain
>
>
> ----( IM )------------------------------------
>
> --- In "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > --- In [email protected], "imuchtarom" <imuchtarom@> wrote:
> > >
> > > Jadi mengapa pemerintah & penduduk negeri-2 tersebut
> > > tidak pernah berfikir untuk melakukan lanngkah-2
> > > mitigasi terhadap resiko bencana gempa bumi:
> > > dengan membuat bangunan rumah yang lebih tahan
> > > gempa.
> > >
> > > Kesimpulan: harusnya dalam soal standar bangunan
> > > tahan gempa ini kita bisa belajar banyak
> > > dari Jepang, negeri yang juga terletak
> > > di dekat patahan/fault dan punya frekuensi
> > > kejadian gempa yang juga tinggi.
> > >
> > >
> >
> > Bukan gak terpikir rasanya... kita ada BMG, PPGL, Litbang Geologi,
> > LIPI, BPPT, dll...
> > tapi ya gak prioritas, krn bencana datang tidak tiap minggu/bulan
> > (terduga), kemudian perlu biaya besar (termasuk sosialisasi)..
> setau
> > saya ITB ada bikin konstruksi rumah murah "tahan gempa" tapi gak
> > pernah denger follow-up nya.
> > Dulu waktu masih banyak ngambil mata kuliah geologi (struktur dan
> > mekanisme), dosen saya sering mengeluh, susah banget untuk meminta
> > penduduk pindah dari daerah rawan longsor di bbrp kabupaten di
> Jabar,
> > meski dlm banyak kasus, tanah pengganti sudah disiapkan pemda
> setempat.
> >
> > Gempa tektonik Jogja ini (6,2 RS kalau menurut USGS
> > http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/eqinthenews/2006/usneb6/)
> > sebenarnya tidak sangat besar (kategori strong: 6-6,9, major:7-7.9,
> > great: =>8). Di Jepang seringkali saya merasakan gempa.. antara 4-
> 6,9
> > (moga2 nggak ada lagi yang berbahaya). Tp biasanya sedikit korban.
> Krn
> > struktur bangunan yang lentur thd gempa. Dan penduduk yang siap
> > mengantisipasi sehingga meminimalkan damage (sepertinya setiap
> orang
> > disini sudah pernah melakukan latihan evakuasi dan fire-drill).
> Tapi
> > dulu Jepang pernah mencatat bbrp kali loss yg besar krn major/great
> > earthquake (Tokyo, Kobe).
> >
> > Sedihnya lagi, di Indonesia suka banget orang menyebar isu... isu
> > tsunami-lah.., si Om Roy Suryo kirim sms ke media massa kalau
> korban
> > mencapai 1,429 orang... apa maksudnya?
> >
> > Semoga pemerintah bisa lebih tanggap. Semoga Allah menolong
> saudara2
> > disana yg terkena musibah.
> >
> > salam duka,
> >
> > fau
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

