Jelajah Nusantara, Radio Nederland Wereldomroep, 18-05-2006

Menggali Kebenaran

Aboeprijadi Santosa dan Lea Pamungkas

Jerman pernah menanggung beban masa silam yang carut marut : rezim NAZI,
perang dunia, pembelahan bangsa, dan rezim totaliter di Jerman Timur.
Beban tersebut dapat dihadapi dengan terbuka, seperti di Jerman, atau
dengan menggelar proses mencari kebenaran dan rekonsiliasi seperti
dipelopori Afrika Selatannya Presiden Nelson Mandela. Di Indonesia,
belum ada kesadaran akan pentingnya pelurusan sejarah, para pelanggar
HAM di rezim lama masih berkuasa, dan stigmatisasi terhadap para korban
masih juga terjadi.

Membongkar masa lalu
Akhir bulan April lalu di Jerman, diselenggarakan satu konperensi
menarik dengan tajuk  "Dealing With A Burdened Past - Transitional
Justice and Democratization". Konperensi ini semacam studi banding bagi
negara-negara yang memiliki beban masa lalu. Banyak negara mewarisi
dampak dari tragedi pembantaian dan derita kolektif di masa silam akibat
perang, genosida, perang saudara, dan kehidupan di bawah kediktaturan
mau pun sistem totaliter. Indonesia, Afrika Selatan, Kamboja, dan Timor
Leste adalah sebagian contoh negara-negara dengan beban tersebut.

Pemrakarsa konperensi, Watch Indonesia ! - LSM yang bersimpati pada
persoalan HAM di Indonesia, bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung.
Peserta dari Indonesia antara lain Romo Bashkara Wardaya dari Pusdek,
Pusat Sejarah dan Etika Politik, Yogyakarta, dan Fadjrul Rachman,
kandidat anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Indonesia. Dari
Timor Leste, Jose Caetano Guterres, mantan staf Komisi Kebenaran,
Rekonsiliasi dan Penerimaan CAVR, serta Helen Jarvis, dari Pengadilan
Luar Biasa Kamboja.

Dianggap panas dan berbahaya
"Kami sudah lama perduli dengan apa yang dikatakan pelurusan sejarah di
Indonesia, mulai 1965 sampai sekarang, "jelas Alex Flor dari Watch
Indonesia ! "Dalam upaya ini banyak masalah yang berlum terdiskusikan
secara internasional karena  masih banyak orang mengira hal ini masih
terlalu panas dan berbahaya," demikian Alex Flor menjelaskan bagaimana
ide awal konperensi ini.

Menurut  Flor dari Watch Indonesia ! di Jerman banyak pakar-pakar yang
sangat aktif mengikuti proses-proses perdamaian dan pelurusan sejarah
seperti proses yang berlangsung di Guatemala, Chili, Afrika Selatan, dan
banyak lagi. "Sementara di Indonesia masih belum, karenanya kami
berpikir harus berbuat sesuatu. Padahal, salah satu massacre terbesar di
abad lalu terjadi di Indonesia tahun 1965-66. Diperkirakan paling
sedikit 500 ribu orang terbunuh. Bahkan Sarwo (Mayor,pen.) Edhie
mengatakan sampai 3 juta !"

Dua sejarah yang diluruskan
Di Jerman sendiri ada dua sejarah yang perlu diluruskan dan dibongkar
yakni Diktatur NAZI, dan sistem totaliter di Jerman Timur. Keduanya
memiliki kesamaan dan perbedaan yang menarik. Yang pasti, tambah Flor,
tidak ada satu negara di manapun di dunia yang antara pro dan kontra
berada dalam satu negeri.
  "Yang menarik lagi di sini, pelaku korban-korban diktatur yang satu
adalah korban diktatur yang lain," kata Flor. Ia mencontohkan Mantan
Mentri Milke adalah pengungsi dari Diktatur NAZI, tetapi dia pun pelaku
terbesar di Jerman Timur.

Perlu 30 tahun
Upaya meluruskan sejarah di Jerman, dilakukan dengan berbagai cara. Di
berbagai daerah terdapat tempat-tempat yang diakui negara sebagai
memorial sight. Dan hal ini berasal dari perjuangan masyarakat selama 20
tahun. Tempat-tempat ini kini menjadi kebanggaan negara.

Menurut Flor, pelajaran terpenting dari upaya pelurusan sejarah Jerman
adalah adanya Tribunal Neurenberg kepada para penjahat NAZI setelah
Perang Dunia II. Yang dilakukan oleh pasukan sekutu AS, Rusia, Inggris,
dan Prenacis. "Menurut saya pribadi, yang paling penting adalah mencari
kebenaran. Dan di sini kita mendiskusikan pelbagai metode, baik lewat
jalur hukum, pengadilan, komisi kebenaran, atau berbagai inisiatif
masyarakat sendiri lewat dokumentasi, memorial services, dan lainnya,"
jelas Flor.
Upaya pelurusan sejarah di Jerman memerlukan waktu 30 tahun untuk sampai
pada diskusi umum atau diskurs umum tentang masa-masa gelap tersebut.
"Kami memerlukan waktu 30 tahun pula, agar tema-tema tersebut masuk
dalam masyarakat dan buku-buku sekolah," lanjut Flor.

Keterusterangan sejarah
Keterbukaan Jerman akan 'cacad' masa lalunya mengesankan Romo Bashkara
Wardaya "Bagi saya ini sesuatu yang baru. Dengan kata lain orang Jerman
dengan terbuka mengarakan bahwa mereka pun mempunyai beban masa lalu.
Yang dalam arti tertentu, beban tersebut lebih besar dari negara-negara
di Asia. Tetapi yang paling mengesankan bagi saya adalah keterusterangan
ini. Mereka seakan hendak mengatakan janganlah takut menghadapi
kebenaran, sebab kami pun tengah berjuang untuk itu"

Menurut Wardaya dari dari Pusdek, Pusat Sejarah dan Etika Politik,
Yogyakarta; yang kini tengah aktif menghimpun kisah dari para korban dan
pelaku Peristiwa 1965 - 66 ini, ada perbedaan mendasar antara upaya
pelurusan sejarah di Jerman dengan apa yang terjadi di Indonesia. "Di
Indonesia, hal ini masih mau ditutup-tutupi. Para pelaku masih terus
menghindar, seperti terlihat dalam kasus Timor Timur. Selain itu proses
diskriminasi, stigmatisasi dan marjinalisasi masih terus berlangsung."

Beban sejarah adalah tabu
Dengan kata lain untuk membicarakan beban sejarah adalah tabu di
Indonesia. Dan ini bukan cuma berlaku secara kultural, tetapi juga
secara politis. Bagi Wardaya ini dikarenakan pihak militer yang dulu
adalah pelaku utama masih belum mau mengakui, dan masih berkuasa sampai
sekarang. Sementara masyarakat sendiri sebenarnya juga terlibat dalam
pembunuhan-pembunuhan yang terjadi ( dalam Tragedi 1965-66, pen.), baik
kaum agama maupun pemuda.

Sejauh ini usaha-usaha ke arah tersebut, masih dibilang kecil. Salah
satunya riset dilakukan Pusdek bersama berbagai lembaga lain antaranya
ElSAM, Pakorba, dan pemuda NU. Mereka tengah menggali kembali
cerita-cerita yang selama ini ditabukan. "Ini adalah cerita para korban,
pelaku, atau saksi mata dari Peristiwa 1965-66," kata Wardaya.

Respon luar biasa
Upaya penggalian kisah-kisah tersebut, menurut Wardaya, mendapatkan
respons yang luar biasa. Manakala Pusdek melakukan acara bedah buku,
diskusi dan lain-lain, beritanya ternyata menyebar. "Dan ternyata yang
datang, bukan cuma untuk seminar atau bedah buku tetapi ingin bercerita,
menyerahkan manuskrip, ada pula yang mengusulkan bahwa mereka
membutuhkan forum."

Ia mengambil pun contoh acara "Temu Rindu Ibu-ibu" pada bulan Desember
lalu. Pertemuan ini ditujukan untuk para perempuan korban 1965-66. Pada
hari-hari-hari pendaftaran pertama yang terkumpul hanya 40 orang. Tapi
hari demi hari, jumlah ini makin membengkak, hingga pada hari terakhir
terkumpul lebih dari 400 orang.

"Mereka datang spontan. Kami tidak membuat kampanyen lewat media massa.
Dan ini membuktikan bahwa yang dibutuhkan bukanlah sekadar penyembuhan
individual. Tetapi bangsa ini sedang rindu untuk berbicara tentang masa
lalu"
Ketika disinggung tentang tujuan utama Pusdek dalam upaya pelurusan
sejarah, Wardaya mengatakan bahwa tujuan final adalah rekonsiliasi.
"Tetapi bagi kami yang penting adalah terungkap dulu, suatu proses truth
telling. Karena rekonsiliasi, perlu prakondisi yakni truth telling ini,"
ungkapnya.

Wawancara sepenuhnya dapat anda ikuti dalam acara Jelajah Nusantara,
Radio Nederland Wereldomroep 9, 16, 23 & 30 Mei 2006.
--

***********************************************************************
Watch Indonesia! e.V.                 Tel./Fax +49-30-698 179 38
Planufer 92 d                         e-mail: [EMAIL PROTECTED]
10967 Berlin                          http://home.snafu.de/watchin

Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10)
IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF

Bitte unterstützen Sie unsere Arbeit durch eine Spende.
Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinnützig und besonders
förderungswürdig anerkannt.
***********************************************************************






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke