"EKSOTIKA TIMUR" ATAU "JIWA NUSANTARA".
Istilah "Eksotika Timur" adalah istilah yang digunakan oleh Lan Fang dalam artikelnya "Dari Lan Fang Di Negara Seni-Sastra-Budaya" |[milis apresiasi-sastra, 28 Mei 2006]. Kalau pemahamanku benar, dengan istilah ini, ide sentral Lan Fang sebenarnya adalah menganjurkan dan membela ide "bhinneka tunggal ika", "kemajemukan" atau dengan istilah mentereng berbau asing disebut juga "pluralisme" atau "pluralitas". Pemahaman ini kudapatkan dari kalimat Lan Fang dalam artikel di atas:
[.......] bukankah akan sangat menyenangkan ketika ada book fair yang diadakan penerbit Islam, ternyata salah satu pengarangnya adalah orang Cina. Ini sungguh kolaborasi eksotika timur yang aku rindu-rindukan. Inilah jiwa nusantara yang bersahaja, yang saling melihat bahwa perbedaan itu adalah keindahan".
Eksotika dipandang oleh Lan Fang sebagai suatu tingkat estetika yang aku sepakati. Dan "Eksotika Timur" juga disebut oleh Lan Fang "jiwa nusantara". Melihat dan membaca keadaan tanahair bahkan dunia sekarang, agaknya apa yang diajukan oleh Lan Fang ini menyentuh soal mendasar. Kekerasan berlangsung di mana-mana dan dijadikan jalan pintas . Sampai - sampai ada kelompok yang secara illegal bertindak sebagai "polisi moral" -- ujud dari ketiadaberdayaan negara yang menyandang nama "republik" dan "Indonesia" tapi secara hakiki dan praktek telah mengingkari nilai-nilai "republiken" dan "kindonesiaan". Republik dan Indonesia ingin dijadikan ruang pengap. Jendela dan pintunya tertutup hingga bau apak di isi oleh kumanfikan nilai tunggal yang ingin dipaksakan. Barangkali masalah pokok negeri ini terdapat pada pengingkaran akan republik dan keindonesiaan yang merupakan serangkaian nilai itu sendiri yang membuat anak negeri dan bangsa jadi bahan "olok-olok" orang luar, hilang
martabat dan roh, mengalami "erosi" jika menggunakan istilah Lan Fang.
Hanya saja hipotesa ini kembali aku pertanyakan ketika melihat solidaritas sesama anak negeri saat dihadapi dengan Petaka Yogya. Kupertanyakan ulang karena dari solidaritas spontan berbagai kalangan, di negeri ini sesungguhnya masih ada manusia. Inti dari perlawanan terhadap RUU-APP pun kukira berujung pada kesetiaan pada kemajemukan, pada republik dan keindonesiaan sebagai rangkaian nilai. Di sinilah "jasa" dari RUU-APP yang tidak mengancam keragaman budaya. Pada saat merasakan adanya ancaman, dengan sisa tenaga yang ada, orang-orang bangkit melawan membela diri sampai-sampai ada daerah yang tegas berkata jika tetap mau dipaksakan sebagai UU kami akan meninggalkan Indonesia.
Adanya solidaritas spontan di luar elite negara dan masyarakat ketika menghadapi Petaka atau Musibah Yogya, juga dalam penentangan terhadap RUU-APP, sekali lagi, saya masih melihat bahwa anak negeri ini masih punya rasa kemanusiaan dan roh kemanusiaan yang memahami arti kemajemukan sebagai suatu "keindahan" dan kenyataan. Etnik, bangsa, agama hanyalah perbatasan semu bagi kemanusiaan yang tunggal.
Berbicara soal "paksa-memaksa" , apalagi dalam soal UU, maka suka tidak suka kita melihat kepada peran pemegang kekuasaan politik. Para elitenya. Untuk rinci mengenal latarbelakang keadaan begini barangkali kita ditagih mempelajari sejarah dan politik, termasuk sejarah orang-orang kunci elite penguasa politik dari kurun ke kurun sejarah Republik dan Indonesia. Kekuasaan politik ditunjukkan oleh sejarah mempunyai peranan penting dalam menentukan wajah budaya, termasuk sastra-seni dominan pada suatu waktu. Wajah sastra-seni zaman Soekarno berbeda dengan wajah sastra-seni pada masa Orba. Juga pola pikir dan mentalitas manusia yang menjadi warga negara Republik, termasuk masalah kepura-puraan yang diajukan oleh Lan Fang. Menjadi pura-pura atau munafik, memang bisa muncul dari kesadaran dulu, lalu setelah membaca situasi ia menjadi pura-pura. Kepura-puraan begini kukatakan sebagai suatu cara berkelit untuk menolak kalah, tapi tidak mengorbankan nilai seperti yang dilakukan
oleh Ignacy Sachs, ekonom Brasilia asal Polandia ketika menghadapi diktatur militer di Brasilia. Di samping itu ada jenis lain, yaitu ketakutan, ketidaktahuan dan pembudakan. Selama tiga dasarwarsa lebih di negeri ini diajarkan hanya boleh mengatakan "ya" sedangkan "tidak" dipandang sebagai subversif dengan kapal sebagai taruhannya.
Apa hubungan masalah nilai republiken dan keindonesiaan dengan sastra, dengan dunia karang-mengarang? Apakah mencari kaitan nilai republiken dan keindonesiaan, terlalu dicari-cari?
Aku memahami apa yang dikatakan dengan pahit oleh Lan Fang dalam baris-baris berikut:
"Jadi lebih baik, kita sepakat menyebutku sebagai pelamun usang yang mimpi kaya raya dari mengarang-ngarang yang ada ditiadakan dan yang tiada diada-adakan. (namanya kan pengarang...jadi suka-suka aku dong...mau ngarang-ngarang yang gimana...).
Mungkin mengarang tentang wakil bupati yang naik pangkat menjadi bupati, wakil walikota yang naik pangkat jadi walikota, wakil gubernur yang naik pangkat jadi gubernur, wakil presiden yang naik pangkat jadi presiden. Tapi..., ada yang tidak mau naik pangkat! WAKIL RAKYAT TIDAK MAU NAIK PANGKAT JADI RAKYAT!!
Entahlah, apakah introku di atas itu termasuk mengarang atau bercanda. Karena kedua hal itu adalah bagian dari pilihan hidup. Hidup memberikan pilihan bantingan dan tikungan yang tidak mungkin kita elakkan. Ketika yang pahit dan tajam itu memaksa kita untuk memilih, maka pilihannya cuma mengarang atau bercanda. Mencoba mencandai sesuatu yang hancur lebur, remuk redam, babak belur, luluh lantak, penyettttt...nyetttt...nyettttt...klepekkk...klepekkk... menjadi sesuatu yang satire sehingga hati bisa lebih legawa untuk menerimanya sebagai suatu dinamika hidup yang pasti akan datang dan pergi. Lalu mengkamuflasekannya dengan berandai-andai di dalam karang mengarang. Dan dua-dua itu aku lakukan. Setelah aku utak utik, keduanya hanya mempunyai satu kunci yang sama : KEPURA-PURAAN" .
Jika kita bicara tentang lamunan dan mimpi, kita mungkin perlu menanyakan bagaimana lamunan dan mimpi itu bisa lahir. Apakah lamunan dan mimpi itu bisa muncul tanpa dasar sosial? Kepura-puraan, mentalitas budak, takut dan sejenisnya, apakah semuanya lahir begitu saja tanpa dasar sosial, lepas dari kenyataan? Aku mempertanyakan hal ini dengan keraguan besar. Ambil contoh novel Lan Fang "Kembang Gunung Purei" yang ber-setting-kan Kalimantan dengan latarbelakang konflik sosial di Kalimantan. Mungkinkah "mimpi" dan "lamunan" Lan Fang tentang masalah ini muncul lepas dari keadaan sosial yang berlangsung? Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa "lamunan" dan "mimpi" tidak turun dari langit tapi punya dasar sosial. Karena itu karya sastra bisa jadi penuntun bagi sejarawan dan ilmuwan-ilmuwan sosial untuk melakukan penelitian lanjut. Bahkan seorang sejarawan Afrika Selatan dengan tandas mengatakan legenda, termasuk sastra lisan, bisa dan layak dijadikan salah satu sumber sejarah.
Apa pun bentuk dan isi suatu karya, dari segi ini aku masih melihat adanya unsur nilai, mimpi tentang esok yang lebih baik dan terus membaik. Nilai adalah soal sentral bagi sastrawan [tanpa mengabaikan ketrampilan tekhnis menulis!]. Sampai tidaknya seorang penulis pada tingkat ini menunjukkan bahwa sang penulis sudah melampaui atau belum, tingkat penulis instingtif dan sudah memasuki taraf penulis sadar. Lan Fang dari pengamatanku, seperti halnya dengan May Swan dengan kumpulan cerpennya "Matahari Di Tengah Malam" [Penerbit Doea_Lentera, Jakarta, Mei 2006] dari Singapura, sudah memasuki ruang sadar ini dalam menulis.
Lalu, salahkah jika kukatakan bahwa "Eksotika Timur" dan atau "jiwa nusantara" merupakan hakekat bahwa kemanusiaan itu tunggal dan kebudayaan itu majemuk" seperti yang dikatakan oleh alm. Paul Ricoeur, filosof Perancis yang meninggal Mei tahun lalu?! "Jiwa Nusantara" ini, pada galibnya adalah jiwa dunia dan masyarakat manusia. Kalimantan dan Borneo pun adalah suatu kemajemukan, bukan hanya Tanah Dayak! Menciutkan pemahamannya akan menimbulkan petaka dan bertentangan dengan konsep budaya betang, atau "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang, putera-puteri naga] serta sejarah Kalimantan-Borneo itu sendiri seperti yang dituangkan dalam riwayat "Banama Tingang" [Perahu Enggang] atau "Sansana Bandar" dan lain-lain legenda.
Paris, Mei 2006.
--------------------
JJ. Kusni
---------------------------------
The World Cup Is Now On Your Favorite Front Page - check out www.yahoo.com.sg
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

