Mewariskan Islam yang Damai
Jumat, 26 Mei 2006
MENGAMATI fenomena Islam yang muncul ke permukaan akhir-akhir ini, ada satu kecen derungan yang menarik untuk dilihat di mana semacam ada gerakan ''Pembaruan Islam'' dalam skala yang lebih luas. Gerakan ini secara ideologis sebenarnya tidak jauh beda dengan gerakan pembaruan Islam yang terjadi abad XVIII dimana terkesan sangat bernuansa Arabisme-Wahabis. Tapi, nuansa perbedaannya hanya terdapat pada strategi yang digunakan, kalau pembaruan Islam abad XVIII lebih mengedepankan pendekatan kultural sedangkan pembaruan Islam yang terjadi pada abad XXI ini tidak hanya menggunakan pendekatan kultural, tapi juga pendekatan struktural.
Secara kultural, pembaruan dilakukan sangat sistematis dan terorganisir dengan baik. Yang menjadi sasaran utama adalah komunitas perguruan tinggi. Karena komunitas intelektual dinilai sebagai sasaran yang potensial untuk memasarkan ideologi pembaruan Islam itu. Secara struktural, mereka sudah masuk ke dalam institusi-institusi pemerintahan yang ada. Sedikit banyak gerakan ini sudah mewarnai corak kebijakan dari pemerintahan yang berlangsung. Sebagai bukti untuk itu, disadari atau tidak, lahirnya undang-undang yang diproduk untuk mengakomodir kepentingan untuk menerapkan syariat Islam. Strategi ini terpaksa ditempuh mengingat isu syariat Islam dalam konteks Indonesia hari ini tidak laku jual dan sangat dilematis. Tapi, tidak tertutup kemungkinan bila sampai saatnya nanti, bila komunitas gerakan ini sudah mulai mendominasi, akan berhasil.
Gerakan pembaruan Islam, kalau boleh dikatakan seperti itu, sampai setakat ini kondisinya belum maju. Secara umum mayoritas umat Islam memandang positif gerakan ini sebab visi yang diperjuangkannya sangat kental bernuansa keislaman. Namun, bila dilihat secara jeli dan jujur, dimensi Islam yang ditampilkan oleh gerakan ini sebenarnya sangat radikal. Ada nuansa pemaksaan kehendak secara sepihak dan mengkebiri hak-hak otonom individu untuk berekspresi. Akibatnya, telah terjadi semacam proses penghakiman moral secara sewenang-wenang yang berdasarkan dalih-dalih keagamaan dan tidak tertutup kemungkinan akan berujung pada tindak kekerasan, seperti teror religius, pemukulan, penghancuran dan tindak anarkhisme lainnya. Aksi seperti itu, dipandang sah karena dibangun atas dasar pemahaman keagamaan.
Bila model Islam seperti ini yang tampil ke permukaan, maka dengan sendirinya akan mencoreng citra Islam yang luhur sebagai agama damai dan mendatangkan rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu, sudah sepatutnya gerakan pembaruan Islam yang berwujud ekstrimisme itu ditinjau kembali. Jikalau tidak, semakin lama kekuatan mereka akan mendominasi baik secara struktural maupun kultural. Bila ini yang terjadi, maka wajah moderat dan toleran yang dimiliki oleh Islam Indonesia selama ini akan berubah menjadi wajah yang garang dan menakutkan.
Perlu Sikap Lain
Langkah yang strategis untuk membendung berkembangnya ekstrimisme Islam dalam skala yang lebih besar di Indonesia hari ini adalah dengan cara merevitaliasi spirit Islam tradisionalis. Karena model Islam yang seperti inilah yang cocok untuk konteks Indonesia yang heterogen. Tentu saja Islam tradisionalis yang dimaksud di sini tidak dimaknai secara definitif, tapi lebih mengacu kepada sikap dan moralitas Islam yang dianut kaum tradisionalis yang sangat toleran dan moderat dalam menghadapi fenomena keberagamaan pemahaman dan keyakinan serta mampu mengakomodasi nilai-nilai tradisional.
Bagi Islam tradisionalis, perbedaan tidak mesti harus disikapi dengan permusuhan karena hal itu hanya akan menciptakan permusuhan yang baru. Perbedaan harus disikapi dengan cara bijak dan saling menghormati. Prinsip ini bisa diamati dengan jelas dalam warisan intelektualitas Islam klasik yang sangat plural dan beragam pendapat dimana yang satu tak pernah menyalahkan yang lainnya. Implementasi dari cara berpikir yang bernas ini, membuat Islam tradisionalis tidak hanya berpegang pada satu mazhab pemikiran saja, tapi juga mengakomodasi mazhab pemikiran lainnya.
Demikian pula dalam menyikapi fenomena kejahatan (kemaksiatan) baik secara individual maupun sosial. Islam model ini tidak mengedepankan pendekatan emosional dan kekerasan, karena pendekatan tersebut tidak akan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas. Kejahatan (kemaksiatan) itu senantiasa ada sepanjang perjalanan sejarah manusia dan ia akan selalu mendapatkan ruang dan salurannya. Oleh sebab itu, kejahatan itu dihancurkan secara bertahap. Sikap yang emosional dan reaksioner dalam menyikapi kemaksiatan hanya akan membuat kemaksiatan itu senantiasa tumbuh dan berkembang. Islam tradisionalis dalam menyikapi fenomena ini lebih mengedepankan pendekatan kultural dan dakwah individual. Pelaku kriminal tidak harus dimusuhi dan dijauhi, tapi harus didekati secara persuasif untuk selanjutnya diberikan pembinaan moralitas secara intensif sehingga tumbuh kesadaran penuh untuk memperbaiki diri.
Islam yang Damai
Demikian gambaran sekelumit model Islam tradisionalis, sebagaimana disebutkan di atas yang sangat santun dan bijak dalam menyikapi setiap fenomena sosial dan keagamaan yang berkembang dalam masyarakat. Berbeda dengan model Islam yang garang yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang hitam-putih berdasarkan kreteria dan batasan yang menghakimi. Kebenaran hanya berada di dalam wilayah penafsiran mereka yang dipandang sebagai hal yang mainstream. Di luar penafsiran itu dianggap menyimpang atau sesat dan wajib untuk diperangi tanpa alasan apapun. Akibatnya, terjadilah semacam sakralisasi pemahaman yang dibangun atas dasar sentimen keagamaan yang berlebihan.
Sehingga tidak ada ruang lagi bagi pemahaman keagamaan lainnya. Akhir dari semua proses ini akan berujung pada pemaksaan kehendak dan penghakiman secara sepihak. Sampai di sini, pertanyaannya adalah apakah kita akan mengubah wajah Islam yang santun dan toleran itu menjadi wajah Islam yang menyeramkan? Tentu saja hal itu tidak mungkin untuk dilakukan, karena secara naluriah manusia tidak suka dengan wajah yang garang. Oleh sebab itu, mewariskan dan melestarikan wajah Islam yang manis dan damai merupakan tanggung jawab yang harus dikedepankan oleh setiap individu Muslim. Model beragama seperti inilah yang akan memberikan citra dan masa depan yang baik bagi Islam. ***
Amrizal, peminat masalah keagamaan tinggal di Kota Bengkalis.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

