REFLEKSI: Tgl. 29 Mei diberitakan bahwa otak kiri Pak Harto rusak, jadi kira-kira Pak Harto sekarang sudah orang sinting?


http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6879

Kamis, 01 Juni 2006,



Pak Harto Pulang, Dokter Pantau 24 Jam


Pipa Makanan Masih di Lambung
JAKARTA-Setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) 27 hari sejak 4 Mei lalu, mantan Presiden Soeharto diperbolehkan pulang. Kemarin pukul 08.45, the smiling general itu meninggalkan rumah sakit. Namun, tim dokter masih akan memantau kesehatannya 24 jam penuh.

Saat keluar dari rumah sakit, Soeharto tidak menggunakan kursi roda, melainkan terbaring di kereta dorong berwarna biru. Presiden kedua tersebut hanya diselimuti kain putih. Begitu sampai di depan ruang UGD, mantan penguasa Orde Baru itu langsung dimasukkan ambulans.

Ketika tim medis memutar posisi kereta dorong, Soeharto sempat menoleh ke arah kerumunan wartawan. Dia beberapa kali melambaikan tangan. Senyumnya mengembang meski terlihat samar.

Soeharto didampingi putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut ) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). Ketika ditanya wartawan, Tutut lebih banyak menebar senyum. Dia menjawab pertanyaan wartawan singkat-singkat. "Sudah, Bapak sudah baik. Makanya pulang," ucap istri Indra Rukmana itu berulang-ulang.

Tutut dan Mamiek ikut dalam ambulans mendampingi bapaknya sampai ke Cendana. Putri Soeharto yang lain, Siti Hediyati (Titik), naik mobil Toyota B 1989 IK. "Mudah-mudahan, Bapak bertambah baik, sudah kelamaan di sini," ujar Titik yang tampak ceria dengan baju putih itu.

Puluhan staf RSPP, para dokter yang merawat Soeharto selama ini, serta para pengunjung berjajar mengantar kepulangan tokoh yang pernah paling berpengaruh di Indonesia itu.

Sesaat setelah ambulans berangkat menuju Cendana, Direktur RSPP Adji Suprajitno dan koordinator dokter yang merawat Soeharto, Djoko Rahardjo, secara bertubi-tubi menerima ucapan selamat dari tim medis lain. Bahkan, direktur utama Pertamina Bina Medika, holding company RSPP, langsung memeluk Adji. Para dokter dan paramedis mengaku lega Soeharto bisa pulang dalam keadaan lebih baik.

"Pasti semua dokter akan merasa terbebani jika merawat pasien dengan kondisi seperti Bapak (baca Soeharto)," ungkap Adji.

Soeharto diizinkan pulang karena kondisi kesehatannya dinyatakan baik. Semua tanda vital kesehatan serta saluran cerna dan fungsi ginjal sudah membaik. Dia pun mulai aktif menjalani terapi. "Jadi, tim medis berkeyakinan bahwa beliau boleh pulang dan menjalani perawatan di rumah," ucap Adji.

"Singkatnya, life threatening (masa kritis yang mengancam jiwa) Pak Harto telah lewat. Atas dasar pertimbangan inilah, kemudian kami memperbolehkan Soeharto dirawat di rumah," tambah dr Djoko Rahardjo, koordinator tim dokter kepresidenan.

Kendati berada di rumah, Soeharto masih dalam pengawasan tim medis. Tim dokter masih mewaspadai asupan makanan. Karena itulah, pipa makanan yang tertanam di lambung masih belum dilepas. Sewaktu-waktu, apabila ada permasalahan mengenai makanan, tinggal memasukkannya melalui pipa itu.

Perawatan di rumah tersebut akan lebih longgar daripada di rumah sakit. Soeharto bisa lebih bebas bergerak dan bisa makan di meja. "Mudahan-mudahan bisa latihan jalan lebih dari lima langkah. Ini penting untuk fisioterapi," urainya.

Ahli urologi tersebut menambahkan, di Cendana, Soeharto hanya didampingi dua perawat. Tidak ada tim dokter yang secara khusus menjaganya. Meski demikian, tim dokter memantau keadaan Soeharto setiap hari dan siap on call 24 jam.

Apakah kepulangan itu merupakan permintaan keluarga? Dokter Mardjo Soebiandono menolak. Kepulangan itu lebih berdasar pada pertimbangan medis. Memang ada permintaan dari keluarga untuk sesegera mungkin Soeharto dirawat di rumah. Namun, lampu hijau kepulangan Soeharto tetap berdasar pada kondisi kesehatannya.

Mardjo menilai wajar apabila keluarga menghendaki Soeharto dirawat di rumah. "Pasti capek dan jenuh berada di rumah sakit dalam waktu hampir sebulan," paparnya.

Sementara itu, sejak kepulangan Soeharto, penjagaan Jl Cendana diperketat. Saat Jawa Pos hendak menuju ke rumahnya, di ujung jalan, beberapa satpam sudah menanyai. Mereka kemudian mewanti-wanti agar wartawan koran ini tidak mampir ke rumah Pak Harto. Sebab, dia butuh istirahat.

Meski demikian, pukul 15.00 sampai 17.30, Jawa Pos bisa memantau depan rumah Soeharto di Jalan Cendana No 8. Sore itu, rumahnya tampak biasa-biasa saja. Hanya ada lurah, ketua RW Gondangdia, Menteng, dan beberapa petugas keamanan di ujung jalan.

Rumah anak-anaknya yang berada di sekitar rumah Soeharto juga tampak sepi. Tidak terlihat pengunjung yang datang. Hanya beberapa petugas berjaga di depan rumah-rumah mewah tersebut. (ano/ein)



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke