DJ Oko -
Friendster Click by [EMAIL PROTECTED]
Solidaritas bagi yang Menderita
--------------------------------
Oleh Tom Saptaatmaja
Bagi sebagian orang, hidup di dunia ini adalah semacam kutukan atau
dengan kata lain, merupakan neraka. Tentu ada beragam alasan mengapa
mereka sampai mengatakan demikian. Biasanya ini dikatakan terkait
penderitaan yang luar biasa hebat, bahkan sudah tidak terperikan lagi.
Belum lama ini saya bertemu seorang ibu di angkot dengan kisah amat
getir. Dia buruh. Dia tinggal dekat Bandara Juanda dan setiap hari kerja
di Balongsari, Surabaya, dan naik bemo hingga empat kali (berangkat dua
kali naik bemo, pulang dua kali juga). Ketika itu gajinya hanya Rp 300
ribu. Maklum, dia hanya menunggu "counter" menjual kue di sebuah
koperasi.
Dengan kebijakan kenaikan BBM awal Oktober 2005 lalu, uang transpor yang
harus dikeluarkan menjadi Rp 10 ribu per hari. Maklum, naik mikrolet
sekali adalah Rp 2.500. Jadi, gajinya habis untuk transpor. Si ibu
berencana memilih menganggur saja. Ada jutaan orang juga menganggur. Di
negeri kita ada 15 juta penganggur. Untuk Jatim ada 1,2 juta menganggur
saat ini. Bagi para penganggur itu, hidup memang ibarat neraka.
Ada cukup banyak orang menderita di dunia ini, seperti para penganggur
di atas. Menganggur memang bisa membuat derita, tapi penderitaan bukan
hanya karena tak punya pekerjaan. Keluarga yang cukup berada pun bisa
menderita. Kita yang di Surabaya, misalnya, baru dikejutkan oleh kawanan
perampok yang tega melakukan aksi di kediaman (alm) Prasetyo Mudyo
Hartono, komisaris Utama PT Ciputra Graha Prima, yang baru saja
meninggal di Australia.
Mereka juga masuk sambil membawa karangan bunga. Tetapi, setelah itu
mereka mengeluarkan pistol dan menguras barang-barang berharga di rumah
Jl Kertajaya Indah, Kamis 18 Mei (Metropolis, JP 19/5).
Yang paling mengenaskan, bukan hanya perampok yang tega berbuat seperti
itu kepada orang yang menderita. Kadang di lingkup agama atau khususnya
gereja, hal seperti itu juga terjadi. Belum lama ini ada seorang warga
di dekat tempat penulis meninggal dunia. Jenazahnya tidak segera bisa
dimakamkan.
Masalahnya apa? Selama hidup, orang itu tidak pernah aktif di gereja.
Dia juga tidak punya Kartu Keluarga Katolik yang dikeluarkan Paroki.
Begitulah jika pelayanan Paroki sudah mengadopsi gaya kerja birokrasi
pemkot, orang mati pun tidak bisa mulus dikuburkan.
Yang hidup pun kadang justru dibuat menderita karena pastor atau imam
tidak berbeda dengan camat atau lurah zaman dulu yang gila hormat dan
kekuasaan. Gaya mereka masih seperti klerus atau pejabat gereja di Eropa
pada abad pertengahan. Tentu tak semua pastor demikian. Masih ada yang
baik.
Sayang, akibat pastor gila hormat dan kekuasaan itu, kegembiraan Injil
(Injil berarti kabar gembira) hilang entah ke mana dan diganti kabar
buruk, mulai intrik, skandal, dan cara hidup yang tak terpuji lainnya.
Misalnya, hati saya sering sedih melihat gereja hanya sibuk mencari dan
mengelola uang untuk berbagai kegiatan, tetapi jarang mencari jiwa-jiwa
yang haus dan rindu akan kasih-Nya.
Boleh jadi pastor atau gembala seperti itu perlu mengkaji Injil kembali,
yang semasa hidup-Nya di dunia, Yesus aktif menyapa yang kecil dan tidak
diperhitungkan dunia ini. Yesus bebas dan aktif bertemu dan menyapa
orang di pasar, jalan, pantai, atau di mana pun dengan senyum dan
kelapangan hati. Mereka yang kecil, miskin, dan hina benar-benar dihibur
dengan kehadiran-Nya. Mereka yang menderita pun bebas bertemu Dia kapan
pun, tanpa perlu membawa Kartu Keluarga Katolik.
Sejak lahir di dunia hingga kenaikan-Nya ke surga, Yesus mampu
menunjukkan surga bagi orang-orang yang justru dianggap kecil, hina, dan
miskin oleh dunia ini. Dia memuji "Berbahagialah orang yang miskin di
hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga".
Dengan pujian seperti itu, orang miskin yang percaya kepada Allah segera
bisa menyadari bahwa penderitaan apa pun yang dialami saat ini
sebenarnya bisa dihadapi dengan cara berbeda.
Kesempatan untuk Tumbuh
Dalam perspektif iman, penderitaan selalu memiliki "blessing in
disguise". John Gray, seorang penulis ternama pernah menulis: "Semua
penderitaan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk
tumbuh".
Sering dalam perjumpaan dengan orang-orang biasa, penulis bertemu orang
dengan mental kuat seperti Victor Frankl. Seperti kita tahu, Frankl
adalah seorang psikolog berdarah Yahudi. Dia disekap dalam kamp
konsentrasi maut Nazi, tempat dia mengalami penderitaan akibat
penyiksaan yang di luar batas-batas kemanusiaan.
Meski begitu, di tengah penderitaan tidak terperikan itu, Frankl masih
selalu bisa menimba surga kegembiraan berkat imannya pada Tuhan. Iman
(dalam kepercayaan apa pun) adalah kemampuan untuk bisa melihat harapan
di tengah situasi yang tanpa pengharapan.
Umat kristiani hari ini merayakan Yesus naik ke surga. Sebenarnya lebih
tepat disebut Yesus kembali ke surga, karena memang dari sana Dia semula
berasal. Dia datang ke dunia untuk memperlihatkan kasih Allah dan
bagaimana nilai-nilai surgawi harus dihayati dalam kehidupan di dunia
ini.
Karena itu, mari kita jadikan peringatan dan perayaan Yesus ke surga
sebagai momentum untuk kembali menyadari pesan agar dalam situasi apa
pun di dunia ini, kita tetap bisa mengupayakan dan menghadirkan
nilai-nilai surgawi seperti cinta damai, pengampunan, ketabahan dan
solidaritas bagi yang menderita.
---------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

