The most essential message of the article is the following:
"Tidak sedikit elite dan masyarakat awam bersikap ekstrim dan
eksesif dalam beragama. Menurut Yusuf Qardhawi (1981), ada beberapa
indikator religious extremism.
Pertama, fanatisisme dan intoleransi, sebagai akibat prasangka,
kekakuan, dan kepicikan pandangan.
Ini lalu menggiring mereka memaksa orang lain, baik dalam bentuk
terorisme intelektual seperti fitnah dan tuduhan penganut bid'ah
(mengada-ada), kafir, fasik, murtad, yang lebih terrifying daripada
terorisme fisik.
Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Misalnya, ada saja
kelompok agama yang cenderung mengambil garis keras yang hobi
berdemonstrasi dengan makian, hasutan, bahkan ancaman bom. Para
penganjur agama kelompok ini mendoktrinasi suasana batin orang awam
dengan cara memanipulisasi solidaritas kelompok.
Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan
kondisi. Keempat, keras dalam memperlakukan diri sendiri dan orang
lain sehingga, misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah
dihiraukan.
Semua ciri ekstremisme agama yang tiranik dan tidak egaliter ini
jelas membahayakan hak-hak orang lain. Ekstremisme juga melahirkan
bahaya dan ketidakamanan, serta mencabut rasa aman dan
perlindungan.
Karena itu, harus ada paradigm shift dari sikap beragama yang
inhumane kepada yang humane. Paradigma humanis ini adalah paradigma
nilai, sikap, norma, dan praktik keberagamaan yang mendukung
kehidupan damai dan nir kekerasan, menghargai perbedaan dan
pluralisme, menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan
berekspresi, serta memajukan harmoni antarbudaya....
-----------------
And so fort, and so fort.
Salam
Danardono
--- In [email protected], Ahmad Syukri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nih komen saya pribadi, sebenernya Gus Dur sebagai orang besar
pasti sangat paham akan karakter kelompok - kelompok masyarakat
Islam (di Indonesia), jadi perbedaan pandangan sih syah2 saja.
Tapi "kelakar" yang sangat menyentuh hati sebagian besar masyarakat
Islam di Indonesia (mungkin dunia) tentu tidak bijaksana ( mengingat
tidak semua masyarakat Islam di Indonesia mempunyai kebijaksanaan,
jiwa besar seperti Nabi SAW yang sanggup dan mengerti untuk
menerima "kelakar" tersebut, dan Gus Dur pasti tau itu). Jadi
kelakar yang dilemparkan tersebut tidaklah bijaksana kecuali
menimbulkan kontroversi yang akan menambah keributan negeri ini.
Sebenarnya banyak cara untuk memberikan perbedaan pendapat tanpa
menimbulkan keributan..... Caranya cari sendiri ya jangan tanya saya.
>
> RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Belajar dari
kasus pengusiran Gus Dur
>
> Kasus pengusiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) oleh sekelompok
> orang dalam acara forum dialog antarumat beragama di Purwakarta,
> beberapa waktu lalu, ternyata berbuntut panjang. Sejumlah tokoh
> mengecam peristiwa itu. Sementara pendukung Gus Dur di berbagai
> daerah pun berunjuk rasa dan mengecam kejadian tersebut. Mengapa
> kasus itu menjadi demikian serius? Tentu karena orang yang diusir
> itu adalah Gus Dur, mantan presiden, mantan Ketua Umum PBNU, dan
> tokoh pemikir Islam yang memiliki banyak pengikut.
>
> Namun, Gus Dur tentu bukanlah satu-satunya faktor pemicu utama.
Ada
> hal lain yang lebih serius lagi, di samping 'kelakarnya' tentang
Al-
> Qur'an yang dianggapnya sebagai kitab suci paling porno. Yakni,
soal
> pertarungan pemahaman keagamaan yang belakangan ini relatif
marak.
> Terutama terkait dengan pro-kontra terhadap RUU Antipornografi
dan
> Pornoaksi di mana Gus Dur berseberangan dengan MUI dan ormas
Islam
> seperti FPI, MMI, HTI yang mendukung RUU tersebut.
>
> Persoalannya, mengapa kita seperti tak memahami dan cenderung
> memusuhi yang tak sependapat dengan cara kekerasan? Bukankah
Islam
> mengajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sebuah rahmat?
>
> Religious extremism
>
> Kasus pengusiran Gus Dur kian membuktikan bahwa di negeri ini
agama
> masih muncul sebagai obyek kekuasaan dan politisasi, faktor
> disintegratif, alat provokasi kerusuhan, dan pemicu kekerasan.
Ini
> artinya, masih ada something wrong pada paradigma keberagamaan
kita
> selama ini.
>
> Tidak sedikit elite dan masyarakat awam bersikap ekstrim dan
eksesif
> dalam beragama. Menurut Yusuf Qardhawi (1981), ada beberapa
> indikator religious extremism. Pertama, fanatisisme dan
intoleransi,
> sebagai akibat prasangka, kekakuan, dan kepicikan pandangan. Ini
> lalu menggiring mereka memaksa orang lain, baik dalam bentuk
> terorisme intelektual seperti fitnah dan tuduhan penganut bid'ah
> (mengada-ada), kafir, fasik, murtad, yang lebih terrifying
daripada
> terorisme fisik.
>
> Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Misalnya, ada saja
> kelompok agama yang cenderung mengambil garis keras yang hobi
> berdemonstrasi dengan makian, hasutan, bahkan ancaman bom. Para
> penganjur agama kelompok ini mendoktrinasi suasana batin orang
awam
> dengan cara memanipulisasi solidaritas kelompok.
>
> Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan
> kondisi. Keempat, keras dalam memperlakukan diri sendiri dan
orang
> lain sehingga, misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah
> dihiraukan.
>
> Semua ciri ekstremisme agama yang tiranik dan tidak egaliter ini
> jelas membahayakan hak-hak orang lain. Ekstremisme juga
melahirkan
> bahaya dan ketidakamanan, serta mencabut rasa aman dan
perlindungan.
>
> Karena itu, harus ada paradigm shift dari sikap beragama yang
> inhumane kepada yang humane. Paradigma humanis ini adalah
paradigma
> nilai, sikap, norma, dan praktik keberagamaan yang mendukung
> kehidupan damai dan nir kekerasan, menghargai perbedaan dan
> pluralisme, menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan
berekspresi,
> serta memajukan harmoni antarbudaya.
>
> Ujian pluralitas
>
> Satu hal lain yang patut dicatat dari kasus pengusiran Gus Dur
> adalah ujian pluralitas. Kita sangat menyayangkan bila perbedaan
> pemahaman antara Gus Dur yang pluralis dan moderat dengan FPI,
MMI,
> HTI, dan FUI, yang dikenal konservatif-fundamentalis, itu
akhirnya
> bermetamorfosis menjadi tindak menafikan perbedaan, bahkan sudah
> menjurus pada tindak kekerasan. Seharusnya, semua pihak bisa
> menyikapi perbedaan itu dengan penuh kesopanan dan kesantunan.
>
> Harus diingat, bahwa pluralitas dan atau pluralisme adalah sebuah
> keniscayaan atau sunatullah yang tidak bisa ditolak dan dilawan.
> Apalagi dalam negara yang terdiri dari multietnis, multiras, dan
> multiagama seperti bangsa Indonesia.
>
> Karena itu, di tengah kehidupan yang plural, seseorang atau
> sekelompok orang harus menyadari bahwa kebenaran yang mereka
pegang
> adalah kebenaran relatif. Bisa saja kebenaran yang diyakini dan
> dipegang itu ditarik dari ajaran agama. Namun, yakinkah bahwa
proses
> penarikan dari ajaran agama yang merupakan hasil penafsiran itu
> merupakan kebenaran yang sesungguhnya ?
>
> Padahal, ketika memahami dan mengamalkan agama, pada hakikatnya
> masing-masing orang atau kelompok melakukan pendekatan yang
dibatasi
> oleh ruang dan waktu. Artinya, ada kemungkinan orang lain dan
> kelompok lain yang berada di ruang dan waktu yang berbeda juga
> memiliki penafsiran keagamaan yang berbeda.
>
> Bahwa ajaran agama memang satu, itu benar adanya. Namun,
> keterbatasan ruang dan waktu akan memungkinkan satu dan lainnya
> memiliki penafsiran yang berbeda. Menyebut sekadar contoh, Imam
> Syafi'i memiliki dua penafsiran yang berbeda soal fiqh (hukum
> Islam). Yakni qaul qadim (penafsiran lama) dan qaul jaded
> (penafsiran baru). Ini terjadi, karena Imam Syafi'i kebetulan
pernah
> tinggal di dua wilayah dan habitat yang berbeda setting sosio-
> kulturnya, yaitu Mesir dan Irak.
>
> Nah, seorang ulama besar Imam Syafi'i saja, ketika berada di
ruang
> dan waktu yang berbeda, bisa menghasilkan dua penafsiran yang
beda.
> Bagaimana bila hal itu melibatkan banyak orang? Ada Gus Dur, NU,
> Muhammadiyah, FPI, MMI, FUI, HTI, dan MUI. Tentu variannya akan
> lebih banyak lagi. Sebab, yang memengaruhi bukan semata-mata
ruang
> dan waktu. Tapi, sudah menyangkut perbedaan karakter, tingkat
> kecerdasan, tingkat kepekaan, tingkat toleransi, dan model
> pendekatan.
>
> Kini saatnya seluruh komponen bangsa ini untuk lebih
mengedepankan
> aspek saling menghargai perbedaan pendapat. Sangatlah tidak patut
> bila memperjuangkan kebenaran ditempuh dengan cara-cara yang
tidak
> benar.
>
> Nabi Muhammad SAW berhasil membawa misi ke-Islaman di bumi ini
jelas
> karena beliau memiliki hati yang lembut, sejuk, dan senantiasa
> menebarkan kedamaian, bukan teror dan kekerasan. Nabi selalu
> mengajarkan agama melalui proses yang mempertimbangkan ruang dan
> waktu. Contoh mulia dari orang mulia inilah yang harus diteladani
> oleh siapa pun yang mengklaim dirinya Muslim, di mana pun dan
kapan
> pun.
>
> Lebih dari itu, hendaknya para pemeluk agama jangan lagi mau
> diperalat sekadar sebagai 'kuda lumping' yang disuruh mengamuk,
> seruduk kanan-kiri, yang berujung pada jatuhnya martabat agama
dan
> pemeluk agama di satu sisi, dan tumbuhnya benih konflik di sisi
> lain. Kalau umat beragama selalu ribut, lantas kapan agama akan
> tampil sebagai pembawa rahmat dan penyebar damai?
>
> Betapa malang nasib bangsa kita kalau umat sesama agama saja
tidak
> rukun. Semua itu tidak produktif melainkan justru
kontraproduktif.
>
> Oleh Maksun
> Dosen Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
*********************************************************************
******
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
*********************************************************************
******
>
_____________________________________________________________________
_____
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> SPONSORED LINKS
> Cultural
diversity Indonesian
languages Indonesian language
learn
Indonesian language
course
>
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
> Visit your group "ppiindia" on the web.
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

