http://kompas.com/kompas-cetak/0606/05/opini/2702079.htm
Benturan Alur Nalar Bangsa
Musa Asy'arie
Selama hampir satu dasawarsa terakhir ini, bencana multidimensional
terus mendera kehidupan rakyat kita, mulai dari bencana ekonomi yang
menurunkan daya beli rakyat, bencana politik yang mencabik-cabik
kerukunan nasional, hingga bencana sosial budaya yang memunculkan
konflik kekerasan berbasis ras, kedaerahan, dan aliran faham keagamaan.
Situasi ini diperparah oleh bencana alam seperti tsunami di Aceh, banjir
dan longsor di berbagai daerah, serta gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa
Tengah. Masihkah bencana akan terus berlanjut?
Sebagai tanda-tanda zaman, kita mungkin tidak cukup arif untuk membaca
dan memaknainya guna mengubah paradigma dan perilaku kita selama ini.
Ternyata para elite bangsa tidak mengubah paradigma dan egoisme
sektoralnya dengan pertikaian politik yang destruktif, komunalisme, dan
premanisme yang berdampak hancurnya kohesi sosial dan goyahnya persatuan
nasional.
Apa sesungguhnya yang terjadi dalam kehidupan bangsa ini sehingga duka
nestapa datang silih berganti?
Fenomena Mbah Maridjan
Mbah Maridjan adalah sosok orang tua yang sederhana dan lugu dengan alur
nalar yang unik karena terbentuk oleh magisme dari ritme pergaulan yang
intensif dengan perilaku Gunung Merapi yang konon dijaganya. Logikanya
menegaskan bahwa Gunung Merapi sedang punya hajatan dan kemudian
membuang sampahnya. Biasanya membuang sampah itu ke samping atau ke
belakang rumah, tetapi tidak ke halaman depan rumah yang menunjukkan
adanya tradisi kesantunan. Gunung Merapi dipercayai menghadap ke Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat. Karena itu, lahar Gunung Merapi akan terbuang
ke arah samping di Magelang atau ke belakang di Boyolali.
Sudah berpuluh tahun Mbah Maridjan bekerja mengabdi menjaga Gunung
Merapi dengan alur nalar yang unik dan meyakini mendapatkan mandat
spiritual dari raja yang mewakili Penguasa Jagat, bukan penguasa politik
dan pejabat pemerintahan. Karena itu, ketika Presiden RI, Gubernur DI
Yogyakarta, dan para pejabat menginstruksikannya untuk mengungsi, Mbah
Maridjan pun menolaknya dengan sindiran yang halus dan mengatakan
"berikan saja uangnya kepada rakyat". Dia menegaskan bahwa dirinya
diangkat oleh Sultan Hamengku Buwono IX, bukan oleh Gubernur DI
Yogyakarta sehingga secara spiritual dia tidak membangkang kepada raja
yang mengangkatnya.
Fenomena Mbah Maridjan telah membelah opini masyarakat. Di satu pihak
mereka mengikuti anjuran pemerintah untuk mengungsi dan menyelamatkan
diri dari bencana letusan Gunung Merapi. Di pihak lainnya, mereka tidak
mau mengungsi karena meyakini bahwa mereka berada di wilayah yang bebas
dari buangan sampah lahar yang ditimbulkan oleh hajatan Gunung Merapi.
Sementara itu, letusan dahsyat Gunung Merapi belum juga datang. Sebagian
pengungsi pun sudah tidak tahan hidup di tenda-tenda pengungsian dan
mereka secara diam-diam kembali ke kampungnya. Pada titik ini,
terjadilah benturan alur nalar publik dan alur nalar Mbah Maridjan
ternyata menemukan momentumnya dengan membentuk sikap rakyat yang secara
diam-diam menentang anjuran dan kebijakan pemerintah.
Tidak kasat mata
Apa yang kemudian terjadi adalah gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa
Tengah, tetapi bukan terjadinya letusan dahsyat dari Gunung Merapi.
Kejadian ini menyiratkan adanya benturan alur nalar dan kebijakan yang
diambil pemerintah yang ternyata lebih terpaku dan mementingkan fenomena
penampakan visualnya. Akibatnya, prediksi analisis letusan gunung Merapi
lebih menguat dan mendapatkan perhatian daripada prediksi analisis pada
pergeseran lempengan dasar laut yang secara visual tidak nampak kasat mata.
Sekali lagi, di sini terjadi benturan antara alur nalar yang tidak
tampak dan alur nalar yang tampak di permukaan. Alur nalar yang
berdasarkan penampakan kasat mata ternyata lebih kuat daripada alur
nalar pada ketidaktampakan kasat mata. Kebijakan pemerintah dan sikap
publik ternyata lebih mengutamakan fenomena kasat mata daripada fenomena
yang tidak kasat mata. Celakanya, pemerintah selalu terlambat untuk bisa
membantu korban yang secara kasat mata lebih menderita daripada mereka
yang pintar memainkan peluang bantuan yang kasat mata ada di depannya.
Alur nalar kebijakan pemerintah seharusnya bisa lebih menukik untuk
memahami permasalahan yang dihadapi bangsa. Hal itu tidak berdasarkan
fenomena penampakan yang kasat mata saja, tetapi yang lebih penting lagi
mampu melihat fenomena dinamik yang tidak kasat mata yang justru lebih
penting dan strategis. Kebijakan pemerintah menetapkan skala prioritas
pada pembangunan sektor ekonomi daripada prioritas pembangunan sektor
kecerdasan dan watak melalui pendidikan yang aktual sejak pemerintahan
Orde Baru dan diteruskan hingga pemerintahan era reformasi tampaknya
hanya akan memiskinkan dan menyengsarakan kehidupan rakyatnya.
Masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang diam. Mereka melawan
kekuasaan raja atau pemerintah tidak secara terbuka, tetapi dengan tidak
menganggap keberadaannya. Mereka menjalani kehidupannya dengan alur
nalarnya sendiri karena pemerintah dipandang telah berada di luar alur
nalarnya. Hal yang menyedihkan, pemerintah sering tidak mampu membaca
fenomena yang tidak kasat mata ini. Akibatnya, pesan dan kebijakan
pemerintah tidak pernah dapat menembus kesadaran masyarakat yang diam.
Dengan adanya berbagai bencana yang susul-menyusul menimpa bangsa ini,
baik bencana alam maupun bencana ekonomi, politik, sosial, dan budaya,
seharusnya menyadarkan kita perlunya untuk belajar serta mengubah
paradigma dan perilaku dalam mengelola amanat kekuasaan dengan kearifan
transendental. Dengan demikian, dengan rendah hati kita berani
merenungkan ulang perjalanan bangsa ini, mau dibawa ke mana sesungguhnya
nasib bangsa ini?
Kebijakan yang terpaku pada fenomena kasat mata telah terbukti
bertahun-tahun menyesatkan. Kita harus berani keluar dari jebakan
fenomena kasat mata dengan paradigma baru yang lebih fundamental
sehingga dapat membaca realitas sosial kita yang diam dengan tepat. Kita
perlu menghentikan pertikaian politik kekuasaan yang vulgar dengan tetap
menjaga dan mengelola perbedaan dan pluralitas sebagai proses pengayaan
spiritualitas guna menyangga kemajuan peradaban bangsa.
Kearifan transendental mengajarkan bahwa tidak ada peristiwa yang
terjadi secara kebetulan. Manusia di panggung dunia telah memainkan
peran sebagai aktor, sebagai khalifah, sehingga bencana apa pun di dunia
sesungguhnya tidak pernah lepas dari perilaku dan tanggung jawab manusia
sendiri.
Tanpa kearifan transendental, bencana akan terus datang siling berganti
dan kita pun tidak berdaya lagi untuk menyangganya. Mungkin saja kita
akan tercabik-cabik dan ambruk sebagai suatu kesatuan bangsa dan negara
kesatuan.
Musa Asy'arie
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

