Mungkin Masdar bermaksud memberi signal S.O.S karena NU semakin imune
terhadap virus Sekuler Pluralis Liberal [sipilis] yang sudah merasuki
tubuh NU.. Tapi jangan malah mengadu domba ummat dunk..

^_^

Senin, 22 Mei 2006 - 14:01:03 WIB  
      Alih-alih mengalihkan perhatian orang karena produk sekularismenya
tak laku di pasaran, kalangan liberal mengeluarkan idiom dan stigma baru
bernama 'bahaya wahabisasi'

      Oleh:  Ainul Yaqin *)

      Wacana liberalisme Islam yang diperkenalkan ke lingkungan NU telah
direspon sangat baik oleh sebagian besar generasi mudanya. Namun, di
kalangan generasi tua NU liberalisme Islam telah dianggap sebagai
penyimpangan yang harus diluruskan. Bahkan pada muktamar NU di Boyolali
yang lalu, sempat muncul usulan agar kepengurusan NU bersama
organisasi-organisasi di bawahnya dibebaskan dari pengaruh orang-orang
yang berhaluan liberal.

      Walaupun penolakan ini pada praktiknya tidak efektif untuk
mencegah masuknya orang-orang liberal ke dalam kepengurusan NU dan
organisasi dibawahnya --karena kaum tua belum membuat definisi yang
belum jelas tentang liberalisme-- tetapi hal ini telah cukup dirasakan
sebagai ancaman bagi masa depan gerakan liberalisme di tubuh NU.

      Menyadari kenyataan tersebut, tak pelak lagi para aktivis liberal
merasa perlu membuat strategi baru yang lebih diterima. Gus Dur --yang
selama ini menjadi bemper-- bagi masuknya arus liberalisasi di NU
mengkritik pernah Ulil (dalam hal ini dianggal icon gerakan liberalisme
di tubuh NU) sebagai orang yang telah terjebak dalam label yang dibuat
sendiri (www.gusdur.net).

      Gus Dur ini secara implisit memberikan catatan, bahwa untuk
menawarkan ide liberalisme di lingkungan NU, harusnya tak perlu
menggunakan cara gembor-gembor karena cara-cara seperti ini malah bisa
jadi bumerang.

      Stigma Wahabi 

      Entah karena kritik Gus Dur, atau karena tidak punya tempat di
hati banyak umat Islam --khususnya di kalangan NU-- namun yang jelas,
pasca penolakan banyak pihak terhadap ide-ide liberalisme itu kini, para
pengusung paham liberal boleh dikatakan sedang "berganti haluan".
Alih-alih bersembunyi atau mengalihkan perhatian,  mereka kini melakukan
teknik baru dengan cara melakukan stigmatisasi.

      Akhir-akhir ini beberapa aktivis liberal menggulirkan isu
wahabisasi. Isu wahabisasi ini untuk menunjuk kepada setiap upaya yang
dilakukan oleh kelompok Islam apa saja yang mempunyai faham
berseberangan dengan dirinya (pengusung liberalisme). Bahkan dalam kasus
kontroversi RUU APP pun kelompok liberalisme tak segan-segan 'menuduh'
yang pro terhadap RUU APP sebagai wahabian.

      Adalah Abdul Moqsith Ghazali misalnya, di dalam tulisannya di
www.wahidinstitute.org mengatakan ,bahwa gerakan untuk mewahabikan umat
Islam di Indonesia sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi bahkan tidak
hanya dilakukan di kota-kota besar, tetapi juga telah masuk ke
desa-desa.

      Menurut si penuduh, gerakan wahabisme sudah menjangkiti banyak
pihak di Indonesia, termasuk NU. Moqsith juga menyebutkan banyak tokoh
Wahabi Timur Tengah yang pikirannya mempunyai pengaruh kuat terhadap
aktivis Islam di Indonesia, yang salah satunya adalah Abdul Qadir Zallum
(harusnya yang benar Abdul Qadim Zallum pendiri Hizbut Tahrir di
Yordania ).

      Tuduhan lain juga datang dari M. Mas'ud Adnan, wakil ketua
Balitbang PW NU Jatim (Jawa Pos; 28/03/06) yang menengarahi bahwa
beberapa kiai-kiai di NU pun telah terpengaruh gerakan wahabi. Hal ini
didasarkan atas indikasi adanya beberapa kiai NU yang mempunyai latar
belakang studi di Saudi Arabia tetapi tidak melalui studi akademik
sampai S2 atau S3 sehingga sedikit banyak terpengaruh pada faham Wahabi.

      Selain menggulirkan isu wahabisasi, dalam waktu yang bersamaan
juga dilakukan upaya pembelokan makna terhadap idiom kembali ke khitthah
26.

      Idiom ini pada dasarnya mempunyai makna mengembalikan NU pada arah
perjuangan semula yaitu menjadi jam'iyah yang bergerak dalam bidang
kemasyarakatan dan keagaamaan serta melepaskan NU dari keterlibatannya
dalam politik praktis.

      Idiom ini dibelokkan pengertiannya menjadi mengembalikan NU pada
dakwah kultural dimana istilah ini telah dipertentangkan dengan istilah
dakwah struktural, dengan suatu pengertian bahwa dakwah struktural
adalah upaya formalisasi agama (syari'at), maka sebaliknya dakwah
kultural berarti menolak formalisasi.

      Pembelokan serupa dilakukan pula terhadap konsep tawassuth,
tasammuh, dan tawazzun. Ke tiga istilah tersebut sebenarnya merupakan
istilah untuk mensifati teologi ahli sunnah atau Asyariyah yang dianut
oleh NU yang merupakan konsep teologi tengah-tengan antara rasionalisme
qodariyah dan antropomorfisme jabariyah.

      Namun para aktivis liberal ini telah menggeser (bisa disebut juga
memelintir) maknanya sebagai konsep yang menolak ekstrimitas atau dengan
kata lain berpihak pada penolakan terhadap formalisasi agama, karena
formalisasi agama adalah sikap yang ekstrim ke kanan.

      Tafsiran seperti di atas antara lain terlihat dari tulisan Mas'ud
Adnan mengomentari dukungan PB NU terhadap RUU APP (Jawa Pos: 28/03/06).

      Menurutnya NU yang berwatak tawassuth, tasammuh, dan tawazzun
lebih pas memilih solusi partikelir dari pada menjadi stempel kelompok
Islam formalis. Serupa dengan itu Gus Dur juga secara tegas mengatakan
bahwa KH Hasyim Asy'ari adalah orang yang tidak setuju dengan
formalisasi agama.(Jawa Pos: 7/04/06 )

      Pemecah Ukhuwah 

      Isu wahabisasi patut diduga sebagai akal-akalan kaum liberal yang
dimaksudkan untuk menyekat warga NU dari kelompok-kelompok yang menolak
ide liberal. Dengan isu ini harapannya warga NU menjadi curiga dan
waspada terhadap kelompok-kelompok yang menolak ide liberal dan
sebaliknya menjadi tidak kritis terhadap ide-ide kelompok liberal
sendiri, sehingga dalam kesempatan ini tanpa disadari ide-ide
liberalisme dapat diterima. Isu wahabisasi dipilih karena NU pernah
mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap gerakan Wahabi.
Bahkan latar belakang berdirinya NU yang merupakan kelanjutan dari
Komite Hijaz adalah untuk menangkal terhadap arus wahabisasi.

      Namun tuduhan bahwa kelompok-kelompok yang selama ini
berseberangan dengan aktivis liberal sebagai Wahabian terlalu
digeneralisasi.

      Memang diakui bahwa kelompok Wahabi seperti Salafi merupakan
kelompok yang berseberangan dengan kelompok liberal, tetapi tidak semua
yang berseberangan liberalis adalah wahabi.

      Syeikh Abdul Qodim Zallum misalnya, jelas bukan Wahabi. Abdul
Qodim Zallum merupakan tokoh yang banyak mengkritisi Wahabi. Dalam
bukunya Kaifa Hudimat al-Khilafah, Syeikh Zallum mengkritik keras peran
gerakan Wahabi yang terlibat dalam konspirasi meruntuhkan kekhilafahan
Usmaniah di Turki.

      Dus, tidak pula bisa digeneralisasikan seolah-olah setiap
mahasiswa NU yang nyantri di Saudi terpengaruh Wahabi.  Banyak kiai NU
yang kritis terhadap kelompok liberal mempunyai latar belakang studi di
Saudi Arabia, tetapi mereka tidak belajar pada ulama Wahabi. Di antara
mereka banyak yang belajar pada (alm) Sayyid Muhammad bin Alwi
al-Maliki.

      Sebut misalnyal; Luthfi Basori misalnya, seorang kiyai muda NU
yang kritis terhadap liberal adalah murid beliau. Demikian pula tokoh
FPI, Abdurrahman Assegaf, anggota Dewan Imamah Nusantara (DIN) seperti
Habib Thohir Al-Kaff dan K.H. Najih Maimun juga murid beliau.

      Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki adalah seorang ulama Saudi yang
banyak berseberangan dengan orang-orang Wahabi. Bahkan beliau pernah
divonis sebagai ulama sesat oleh tokoh-tokoh wahabi seperti Syeikh
Abdullah bin Baz maupun Syeikh Sulaiman bin Mani' dan atas rekomendasi
ulama wahabi pula dicekal tidak boleh mengajar di Masjid al-Haram oleh
pemerintah Saudi.

      Pencekalan itu akhirnya dicabut sebelum beliau wafat karena
kepiawaiannya memenangkan perdebatan dengan tokoh-tokoh wahabi.

      Ada misi utama yang dibawa oleh para aktivis liberal dengan
strateginya, yaitu mensosialisaikan faham sekularisme. Dalam berbagai
kesempatan para aktivis liberal senantiasa menyampaikan misi ini.
Penolakannya terhadap RUU APP pun dilakukan karena misi ini.

      Kaum liberal memandang bahwa RUU APP terlampau jauh mengatur
masalah moralitas yang dalam pandangannya yang sekuler, hal tersebut
merupakan wilayah privat. Dikotomi privat dan publik inilah merupakan
ciri dari faham sekularisme. Berbagai upaya yang dilakukan mulai dari
pengguliran isu wahabisasi, pembelokan idiom-idiom NU dapat dibaca
sebagai strategi sekularisasi khususnya yang dilakukan terhadap NU.

      Patut disadari oleh para nahdliyin bahwa NU sejak kelahirannya
tidak berfaham sekuler dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan, NU
memandang formalisasi syari'at menjadi sebuah kebutuhan. Hanya saja yang
ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan
dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yang mengarah pada
penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada
kaidah fiqhiyah seperti maa laa yudraku kulluh la yutraku kulluh (apa
yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua) dan
kaidah dar'ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih (mencegah kerusakan
lebih didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan).

      Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru
concern pada perjuangan formalisasi Islam. Dalam kerangka ini NU pernah
mengukuhkan pemerintah Soekarno sebagai waliyy al-amri al-dlorui bi
al-syaukah.

      Adanya pengukuhan ini merupakan kebutuhan syar'i yang terkait
dengan masalah perwalian pernikahan khususnya wali hakim, di mana hanya
sah apabila diangkat oleh pemerintah yang sah pula secara syari'at.
Dalam kasus ini pemerintah Soekarno untuk sementara masih dapat
ditolelir sebagai pemerintah yang sah secara syari'at. Namun, karena
sifatnya yang belum kaffah maka dikatakan al-dloruri.

      Penggunaan kata al-dloruri (sementara) yang disifatkan pada kata
walyy al-amri menunjukkan adanya pengakuan bahwa proses perjuangan
menuju formaliasai syari'at belum selesai. Maka upaya menuju ke arah
yang lebih sempurna masih terus dilakukan. Hal ini dapat dicermati dari
sepak terjang NU pada masa-masa berikutnya seperti perjuangan NU
dipimpin KH Bisri Samsuri melalui fraksi PPP menggolkan UU Perkawinan
serta menolak penetapan aliran kepercayaan sebagai agama.

      Karenanya, kita patut wasapada dengan cara pengalihan perhatian
dengan pelabelan wahabisasi yang dilakukan kalangan liberal. Di tengah
hubungan NU dengan gerakan-gerakan Islam lain yang sudah makin baik
selama sepuluh tahun terakhir ini, stigmatisai dan pelabelan istilah itu
boleh jadi pemecah ukhuwah antara kaum nahdhiyyin dengan kelompok Islam
lain.[]

      *) Warga NU, Aktivis Lembaga Kajian Islam Hanif (L-Jihan)


--- Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> 
> >Masdar: NU Dalam Bahaya
> >
> >
> >      Jakarta, NU Online
> >
> >Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH
> Masdar Farid Mas'udi 
> >mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas
> terbesar di Indonesia saat 
> >ini sedang dalam posisi terancam keberadaannya. Ia
> menengarai adanya 
> >kelompok yang ingin mengadu domba para tokoh NU
> dengan tujuan menciptakan 
> >konflik horisontal antar-warga NU.
> >
> >   "Mengingatkan kepada segenap warga NU tentang
> adanya kelompok tertentu 
> > yang hendak menghadu domba sesama kiai panutan
> nahdliyin (sebutan untuk 
> > warga NU, red) dengan resiko konflik horisontal
> yang bisa sangat keras 
> > sesama warga nahdliyyin di lapisan bawah," kata
> Masdar kepada NU Online 
> > dihubungi via ponselnya, di Jakarta, Minggu (4/6),
> kemarin.
> >
> >   Menurutnya, kelompok yang ingin mengadu domba NU
> itu adalah kelompok 
> > yang selama ini menuduh NU sebagai organisasi yang
> sesat dan menyimpang, 
> > karena dinilai penuh dengan hal-hal yang berbau
> tahayul, bid'ah dan 
> > khurafat. Kelompok ini, katanya, orang-orang yang
> selama ini mengaku 
> > paling benar sendiri dalam beragama.
> >
> >   "Kelompok yang dimaksud adalah meraka yang sejak
> semula, atas dalih 
> > pemurnian akidah menuding NU sebagai sarang
> tahayyul, syirik, bid'ah dan 
> > khurafat yang sesat dan harus dibersihkan dari
> peta bumi bumi umat Islam. 
> > Mereka mengklaim dirinya sebagai orang yang paling
> murni, paling salafi 
> > dan paling dekat dengan kebenaran (al-haq)," kata
> Kiai yang juga Direktur 
> > Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat
> (P3M) ini.
> >
> >   Alumnus Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta itu
> mengatakan, kelompok 
> > yang mengaku paling benar sendiri itu, saat ini
> sedang berjuang dengan 
> > sekuat tenaga menghancurkan kekuatan NU melalui
> masjid-masjid. Kelompok 
> > itu melakukan gerakan secara sistemik, baik di
> perkotaan maupun pedesaan. 
> > "Mereka adalah kelompok terorganisir yang semakin
> gencar menggerogoti 
> > basis-basis NU melalui penyerobotan masjid-masjid
> nahdliyyin secara 
> > sistematis. Bukan hanya di perkotaan, tapi juga di
> desa-desa," ungkapnya.
> >
> >   Dengan modal dukungan dana yang besar, lanjut
> Masdar, mereka mempunyai 
> > misi besar yaitu memberangus tradisi-tradisi
> keagamaan NU yang mereka 
> > tuduh sebagai peyimpangan terhadap ajaran nabi
> Muhammad SAW. "Mereka 
> > kuasai masjid-masjid nahdliyin, mulai dari
> kepengurusan takmirnya sampai 
> > dengan status tanahnya. Muaranya, mereka ingin
> membersihkan NU dari 
> > keseluruhan tradisi-tradisi peribadatan dan
> keagamaan nahdliyin yang 
> > mereka tuduh tidak sesuai dengan sunnah nabi yang
> shahih," katanya.
> >
> >   Karena itu, ia meminta kepada semua warga dan
> tokoh NU untuk bersatu 
> > padu dengan menjaga persaudaraan dan kekompakan
> antarsesama. Hanya dengan 
> > itu, gerakan kelompok-kelompok yang ingin
> menghancurkan NU dapat 
> > dibendung. "Mendesak kepada segenap warga
> nahdliyin dan segenap pimpinan 
> > di semua lapisan untuk mempererat tali
> silaturrahmi yang tulus, bebas 
> > dari kalkulasi politik sesaat," tuturnya.
> >
> >   Ia juga meminta kepada warga dan tokoh NU untuk
> membentengi 
> > masjid-masjid yang selama ini digunakan sebagai
> pusat beribadah dari 
> > 'serangan' kelompok-kelompok yang ingin
> menghancurkan NU secara sistemik. 
> > "Saya meminta agar warga dan tokoh NU membentengi
> masjid-masjid nahdliyin 
> > dengan menjadikanya sebagai pusat pemberdayaan
> umat dan bangsa," katanya. (amh)
> >


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke