Kompas
Kamis, 08 Juni 2006
Transformasi Kebangsaan

Otobiografi Syafii Ma'arif: Keutuhan Bangsa Harus Dijaga

Jakarta, Kompas - Rasa kebangsaan tokoh Muhammadiyah, Prof Dr H Achmad 
Syafii Ma'arif (71), memang diperoleh dalam rentang waktu yang panjang. 
Meski demikian, ketokohannya dan kecintaannya pada Islam diakui oleh banyak 
orang justru memberikan ruang bagi tumbuhnya kebhinnekaan di Indonesia.

Hal ini mengemuka dalam peluncuran buku otobiografi Achmad Syafii Maarif: 
Titik-Titik Kisar di Perjalananku, Selasa (6/6) malam di Wisma Antara 
Jakarta. Hadir dalam acara peluncuran buku itu tokoh-tokoh nasional seperti 
Megawati Soekarnoputri bersama Taufik Kiemas, Akbar Tandjung, Mari Elka 
Pangestu, Bangir Manan, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, WS Rendra, Sudamek, 
Malik Fadjar, Moeslim Abdurraham, Kardinal Julius Darmaatmadja, dan puluhan 
tokoh lainnya. Acara peluncuran juga dimeriahkan penampilan gitar tunggal 
Franky Sahilatua dengan lagunya Pancasila Rumah Kita.

Cendekiawan Muslim, Moeslim Abdurrahman, yang juga teman Syafii belajar di 
Amerika Serikat (AS) mengatakan tidak menyangka acara peluncuran buku 
Syafii dihadiri banyak tokoh dari berbagai kalangan. Moeslim mengaku pada 
masa awal belajar di AS ia enggan berteman dengan Syafii karena sikap 
fundamentalisnya. Seturut waktu situasi itu berubah. "Pak Syafii memusuhi 
radikalisme. Ia memberi sumbangan besar bagi Indonesia. Langka mencari 
orang seperti Pak Syafii," kata Moeslim.

Hal serupa dikatakan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ. Menurut Kardinal, Pak 
Syafii terbuka dan menghargai perbedaan yang ada pada tokoh lain. "Dulunya 
saya takut dengan Pak Syafii. Saya menjadi lebih berani saat Uskup Agung 
Semarang, Mgr Suharyo, menceritakan bahwa Pak Syafii juga mengajar di 
Seminari Tinggi di Yogyakarta. Keberanian itu belum tuntas terbuka, namun 
saat bertemu langsung dan merasakan jabat erat tangannya yang keras, saya 
merasa hatinya sungguh-sungguh terbuka," kata Kardinal yang juga mengatakan 
Pak Syafii adalah seorang guru dan panutan.

Kerisauan baik Moeslim dan Kardinal Darmaatmadja itu beralasan. Simak 
tulisan jujur Syafii di halaman 195 buku otobiografinya : Cobalah ikuti 
pernyataan vulgarku di depan Rahman (Fazlur Rahman-Dosen Universitas 
Chicago) sekitar tahun 1979 : "Profesor Rahman, please just give me one 
fourt of your knowledge of Islam, I'll convert Indonesia into an Islamic 
State" (Profesor Rahman, mohon limpahkanlah kepadaku seperempat dari ilmumu 
tentang Islam, saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). 
Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini, tetapi dengan sopan ia 
menjawab : "You can take all my knowledge", ( Anda boleh mengambil semua 
ilmuku).

Pertemuan dengan Fazlur Rahman itu menjadi salah satu titik kisar Syafii 
yang mampu mengubah visi dan cara pandang keberagaman secara radikal. Di 
dalamnya terjadi penemuan autensitas seorang Muslim Indonesia.

Syafii sendiri mengatakan kemajemukan Indonesia kini menjadi arena 
pertikaian karena masyarakat tidak beragama secara dewasa dan autentik. 
"Dewasa artinya orang tampil lapang dada. Kita harus lapang dada, langit 
ini untuk semua orang termasuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan," kata 
Syafii.

"Kita harus mencintai negeri ini dengan tulus meskipun saat ini keadaannya 
kacau dan ruwet," lanjut Syafii. Salah satunya lewat kritikan yang sopan. 
Jika masyarakat sudah diam dan membenarkan langkah pemerintah, itu akan 
menjadikan keadaan tambah kacau.

Menurut dia pesimistis juga tak perlu, sebab banyak anak muda yang kini 
juga memiliki idealisme tinggi, hanya memang perlu menunggu waktu. "Oleh 
sebab itu keutuhan bangsa harus dijaga. Kalau bangsa tidak utuh generasi 
berikutnya akan berserakan. Ini yang saya khawatirkan," kata Syafii.
Maka, proses pencerahan harus terus dilakukan. "Ibarat membangun rumah, 
paling-paling yang bisa kita bawa hanya sebuah batu bata, tapi jangan tidak 
ikut membangun rumah itu," tutur suami Nurkhalifah (62) yang jika di rumah 
masih ikut mencuci piring itu.

Ditanya pencapaian saat ini, Syafii mengatakan, "Saya ini orang kampung, 
orang udik, bisa bertemu dengan orang-orang penting bagi saya adalah sebuah 
kebahagiaan. Mungkin dengan otobiografi ini siapa tahu, di sana ada 
kedip-kedip bintang yang sangat kecil. Saya tidak tahu, semua terserah pada 
orang lain," kata Syafii. (WSI)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke