Mencari Sebuah Masjid
/
/AKU diberitahu tentang sebuah masjid
yang letaknya di mana bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar tak bisa kau capai shaf pertama
Sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini
yang luas luar biasa. Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Puisi Taufiq Ismail di atas menggemakan keagungan sebuah masjid di kaki 
lazuardi. Tak hanya sang penyair, seluruh umat rindu dan mengembara 
mencarinya. Namun seringkali dalam proses pengembaraan itu, bukan 
kerinduan yang tertunaikan, justru pertikaian yang memercik.

Itu terjadi karena semua pihak berebut untuk berada di saf pertama. 
Padahal, agar tak kehilangan waktu dan saling sikut, semua dapat 
bertafakur di mana saja di lantai masjid. Sebab, menurut Taufiq, di 
beranda dan ruang masjid itu orang-orang bersila bersama. Bermusyawarah 
tentang dunia dengan hati terbuka dan berbeda pendapat tanpa pertikaian, 
dalam simpul persaudaraan sejati.

Pencarian sebuah masjid terasa relevan didengungkan kembali di tengah 
riuhnya kasus Gus Dur dan FPI (Front Pemebela Islam). Perseteruan kali 
ini memang telah memasuki babak baru. Setelah sekian lama bara hanya 
tersimpan di balik layar, kini eskalasinya terjadi di permukaan, face to 
face.

Namun jangan salah, hubungan kedua pihak tak selalu panas. Tahun 2001, 
Gus Dur membela Habib Rizieq saat diperiksa terkait alasan penghinaan 
terhadap institusi Polri. Bulan madu itu memang tak berlangsung lama.

Sikap Gus Dur memang jelas. Ia berpihak hanya pada apa yang ia yakini 
sebagai kebenaran dan keadilan, tanpa memandang kawan atau lawan. Pola 
pandang dan sikap yang senantiasa menghargai perbedaan dalam kerangka 
demokrasi dan pluralisme itu telah menjadi cirinya, di mana bagi 
sebagian orang dianggap kontroversial. Ia menolak penyeragaman cara 
pandang, sikap, maupun perilaku dalam beragama dan bernegara di negeri 
ini. Tak mengherankan bila dirinya sangat akrab dengan berbagai kontroversi.

Sikap ini pula yang terus memelihara sengketa dengan FPI. Ancaman saling 
gugat bukan hal yang baru. Dari persoalan Ahmadiyah, gereja di Bandung, 
dan terakhir kasus saling usir di Purwakarta. Sepanjang dalam koridor 
yang elegan, perseteruan ini bisa memercikkan dampak yang baik.

Pertama, ia memberikan sinar terang yang mendewasakan umat dengan 
dalil-dalil yang disajikan. Perseteruan itu seakan menjadi perpustakaan 
berjalan yang menambah wawasan keagamaan kita. Kedua, ia mewacanakan 
kehidupan demokrasi, terutama menyangkut management of conflict. 
Bagaimana perbedaan pendapat dapat tetap tumbuh dan saling bersabung 
tanpa menghunus belati.

Namun, begitu perseteruan itu melenceng dari koridor, hanya petaka yang 
tersisa. Sejarah telah menunjukkan tragedi demi tragedi yang terjadi 
ketika dua kutub Islam beradu dalam medan laga. Dari Perang Unta antara 
Siti Aisyah, Thalhah, dan Zubeir dengan Ali bin Abi Thalib hingga Perang 
Teluk yang melibatkan Iran, Irak, dan Kuwait. Yang mutakhir adalah 
pertikaian antara kaum Syiah dan Sunni di Irak.

Berbagai fenomena tersebut setidaknya menunjukkan ada dua hal yang dapat 
memantik gesekan antara sesama umat Islam. Pertama, faktor politik 
kekuasaan, dengan tujuan meraih bargain politik atau melanggengkan 
kekuasaan. Kedua, faktor monopoli penafsiran, yang pada akhirnya hanya 
melahirkan otoritarianisme keagamaan. Mereka yang tak tunduk di bawah 
panji-panji penafsiran yang difatwakan harus dibabat habis.

Dalam konteks Gus Dur dan FPI, penyebabnya bisa menjadi sangat variatif, 
tergantung validitas insinuasi yang dilontarkan. Bisa jadi salah satu 
dari kedua faktor itu yang menjadi pemicu, atau keduanya, atau bahkan 
bukan kedua-duanya. Sebab perseteruan ini bisa produktif ketika mengalir 
dalam koridor demokrasi.

Ketika ia telah menjadi kontraproduktif dan melibatkan bala tentara, 
barulah kita dapat menilai faktor yang menjadi pemicunya. Namun, 
terlepas dari semua itu, gesekan antara Gus Dur dan FPI harus dimaknai 
sebagai proses pengembaraan dan pencarian sebuah masjid seperti dalam 
puisi Taufiq Ismail di atas. Kelak kita harapkan ada seseorang yang 
mengatakan: "Inilah masjid yang dalam pencarian itu," sambil 
membentangkan secarik tikar pandan di atas lahan pertanian.

"Kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran, airnya bening dan 
dingin... tanpa kata dia berwudu duluan... ketika kuusap mukaku... 
hangat air yang terasa... air pancuran bercampur dengan air mataku yang 
bercucuran."

Di bawah payung tauhid, kita memang seharusnya saling mengasihi, bukan 
saling memusuhi. Seperti kata Hans Kung, "Tak ada kedamaian dalam suatu 
bangsa tanpa kerukunan antaragama." Apalagi antarsesama agama.

Budi Gunawan
Pemerhati Kebijaksanaan Publik
[Kolom, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 8 Juni 2006]

http://www.gatra.com/artikel.php?id=95174


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke