kalo baca baca tulisan selanjutnya dari mbak dewi itu. ternyata doi emang tipikal yg tidak suka gaya kerja profesional ala orang barat (gak kuat ama individualismenya ??? privacynya ???). pengennya yg nyante nyante di rumah ... gosip, banyak ngobrol ama temen dan mahasiswa, tapi yang sebangsa dan setanah air saja. sekedar kangen aja ama suasana di indonesia ???
dia juga rada rada kagum, terpengaruh ama konsep orang orang kristen fundies di amerika yg lagi memperjuangkan konsep keluarga (kalau di Indonesia adalah ala pks community) atau konsep pendidikan ala orang orang amish yg emang rada rada menutup diri dari pergaulan kalangan lain. anak pun pengennya dididik sendiri dengan konsep home schooling. kalo nurut saya sih, yang kayak ginian suka mimpi mimpi dowang, kayak ratna megawangi, kalo ngobrol ttg konsep keluarga ini itu, eh, kenyataannya, dia sendiri jarang di rumah, keluar melulu kayak ibu ibu tukang arisan yang gak jelas konsepnya buat keluarga. berikut ini informasinya. gaul ama orang lain yang berbeda, emang agak susah bagi beberapa orang. :p bagi yg udah lama ninggalin rumah, emang banyak yg kepikir, balik ke tanah air dapat gaji setara pns pun tak masalah, oke oke aja. tapi begitu ngerasain sendiri kondisi di tanah air yang sangat tidak menantang ... baru deh, teriak teriak, kaok kaok ... di Indonesia kok gak enak .. belakangan lari lagi ke luar negeri .... === http://ddewi.multiply.com/journal/item/3 Karir tuk Hania <http://ddewi.multiply.com/journal/item/3> "Wook ibu wook ...., I did it ...,"begitulah kata Hania, anak keduaku, sembari memberikan secarik kertas penuh coretan kepadaku. Hania, di usianya yang dua tahun satu bulan ini, sudah menampakkan kesukaannya pada kegiatan gambar-menggambar. Tidak saja dia sudah dapat menggenggam crayon dengan benar sejak usia satu tahun, namun sekarang ini dia juga sudah trampil menggambar bulatan. Hania gadisku, apakah kamu akan menjadi pelukis bila kamu besar nanti ? Atau apakah kamu akan menjadi designer nantinya ? Ya, kadang-kadang aku suka berfantasi akan menjadi apa Haniaku yang pintar ini. Eyang putrinya malah berfantasi Hania akan menjadi dokter mata karena 'tangannya trampil'. "Jadi pintar mengoperasi mata katarak," demikian kata ibuku. Tapi apa sebenarnya yang aku dambakan untuk putriku ini ? Bila aku bertanya jauh di lubuk hatiku, maka tiada lain yang aku inginkan selain : aku ingin Hania bisa menjadi muslimah yang baik. Aku ingin kelak dia menjadi anak yang berbakti, menjadi istri yang sholihah dan mampu menjadi ibu yang senantiasa membimbing anaknya dengan baik. Untuk dapat menjadi ibu yang baik, profesi apakah yang cocok untuk Hania, terutama jika kelak dia hidup di Amerika Serikat ? Kembali aku bertanya pada diriku. Jika aku bisa kembali menjadi teenager, profesi apakah yang akan aku pilih supaya kelak aku bisa memenuhi peranku sebagai ibu ? Apakah aku tetap memilih sains, atau memilih disiplin yang lain ? Kembali aku berkaca pada pengalamanku. Dan pengalamanku mengatakan bahwa sangat dianjurkan untuk memilih bidang studi dengan bijaksana pada saat di jenjang pendidikan menengah atas (high school). Pemilihan bidang studi ini tidak seyogyanya hanya dilandaskan pada kesukaan anak maupun prospek uang yang didapat, namun lebih penting lagi adalah se-cocok apakah karir dibidang tersebut dengan tugas terpenting seorang wanita, yaitu menjadi ibu. Nah ... pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mengarahkan anak gadis supaya memandang tugas terpentingnya adalah menjadi ibu yang baik, sehingga dia mau memilih profesi secara bijaksana. Aku rasa, kuncinya adalah contoh dan pengkondisian sejak kecil. Jika si ibu memang berdedikasi tinggal di rumah dan menikmati peran tersebut, maka si anak gadis akan merasa bahwa peran tersebut adalah peran yang agung. Sehingga kala dia ingin melanjutkan pendidikan ke universitas, orang tua akan dapat mengarahkan supaya dia mendalami bidang studi yang bisa memungkinkan dia untuk berkarya dari rumah. Untuk memotivasi gadis untuk mencari profesi yang ramah keluarga, ada baiknya jika orang tua juga sejak dini mengembangkan bakat si anak gadis yang dipandang bisa menghasilkan uang dari rumah. Atau mengajarkan ketrampilan-ketrampilan yang kelak bisa digunakan pada saat si anak gadis menjadi ibu. Aku rasa, bimbingan orang tua kepada anak gadis untuk penentuan profesi sangatlah penting. DAn aku merasa bahwa area ini sering tidak dipandang dengan serius. Dengan alasan emansipasi, banyak ibu-ibu yang religius sekalipun membebaskan gadisnya memilih karir. Aku tidak menganjurkan untuk memaksa seorang anak gadis ke profesi tertentu, atau melarang blak-blakan, tetapi aku menganjurkan untuk mengarahkan atau membimbing si gadis untuk memilih profesi secara bijaksana. Karena perlu diketahui bahwa tidak semua profesi cocok dengan tugas mulia wanita yaitu menjadi ibu. Contohnya, di Amerika Serikat ini, dokter dan ahli hukum (lawyer/attorney) adalah profesi yang tidak hanya mendatangkan banyak uang, tetapi juga memberikan status tinggi di masyarakat. Namun begitu, di negara ini, dua profesi itu merupakan profesi dimana kita harus bekerja seharian dengan jam kerja yang biasanya melebihi profesi lain (antara 50-70 jam per minggu). Dan terutama untuk profesi sebagai dokter, tidaklah mungkin membawa pekerjaan ke rumah. Dengan demikian, walaupun Islam tidak melarang seorang wanita berprofesi sebagai dokter, aku berpendapat bahwa profesi ini tidaklah cocok untuk muslimah di negeri ini. Mungkin aku terdengar tidak modern. Tetapi, setelah mengamati kehidupan di Amerika dan lingkungan kerja disini, aku berkesimpulan bahwa untuk memaksimalkan kemungkinan anak kita tetap berIslam di bumi Amerika, si ibu haruslah semaksimal mungkin menjalankan peranannya sebagai pendidik. Budaya masyarakat Amerika sangatlah bertolak belakang dengan Islam. Bila kita sebagai orang tua tidak mempunyai pengaruh yang kuat terhadap anak dan tidak memenangkan 'hati' anak, maka kemungkinan besar setelah besar si anak tidak mendengarkan lagi nasehat kita dan malah mendengarkan nasehat 'teman'nya. Karena itu, tugas seorang ibu muslimah tidak bisa dipandang enteng, terutama di negara Amerika Serikat. Menurutku, sangat penting bagi seorang ibu untuk memandang tugasnya sebagai tugas yang full time. Jika si ibu bekerja di luar rumah full time, akan sulit untuk menfokuskan ke pendidikan anak, seperti yang aku alami saat ini (dan karena itulah aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi dalam 3 bulan). Karena itu, ibu2 muslimah di Amerika, bila engkau ingin cucu2, cicit2 dan keturunanmu tetap berIslam, jadikan anak gadismu sebagai ibu yang baik. Dan didik anak lelakimu dengan baik sehingga kelak dia menjadi pencari nafkah yang baik, dan mampu memilih istri yang akan menjadi ibu yang baik. ------------------------------ Tambahan: Di bawah ini adalah profesi yang aku pandang sebagai ramah keluarga (on top of my head): 1. bisnis dari rumah. 2. penulis. 3. arsitek. 4. accounting. 5. sekretaris virtual. 6. designer grafis. 7. komputer. 8. de-el-el. (buku2 ttg tipe2 home business akan memberikan ide akan apa2 yang bisa dikerjakan di rumah). On 6/8/06, Tampubolon, Mohammad-Riyadi < [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Konon, akaibat terlalu lama dijajah dan lingkungan budaya/pendidikannya > yang selalu dibanding-bandingkan dengan 'sukses' orang yang ada diluar > lingkungannya, kebanyakan orang dari negara berkembang mengalami > scarcity mentality, mental berkekurangan, yang selalu menganggap apa > yang ada pada orang lain selalu lebih baik dan apa yang ada pada dirinya > kurang/tidak baik. > > Punya pengalaman 'unik' uji nyali yang ga mungkin lupa, sholat > dipinggiran gedung di tokyo disneyland yang ramai di tahun/milenium baru > 2000, semua orang yang lewat mesti berhenti hanya untuk melihat untuk > memastikan dan kemudian sebagian langsung berlalu begitu saja ada juga > yang 'nekat' bertanya sama yang 'jaga' secara bergantian.. Setelah > dijelaskan.. Cuma ngangguk-ngangguk sambil nyegir kuda.. Jadi, ga mesti > ikutan berkokok atau mengembiklah untuk beradaptasi itu.. Diajak minum > sake, tinggal jelaskan kita tidak boleh minum khamr, memang butuh > sedikit nyali untuk menjadi diri sendiri yang merdeka.. > > > -----Original Message----- > From: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com> [mailto: > [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>] On > Behalf Of Ari Condro > Sent: Tuesday, June 06, 2006 7:29 PM > To: ppiindia > Subject: [ppiindia] Kita Memang Berbeda ... catatan untuk ilmuwan muslim > di negeri asing. > > Kita Memang Berbeda ... catatan untuk ilmuwan muslim di negeri > asing.<http://ddewi.multiply.com/journal/item/2> > http://ddewi.multiply.com/journal/item/6 > > "Masuk kandang ayam berkokok, masuk kandang kambing mengembik". Demikian > kira-kira yang bunyi pepatah Indonesia yang menganjurkan kita untuk > meleburkan diri ke lingkungan baru supaya kita cepat diterima oleh > masyarakat tersebut. > > Nasehat yang bagus. Dan saya tidak akan pernah terpikir untuk > mengkritiknya kalau saya tidak pernah tinggal di negeri orang putih. > > Ya ... tinggal di negeri orang putih dengan budaya dan moral yang banyak > tidak sesuai dengan Islam memang membuat saya kesulitan menerapkan > nasehat di atas. Hasilnya, biar pun saya sudah lebih dari satu dekade > tinggal di negeri empat musim, tetaplah saya tidak pernah sukses > menjalin hubungan dengan penduduk asli. > > Saya ingat, waktu saya pertama kali pindah ke Inggris, saya tinggal > bersama keluarga Inggris. Pd saat itu, saya mati-matian mencoba > menerapkan pepatah diatas. Kalau mereka mengembik, saya mengembik pula. > Artinya, kalau mereka pergi ke tempat A, saya ikut juga. Kalau mereka > melakukan B, saya ikut juga. > Waktu itu entah kenapa saya ingin sekali bisa melebur dengan penduduk > asli. > Mungkin hal ini disebabkan karena sebagai orang Indonesia, kita dituntut > untuk selalu ikut dengan 'the mainstream' supaya tidak 'nganeh-anehi'. > Akibatnya, saya memang mengalami kesulitan untuk menolak hal-hal > tertentu pada saat pertama-tama saya tinggal di Inggris. > > Walaupun begitu, lama kelamaan memanglah saya merasa aneh karena saya > tidak merasa nyaman dengan budaya baru tersebut. Seiring dengan > meningkatnya pemahaman saya tentang Islam dan menaiknya 'pede' sekaligus > individualitas saya, maka saya mulai bisa menolak atau say no. Jadilah > saya mulai menolak tawaran-tawaran yang menurut saya tidak Islami. > > Pada saat saya kuliah S1 di Sheffield, tidaklah susah untuk menolak > hal-hal tersebut, karena memang pada saat itu saya membatasi pergaulan > saya. Jadi network saya hanyalah orang Indonesia atau orang muslim saja. > > Masalah mulai muncul kala saya mengambil program S3. Di Inggris, sebagai > ilmuwan, kita dituntut tidak hanya untuk melakukan riset sendiri, tetapi > mampu juga untuk networking atau berkolaborasi dengan ilmuwan lagi. > Hampir tidak mungkin kita melakukan riset tanpa pernah berkolaborasi. > Dari tahun ke tahun, pembimbing saya memberikan contoh bahwa > berkolaborasi berarti bersosialisasi. Apa artinya ? Artinya, kita mesti > siap untuk berteman dan bersosialisasi di bar-bar pada saat konferensi > diadakan. Situasi ini tidak hanya ditemukan di Inggris, namun juga di > Amerika Serikat, tempat saya berada saat ini. > > Bisa dipastikan "I miss out a lot" dengan menolak bersosialisasi sambil > minum2 di bar. Walaupun ada yang menganjurkan untuk meminum orange juice > atau coke di acara seperti itu, tetaplah saya tidak nyaman berada di > lingkungan seperti itu. Jadilah saya tetap bersikeras untuk tidak > bersosialisasi seperti itu. > > Apa jalan keluarnya untuk ilmuwan muslim di lingkungan seperti ini ? > Terus terang saya kurang tahu. Satu2nya hal yang mungkin bisa dilakukan > adalah memaksimalkan 'obrolan' pada saat lain, seperti coffee break dan > disaat melakukan aktivitas yang tidak dilarang oleh Islam, seperti > poster session dan pada saat tour bersama. > > Pengalaman saya mendatangi konferensi ilmiah sepanjang karir saya di > science > (15 kali, dari 1998-2006) memanglah sangat berharga. Tetapi pada saat > yang sama, saya sering merasakan keterasingan di konferensi tersebut > karena perbedaan kita dengan penduduk Amerika/Inggris. Jadilah saya > kerap kali merasakan 'bitter sweet' experience saat saya mendatangi > konferensi. Sweet karena berarti saya belajar banyak, bitter karena > harus meninggalkan keluarga dan karena saya tahu saya akan kesepian pada > sore/malam harinya. > Sering pikiran saya melayang pada konferensi ilmiah yang didatangi mama > sebagai dokter ahli mata di Indonesia dimana suasana yang guyub, akrab > dan kekeluargaan terasa sekali. > > Pengalaman saya berkecimpung di dunia riset selama 8 tahun di negara > asing ini semakin menguatkan pikiran saya bahwa kita memang berbeda. > Muslim memanglah berbeda dari yang bukan muslim. Budaya dan moral value > kita terlalu berbeda untuk kita bisa melebur dengan mudah di lingkungan > orang kulit putih. Memanglah tidak mudah menjadi muslim di negeri ini. > Banyak kontrol diri yang mesti kita lakukan supaya kita tidak melanggar > aturan Allah. > > Tak heran jalan ke surga di-deskripsikan sebagai jalan yang sulit, penuh > duri dan berkelok2. Tidaklah kita sampai ke surga tanpa diuji. Saya rasa > tidaklah kita perlu bersikeras untuk bersosialisasi di tempat yang tidak > layak untuk mendapatkan kolaborasi. Saya yakin, jika kita tetap > menghindari larangan-Nya maka Allah akan menyediakan jalan. > > Jadi tak perlulah kita selalu mengembik jika kita memasuki kandang > kambing. > Tak perlu juga kita selalu berkokok di kandang ayam. Tetapi ingatlah > Allah dimana saja. > > Kado buat titut yang baru saja memulai program S3-nya. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ************************************************************************ > *** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > ************************************************************************ > *** > __________________________________________________________ > __ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]<ppiindia-digest%40yahoogroups.com>5. > No-email/web > only: [EMAIL PROTECTED] <ppiindia-nomail%40yahoogroups.com>6. kembali > menerima email: > [EMAIL PROTECTED] <ppiindia-normal%40yahoogroups.com> > > Yahoo! Groups Links > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

