On 6/10/06, machmud mubarok <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Lebih mengecewakan lagi, presenternya Titik Prabowo
> Soeharto yang nol besar soal sepakbola. Itu sih bunuh
> diri. Memang katanya Titik ini komisarisnya SCTV. Tapi
> masa iya, karena dia komisaris, kemudian harus jadi
> presenter yang "blonk" soal sepakbola. Boro-boro mau
> denger komentarnya, pindah channel dech...


Feeling.. nothing more than feeling.. Artikel di bawah barusan aja gw
dapat..
kemarin nulis komentar soal 'Titik' cuma pake feeling aja.. :-)
Ternyata feeling gw kali ini emang ada buktinya/gak meleset.. :-p

--------
http://www.kontan-online.com/print.php?q=v&tahun=IX&edisi=44&id=1

Henry Pribadi Hengkang dari SCTV

Kisah penjualan 25% saham Henry Pribadi ke PT. Abhimata Mediatama

Saham 25% milik Henry Pribadi dilego ke PT Abhimata Mediatama kepunyaan
Eddy Sariaatmadja. Kini, 80% kepemilikan saham di Surya Citra Media,
pemilik 99,99% SCTV ada di tangan Eddy.
Ulin Ni'am Yusron, Yacob Yahya

     Siapa tak hafal slogan "Satu untuk Semua". Slogan Surya Citra Televisi
(SCTV) yang
     menggantikan slogan lama "SCTV Ngetop" ini sangat populer di kalangan
pemirsa teve.
     Tapi, slogan ini ditujukan buat masyarakat. Maksudnya, acara yang
disajikan SCTV
     memenuhi semua segmen masyarakat. Untuk urusan dalam perusahaan, terang
slogan
     "Satu untuk Semua" tak bisa begitu saja diterapkan. Apalagi kalau sudah
menyangkut
     urusan kepemilikan di antara dua orang yang memang tak cocok dalam
mengurus
     perusahaan.

     Itulah gambaran yang terjadi di SCTV sebelum akhirnya terjadi
perpindahan kepemilikan
     saham dari Henry Pribadi ke tangan Eddy Kusnadi Sariaatmadja secara
resmi, akhir Juli
     lalu.Henry Pribadi, mantan bos Bank Andromeda yang berkibar dengan
bendera
     PT Citrabumi Sacna, kini resmi tak lagi tercatat sebagai pemegang saham
di
     PT. Surya Citra Media Tbk. Perusahaan inilah yang menguasai 99,99%
SCTV.

     Secara otomatis, Henry juga mesti melepaskan jabatan komisaris utama ke
tangan
     pemegang saham mayoritas yang baru, yaitu PT Abhimata Mediatama.
     Siapa, sih, orang yang menjalankan Abhimata Mediatama? Adakah nama
orang-orang
     beken lain yang ikut terlibat dalam transaksi ini? Hal inilah yang
menimbulkan tanda tanya
     publik. Menurut penelusuran KONTAN, transaksi penjualan saham ini
sebenarnya
     biasa-biasa saja, di luar soal perseteruan yang cukup serius antara
Henry dan Eddy.
     "Mereka memang tidak cocok dalam menjalankan perusahaan.

     Itu sebabnya, walaupun dapat duit, Henry juga kelihatan tidak happy
keluar dari SCTV,"
     ujar sumber KONTAN. Selama ini Henry menggenggam 25% saham PT Surya
Citra
     Media Tbk atau setara 473.437.500 saham. Akan halnya PT Abhimata
sebelumnya
     sudah menguasai kepemilikan 39,42%. Tapi, 21 Juli lalu, lewat transaksi
di bursa,
     semua saham Henry dilego ke PT Abhimata. Citrabumi melepas sahamnya
seharga
     Rp 1.225 per saham, atau total transaksinya senilai Rp 580 miliar.
Jadi, siapa Abhimata?
     Kok, tiba-tiba menjadi pemilik stasiun televisi yang masuk dalam tiga
besar stasiun
     televisi selain RCTI dan Indosiar? Lalu mengapa Henry Pribadi tiba-tiba
melepas saham
     di tengah melesatnya bisnis televisi?

     Nasib manajemen (semoga) aman

     PT Abhimata Mediatama tak lain adalah anak perusahaan Grup Elang
Mahkota Teknologi
     (Emtek). Perusahaan ini bergerak dalam industri telekomunikasi dan
teknologi informasi.
     Beberapa anak perusahaan Elang Mahkota adalah Bitnet Komunikasindo
(Bitnet) yang kini
     berubah nama menjadi bozz.com, Abhimata Persada, Abhimata Citra Abadi,
dan Tangara
     Mitrakom. Pemiliknya: Eddy Sariaatmadja. Nama ini tercatat sebagai
Komisaris PT London
     Sumatra (Lonsum), perusahaan perkebunan yang sudah memasuki usia 100
tahun.
     Eddy juga tercatat sebagai anggota dewan penyantun Universitas Kristen
Petra Surabaya
     (2005-2010).

     Rupanya, Eddy pengusaha yang low profile. Ia tak perlu gagah-gagahan
sebagai pemilik
     dengan duduk di singgasana tertinggi. Makanya yang dipasang sebagai
Komisaris Utama
     SCTV menggantikan Henry adalah Letjen (purn.) Soeyono, mantan Kepala
Staf Umum
     ABRI yang terdepak dari lingkaran pemerintah Orde Baru lantaran
dianggap dekat
     dengan Megawati Soekarnoputri. Soal masuknya sang jenderal penggemar
motor besar
     ini, "Pak Yono sudah lama di grup kita, Emtek Group," ujar Wakil
Komisaris Surya Citra
     Media Fofo Sariaatmadja, yang tak lain adik kandung Eddy Sariaatmadja.

     Nama lain di jajaran komisaris yang menimbulkan tanda tanya adalah Siti
Hediati Hariyadi
     yang tak lain adalah Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo Subianto.
Gara-gara nama
     Titik muncul di situ, banyak pihak mulai berspekulasi soal asal-muasal
duit yang dipakai
     untuk "mengusir" Henry keluar dari SCTV.

     Ada yang bilang itu duit tentara; ada juga yang bilang duit Cendana.
Namun, lagi-lagi
     Fofo membantahnya. "Mbak Titik sudah di Abhimata Mediatama sebagai
komisaris,"
     ujarnya. Makanya, lanjut Fofo, lumrah saja kalau sebagai pemegang saham
mayoritas
     menambah komisaris dari kalangan grup sendiri. Pihak manajemen sendiri
berusaha
     menunjukkan pada publik bahwa transaksi penjualan saham ini adalah hal
normal,
     tak ada perseteruan atau saling jegal. Transaksi ini dinilai Presiden
Direktur SCTV
     Wisnu Hadi sebagai transaksi bisnis biasa. Abhimata memang ingin
mengembangkan
     visi grupnya secara lebih luas ke depan di bidang teknologi,
telekomunikasi,
     dan multimedia.

     "Selama dua tahun terakhir ini sudah kelihatan. Dari aspek komersial
meningkat terus,
     yah," ujar Wisnu. Alasan itu memang terdengar klise. Sebab,
sumber-sumber KONTAN
     menyebutkan penjualan saham Henry merupakan konsekuensi dari pola
hubungan yang
     tak harmonis lagi di antara Henry dan Eddy. Bahkan, sebelum berseteru
di SCTV,
     Henry dan Eddy sudah bersitegang di Lonsum. Kabarnya sempat keluar
ancaman
     dari Eddy bahwa salah satu dari mereka harus keluar. Henry dipersilakan
membeli
     saham Eddy di SCTV, atau kalau tidak punya uang, ya saham Henry yang
dibeli Eddy.

     Selama ini Henry ibarat jalan sendiri, terisolasi oleh pemegang saham
lain.
     Sebelumnya Henry merasa aman. Sebab, selain memiliki 25% saham, ia
berkongsi dengan
     Agus Lasmono yang menggantikan Sudwikatmono sebagai pemegang 15% saham.

     Tapi, belakangan kongsi ini pecah, dan Agus memihak Eddy dengan menjual
sahamnya.
     Maka, Eddy berhasil memegang 55,86% saham. Wajar saja kalau posisi
Henry menjadi
     minoritas setelah Eddy dan Agus berkongsi. Fofo sendiri menyatakan
keputusan
     penjualan saham Henry adalah keputusan personal. "Mungkin beliau mau
memulai usaha
     yang lain atau juga mungkin visi sudah berubah," kata Fofo.

     Lalu, bagaimana dengan nasib direksi? "Sementara masih direksi yang
lama," ujar
     Wisnu masygul. Fofo menegaskan, belum ada rencana penggantian direksi.
     Memang, sumber-sumber lain juga menyatakan pergantian direksi tak akan
terjadi
     dalam waktu dekat ini. "Sampai Piala Dunia 2006 selesai tak ada
perubahan,"
     ujar sumber tadi.

     Dapur SCTV makin Kinclong

     SCTV merupakan anak perusahaan PT Surya Citra Media Tbk. Perusahaan ini
tercatat
     melantai di Bursa Efek Jakarta mulai 28 Juni 2002 dengan kode
perdagangan SCMA.
     Sebelumnya, nama perusahaan ini PT Cipta Aneka Selaras. Perubahan nama
sejak
     29 Januari 1999 ternyata berbuah hasil besar. Sebelum mengadu
peruntungan
     di Jakarta, SCTV terlebih dulu mengudara sebagai stasiun teve lokal di
Surabaya.

     Stasiun ini kemudian mampu menyodok pesaingnya dan berhasil menduduki
urutan kedua
     audience share di antara persaingan stasiun televisi yang sangat ketat.

     "Kita harus tetap bisa memimpin dengan meningkatkan audience share dari
nomor dua,"
     ujar Wisnu Hadi, Presiden Direktur SCTV. Dari sisi laba perusahaan,
tahun 2005
     Surya Citra Media menunjukkan kinerja yang bagus: laba usaha semester I
2005
     mencapai Rp 120,46 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun
2004
     hanya Rp 94,82 miliar. Sisi pendapatan iklan juga terus merangkak naik.


     Semester I 2005, SCTV menangguk pemasukan dari iklan sebesar Rp 530,82
miliar.
     Padahal periode yang sama tahun 2004 hanya Rp 437,88 miliar. Jika
dilihat dari
     tren meningkatnya performa industri televisi, pendapatan iklan ini akan
berlanjut
     terus. Apalagi, SCTV berhasil mengantongi hak eksklusif penyiaran
televisi dan radio
     di Indonesia untuk ajang Federation Internationale de Football
Association (FIFA)
     World Cup tahun 2006. Hak yang diperoleh pada tanggal 17 Desember 2003
itu setahun
     kemudian dijual SCTV kepada PT Perada Swara Production untuk urusan
sponsor.
     Dengan penjualan tersebut, Perada berhak menayangkan seluruh iklan dari
produk
     tertentu selama berlangsungnya FIFA World Cup 2006. Pada Juni lalu
Perada menyetor
     uang muka sebanyak US$ 5 juta kepada SCTV.

Nonton pas tandingnya aja...Hidup ARGENTINA!!


Mendingan lihat hasil pertandingannya aja dulu baru bilang
'Hidup Argentina', bos.. :-)

Wassalam,

Irwan.K

--- "D.O.C 107" < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Mendingan juga chatting biar enak... :))
> >
> > SCTV bukan ga kuat bayar, ga kuat nanggung Rugi
> > lagi... :))
> >
> > D.O.C 107
> >
> >
> > On 6/9/06, tari ramayajati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >  Kecewa banget nonton SCTV..udah nunggu-nunggu liat upacara
> pembukaannya
> > > yang megah...yang keluar ternyata ungu..raja dan yang nggak
> > > mutu-mutu..kampret.......
> > > Gimana sih SCTV, seharusnya ditulis dong dalam acara..." Pembukaan Ala
> > > SCTV aja nggak pake pembukaan di Jerman, nggak kuat Bayar...so nggak
> perlu
> > > ditunggu "..menyedihkannnnnnnn


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke