http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=251717&kat_id=16

Sabtu, 10 Juni 2006


Sepak Bola dan Politik-Demokratik 
Oleh : Thomas Koten
Pengamat Olahraga, Direktur Social Development Center


Ketika pada Piala Dunia 1990 Maradona diangkat oleh Presiden Menem sebagai duta 
resmi Argentina, maka sang legenda sepak bola Argentina itu menjadi simbol 
konkret identifikasi antara olahraga dan politik. Pertalian erat antara 
olahraga dan politik bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, bukan hanya dengan 
politik. Sebab olahraga memiliki multimakna; sosial, ekonomi, politik atau 
ideologi, dan kesehatan.

Diktator Adolf Hitler juga pernah memanfaatkan Federasi Sepak Bola (DFB) untuk 
propaganda politik Nazi. Dia mengatakan, ''Orang besar adalah pelari maraton 
sejarah''. Diktator lainnya, Bennito Mussolini, merasa penting dirinya 
ditampilkan dalam pose-pose olahraga, seperti sedang bermain anggar, tenis, 
atau naik kuda. Sebab, menyitir I Bambang Sugiarto (2000), bagi Mussolini, 
seorang politikus sejati haruslah serentak merupakan simbol kejantanan sportif. 
Sedangkan bagi kaum sosialis, olahraga adalah manifestasi penting semangat 
ideal kolektivisme yang rasional dan higienis.

Jadi, dari pertalian antara olahraga dan politik atau ideologi, sudah tampak 
betapa olahraga dalam peradaban modern, bukan lagi sekadar kegiatan yang 
netral, melainkan kental sekali kandungan multimakna itu. 

Tulisan ini memfokuskan diri pada sepakbola, dengan lebih menitikberatkan pada 
politik, terutama politik demokratik. Artinya, sepakbola bukan sekadar 
olahraga, melainkan telah lama menjadi alat politik sekaligus inspirasi dan 
pembelajaran dalam berpolitik. Dengan kata lain, sepakbola dalam 
perkembangannya bukan hanya sebagai alat politik atau legitimasi politik 
kekuasaan --seperti diktator Franco di Spanyol yang konon pernah memanfaatkan 
klub sepak bola Real Madrid sebagai alat legitimasi kekuasaannya, Mussolini 
pada Piala Dunia 1934 yang memaksakan Piala Dunia harus dilaksanakan di Italia 
dan klubnya harus 'menang atau mati', atau seperti Hitler di atas-- tetapi juga 
sebagai media pembelajaran politik demokratik, terutama yang bertalian dengan 
politisi dan konstituennya.

Sepakbola dan demokrasi
Bila dilihat lebih dalam, sepakbola memang mengajarkan banyak hal tentang 
politik, strategi memenangkan pertarungan politik, dan keterlibatan publik di 
dalamnya, atau yang biasa disebut demokrasi. Dalam demokrasi, yang didahulukan 
adalah kepentingan umum atau kepentingan bersama, kemudian barulah kepentingan 
pribadi atau kelompok. Tujuan utama demokrasi adalah menciptakan ruang bagi 
terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Demikian juga dalam sepakbola, sebagai sebuah permainan tim. Dalam sepakbola, 
yang diutamakan adalah kebersamaan sebagai sebuah tim, setelah itu pribadi. 
Pertandingan sepakbola antar bangsa, misalnya, yang didahulukan adalah 
kepentingan dan kehormatan bangsa dan negara, kemudian baru kepentingan pribadi 
atau klab. Apabila dalam politik, partai politik adalah arena atau lapangan 
politik milik rakyat dalam membangun demokrasi, maka dalam sepakbola, lapangan 
hijau menjadi "lapangan politik" milik rakyat untuk membangun kepentingan 
bersama. Dalam hal ini, sepakbola dapat mengajarkan bagaimana seharusnya sebuah 
pementasan arena politik partai dan para pendukungnya dalam menjalankan tugas 
politiknya, yakni fair play.

Dalam setting yang kalkulatif, rakyat yang memberi dukungan kepada partai 
politik dan partai politik yang memperjuangkan kepentingan pendukungnya, ibarat 
kesebelasan sepakbola yang berjuang demi kemuliaan dan kehormatan bangsa dan 
negara serta kegembiraan pendukungnya. Jadi, interaksi antara partai dan 
pendukung atau konstituennya menjadi bersifat transaksional dan masing-masiang 
pihak mengadopsi langkah-langkah yang dalam kajian game theory disebut 
''Tit-for-Tat'' (Anies Baswedan, 2002).

Di sini, keberadaan partai politik berfungsi menjadi katalis menumbuhkan social 
capital. Social capital ini meliputi kepercayaan nilai timbal balik 
(reciprocity) dan jaringan. Dalam hal mana, tingkat perkembangan social capital 
menentukan optimalnya out put politik dari sebuah demokrasi.

Persoalannya adalah bahwa interaksi secara kalkulatif yang mengibaratkan rakyat 
yang menjadi suporter dan partai politik sebagai tim sepakbola terlihat begitu 
gamblang di sini. Tapi dalam politik di Indonesia, hubungan kalkulatif dan 
transaksional itu absen, sehingga wajar kalau demokrasi belum dirasakan 
faedahnya bagi rakyat. 

Artinya, rakyat sebagai konstituen partai politik masih ibarat penonton 
sepakbola yang bersemangat mendukung kesebelasannya dalam berlaga. Tetapi 
setelah itu, mereka tidak mendapatkan apa pun meski partainya memenangkan 
pemilu. Partai politik lupa pada konstituennya.

Apakah keadaan politik kita akan terus ibarat sepakbola? Semoga tidak. 
Sepakbola hendaknya dijadikan inspirasi dalam kehidupan politik kita, terutama 
dalam hal kerja sama dan sportivitas alias fair play dengan mengutamakan 
kepentingan bersama-bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

'Kekayaan' sepakbola
Itulah kekayaan sepakbola, sebuah cabang olahraga yang memiliki peminat sangat 
luas di jagad ini. Sepakbola bukan hanya dimanfaatkan sebagai alat legitimasi 
politik kekuasaan, melainkan juga sebagai arena pembelajaran politik, sekaligus 
ekonomi-bisnis. Sepakbola sebagai alat politik dan intervensi politik seperti 
yang diperankan oleh para diktator Franco di Spanyol, Mussolini di Italia, dan 
Hitler di Jerman kian berkurang. Yang berkembang adalah sepakbola akan semakin 
dijadikan sebagai area dan momentum sosial untuk menunjukkan kehormatan, 
kemuliaan, kebesaran, dan keharuman nama bangsa, di samping tentu kepentingan 
bisnis di dalamnya. 

Secara pribadi atau kelompok, sepakbola dijadikan sebagai inspirasi untuk 
pengembangan diri dalam meraih prestasi puncak karier seseorang. Sebab hampir 
tidak ada media lain yang lebih pas selain olahraga sepakbola untuk memperoleh 
nilai-nilai perjuangan atau kerja keras, kebersamaan, sportivitas, dan 
lain-lain.

Karena begitu kayanya sari makna dari sepakbola, serta peminatnya yang banyak, 
maka sangat disayangkan bila ia tidak berkembang di Tanah Air. Padahal, bila 
diperhatikan dan dikelola secara baik, mulai dari sistem perekrutan sampai 
manejeman pengaturan, pembinaan, dan kompetisi yang maksimal, bukan tidak 
mungkin, Indonesia menghasilkan pemain-pemain andal dan membanggakan. Apalagi 
jumlah penduduk Indonesia di atas 200 juta. 

Tapi apa yang kita lihat? Sepakbola kita hanya ramai diperbincangankan. Eve 
sepakbola akbar seperti Piala Dunia yang merupakan kesempatan emas untuk 
mengharumkan nama bangsa Indonesia di pentas dunia pun hanya tersimpan dalam 
'laci mimpi indah' kita semua. Sepakbola kita seperti politik kita yang hanya 
manis, enak, dan gurih dilumat dalam mulut, namun tak membawa keuntungan apa 
pun bagi rakyat. Jangan-jangan kita butuh seorang diktator baru ala Spanyol, 
Italia, dan Jerman untuk memajukan olahraga dan politik di Tanah Air?


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke