Catatan Mawar Merah Café Bandar: SEUSAI MENONTON WAYANG ORANG Waktu masih remaja Yogya, aku sangat sering ke Solo.Kadang-kadang, pada hari libur sekolah atau akhir pekan,secara berombongan, naik sepeda menempuh jarak kuranglebih 60 km.Yang menjadi jujugan adalah rumah Elanda Rossi DS [alm.] atau Mansur Samin yang kami pandang sebagai sesepuh yang patut kami timba pengetahuan dan pengalamannya bersastra. Pada kesempatan berada di Solo begini, aku selalu meluangkan waktu untuk pergi ke Taman Sriwedari guna menonton pertunjukan wayang orang. Dibandingkan dengan pertunjukan wayang kulit, aku lebih menyukai wayang orang. Dan yang paling kusukai adalah tokoh Gatotkaca serta Hanoman, sang raja kera putih. Pada tokoh Gatotkaca kudapatkan keperkasaan lahir dan jiwa, sedangkan pada Hanoman kudapatkan sifat urakan yang tak perduli dewa tertinggi sekali pun jika dirasakan ia rasakan dewa melanggar keadilan.Pesan-pesan ini kudapatkan berangkat dari dasar budaya Dayak di mana masa kanakku diasuh. Dengan menonton wayang orang melalui tokoh-tokohnya kudapatkan bahwa melalui tokoh-tokohnya kudapatkan adanya pesan bersifat universal tapi diungkapkan dalam bentuk serta warna lokal. Maka seusai menonton wayang orang, sebagaimana setelah menonton operas Tionghoa Indonesia yang digelarkan oleh rombongan dari CHTH Yogyakarta dan kesenian-kesenian daerah lainnya, aku memahami keniscayaan arti kemajemukan dalam bentuk karya sastra-seni tapi satu dalam universalisme kemanusiaan yang bersifat tunggal. Ide ini di negeri kita dirumuskan dalam motto "bhinneka tunggal ika". "Bhinneka" dalam kebudayaan, "ika" dalam universalisme kemanusiaan. Apakah itu "kebhinekaan"? Ketika aku membandingkan pesan yang sama tapi disampaikan dalam bentuk berbeda entah oleh kesenian Jawa dan kesenian Dayak atau etnik Tionghoa atau bangsa serta etnik mana saja, tapi dalam bentuk yang berbeda maka kukira, kebhinekaan itu di sini tidak lain berupa keragaman dalam bentuk tapi satu dalam mimpi kemanusiaan. Barangkali kehinnekaan inilah yang patut dipertahankan karena memang merupakan kenyataan di mana pun.Tidak daerah, tidak ada sungai, negara atau negeri apa pun namanya yang dihuni oleh etnik atau bangsa tunggal.Bentuk beragam ini pun sebenarnya tidak bebas dari saling hubungan dan pengaruh, saling serap berbagai budaya di luar dirinya. Ia menjadi dirinya dengan menyerap unsur-unsur tanggap untuk dirinya dan guna menjadi dirinya.Bila penglihatan ini benar maka sektarisme tidak lain dari suatu kebuntuan dan ketidakmampuan berpikir serta bersikap seperti yang bisa ditumbuhkan oleh nasionalisme baik berskala bangsa atau etnik. Karena itu Albert Camus penulis "Pied Noir" Perancis mengatakan ketika menanggapi Perang Kemerdekaan Aljazair pernah mengatakan bahwa negeri sebagai geografi hidup manusia itu oyektif sedangkan bangsa itu sangat politis. Tentu saja Camus tidak memisahkan keadilan, kemanusiaan dan negeri sebagai hak alami. Keragaman ini lahir dan berkembang atas dasar sejarah budayanya sendiri dan sama sekali tidak bertentangan dengan kemanusiaan yang tunggal. Ia adalah bentuk pengungkapan, suatu wahana. Dan kukira keragaman inilah yang patut dipertahankan, dilestarikan, serta dikembangkan sehingga jika kita sepakat, maka kebhinnekaan itu indah sedang ketunggalan mengandung petaka, bertentangan dengan kenyataan. Kergamanan, kemajemukan dengan demikian searah dengan demokratisasi. Tapi keragaman pun tentu saja terdapat pada ide atau wacana.Karena wacana, kukira, merupakan dilahirkan oleh keadaan sosial-ekonomi dan sejarah tertentu. Apabila kita membaca "Les Miserables" karya Victor Hugo atau "Spartacus" karya Howard Fast misalnya, mungkin kita akan memahami mengapa ide wacana sosialisme lahir. Sosialisme dan bahkan kesamaan manusia di hadapan Tuhan, pun barangkali muncul dari keadaan yang oleh Victor Hugo disebut dari keadaan "miserable" serta keadaan di Abad Pertengahan.Sosialisme tidak lain dari keadilan manusiawi yang utuh. Karena itu negeri sosialis dan sosialis bisa bermacam-macam sebagaimana yang dirumuskan oleh cendikiawan-cendekiawan Perancis dalam istilah "sosialisme nyata".Artinya sosialisme adalah suatu wacana sedang wahananya tanpa model. Jika sosialisme identik dengan keadilan manusiawi lalu bisakah kita katakan sosialisme sebagai wacana sia-sia?! Sementara wahananya adalah suatu pencarian "trial and error".Sekali lagi di sini aku melihat arti pentingnya demokrasi, kebebasan mencari dan melaksanakan, bebas dari dominasi apalagi kekangan "hukum rimba" kekuasaan.Pentingnya toleransi serta keterbukaan sesuai dengan prinsip kritik otokritik, keterbelakangan dan berbahayanya model berpikir hitam-putih. Kalau wahana dan wacana adalah saripati dari usaha manusia untuk memanusiawikan diri, kehidupan dan masyarakatnya maka kebhinekaan yang tidak lain dari demokrasi dengan garis bawah kebebasan, akhirnya menjadi kata kunci. Oleh karena waktu membuat situasi dan kenyataan tidak statis maka wahana dan wacana yang kedua-duanya merupakan produk zaman maka ia pun tidak statis. Dengan demikian maka pelestarian lebih bersifat pengenalan sedang revitalisasi [pemberdayaan tanggap zaman] dan restitusi [pengembalian] atau mempertahankan gantang penakarnya tetap ketanggapan pada zaman. Mempertahankan, pelestarian dan pengembalian, tetap konsep-konsep mengandung bahaya dan membuat diri secara sukarela ketinggalan jauh di belakang tak mampu menjawab kekinian jika tidak berpedoman pada perkembangan dan tuntutan waktu. Kebudayaan adalah jawaban angkatan anak manusia pada zamannya. Bagi anak manusia, etnik dan bangsa hanyalah suatu perbatasan semu yang dilahirkan oleh sejarah tapi benar, patut diperhatikan demi ketanggapan pada zaman karena kita hidup di hari ini. Tanggap zaman menuntut kita memperhatikan kemarin dan hari ini untuk menatah esok. Kemarin, hari ini dan esok bukanlah pulau-pulau terpisah. Jika benar demikian, lalu apakah pelestarian, mempertahankan dan pengembalian adalah permasalahan hakiki tanggapzaman kebudayaan?! Apakah ia merupakan pertanyaan yang tepat? Tidakkah ia lebih merupakan betapa selama ini di negeri kita tidak ada politik etnik yang tepat , menyimpang dari konsep Republik dan Indonesia? Gambaran dari keangkuhan mayoritas dan penindasan anak negeri oleh anak negeri yang kemudian meledak dalam teriak begitu merasa dan melihat ada peluang berteriak tanpa sempat menenangkan diri dan tajam menatap mencari makna? Barangkali untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita kembali mempertanyakan apakah etnik, apakah bangsa, negeri, negara, republik, Indonesia dan kemanusiaan. Apakah sastra-seni terlepas dari jawaban terhadap soal-soal ini ataukah sebatas rataptangis seorang putus cinta dan kerinduan pada kekasih yang memang juga alami? Tapi apakah ruang hidup sekecil itu? Ataukah tidak lebih dari sebuah ikon kecil dari cinta yang lain?! Seperti renungan Henny Purnama Sari kita memang suka menyempitkan ruang gerak kita. Inilah yang kurenungkan saban usai menonton wayang orang dan pertunjukkan seni lokal, wayang orang, wayang kulit atau mendengarkan lagu-lagu Ambon, Batak dan lain-lain.. atau mendengar karya Udin, pimpinan Ansambel Tari Nyanyi "Maju Tak Gentar", grup pujaan Presiden Soekarno, dari Medan yang berwarna lagu Tionghoa tapi tetap kukatakan karya Indonesia. Paris, Juni 2006. --------------- JJ. Kusni
Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Everything you need is one click away. Make Yahoo! your home page now. http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

