RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR Jawaban: ======= Bung Hadinoto, - bahwasanya di dalam suatu masyarakat manusia, di mana-mana, selalu ada kecenderungan si mayoritas menyepelekan si minoritas (minoritas-minoritas), itu tidak perlu kita herankan. - - - Juga di negeri kita, Indonesia, tak ada bedanya . . . Menyepelekan demikian itu adalah hak masing-masing, itu hak yang dimiliki oleh mereka yang kurang berkembang otaknya . . . Tapi, jika si mayoritas sudah menunjukkan perilaku SARA, menindas dan bahkan bersikap rasialis (seperti kecenderungan sementara orang di Eropah ini), maka persoalannya sudah bukanhanya "menyepelekan" saja. - - - Bung Hadinoto sendiri bermukim di Austria, dan pasti "kenal" orang berkumis itu (Adolf H.) yang mulai dari "menyepelekan" sampai membantai-bantai jutaan (antaralain) orang-orang "asing" di Eropah ini. Demi integritas Kemanusiaan pada umumnya (baik di Eropah ini, maupun di negeri kita sendiri, Indonesia), marilah kita pantau dan lawan terus pikiran-pikiran dan perilaku jahat seperti tersebut di atas. RedTOLERANSI.RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: Bung Diapari, saya heran atau tidak, tidak merubah keadaan. Yang menentukan adalah sikap penduduk. Lihat sendiri sekeliling anda. Pembayar pajak atau bukan, tidak merubah sikap penduduk dan partai yang berkuasa. Lihat sendiri sekeliling anda. Anda pernah tanya penduduk di belanda mengenai pembunuhan van Gogh? apa yang saya pikir, tak penting bagi perkembangan Belanda, bung, tapi bagaimana orang Belanda pikir. Kemajuan? ketegangan yang muncul di negara negara EU ini kemajuan? Anda kan datang di Eropa ditahun 60an, anda masih ingat kan bagaimana keadaan waktu itu? Waktu kita masih mahasiswa? Keluarga kami baik baik, bersama masyarakat Minahasa yang sangat banyak di Belanda dan Jerman, kami sangat integrated. Anda ikut PERKI? Salam integrasi Danardono --- In [email protected], RedTOLERANSI <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR > Komentar: > ======== > Danardono sedikitpun tidak heran . . . ?! > Apa tidak tahu (?!) bahwa kalau orang-orang Marokko atau orang- orang "asing" siapasaja yang bermukim di Eropah ini sudah berani menuntut-nuntut, maka pada umumnya mereka itu sudah menjadi warganegara yang sah di negeri-negeri Eropah ini . . . > > Apakah juga belum tahu (?!) bahwa jika orang-orang "asing" yang sudah sah memiliki kewarganegaraan di negeri-negeri Eropah tersebut, maka mereka adalah juga pembayar-pembayar Pajak > yang cukup setia . . . > > Apakah masih belum mengerti juga (?!) bahwa prosentase kelahiran manusia di kalangan orang-orang Eropah "asli" sangat rendah dan semakin turun, - untunglah masih ada dan masih berdatangan warganegara-warganegara baru dan masih segarbugar, dari Marokko, Turki, Afrika, . . . Jika tidak begitu, bagaimana kasih makan orang- orang "asli" yang tak lama lagi mayoritas nya diatas umur 70-an ?! > > Kami juga tak heran reaksi mereka, - masalahnya hanya berpikir untuk maju atau berhenti berpikir untuk kemajuan. > > Keluarga situ baik-baik, khan ? Syukurlah . . . > > RedTOLERANSI.RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR > > RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: Heran Batara? > > Saudaraku yang hidup di Leuwen (Belgia) sejak tahun 50an, dan warga > Belgia (katholik), menagatakan pada pertemuan kami dua minggu yang > lalu: "Dik makin banyak orang Marokko disini, yang menuntut macam > macam. Aku iki merasa jadi kayak dinegeri orang". > > "Iya mas, jawabku, rasa rasanya kita nggak di eropa, tapi di Afrika > utara..." > > Kami kemudian mengobrol mengenai dampak sebuah agama dalam > kenyataan, yang sering tak terasa indah dan damai. Di Belanda dan di > Belgia. Suram... > > Tak heran reaksi mereka. > > Piye kabare keluarga, Batara? Semua OK? > > Salam hangat > > Danardono > > --- In [email protected], Batara Hutagalung <batara44rh@> > wrote: > > > > http://www.ranesi.nl/tema/masyarakat/rasialisme_belanda060609 > > Radio Nederland, 07-06-2006 > > Rasialisme di Belanda Makin Meningkat Margreet Strijbosch > > Satu dari sepuluh orang Belanda menganggap dirinya rasialis dan > separoh dari mereka membenci Islam. Hal ini tampak dari penelitian > lewat internet. Kendati demikian, orang Belanda tidak terlalu > xenofobia atau takut orang asing seperti halnya warga negara anggota > Uni Eropa lainnya. > > Sangat mengejutkan > > 'Sangat mengejutkan', demikian tanggapan Lembaga untuk Orang Asing > di Belanda terhadap penelitian tentang rasialisme dan xenofobia di > Belanda. Atas permintaan harian-harian regional, penelitian lewat > internet dilakukan di antara 1020 penduduk Belanda. Hasil penelitian > menunjukkan adanya ketidakpuasan mendasar di antara warga Belanda > asli terhadap warga pendatang. 58% responden menyatakan bahwa daerah > pemukiman mereka akan mundur apabila banyak warga pendatang tinggal > di situ. Sementara 42% menghendaki guru Belanda asli untuk anak- anak > mereka. > > Terutama kaum muslimlah yang sangat tidak populer. Separoh > penduduk Belanda takut akan Islam dan pengaruh kaum muslim terhadap > masyarakat belanda. Islam di mata mereka bukanlah agama yang cinta > damai dan tidak bisa disatukan dengan kehidupan moderen di Eropa. > Tetapi walaupun separoh penduduk Belanda takut Islam dan separohnya > lagi menyatakan warga pendatang ( warga Belanda yang salah satu > orangtuanya orang asing) adalah orang baik. Di samping itu sepertiga > responden menyatakan bahwa perekonomian Belanda sangat membutuhkan > warga pendatang. > > Yang lebih mencemaskan > > Yang lebih mencemaskan adalah jumlah orang yang secara terbuka > menyatakan dirinya rasialis. Sekitar 10%r esponden menyatakan > dirinya rasialis. Peneliti Martijn Lampert dari MotivAction > menjelaskan bagaimana rasialisme itu diukur: > > 'Misalnya pendapat bahwa warga pendatang bisa lebih dulu di- PHK > apabila keadaan perusahaan menuntutnya; asumsi bahwa warga Belanda > asli lebih unggul ketimbang warga pendatang dan bahwa warga Belanda > asli lebih pandai daripada warga pendatang.' > > Manifestasi rasialisme > > Menurut Lampert rasialisme itu tidak hanya di benak kaum rasialis, > tetapi mereka juga berniat mempraktekkannya. Karena itu kaum > rasialis menolak kehadiran warga yang bukan asli Belanda. Ada yang > mempraktekkan rasialismenya secara agresif. Ada juga yang menggelar > mars protes anti warga asing. Kawula muda Belanda menunjukkan > rasialisme mereka dengan mengenakan pakaian merek Lonsdale, > bomberjacks atau lambang-lambang fasis lainnya. Tetapi untuk > sementara rasialisme di Belanda masih sebatas kata-kata dan ungkapan > seperti 'dahulukan orang sendiri'. Tapi ini tidak berarti tidak ada > diskriminasi. Warga pendatang lebih kesulitan mencari pekerjaan > daripada warga asli. Dan kaum muda pendatang mengeluh bahwa mereka > didiskriminasi kalau mau masuk diskotek. > > Meningkat > > Tahun-tahun belakangan perasaan anti masyarakat multikultural > makin meningkat. Tapi ini tidak hanya terjadi di Belanda. Di seluruh > Eropa rasa takut akan Islam -islamofobia- meningkat menyusul > serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. 58% warga Eropa > menganggap warga pendatang sebagai ancaman. Italia, Cheko dan Belgia > berada di atas rata-rata dalam perasaan anti orang asing. Sementara > Belanda berada di bawah rata-rata. > > Tapi menurut Martijn Lampert keadaan ini bisa lebih parah lagi: > > '10% rasialisme...saya pikir rasialisme tidak tergantung masa. > Kalau keadaan di Belanda dibandingkan dengan keadaan di Prancis, di > mana satu dari tiga orang Prancis menyatakan dirinya rasialis, maka > keadaan di sini masih lumayan.' > > Rencana penanganan > > Kendati demikian organisasi-organisasi kaum migran di Belanda > masih prihatin. Begitu pula pemerintah Belanda. Hal ini tampak dari > misalnya 'rencana penanganan' di tujuh kota besar, di mana terdapat > banyak warga asing. Delapan menteri akan berfungsi sebagai 'duta > besar' daerah-daerah yang bermasalah. Mereka harus membina hubungan > langsung dengan pimpinan kotapraja untuk mencegah terjadinya > perubahan-perubahan negatif. > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Sie sind Spam leid? Yahoo! Mail verfügt über einen herausragenden Schutz gegen Massenmails. http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free. http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

