Kpd Bung Ibrahim Isa & Batara Hutagalung yth, Mulanya saya menulis tentang krisis Timor Leste dengan mencoba menganalisa bagaimana suatu negara baru diguncang oleh upaya pembentukan tentara baru secara gegabah (reckless). Ada frustrasi ekonomi dan diskriminasi regional dalam merekrut bekas gerilyawan Falintil untuk membentuk tentara baru FDTL dan polisi nasional PNTL. Apalagi Mendagri Rogerio Lobato yang memecat 600an prajurit eks gerilyawan (sepertiga dari TNI-nya Timor Leste) itu kemudian membentuk semacam Kopassus di dalam Polisi Nasional PNTL.
Nah, ketika semua ini berkait dengan faksionalisme di dalam negara (state), maka guncanglah sang negara, bahkan hampir runtuh - misalnya parlemen gagal bersidang secara paripurna. Bahkan negara mengundang pasukan asing - betapa tragis, bukan. Bayangkan bung Ibrahim dan Batara yang, maaf, super nasionalis, apa nggak keblingsetan andaikata burung Garuda kita apabila ditumplekin dan mau ditata kembali oleh Kangguru? (Siapa tahu kelak Garuda nan mampu terbang gagah perkasa itu diperkosa pula oleh Kangguru yang cuma bisa lompat-lompat, he.. he?) Nah, tiga dasawarsa Orde Baru amat sukses dalam propaganda soal TimTim sehingga publik Indonesia amat abai (ignorant) tentang TimTim. Bahkan kaum nasionalis yang seharusnya melihat TimTim sebagai salah satu aib nasional kita, juga tak peduli, bukan begitu mijnheer Batara? Bahkan para korban musibah HAM seperti kasus 1965- 66, juga lama bersikap abai terhadap TimTim. Kalau berbicara tentang musibah kejahatan kemanusiaan, apalah maknanya beda jumlah korban antara satu juta (1965-66) dan 200an ribu (TimTim). Bukankah kemanusiaan itu pada akhirnya adalah satu dan tunggal, bukan begitu bung Ibrahim yang saya hormati? Singkat kata, karena orang abai terhadap TimTim, dan kebetulan saya pernah mengalami langsung di sana dan pernah kenal beberapa pentolannya (termasuk si Rogerio Lobato, si petualang maverick itu), maka saya tulis itu dengan sekadar ilustrasi sambil lalu bahwa krisis pasca revolusioner semacam itu tidaklah unik. Jadi upaya Hatta dengan "rasionalisasi" perlu disebut demi analisis komparatif sekadarnya, bukan, meski toh berbeda konteks dan perjalanannya. Di sini, saya berterima kasih kepada Bung Ibrahim Isa yang mengingatkan akan hal relevan bahwa upaya Hatta itu juga berekor pada Madiun affair (yang lebih gawat dari pada Dili Berdarah pekan pekan lalu). Tapi, celakanya, tanggapan tanggapan itu lalu berkepanjangan, bertele-tele ke hal hal yang tak relevan lagi bagi TimTim. Saya menulis tentang TimTim, bukan Indonesia 1940an, jadi saya punya legitimasi sebatas konteks TimTim (ini kaidah analisis komparatif) alias saya berhak untuk menolak hal hal tak relevan di luar itu. Jadi para kritisi ini kebablasan. Apalagi mijnheer Batara bikin saya pusing. Fokus Batara pada kejahatan kemanusiaan Belanda di Indonesia 1940an patut kita hargai, tapi bila ini merasuk menjadi obsesi, lalu saya pusing seperti begini: apa nggak ada Westerling di kalangan tentara Indonesia di TimTim, dan Aceh? Apa Rawagede segede TimTim dan Aceh? Obsesi seperti itu mudah meluncurkan kita sampai sesat, tergelincir hingga menutup mata pada kejahatan kemanusiaan bangsa sendiri di masa kini (1965-66, TimTim dsb). Salah-salah, bahkan bisa terjebak ke dalam rasisme terhadap Belanda, bukan lagi anti kolonialisme. Saya yakin bukan itu maksud mijnheer Batara, pasti bung Ibrahim Isa pun tak mau demikian. Soal nasionalisme yang melupakan kejahatan bangsa sendiri mengingatkan saya pada sebuah seminar PPI di Hamburg atau Dusseldorf tahun 1980an. PPI yang nakal itu memasang potret Soekarno, yang kontan membuat para pejabat KBRI Bon marah marah lantas mendatangi organisator seminar. "Lho, mana fotonya Pak Harto, kan dia presiden kita, bukan Soekarno kan!" Sang organisator menjawab dengan tangkas, sambil menunjuk kepada foto Soekarno: "Itu presiden kita. Dia, Soekarno, itu presiden. Kalau Soeharto itu raja namanya". Si pejabat KBRI diam dan kesal. Hebat sang organisator seminar PPI itu. Salut. Dan organisator itu namanya Batara Hutagalung. Lalu tahun 1987 sebuah televisi Jerman mengundang seorang mahasiswa Indonesia untuk tampil secara kritis terhadap Orde baru dengan menggelar acara debat dengan pejabat KBRI Bonn. Betapa kaget saya, kok mahasiswa yang muncul di TV itu Pipit dari Berlin yang paspornya akhirnya ditarik KBRI gara gara acara TV itu. Kok yang datang bukan mahasiswa Hamburg yang justru diundang oleh TV Jerman tsb. Mahasiswa Hamburg itu namanya: Batara Hutagalung. Ada satu lagi kritik Bung Ibrahim Isa, tentang impunitas. Tapi ini saya tangguhkan, saya tanggapi lain kali, karena duduk persoalannya berbeda. Jadi, untuk sementara sekian sazha dulu. Sekali lagi terima kasih dan penghargaan saya kepada Bung Ibrahim Isa dan Batara Hutagalung (maaf saya nggak punya obat anti-obsesi, he, he, bercanda.. bung)) Wassalam hormat, Tossi AS --- In [email protected], Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sehubungan dengan kutipan fakta-fakta sejarah yang ditulis oleh teman lama saya Tossi Abu Prajitno, saya sampaikan beberapa catatan terutama mengenai BKR/TKR dan Re-Ra, yang antara lain saya peroleh dari almarhum ayah saya, Letkol TNI (Purn.) dr. W. Hutagalung (10.03.1910 - 29.04.2002). Jabatan beliau terakhir pada Januari 1950, ketika mengundurkan diri dari TNI adalah Kepala Staf "Q" TNI ("Kwartiermeestergeneraal Staf "Q"). Beliau adalah salah satu wakil Kementerian Pertahanan RI dalam Panitia Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI tahun 1948. > Mengenai masuknya tentara Belanda kembali ke Indonesia, saya kutip a.l. dari J.A. de Moor, "Westerlings Oorlog", Willy Meelhuijsen, "Revolutie in Soerabaja. 17 Agustus - 1 December 1945", Laurens van der Post, "The Admiral's Bab" dan beberapa sumber lain. > Semoga catatan ini bermanfaat dalam diskusi ini. > Salam hangat, > Batara R. Hutagalung > ----------------------------------------------------------------- --- > > 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > > > > "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil > > Presiden Mohammad > > Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang kemerdekaan Indonesia." > > > > > Catatan Batara Hutagalung: > Pada 22 Agustus 1945, dibentuk suatu badan yang dinamakan Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di dalam tubuh BPKKP dibentuk organisasi yang dipersenjatai, yang dinamakan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Memang sesuatu yang unik, yaitu organisasi bersenjata berada di dalam tubuh suatu organisasi sosial. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan Tentara Sekutu yang akan melucuti tentara Jepang, bahwa Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, telah membentuk Angkatan Bersenjata. > Pada 5 Oktober 1945, Presiden Sukarno mengumumkan berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebagai kelanjutan dari BKR. Nama Tentara Keamanan Rakyat tanggal 7 Januari 1946 berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, kemudian tanggal 26 Januari 1946 diganti lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan akhirnya tanggal 3 Juli 1947 menjadi TNI -Tentara Nasional Indonesia. Setelah "penyerahan kedaulatan" (soevereniteitsoverdracht) dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Palais op de Dam, Amsterdam pada 27 Desember 1949, TNI yang menjadi inti tentara RIS dinamakan Angkatan Perang RIS (APRIS), di mana mantan tentara KNIL diterima ke dalamnya. Setelah RIS dibubarkan pada 16 Agustus 1950, maka APRIS berubah menjadi TNI kembali. Di masa Orde Baru, TNI menjadi ABRI, dan setelah Suharto lengser, maka ABRI berubah lagi menjadi TNI. Entah sampai kapan > Selain dibentuk BKR/TKR, juga berbagai kelompok pemuda dan elemen masyarakat membentuk laskar, barisan dan mempersenjatai diri dengan senjata hasil rampasan dari tentara Jepang. Dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya tercatat korban di pihak Jepang: 240 tewas terbunuh, 18 orang hilang dan 36 orang luka-luka. Korban di pihak Indonesia juga sangat besar, beberapa sumber menyebutkan, diperkirakan sekitar 500 orang Indonesia tewas dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya. Namun hasilnya, seluruh persenjataan yang dimiliki tentara Jepang jatuh ke tangan rakyat Indonesia di Surabaya dan sekitarnya. > Pada bulan Oktober 1945 di Surabaya dan sekitarnya, selain BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60 pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai profesi, seperti Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR Pekerjaan Umum, Pasukan Buruh Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, Pasukan Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok (penjara di Surabaya), dll. Kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu membentuk pasukan sendiri, seperti Pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada Pasukan Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun (sebutan Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan Sriwijaya ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di Morotai, Halmahera Utara, dan setelah Perang Dunia II selesai, dalam perjalanan pulang ke > Sumatera Utara mereka "terdampar" di Surabaya. > Mereka yang memiliki anak buah, menentukan pangkatnya sendiri; bahkan tidak tanggung-tanggung, banyak yang mengangkat dirinya langsung menjadi Mayor Jenderal atau Laksamana. Pengangkatan seseorang untuk menjadi perwira, tidak memerlukan prosedur panjang lebar, dan kadang-kadang hanya dalam hitungan menit, seseorang dapat menjadi perwira, dan bahkan 10 menit kemudian langsung naik pangkat. > Untuk mendapat gambaran mengenai pengangkatan perwira dan kepangkatan di tahun 1945, ada beberapa ceritera yang menarik, antara lain dari Ruslan Abdulgani, Kol. TNI (Purn.) Alex Evert Kawilarang dan Letkol TNI (Purn) dr. W. Hutagalung. > Ruslan Abdulgani menuturkan, setelah selesai pertempuran dahsyat tanggal 28 30 Oktober 1945 di Surabaya, sebagai hasil perundingan Presiden Sukarno dengan Mayor Jenderal Hawthorn, disepakati untuk membentuk suatu joint committee (komisi bersama) yang terdiri dari wakil-wakil tentara Republik dan tentara Sekutu. Ruslan Abdulgani ditunjuk sebagai salah seorang yang mewakili Republik di badan tersebut. Karena counterpartnya adalah seorang Kapten, Ruslan Abdulgani menuturkan bagaimana "lahirnya" seorang Kapten di pihak RI (hal ini disampaikan dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Komite Pembela Hak Asasi Rakyat Surabaya Korban Pemboman November '45 di LEMHANNAS RI, dengan judul "The Battle of Surabaya November 1945. Back Ground and Consequences"): > " Akhirnya, sebelum pulang diadakan satu pembicaraan dan satu persetujuan, bahwa sekarang ada truce agreement dan bahwa di dalam truce agreement itu akan diadakan satu joint committee dan di dalam joint committee dari Inggris adalah Brigadir Jenderal Mallaby, Kolonel Pugh, Mayor Hudson, Kapten Shaw, Wing Commander Groom. Dari pihak Indonesia adalah Residen Sudirman, Dul Arnowo, Atmaji, Muhamad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, Kundan. Saya sekretaris, sana Kapten Shaw. Kapten, sekretaris juga. Des Alwi sama lain lain itu masuk: > "Eh, Cak (panggilan khas etnis Madura pen.), kamu itu berunding dengan siapa?", > "Itu Kapten Shaw", > "Lha pangkatmu opo?", (pangkatmu apa?) > "Ndak duwé opo-opo", (Nggak punya apa-apa) > "Ayo jadi Kapten. Because Shaw is a Captain, I should also be a Captain. Terus lapor nanggoné Mustopo." [karena Shaw adalah Kapten, saya harus jadi Kapten juga. Terus melapor ke tempat Mustopo (drg. Musotpo, waktu itu berpangkat Mayor Jenderal, setelah Re-Ra turun menjadi Kolonel pen.)] > "Mus!", > "Opo!", (apa) > "Ruslan dadékno kapten!", (Ruslan kamu jadikan kapten!) > "Kenopo!", (mengapa) > "Ngadepi Kapten!", (menghadapi kapten!) > "Dadékno kono!" (jadikan sana!) > Terus pergi ke Sungkono (Mayor Jenderal, setelah Re-Ra turun menjadi Kolonel. Kemudian menjadi Panglima Divisi Jawa Timur menggantikan Mayor Jenderal Jono Sewoyo pen.) saya dapat pakaian dengan bintang tiga. Baru saya ngerti kalau kapten itu bintang tiga. > Terus dibisiki: "Cak, engko né ono letnan, kon ojo ngéné (maksudnya hormat-red), letnané kudu ngéné", [Cak, nanti kalau ada letnan, kamu jangan gini (beri hormat- pen.), letnannya yang harus begini] > "Oh, ya" > "Itu nék kolonel kon sing ngéné", (itu kalau kolonel, kamu yang harus gini) > "Nék podo kapten?", (kalau sama-sama kapten?) > "Menengo waé!" (Ya diam saja!) > Maafkan saudara, a Captain is born. (seorang kapten telah lahir) > > Demikian tutur Ruslan Abdulgani. > Ceritera lain yang juga "unik" mengenai kepangkatan disampaikan oleh Alex Evert Kawilarang, yang sebagai orang sipil langsung "mendapat" pangkat kapten, dan 10 menit kemudian naik pangkat menjadi mayor. Pada bulan November 1945, Kawilarang dan Akhmad Yunus Mokoginta serta Kusno Utomo telah bertugas di lingkungan ketentaraan, namun belum mempunyai pangkat. Pada suatu hari, ketika mereka menghadap Mayor Jenderal Didi Kartasasmita, mereka dibawa ke Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin Harahap. Dalam Otobiografinya Kawilarang menuturkan (lihat: Alex Evert Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988, hlm. 56 58): > "Sudah waktunya you dapat pangkat, Kapten," kata Jenderal Didi tiba-tiba. > Lalu beliau mengetuk pintu kamar kerja Menteri Amir Syarifuddin dan membukanya. > "Minister," kata Jenderal Didi memulai pembicaraan. Seperti biasa, percakapan dilakukan dalam bahasa Belanda. "Vindt U goed dat ik hem Kapitein maak? Hij heeft nog geen rang." (Apakah Anda setuju saya jadikan dia Kapten? Ia belum mempunyai pangkat.) > "O zeker, zeker," (O, tentu saja, tentu saja) kata Menteri Amir. Beliau cuma manggut-manggut saja. Tak sedikit pun mengangkatkan dagunya. Apalagi melihat kepada sayapun, tidak. > "Wel gefeliciteerd!" (Selamat!) katanya. Lalu meneruskan dengan tugasnya: membaca apa yang dipegangnya, sehelai kertas, entah apa isinya. > "Panggil Mokoginta dan Kusno Utomo," kata Jenderal Didi kemudian, di luar kamar kerja Menteri. > Saya pergi, menyeberangi jalan dan menyampaikan panggilan Jenderal Didi. Mokoginta dan Kusno Utomo kelihatan kaget. > "Apakah Pak Didi masih marah?" tanya salah seorang di antara mereka. > "Tidak," jawab saya. "Saya rasa, kalian akan diberi pangkat." > Ternyata memang benar begitu. Pak Didi mengantarkan mereka ke kamar Menteri dan masuk. > "Minister, vindt U goed dat ik hen beiden Kapitein maak?" (Bapak Menteri, apakah Anda setuju saya jadikan mereka berdua Kapten?) > Menteri menjawab lagi, "Zeker-zeker, wel gefeliciteerd." (Tentu, tentu, selamat). > Mereka lalu keluar dari kamar kerja Menteri. Lalu Jenderal Didi berkata, "Dulu, kalian bertiga satu kelas di KMA (KMA = Koninklijke Militaire Academie -Akademi Militer Kerajaan).atau di CORO (CORO = Corps Opleiding Reserve Officieren (Korps Pendidikan Perwira Cadangan)?" > "Bukan," jawab Mokoginta dan Kusno Utomo hampir berbarengan. "Kusno di CORO, Mokoginta di KMA. Dan Kawilarang satu kelas lebih tinggi di KMA." > "Kalau begitu, panggil lagi Kawilarang!" kata Jenderal Didi. > Saya, yang sudah tidak di gedung itu, dipanggilnya lagi. > Waktu sudah ada di depan Jenderal Didi, saya harus mendengarkan Jenderal itu berkata, "Jij was een klas hoger. Je wordt majoor. Kom mee naar de Menteri!" (Kamu dulu satu kelas lebih tinggi. Kamu jadi Mayor. Mari ikut saya ke Menteri). > Maka saya dibawa lagi ke kamar kerja Menteri Amir. Jenderal Didi mengetuk pintu kamar kerja Menteri dan kami masuk. > "Minister, hij was een klas hoger. Vindt U goed dat ik hem majoor maak?" (Bapak Menteri, dia ini dulu satu kelas lebih tinggi. Apakah Anda setuju saya jadikan dia mayor?). > Menteri Amir menjawab:"Zeker, zeker. Wel gefeliciteerd!" (Tentu, tentu. Selamat!). > Sesudah sepuluh menit berpangkat kapten, saya "dipromosikan" atau diubah pangkat saya menjadi mayor. Memang begitulah di zaman revolusi > > Demikian penuturan Kawilarang. > Di Surabaya para tokoh masyarakat dan kaum intelektual Indonesia ikut berperan dalam pembentukan BKR pada bulan September 1945. Salah satunya adalah dr. Wiliater Hutagalung, yang langsung diberi pangkat Kolonel (setelah Re-Ra, turun menjadi Letkol). Kol. Hutagalung ditugaskan membentuk BKR/TKR di Gresik, Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo. BKR/TKR ini menjadi cikalbakal Divisi Brawijaya. Karena seorang Kolonel harus mempunyai ajudan, maka diangkatlah seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Wijoyo Suyono menjadi ajudannya, dengan pangkat Kapten. Sang ajudan tersebut di kemudian hari menjadi Jenderal bintang empat, sedangkan Hutagalung sendiri pada Januari 1950, ketika menjabat sebagai Kepala Staf "Q" (Kwartiermeestergeneraal Staf "Q"), mengundurkan diri dari TNI sebagai protes atas pembentukan RIS dan diterimanya ex KNIL ke tubuh TNI. > Rivalitas antara mantan perwira KNIL dan mantan perwira Peta, telah terlihat sejak awal pembentukan TKR, terutama dalam pemilihan komandan dan pimpinan. Walaupun jumlah keseluruhan mantan perwira KNIL jauh di bawah mantan perwira Peta, namun dalam jabatan pimpinan, jumlah mantan tentara KNIL yang kemudian menjadi pimpinan di tubuh TNI cukup menonjol. Tanggal 12 November 1945 di Yogyakarta, diadakan rapat pimpinan tertinggi militer, yang dihadiri oleh hampir seluruh komandan Divisi, kecuali pimpinan militer dari Jawa Timur, yang sedang bertempur melawan tentara Inggris. Secara demokratis yang pertama dan terakhir- diadakan pemilihan Panglima Besar Angkatan Perang. Kolonel Sudirman, Komandan Divisi V (Kedu-Banyumas, mantan Daidancho (komandan batalyon) Peta di Kroya, menang suara tipis atas Urip Sumoharjo, pensiunan Mayor KNIL. Dengan demikian Sudirman menjadi Panglima Besar Angkatan Perang RI yang pertama. Sudirman, waktu itu berumur 30 tahun dan pangkatnya menjadi Letnan > Jenderal, sedangkan Urip Sumoharjo diangkat menjadi Kepala Staf dengan pangkat Mayor Jenderal. > Setelah perundingan Renville (delegasi Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL Raden Abdulkadir Wijoyoatmojo) dan krisis di kabinet Mr. Amir Syarifuddin Harahap, pada 29 Januari 1948 Wakil Presiden Hatta dilantik sebagai Perdana Menteri, menggantikan Amir Syarifuddin. Hatta juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan. Hatta melaksanakan Re-Ra (Rasionalisasi dan Reorganisasi) di kekuatan bersenjata RI, yang telah dirancang di masa kabinet Amir Syarifuddin. > Pada waktu itu di wilayah kekuasaan Republik Indonesia yang de facto diakui oleh Belanda, yaitu Sumatera dan Jawa, terdapat banyak laskar rakyat/pemuda dan berbagai barisan serta kelompok bersenjata yang tidak terorganisir dengan baik, dan bahkan liar. Juga banyak kelompok bersenjata tujuannya hanya merampok dan membunuh penduduk desa. Banyak pasukan yang hanya memiliki sedikit senjata. Diperkirakan, pada waktu itu terdapat sekitar 500.000 orang yang tergabung dalam berbagai kekuatan/kelompok bersenjata, termasuk TNI, sedangkan jumlah persenjataan yang dimiliki, diperkirakan tidak mencapai 100.000 pucuk, itupun semuanya yang ditinggalkan atau direbut dari tentara Jepang. > Kol. dr. W. Hutagalung ditunjuk sebagai salah satu wakil dari kementerian pertahanan untuk duduk di panitia Re-Ra. > Tujuan utama Re-Ra sebenarnya adalah: > > Melebur seluruh laskar dan kelompok bersenjata ke dalam TNI, sehingga semua kekuatan bersenjata Republik Indonesia berada di bawah satu komando, yaitu TNI. > Menyusun struktur dan hirarki di tubuh TNI setelah peleburan semua kelompok bersenjata ke dalam TNI. > Menyesuaikan kepangkatan dengan jabatan, sehingga semua pangkat turun paling sedikit satu tingkat, dan bahkan ada yang turun sampai tiga tingkat. > Ratio senjata-prajurit ditetapkan 1 berbanding 4, artinya satu senjata untuk 4 prajurit. > Menyusun struktur komando dan wilayah pertahanan (Wehrkreise) di Jawa dan Sumatera, dalam bentuk dan susunan yang efektif, karena sudah diperkirakan, Belanda akan segera melancarkan agresi militer kedua, yang terbukti dilancarkan oleh Belanda pada 19 Desember 1948. > Mereka yang tidak dapat ditampung di TNI, harus kembali menjadi warga sipil. > > Namun, dalam pelaksanaannya banyak kalangan yang tidak puas dan menuduh Hatta menggunakan kesempatan untuk menyingkirkan perwira- perwira yang berafiliasi kepada lawan-lawan politiknya. Konflik internal di kalangan Republik baik politik maupun militer- yang telah berlangsung sejak tahun 1945, mencapai puncaknya pada September 1948, yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Madiun" (Madiun Affairs), dan waktu itu tidak disebut sebagai "Pemberontakan PKI." "Perang Dingin" antara kubu kapitalis dipimpin oleh Amerika Serikat dengan kubu komunis dipimpin oleh Uni sovyet telah dimulai sejak pertengahan tahun 1947, dan perebutan pengaruh dan kekuasaan kedua kubu tersebut juga terjadi di Indonesia. Kelompok kiri di Indonesia yang berafiliasi ke Moskow, dihancurkan oleh kelompok nasionalis dan kelompok kanan lain yang didukung oleh Amerika Serikat. Di masa Orde baru, "Peristiwa Madiun" disebut sebagai "Pemberontakan PKI." > Pelaksanaan Re-Ra sempat terhalang selama agresi militer Belanda antara 19 Desember 1948 Agustus 1949. Setelah Jenderal Sudirman meninggal pada 29 Januari 1950, TNI, yang sebelum Re-Ra memiliki sekitar 60-an perwira tinggi dengan pangkat Jenderal/Laksamana AL, tidak memiliki seorangpun perwira dengan pangkat Jenderal/Laksamana. Pangkat tertinggi adalah Kolonel. Kepala Staf AP Kolonel T.B. Simatupang. Kepala Staf AD Kolonel A.H. Nasution. Para panglima Divisi juga berpangkat Kolonel. > Pada waktu itu, TNI mengikuti sistim kepangkatan Belanda, yang tidak mengenal pangkat brigadir jenderal. Setelah TNI mengadopsi sistim kepangkatan Inggris, baru ada pangkat brigadir jenderal. > > Yang disebut sebagai "Peristiwa 17 Oktober 1952", bukanlah kudeta terhadap pemerintahan Sukarno, melainkan ketidak senangan pimpinan TNI terhadap intervensi yang kuat dari politisi, terutama dari parlemen peninggalan dari Republik Indonesia Serikat (RIS), yang masih dikuasai oleh wakil-wakil dari 14 negara bagian bentukan van Mook. TNI menuntut pembubaran parlemen yang dinilai ingin memecahbelah TNI, dan mengembalikan kekuasaan mantan perwira KNIL yang telah diterima TNI, sebagai hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). Beberapa mantan tentara KNIL yang hingga akhir tahun 1949 masih bertempur di pihak Belanda melawan Republik Indonesia dan TNI, di tahun 70-an telah menjadi perwira tinggi TNI. > ----------------------------------------------------------------- -------- > > 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > > > > "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara > > Belanda tahun 47, . . " > > > > > Catatan Batara R. Hutagalung: > Tahun 1942 jumlah tentara Belanda termasuk pribumi yang menjadi serdadu KNIL seperti Raden Abdul Kadir Wijoyoatmojo- yang berhasil melarikan diri ke Australia hanya sekitar 1000 orang. Mereka kemudian dapat merekrut orang dari Suriname dan Curacao untuk menjadi tentara, sehingga saat Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945, jumlah tentara Belanda yang berada di Australia sudah mencapai sekitar 5000 orang. > Tanggal 27 Agustus 1945, Letnan C.A.M. Brondgeest dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda memimpin 11 orang yang diterjunkan di Pangkalanbrandan, Sumatera Utara. Brondgeest ditugaskan untuk mengkoordinasi pemulihan tawanan serta interniran Sekutu yang berada di Sumatera Utara. Pada 6 September 1945 Brondgeest mulai merekrut semua orang mantan tentara KNIL yang berada di kota Medan dan sekitarnya. Dalam waktu singkat dia dapat mengumpulkan ratusan orang dan untuk mengelabui pihak Republik Indonesia, mereka direkrut menjadi polisi yang membantu Brondgeest. > Pada 1 September 1945, van Mook bersama van der Plas menemui Mountbatten di Kandy, Ceylon (Sri Lanka), untuk menindak-lanjuti hasil perundingan CAA (Civil Affairs Agreement) 24 Agustus 1945 di Chequers dekat London, antara Belanda dan Inggris, serta tindaklanjut hasil keputusan konferensi Yalta dan Deklarasi Potsdam. Nampaknya, misi van Mook dan van der Plas berhasil, karena setelah pertemuan tersebut, Mountbatten mengeluarkan perintah tertanggal 2 September 1945 kepada pada komandan Divisi, termasuk komandan Divisi 5, dengan kalimat yang kemudian berakibat fatal bagi rakyat Indonesia, terutama di Surabaya: > Headquarters, S.E.Asia Command > 2 Sept. 1945. > From : Supreme Commander S.E.Asia > To : G.O.C. Imperial Forces. > Re. Directive ASD4743S. > You are instructed to proceed with all speed to the island of Java in the East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces on that island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees. > In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is in a position to maintain services. > The main landing will be by the British Indian Army 5th Division, who have shown themselves to be most reliable since the battle of El Alamein. > Intelligence reports indicate that the landing should be at Surabaya, a location which affords a deep anchorage and repair facilities. > As you are no doubt aware, the local natives have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before the Japanese Invasion. > I wish you God speed and a sucessful campaign. > (signed) > Mountbatten > Vice Admiral. > Supreme Commander S.E.Asia. > Pada 14 September 1945, Letnan II (Cadangan) Raymond Paul Pierre Westerling dengan pesawat udara mendarat di Medan memimpin rombongan dengan nama sandi Status Blue, yang terdiri dari Sersan B. de Leeuw, Sersan J. Quinten, Liaison Officer Inggris Kapten Turkhaud dan Prajurit Sariwating asal Ambon. Westerling membawa seragam dan persenjataan untuk 175 orang. Mereka diperbantukan kepada Brondgeest. > Westerling, yang dijuluki "si Turki" karena lahir di Istambul, Turki, pada 31 Agustus 1919 adalah anak kedua dari Paul Westerling dan Sophia Moutzou, yang berasal dari Yunani. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember 1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolferhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni. > Tanggal 25 Juni 1945 dia masuk ke dinas KNIL dengan pangkat (reserve) tweede luitenant (Letnan II Cadangan) dan ditugaskan di Sri Lanka pada Anglo-Dutch Country Section yang di kalangan Belanda disebut Korps Insulinde (KI). > Sejak kedatangannya di Indonesia pada bulan Desember 1945, Kapten KNIL W.J. Schneepens mengembangkan gagasan untuk membentuk suatu "speciaale troepen" (pasukan khusus) dalam KNIL (Ayahnya, Lekol W.B.J.A. Scheepens adalah perwira Korps Marechaussee marsose- yang bertugas di Aceh, dan tewas tahun 1913 akibat tusukan rencong). Gagasan ini kemudian mendapat persetujuan pimpinannya. Pada 15 Juni 1946 dia mendirikan pusat pelatihan yang dinamakan Depot Speciale Troepen DST (Depot Pasukan Khusus) yang ditempatkan langsung di bawah Directoraat Centrale Opleidingen - DCO (Direktorat Pusat Pelatihan) yang dipimpin oleh Mayor Jenderal KNIL E. Engles. Direktorat ini baru dibentuk setelah Perang Dunia II untuk menangani pelatihan pasukan yang akan dibentuk di India Belanda. Kamp dan pelatihan DST pertama ditempatkan di Polonia, Jakarta Timur. > Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi Komandan pasukan khusus ini. Awalnya, penunjukkan Westerling memimpin DST ini hanya untuk sementara sampai diperoleh komandan yang lebih tepat, dan pangkatnya pun tidak dinaikkan, tetap Letnan II (Cadangan). Namun dia berhasil meningkatkan mutu pasukan menjelang penugasan ke Sulawesi Selatan, dan setelah "berhasil" menumpas perlawanan rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan, dia dianggap sebagai pahlawan namanya membumbung tinggi dan pangkatnya naik menjadi kapten. > Salah satu butir perjanjian CAA adalah, tentara Inggris dibantu oleh 2 Divisi tentara Australia- "membersihkan" kekuatan bersenjata pendukung Republik Indonesia, dan wilayah yang telah "dibersihkan", diserahkan kepada NICA (Netherlands-Indies Civil Administration), yang tak lain adalah KNIL. > Sejak September 1945, secara diam-diam pasukan-pasukan Belanda masuk ke Indonesia, sebagian dengan kedok NICA dan petugas RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees - Pemulihan Tahanan Perang dan Interniran Sekutu). > 3 Divisi tentara Inggris di bawah Letnan Jenderal Philip Christison "membersihkan" kekuatan bersenjata RI di Jawa dan Sumatera, dan 2 Divisi tentara Australia di bawah Letnan Jenderal Leslie "Ming the Merciless" Morshead, membersihkan pendukung bersenjata RI di wilayah Indonesia timur. > Ternyata Jenderal "Ming the Merciless" (Ming tokoh kejam dalam fiksi "Flash Gordon- yang Tak Kenal Ampun) bekerja lebih cepat dari Christison, dan awal Juli 1946, berhasil "membersihkan" kekuatan bersenjata pendukung RI di wilayah Indonesia timur, dan pada 13 Juli 1946, secara resmi seluruh wilayah Indonesia timur "diserahkan" kepada NICA. Pada 15 Juli 1946, van Mook menggelar Konferensi Malino, dekat Makassar, untuk meletekkan dasar pembentukan Negara Indonesia Timur. > Pada 3 Maret 1946, 60 orang serdadu Belanda tiba di Indonesia dan langsung dibawa ke Bandung, di mana mereka memperoleh pelatihan dari mantan perwira Belanda mantan anggota Korps Insulinde. Setelah itu, realisasi untuk pembentukan pasukan parasutis berjalan dengan cepat. Pada 12 Maret 1946, Letnan KNIL Jhr. M.W.C. de Jonge, Letnan KNIL Sisselaar dan Letnan KNIL A.L. Cox (dari Angkatan Udara) ditugaskan ke Eropa untuk melakukan penelitian serta meminta bantuan dari unit parasutis Inggris dan melakukan segala sesuatu yang memungkinkan pelatihan parasutis di Hindia Belanda. > Pada 13 Maret 1946, Letnan de Koning dan Letnan van Beek, dua perwira Belanda yang pernah bertugas di Korps Insulinde, dipanggil dari Sri Lanka ke Jakarta untuk menjadi pelatih calon pasukan para. Pada 15 Maret 1946 secara resmi School voor Opleiding van Parachutisten SOP (Sekolah Pelatihan Parasutis) didirikan dan Kapten C. Sisselaar menjadi komandan pertamanya. Pasukan jebolan SOP inilah yang kemudian digunakan dalam agresi militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948 untuk menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia waktu itu. > Agar supaya tidak dapat diketahui oleh pihak Republik, kamp pelatihan dipilih sangat jauh, yaitu di Papua Barat. Semula dipilih Biak, di mana terdapat bekas pangkalan udara tentara Amerika yang masih utuh. Kemudian pada bulan April tempat pelatihan dipindahkan ke Hollandia, juga di Papua Barat, yang arealnya dinilai lebih tepat untuk dijadikan kamp pelatihan. > Yang dapat diterima menjadi anggota pasukan para tidak boleh melebihi tinggi 1,85 m dan berat badan tidak lebih dari 86 kg. Selain tentara yang berasal dari Belanda, orang Eropa dan Indo-Eropa juga pribumi yang menjadi tentara KNIL ikut dilatih di sini. Mereka berasal dari suku Jawa, Sunda, Ambon, Menado, Timor, Melayu, Toraja, Aceh dan beberapa orang Cina. Pelatihan yang dimulai sejak bulan April 1946 sangat keras, sehingga banyak yang tidak lulus pelatihan tersebut. Sekitar 40% pribumi, 20% orang Eropa dan 15% orang Indo- Eropa dinyatakan tidak lulus menjalani pelatihan. > Pada 1 Mei 1947 telah terbentuk Pasukan Para I (1e para- compagnie) yang beranggota 240 orang di bawah pimpinan C. Sisselaar, yang pangkatnya naik menjadi Kapten. Pada 1 Juni 1947, pasukan para tersebut dibawa ke lapangan udara militer Belanda, Andir (sekarang bandara Hussein Sastranegara), di Bandung. Dengan demikian pasukan ini berada tidak jauh dari kamp pelatihan tentara KNIL di Cimahi. > Spoor, yang lahir di Amsterdam pada 12 Januari 1902 mencatat karir yang sangat pesat. Tahun 1945 dia berpangkat Kolonel, dan kemudian tahun 1946 dia menggantikan Letnan Jenderal van Oyen menjadi Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia. > Akhir November 1946, seluruh pasukan 15th British Army Corps, yang merupakan tentara Sekutu, ditarik dari Indonesia, dan secara resmi, posisinya diambil alih oleh KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger - AD Kerajaan India-Belanda) dan KL (Koninklijke Landmacht - Angkatan Darat Kerajaan). Hampir seluruh persenjataan tentara sekutu, terutama senjata beratnya, "diwariskan" kepada KNIL dan KL, yang pada saat itu telah berbekuatan sekitar 80.000 personal. > Kekejaman tentara Belanda pada waktu itu telah diketahui oleh pihak sekutu, sebagaimana digambarkan oleh Gilbert MacKereth, The British Minister in Indonesia. Di akhir masa tugasnya di Indonesia dia membuat laporan kepada Pemerinrah Inggris, di mana dia memberikan catatan, bahwa keganasan perilaku Belanda dan para serdadunya terhadap rakyat Indonesia telah membuat syok serdadu Inggris. Mengenai laporan Mackereth, van der Post menulis (lihat: Laurens van der Post, "The Admiral's Baby", hlm. 173): > " Gilberth MacKereth, in his own report to the Secretary of State at the end of his mission, was to remark how the brutal behaviour of the Dutch and their soldiery towards the Indonesians had schocked the ordinary British soldiers." > > Dengan demikian, tentara Belanda masuk kembali ke Indonesia bukan tahun 1947, melainkan sudah mulai 27 Agustus 1945. Selain itu, setelah Jepang menyatakan menyerah pada 15 Agustus 1945, ribuan tentara Belanda yang diinternir oleh Jepang, dibebaskan kembali, dan sebagian dari mereka -yang kondisi kesehatannya memungkinkan- direkrut kembali, mula-mula dengan kedok sebagai polisi, kemudian resmi menjadi anggota KNIL. > ===================================================== > > > "I. Bramijn" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > IBRAHIM ISA dari BIJLMER > > -------------------------------------- > > 08 Juni 2006. > > > > MENGUTIP FAKTA-FAKTA SEJARAH ---- USAHAKAN SEKOREK MUNGKIN. > > ----------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------- > > > > > > Belum lama Radio Nederland > 2006> menyiarkan sebuah tulisan berjudul "Krisis Timor Leste . . ." > > Yang menganalisa situasi Timor Leste dewasa ini, khususnya sehubungan > > dengan pergolakan dan konflik intern di negeri tsb. > > > > Tulisan tsb informatif dan berusaha analitis. > > Namun, ada dikemukakan fakta-fakta sejarah yang menurut catatan yang > > diketahui selama ini, tidak sesuai dengan kenyataan. > > Maka Penulis (I.I.) berusaha memberikan gambaran yang lebih sesuai. > > > > * * * > > > > Di bawah ini dikutip bagian-bagian tertentu yang relevan dari tulisan > > Radio Nederland tsb., kemudian dikomentari seperlunya: > > > > 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > > > > "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil > > Presiden Mohammad > > Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang kemerdekaan Indonesia." > > > > Komentar: > > Di Indonesia akhir tahun 1950-an tak ada krisis yang menyangkut suatu > > rencana merasionalisasi BKR, Badan Keamanan Rakyat. Satu kenyataan: > > Pada akhir tahun 1950-an BKR sudah lama tak ada, sudah > > berkembang/berubah/dilebur menjadi, TKR, lalu TRI, selanjutnya TNI, > > menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesi Serikat, lalu > > ABRI/TNI lagi. > > Kenyataan lainnya, pada akhir tahun 1950-an, Wapres Hatta tak lagi > > duduk dalam lembaga eksekutif langsung. > > > > Yang dimaksudkan dengan "krisis dalam tentara nasional Indonesia" pada > > periode pemerintahan Moh. Hatta tsb , kiranya adalah konsep > > "rasionalisasi" Wapres / PM Moh Hatta yang dilaksanakannya sebagai > > kepala pemerintahan presidensil, setelah jatuhnya kabinet Amir > > Syarifuddin (Pertengahan 1948). Salah satu kelanjutan dari > > "rasionalisasi" Hatta, adalah meletusnya "Peristiwa Madiun". > > Mr. Amir Syarifuddin adalah tokoh pimpinan PKI, pernah menjabat > > Menteri Pertahanan RI, kemudian Perdana Menteri RI. Setelah Peristiwa > > Madiun (1948) tanpa proses pengadilan yang wajar kemudian dieksekusi > > di desa Ngalihan, Jawa Tengah oleh kekuasaan militer TNI di bawah > > Gubernur Militer Gatot Subroto, yang berada di bawah pemerintahan > > presidensil Wapres Moh. Hatta.. > > > > Mr Amir Syaifuddin terlibat dalam pembangunan dan pembentukan tentara > > nasional Indonesia sejak Revolusi Agustus 1945. Tidak heran, bahwa di > > dalam tentara nasional Indonesia tidak sedikit terdapat > > pengaruh PKI dan Kiri. Selain itu sejak revolusi 1945 terbentuk > > kekuatan Kiri bersenjata yang merupakan bagian dari Pesindo > > Sosialis Indonesia>. > > > > Mengenai BKR (Badan Keamanan Rakyat).: -- BKR adalah badan kekuatan > > bersenjata utama yang terbentuk sejak permulaan Revolusi Agustu 1945. > > Kekuatan bersenjata ini, termasuk kekuatan-kekuatan bersenjata dan > > lasykar-lasykar lainnya, kemudian berkembang menjadi > > Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu menjadi Tentara Republik Indonesia > > (TRI). Selanjutnya berkembang menjadi TNI. Perubahan dan perkembangan > > itu berlangsung selagi parpol PKI dan kekuatan Kiri lainnya masih > > punya pengaruh penting di dalam kekuatan bersenjata revolusi. Amir > > Syarifuddin sebagai salah seorang Menteri Pertahanan RI punya peranan > > dalam pembentukan dan pembangunan Tentara Republik Indonesia sejak BKR > > (Badan Keamanan Rakyat) didirikan dalam tahun 1945. Dengan demikian, > > yang dirasionalisasi oleh Hatta bukan BKR tetapi TRI/TNI. > > > > * * * > > > > 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > > > > "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara > > Belanda tahun 47, . . " > > > > Komentar : > > Tentara Belanda datang di Indonesia sudah sejak 1945/46. Membonceng di > > belakang tentara Sekutu/Inggris, Australia. Kedatangan tentara > > Belanda, bukan baru terjadi dalam tahun 1947. Tahun 1947 kekuatan > > militer Belanda sudah siap untuk berperang, maka secara > > terang-terangan melakukan dua kali agresi terhadap Republik Indonesia > > (1947 kemudian 1948). Agresi Belanda itu dilakukan atas nama "aksi > > kepolisian". > > > > Sekadar kutipan dari Ensiklopedia WIKIPEDIA: > > > > "De Eerste Divisie "7 December" werd in 1946 als expeditionaire macht > > (EM) naar de Oost gezonden om in Indië, 'rust, orde en veiligheid' te > > herstellen. Nederland was van plan om Indië langs geleidelijke weg een > > grotere zelfstandigheid te geven, echter het uitroepen van de > > onafhankelijke Republiek Indonesia twee dagen na de Japanse > > capitulatie versnelde deze gebeurtenissen." > > > > * * * > > > > 3) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > > > > "Impunitas bagi anggota TNI dalam bertugas menjaga negara kesatuanNKRI > > merupakan doktrin negara warisan Orde Baru yang dipelihara rapi oleh > > negara pasça-Soeharto bahkan, ironisnya, juga oleh sebagian oposisi > > kiri dan kanan di dalam dan di luar negeri." > > > > Komentar: > > Sulit mencari contoh: -- Dalam kesempatan apa, dimana dan kapan bisa > > disaksikan bahwa oposisi Kiri di dalam dan luar negeri, yang membela > > "impunitas bagi TNI" sebagai doktrin negara. Kekuatan Kiri di luar > > maupun di dalam negeri jelas diketahui adalah korban impunitas TNI. > > PRD, Partai Rakyat Demokratik (Indonesia) yang di dalam negeri adalah > > suatu parpol Kiri. Sebagai kekuatan Kiri juga dengan tegas mengutuk > > "impunitas" TNI baik secara umum maupun dalam hubungannya dengan > > kebijakan pemulihan keamanan di Aceh. > > > > Di dalam dan luarnegeri, identitas kaum Kiri Indonesia yang penting > > a.l. adalah melakukan oposisi dan protes terhadap impunitas TNI, tidak > > perduli demi apapun doktrin tsb diberlakukan. > > > > Lain halnya dengan kasus pemberontakan bersenjata kaum separatis > > melawan Republik Indonesia. Tidak perduli apakah itu DI, TII, Angkatan > > Perang Ratu Adil di bahwah Kapten (KNIL) Westerling, > > pemberontakan PRRI/Permesta, RMS, OPM maupun GAM, ----- oposisi Kiri > > pada pokoknya menentangnya dan membela keutuhan wilayah dan kedaulatan > > Republik Indonesia, sesuai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 > > Agustus 1945. > > > > "Impunitas" TNI, "ketiadan hukum" bagi TNI, adalah suatu pelanggaran > > besar terhadap HAM, yang menurut catatan yang dikenal, dilakukan oleh > > ABRI di bawah Orba, juga hingga kini. Oleh karena itu selalu ditentang > > dan dilawan oleh kaum oposisi Kiri di dalam maupun di luar negeri. > > > > Komentar selesai. > > > > * * * * > > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Everything you need is one click away. Make Yahoo! your home page now. http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

