Rasanya terlalu biasa atau terlalu dipaksakan untuk
dijadikan laporan utama Tempo. Mungkin Tempo sedang
mati angin (tak menemukan ada berita seru)...

Atau memang sengaja, untuk menyambut kebebasan Ustadz
Abu Bakar Baasyir bulan Juni ini??? Karena sekali lagi
dijelaskan di artikel Tempo, Jabir ini lulusan
Pesantren yang dipimpin Baasyir...


--- HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>             TEMPO, Edisi. 16/XXXV/12 - 18 Juni 2006 
> 
>                         Opini  
>            
> 
>       Catatan Harian Seorang Teroris
>       MEMBACA buku harian Jabir meng-ingatkan kita
> pada Silas, tokoh me-ngenaskan dalam kisah Da Vinci
> Code.  
> 
> 
> MEMBACA buku harian Jabir meng-ingatkan kita pada
> Silas, tokoh me-ngenaskan dalam kisah Da Vinci Code.
> Soalnya, penuturan peracik bom murid mendiang Dr
> Azahari ini sungguh mirip dengan nasib sosok rekaan
> Dan Brown dalam bukunya yang kontroversial itu.
> Keduanya adalah idealis yang tersesat, yang percaya
> be-tul bahwa perintah guru agamanya mewakili suara
> Tuhan. Karena itu, dengan sangat bersemangat, mereka
> melakukan berbagai kekejaman terhadap siapa saja
> yang disebut sang guru sebagai musuh dari
> keyakinannya.
> 
> 
> Silas, misalnya, dikisahkan menembak se-orang lelaki
> tua dengan penuh gairah dan membiarkan korbannya
> itu, seorang kurator museum, ber-usaha bersembunyi
> ke tempat gelap, pelan-pelan kehilang-an darah, dan
> tersengal menunggu ajal. ”Setiap embusan napasmu
> adalah dosa, tak ada tempat aman bagimu untuk
> bersembunyi, karena engkau akan diburu para
> malaikat,” kata Silas ketika meninggalkan buruannya.
> 
> 
> Silas memang diceritakan merasa dirinya sebagai
> malaikat pemburu, karena itulah julukan yang
> diberikan sang guru agama kepadanya. Kita pun
> bertanya-tanya, apakah Jabir merasakan hal yang sama
> ketika ia menulis di buku hariannya, ”Ya Robbi...,
> masukkan hamba-Mu ini... ke dalam jannah abadi...
> bersanding dengan para bidadari....” Atau ketika ia
> menyaksikan korban bom hasil racikannya di Hotel
> Marriott dan di Cafe Nyoman yang bergelimpangan?
> 
> 
> Pertanyaan serupa juga muncul saat di layar perak,
> kita menyaksikan Silas menyiksa dirinya dengan
> rantai berduri sebagai bagian dari ibadah. Adakah
> saat itu ia mengalami perasaan yang serupa dengan
> Jabir ketika menulis, ”Se-sungguhnya perjalanan
> jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa
> takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa….”
> 
> 
> Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tak ada jawabnya
> karena Silas hanyalah tokoh imajiner, sedangkan
> Jabir seorang manusia di dunia nyata. Yang lebih
> perlu dijawab adalah pertanyaan mengapa di dunia ini
> terlalu banyak orang berperilaku seperti Jabir,
> pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan atas dasar
> keyakinan melakukan misi suci, menjalankan perintah
> Tuhannya. Sementara itu, mayoritas pemeluk agama
> yang sama menganggap tindakan itu justru
> bertentangan dengan perintah-Nya.
> 
> 
> Jawaban atas pertanyaan ini mungkin memang tak akan
> ditemukan hanya dengan mencarinya di dalam r-uang
> aga-ma. Pasalnya, perilaku terorisme tak hanya
> dilakukan atas dasar keimanan kepada Yang Mahakuasa.
> Bahkan pelaku bom bunuh diri terhadap orang sipil
> ternyata justru pa-ling banyak dilakukan atas nama
> kebangsaan, seperti terjadi di Sri Lanka. Sebuah
> studi yang dilakukan Universitas Harvard malah
> menyimpulkan bahwa secara umum setiap orang
> berpotensi menjadi pelaku teror, termasuk menjadi
> pengebom bunuh diri, asalkan mendapat pemicu dan
> kondisi yang sesuai.
> 
> 
> Pemicu itu dapat berupa keyakinan agama, rasa
> patriotisme, atau dorongan batin yang lain. Tentu
> dibutuhkan juga kondisi yang mendukung, seperti
> kehadiran tokoh karismatis yang rajin melakukan
> rekrutmen. Dia-lah Kardinal Aringarosa bagi seorang
> Silas, Noor Din M. Top bagi Jabir, Velupillai
> Prabakharan bagi para pelaku bom bunuh diri
> Pembebasan Macan Tamil Eelam di Sri Lanka, dan
> Usamah bin Ladin bagi para pengikut Al-Qaidah.
> Lantas apa yang dapat dilakukan agar perilaku
> seperti yang dilakukan Jabir dapat diredam, bahkan
> kalau bisa dihilangkan?
> 
> 
> Mencanangkan perang militer terhadap terorisme
> bukanlah jawabannya. Operasi militer malah membuat
> aksi kekerasan semakin mendapat legitimasi.
> Memandang meluasnya jaringan teror bukan sebagai
> ancaman militer tetapi sebagai sebuah gejala sosial
> mungkin akan membuahkan hasil yang lebih baik. Dalam
> pemikiran seperti ini, penulis Malcolm Gladwell
> menawarkan gagasan menarik.
> 
> 
> Dalam bukunya yang terkenal, Tipping Point, pria
> yang ditahbiskan majalah Time sebagai salah seorang
> dari se-ratus penulis paling berpengaruh di dunia
> ini memandang maraknya sebuah perilaku sosial di
> masyarakat ternyata serupa dengan berjangkitnya
> penyakit menular. Ia menyimpulkan dibutuhkan
> sedikitnya kehadiran tiga je-nis tokoh agar sebuah
> perilaku sosial mewabah, yaitu para penjaja gagasan
> yang piawai (super-salesman), para ”penyambung”
> (connector), dan para ”perawi” (maven).
> 
> 
> Tanpa kepiawaian Noor Din dalam menjual gagasan,
> Jabir dan Abdul Hadi mungkin tak pernah berurusan
> de-ngan polisi. Tanpa kehadiran mendiang Dr Azahari,
> para pengikut Jamaah Islamiyah mungkin tak begitu
> pandai meracik bom. Dan tanpa kehadiran sejumlah
> orang yang ”menyambungkan” orang-orang seperti Jabir
> dengan Azahari dan Noor Din, rangkaian tragedi bom
> Bali tak akan pernah terjadi.
> 
> 
> Itu sebabnya membasmi terorisme pada dasarnya sama
> saja dengan mengendalikan penyakit menular.
> Memutuskan mata rantai para ”penjaja”, ”penghubung”,
> dan ”pe-rawi” akan lebih efektif ketimbang membasmi
> para ”Jabir”. Sebab, pada akhirnya Silas dan Jabir
> lebih patut dikasiha-ni sebagai korban jaringan
> terorisme ketimbang sebagai simpul penting jaringan
> kejahatan itu.
> 
> 
> Bahkan, siapa tahu, Jabir pun sebenarnya mengalami
> ke-kecewaan seperti Silas pada akhir hayatnya:
> menyadari bahwa dirinya bukanlah malaikat seperti
> yang diyakini-nya selama ini, melainkan justru
> sebagai hantu.
> 
> 
>             TEMPO, Edisi. 16/XXXV/12 - 18 Juni 2006 
> 
>                         Laporan Utama  
>            
> 
>       Mimpi Seorang Perangkai BOM
>       Sebelum tewas tertembak di Wonosobo, Jabir
> rajin menulis catatan harian selama setahun lebih.
> Mimpi-mimpinya mengenai jihad bercampur baur dengan
> rasa takut, cemas, juga kesal.  
> 
> 
> CATATAN itu dibuat dengan tulisan tangan yang rapi.
> Setiap paragraf selalu rata pada pinggir kiri dan
> kanan. Hampir semua tulisan diberi tanggal, dan
> kadang juga diberi judul, tapi tak ada keterangan di
> mana catatan itu dibuat. Di situ hanya ditulis ”bumi
> Allah” atau ”bumi hijrah”.
> 
> 
> Panjangnya beragam. Terkadang ia menulis sampai
> sepuluh halaman, tapi sering pula hanya berupa
> kalimat-kali-mat pendek yang tersusun dalam
> bebe-rapa baris, mirip puisi. Ada yang dimulai
> dengan bacaan basmallah, ada pula yang dibuka dengan
> mengutip ayat Al-Quran atau Al-Hadis yang cukup
> panjang. Catatan itu dibikin selama setahun lebih,
> dari Januari 2005 sampai Maret- 2006, dituangkan
> dalam buku kecil de-ngan ukuran 10 x 20 sentimeter
> dan -tebal 106 halaman.
> 
> 
> Itulah buku harian Gempur Budi Angkoro alias Jabir.
> Menurut polisi, dia se-orang perakit bom dalam
> kelompok -teroris yang dipimpin oleh Dr Azahari- dan
> Noor Din M. Top. Buku ini ditemu-kan di sebuah rumah
> di Binangun, -Wringin Anom, Wonosobo, Jawa Tengah-,
> yang digerebek pada 29 April lalu. Pemuda 27 tahun
> ini tertembak hingga tewas saat dikepung. Tempo
> memperoleh fotokopi buku itu dari seorang sumber di
> kepolisian.
> 
> 
> Tak hanya berisi perenungan menge-nai jalan hidup
> yang ditempuhnya, Jabir juga menulis kenangan pada
> masa kecil bersama keluarganya di Madiun, Jawa
> Timur. Dia pun menumpahkan se-gala kekagumannya
> kepada Dr Azaha-ri yang mengajarinya membuat bom.
> Orang Malaysia ini tewas terkena ledakan bom saat
> digerebek polisi di Malang, Jawa Timur, November
> tahun lalu. Diduga dialah dalang serangkaian aksi
> pengembonan di Indonesia, mulai dari bom Bali sampai
> peledakan Hotel Marriot- di -Jakarta.
> 
> 
> Dalam bukunya, Jabir menggambar-kan sepak terjang
> kelompoknya seba-gai ji-had. Demi jihad pula, mereka
> mesti- melakukan hijrah: mengorbankan har-ta benda,
> meninggalkan 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke