----- Original Message ----- 
From: "F Amhar" <famahoogroups.com>
Sent: Tuesday, June 13, 2006 10:20 AM
Subject: [daarut-tauhiid] ANARKISME KAUM LIBERAL


> ANARKISME KAUM LIBERAL
> Tanggapan untuk Saiful Mujani
> 
> 
>   
> Skenario Penyesatan Opini
> 
> Kelompok Islam Anarkis, judul yang digunakan oleh Saiful 
> Mujani di Media Indonesia (12/06/2006) merupakan bentuk 
> repeat statement (pernyataan yang terus diulang-ulang) 
> yang dilakukan oleh kaum Liberal. Meski salah, lama 
> kelamaan akan membentuk semacama memori kolektif, yang 
> akhirnya dianggap seolah-olah benar. Seperti kata Hitler, 
> kebohongan seribu kali akan bisa menjadi kebenaran. 
> Kelihatannya, inilah yang akhir-akhir ini tengah terjadi. 
> Kebohongan demi kebohongan diulang, entah sudah berapa 
> kali. Karena para penebar  kebohongan itu mempunyai akses 
> yang besar terhadap media massa, maka kampanye bohong (lie 
> campaign) itu pun berlangsung begitu massif. Tetapi ingat, 
> rakyat tidak bisa dengan mudah dibohongi. Alih-alih 
> mendapat dukungan, justru kelak mereka akan gigit jari, 
> karena yang terjadi justru sebaliknya, meminjam pepatah 
> Arab: al-kadzdzab la yushaddiquhu wa lau kana shadiqan 
> (para pembohong itu pada akhirnya omongannya tidak akan 
> dianggap benar, sekalipun sesekali mereka benar).
> 
> Kita sadar, bahwa repeat statement terkait dengan 
> anarkisme kelompok Islam itu mempunyai tujuan akhir: 
> pembubaran, pembekuan atau pelarangan 
> organisasi-organisasi yang dicap melakukan anarkisme. 
> Karena itu, kita juga maklum, bahwa repeat statement 
> semacam ini, yang dilakukan secara massif melalui 
> media-media massa merupakan bagian dari propaganda jahat 
> (black campaign) untuk mengalahkan lawan. Tujuannya untuk 
> menciptakan atmosfir yang kondusif bagi lahirnya 
> kebijakan. Ketika atmosfir tersebut sudah terbentuk, maka 
> lahirnya kebijakan tinggal masalah waktu. Atmosfir yang 
> kondusif itu sendiri akan digunakan sebagai justifikasi 
> (pembenaran). Karena setiap kebijakan harus ada logikanya, 
> baik logis maupun tidak. Nah, inilah yang sekarang tengah 
> terjadi, dan terus-menerus mereka galang sampai tujuan 
> mereka tercapai. Meski untuk itu, mereka harus melakukan 
> kebohongan publik terus-menerus dan secara massif.
> 
> Kasus Purwakarta, yang diidentikkan dengan insiden 
> pengusiran Gus Dur, sengaja mereka peralat untuk menohok 
> lawan-lawan mereka. Meski pihak-pihak yang terlibat dalam 
> kasus tersebut secara terbuka telah menampik adanya 
> insiden tersebut. Sehari setelah kasus tersebut, Hizbut 
> Tahrir Indonesia telah melakukan klarifikasi (25/05/2006), 
> kemudian diikuti oleh pernyataan bersama MUI, sejumlah 
> ormas dan pihak kepolisian (26/05/2006), bahkan pada 
> akhirnya Gus Dur sendiri (27/05/2006), yang intinya 
> menyatakan bahwa kasus pengusiran itu tidak ada. Tetapi, 
> tetap saja isu pengusiran dan anarkisme tersebut terus 
> dihembuskan. Mobilisasi massa pun dilakukan atas nama 
> pembelaan terhadap Gus Dur, bahkan disertai dengan 
> tuntutan, dari sekedar minta maaf sampai pada pembubaran.
> 
> Bahkan, kemudian mereka mengusung Pancasila dan NKRI, dan 
> tiba-tiba mereka tampil sebagai pahlawan kesiangan, yang 
> dengan mengatasnamakan Pancasila dan NKRI, menuduh 
> lawan-lawan mereka sebagai anti Pancasila dan membahayakan 
> NKRI. Mereka sok Pancasialis, dan seolah-olah menjadi 
> pahlawan bagi NKRI. Dengan mengulang-ulang tuduhan palsu 
> dan bohong, mereka terus memprovokasi penguasa untuk 
> memberangus kebebasan lawan mereka.
> 
> Inkonsistensi Logika Demokrasi
> 
> Propaganda jahat melalui kebohongan demi kebohongan itu, 
> diakui atau tidak, merupakan bentuk kekalahan intelektual 
> para pengusung kebebasan (kaum Liberal). Mereka tidak bisa 
> lagi beragumentasi secara logis dan sehat. Maka, bahasa 
> ototlah yang mereka gunakan: pembubaran dan pembekuan, 
> yang kesemuanya menggunakan tangan besi penguasa.
> 
> Memang aneh, ketika mereka mengusung freedom of speech 
> (kebebasan berbicara), bahkan sampai menghina al-Qur'an, 
> Nabi, kesucian agama, dan penolakan terhadap syariat 
> Islam, dengan menggunakan tameng demokrasi dan kebebasan, 
> tapi ketika ada orang lain mengusung syariat Islam, 
> menyuarakan penerapan syariat Islam, dan bahkan membuat UU 
> dan perda dengan menggunakan syariat Islam, langsung 
> mereka tuduh bertentangan dengan demokrasi, Pancasila, UUD 
> 45, memecah belah NKRI, dan tuduhan bohong yang lainnya. 
> Mari kita jujur, mana dalam pasal/ayat UU di negeri ini 
> yang menolak penerapan syariat Islam? Tidak ada. Mana ada 
> pasal/ayat UUD 45 yang menolak penerapan syariat Islam? 
> Tidak ada. Mana ada sila-sila Pancasila yang menolak 
> penerapan syariat Islam? Tidak ada. Kalau tidak ada, lalu 
> mengapa mereka terus-menerus membohongi publik, dengan 
> mengatakan bahwa penerapan syariat Islam jelas 
> bertentangan dengan Pancasila, UUD 45, UU dan seterusnya.
> 
> Kalau itu tidak ada, jangan menuduh orang lain yang 
> menyuarakan aspirasinya untuk menerapkan syariat Islam 
> dengan tuduhan melanggar hukum. Bukankah, UU dan 
> perda-perda syariah itu lahir dari proses demokrasi? 
> Ataukah demokrasi itu hanya untuk kepentingan mereka, dan 
> bukan untuk menerapkan Islam? Kalau memang demikian, 
> jangan membuat klaim bahwa demokrasi itu kompatibel dengan 
> Islam. Dan, jangan salahkan, kalau orang Islam meyakini, 
> bahwa demokrasi itu hanya alat penjajahan, bertentangan 
> dengan Islam dan justru untuk memberangus kemuliaan Islam.
> 
> Maka, kalau atas nama demokrasi kebebasan menyampaikan 
> aspirasi, berekspresi dan bersarikat dibenarkan oleh UU, 
> maka keliru kalau kemudian Hizbut Tahrir menyampaikan 
> aspirasi dan mewacanakan sistem alternatif, baik ekonomi, 
> sosial, pemerintahan, pendidikan, politik dalam dan luar 
> negeri yang berbasis syariah, sebagai wacana publik, 
> kemudian disebut melanggar konstitusi. Konstitusi yang 
> mana? Kalau logika itu dipakai, maka tidak ada lagi 
> jurusan syariah, madrasah dan pesantren yang mengajarkan 
> syariah, karena wacana syariah, sebagai wacana alternatif, 
> dianggap melanggar konstitusi. Bedanya, Hizbut Tahrir 
> mewacanakan syariah secara terbuka di ruang publik, 
> melalui buletin, majalah, koran, radio dan televisi, 
> sementara jurusan syariah, madrasah dan pesantren 
> mewacanakannya di ruang-ruang kelas, dan sifatnya 
> terbatas. Itu saja. Ataukah progadanda ini memang dimaksud 
> untuk membendung Islamisasi, yang sering kali disebut 
> Talibanisasi, Arabisasi, dan sebagainya itu?
> 
> Mereka juga mengatakan, bahwa HTI akan menghancurkan NKRI.
> Kalau mereka mau jujur, siapa yang mengingatkan rakyat 
> negeri ini ketika Timor Timur akan dilepaskan dari NKRI?
> Siapa yang mengingatkan lepasnya Aceh dan Papua saat 
> ditandatanganinya Perjanjian Helsinki?
> Siapa yang mengingatkan bahaya masuknya militer asing, 
> dengan berkedok bantuan kemanusiaan di Aceh, dan 
> menyerahkan urusan Aceh kepada pihak asing, melalui KTT 
> Tsunami?
> Siapa yang memprotes lepasnya Blok Cepu ke tangan 
> Exxon-Mobil, dan memprotes UU SDA, yang menyebabkan rakyat 
> negeri ini tidak lagi memiliki "tanah-air"?
> Hizbut Tahrir Indonesia jelas telah membuktikan berada di 
> garis terdepan. Dan tidak perlu sok Pancasilais, demokrat, 
> dan seterusnya. Sebaliknya, mereka yang mengklaim pejuang 
> demokrasi, HAM, Liberal, Pancasilais dan sok 
> konstitusional, jelas-jelas melanggar UUD 45, dengan 
> menjual aset negara kepada asing. Membiarkan kedaulatan 
> negeri ini diinjak-injak oleh negara-negara penjajah. 
> Akibatnya, ekonomi kita hancur, budaya dan peradaban kita 
> pun sama.
> 
> ... maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat 
> itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi 
> oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada 
> mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, (Qs. 16:45)
> 
> Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh 
> dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak 
> menyadari. (Qs. 27:50)
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ===================================================================
>         Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> =================================================================== 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke