http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=78006

      14 Jun 06 23:13 WIB



      Katakan Tidak Pada Utang! 
      WASPADA Online

     
      Oleh Arfanda Siregar, M.Si 
      Walau presiden sudah silih berganti, namun hobi berutang untuk mendanai 
sektor pembangunan terus berlangsung. Ibarat orang yang kecanduan Narkoba, 
demikian juga hobi berutang dinegeri ini. Sudah jelas utang membangkrutkan 
tetap saja dilakukan. 

      Presiden SBY malah sudah menetapkan tiga skenario peminjaman utang luar 
negeri 2006-2009, yakni skenario tinggi, moderat dan rendah. Untuk skenario 
tinggi pemerintah merencanakan akan mendanai seluruh (100%) sektor pembangunan 
dengan dana yang berasal utang luar negeri. Sedangkan untuk skenario moderat 
dan sedang pemerintah berencana bahwa 60 hingga 80% dana pembangunan berasal 
dari utang . 

      Nyaris tidak berbeda dengan pemimpin yang lalu. Bedanya hanya legitimasi 
saja. SBY dipilih rakyat secara langsung, sementara para pendahulunya dipilih 
lewat mekanisme perwakilan rakyat di MPR. Namun cara mengelola negara ini 
setali tiga uang: tidak punya solusi dan nyali untuk mengatakan tidak kepada 
utang. Seolah-oleh dunia ini akan runtuh kalau persoalan-persoalan di negeri 
ini tidak diselesaikan dengan utang. 

      Adalah benar, bahwa utang luar negeri digunakan untuk menutupi kekurangan 
modal (capital shortage) ketika kita harus memulai atau menjalankan akselerasi 
pembangunan. Utang juga kita gunakan untuk meningkatkan daya saing dan 
ketertinggalan ekonomi. Apalagi ditinjau dari tingkat pendidikan sumber daya 
manusia serta teknologi yang digunakan ternyata kita juga masih sangat 
ketinggalan. Sebab itu untuk menutup kekurangan modal pembangunan pemerintah 
mengambil jalan pintas: berutang (foreign debt) kepada negara-negara sahabat 
dan lembaga-lembaga keuangan internasional dalam jangka waktu, menengah maupun 
panjang. 

      Persoalannya adalah pembayaran rente (bunga) utang. Ini yang sangat 
memberatkan, jumlah rente yang harus dibayarkan tidak tanggung-tanggung, kadang 
hampir menyamai separoh dana APBN. Itu dapat kita lihat pada RAPBN tahun 
2002/2003 yang diajukan oleh pemerintahan Megawati kepada DPR pada 14 September 
2001 berjumlah Rp332,4 triliun. Tetapi, sekitar Rp120 triliun, digunakan untuk 
membayar utang, separohnya untuk membayar utang luar negeri. Bahkan, dalam 
kurun waktu 1980-1999, Indonesia sudah membayar cicilan pokok dan bunga utang 
luar negeri 124,916 miliar dolar - terdiri atas cicilan utang pokok sebesar 
76,560 milyar dan 48,356 miliar dolar (bunga). Dihitung-hitung, ternyata jumlah 
bunga yang dibayar sudah mencapai 38,71 persen dibandingkan utang pokok. 

      Jadi, kalau negara donor dan lembaga keuangan internasional itu masih 
juga mengatakan motif mereka memberi pinjaman bagi negara kita karena prinsip 
kemanusiaan kepada negara berkembang, maka alasan mereka itu hanya omong 
kosong. Di balik kemurahan mereka memberi utang, tersimpan maksud tersembunyi 
supaya kita terjebak menjadi korban rente ! 

      Haram 
      Bagi umat Islam rente itu haram. Tidak boleh kita memakannya. Rosul 
menggambarkan pemakan rente itu ibarat memakan daging saudaranya yang sudah 
busuk. Dan akan mendapat azab yang keras di hari akhir nanti. Islam memberi 
solusi untuk menerapkan perbankan syariah, yang menerapkan praktik-praktik 
perbankan tanpa menggunakan rente dan melanggar ajaran-ajaran Islam. 

      Bukan hanya Islam yang mengecam rente. Wayne A.M. Visser dan Alastair 
McIntosh dalam tulisannya, A Short Review of the Historical Critiquie of Usury, 
(1998) mengatakan, selama ribuan tahun itu pula praktik-praktik rente dikecam 
dan dicerca. Dokumen-dokumen kuno keagamaan Hindu dan Budha menunjukkan cercaan 
terhadap praktik rente, demikian juga dalam Judaisme, Kristen, Islam, dan juga 
pemikiran filsafat Barat kuno. 

      Di dalam teks-teks Hindu, kecaman terhadap rente (kusidin) terdapat dalam 
teks India kuno Vedic (2.000-1.400 tahun sebelum Masehi), demikian juga di 
dalam teks Budhisme, Jatakas (600-400 tahun sebelum Masehi). Di kalangan para 
filsof Barat kuno, tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Cicero, Seneca dan 
Plutarch semua mengecam praktik rente. 

      Sejarah agama Kristen juga dipenuhi dengan pandangan-pandangan negatif 
terhadap praktik rentenir. Sebagai pelaksanaan apa yang tersurat dalam Kitab 
Perjanjian Baru, pada abad ke-4 Gereja Katolik Roma melarang para biarawan 
memakan riba. Larangan ini diperluas pada abad ke-5 pada masyarakat awam. Pada 
abad ke-8 di bawah Charlemagne, tekanan diperkeras dengan menetapkan praktik 
rente adalah tindak kejahatan publik. Gerakan antirente ini terus meningkat 
hingga awal abad pertengahan dan mungkin menjadi puncaknya pada tahun 1311 saat 
Paus Clement V melarang mutlak praktik rente. Ia juga menyatakan, segala UU 
sekuler yang mengizinkan rente tidak sah. 

      Belajar Dari Sejarah 
      Orang bijak berkata, "jadikan sejarah sebagai pengalaman berharga". 
Namun, bagi pemimpin di negeri ini, itu tidak berlaku. Sejarah hanyalah 
catatan-catatan yang cukup ditulis dilembar-lembar kertas sebagai saksi bisu. 
Walau, sejarah negeri ini sudah jelas-jelas memperlihatkan utang justru semakin 
memperumit persoalan ekonomi dan menjebak kita menjadi korban rente. Namun hal 
itu tidak menjadi pelajaran untuk menyatakan selamat tinggal utang. 

      Seyogyanya, SBY sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh 
rakyat lebih berani menegakkan muka terhadap IMF dan lembaga-lembaga atau 
negara-negara donor. Jika tidak mampu membayar cicilan pokok dan bunga utang, 
mengapa pula kita sok hebat membuat skenario utang baru. Seharusnya yang 
dilakukan SBY adalah mengatakan, bahwa kita tidak mampu membayar utang tahun 
ini. 

      Tidak usah malu, kenyataan memang menyatakan bahwa tahun ini rakyat 
miskin semakin banyak, bencana alam sering terjadi, dan sebagainya. Atau, 
setidaknya pemerintah berani meminta penundaan cicilan utang dan bunganya. 
Bukan malah sebaliknya merengek-rengek meinta utang baru. Apalagi, 
lembaga-lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia, terbukti juga ikut 
memiliki andil kesalahan dalam penumpukan utang rezim-rezim masa lalu yang kini 
menjadi beban pemerintah dan rakyat. 

      Menjadi pejabat pemerintah, apalagi kepala negara, memang berat. 
Kekuasaan membawa konsekuensi tanggung jawab, di dunia dan akhirat. Karena itu, 
Imam Abu Hanifah, lebih suka masuk penjara dan dihukum dicambuk ketimbang 
menjadi pejabat hakim negara. Menjadi pemimpin di negeri multikrisis ini 
tantangannya sangat berat. Ia harus mengetahui akar persoalan dan mencarikan 
solusinya. Bukan hanya saja copydan paste dari pemimpin yang lalu. 

      * Penulis adalah Pengamat Ekonomi Politik
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke