http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=17285
Kamis, 15-Juni-2006, 02:17:22

      Tajuk Rencana
      * Kinerja BUMN 
     
     
            Menteri BUMN Sugiharto di depan Komisi VI DPR memaparkan rapor 139 
Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari jumlah itu, 82 perusahaan menunjukkan 
kinerja lebih baik daripada tahun 2004. Di antara 82 perusahaan itu, 68 BUMN 
mencetak laba pada 2004 dan naik lagi pada 2005. Selain itu, 14 BUMN yang 
merugi pada 2004 berhasil mengatasi kerugian pada tahun buku 2005. 
     
     

      Perusahaan-perusahaan pelat merah yang berhasil meraih laba terbesar 
adalah Pertamina, Telkom, Bank Rakyat Indonesia, Semen Gresik, Perusahaan Gas 
Negara, Pusri, Aneka Tambang, PT Pelindo II, Jamsostek, dan Tambang Batu Bara 
Bukit Asam. 

      Dalam paparannya, Sugiharto juga mengungkapkan, terdapat lima perusahaan 
yang mencatat kerugian terbesar. Antara lain, PLN yang rugi Rp4,9 triliun, 
Garuda Indonesia Rp691 miliar, Merpati Nusantara Rp270 miliar, Pelni Rp250,47 
miliar, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Rp74,87 miliar, dan PT Perusahaan 
Perdagangan Indonesia Rp30,36 miliar. 

      Meskipun secara umum terjadi perbaikan kinerja BUMN, masih terdapatnya 
beberapa perusahaan milik negara strategis yang rugi besar itu menjadi 
pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah. Apalagi di antara BUMN itu ada 
perusahaan yang masih bersifat monopolistik, yaitu PLN. Juga ada BUMN yang 
selama ini telah memiliki nama besar, namun ternyata gagal membangun sebuah 
kinerja yang memuaskan, yaitu Garuda Indonesia. 

      Kita patut memberikan catatan kritis, mengapa perusahaan-perusahaan BUMN 
itu masih rugi? Apakah disebabkan iklim bisnis yang tidak kondusif, masalah 
kebijakan, atau mismanajemen? 

      Untung atau rugi adalah nature dalam sebuah bisnis. Jika sebuah 
perusahaan rugi, yang harus digarisbawahi adalah seberapa besar pengaruh 
kerugian perusahaan tersebut terhadap keberlangsungan hidup perusahaan. Jika 
dalam suatu periode perusahaan rugi, harus ada upaya untuk menekan kerugian 
tersebut pada periode berikutnya. Kemudian, dirumuskanlah upaya recovery 
sehingga perusahaan kembali mencatat keuntungan. 

      Namun, yang terjadi di BUMN-BUMN kita yang rugi, tidak tampak upaya 
recovery tersebut. Atau jika tidak mau ekstrem, ada upaya perbaikan kinerja, 
namun hasilnya belum tampak. PLN, misalnya, yang menjadi entitas tunggal 
pemasok energi listrik ke masyarakat, masih babak belur. Memang, kerugian PLN 
disebabkan biaya produksi yang melebihi harga jual daya listrik. Ini masuk 
ranah kebijakan. Namun, jika manajemen PLN tidak mendorong untuk melakukan 
efisiensi, terjadinya perubahan kebijakan juga tidak berarti apa-apa. 

      Kehadiran BUMN dalam suatu negara bukan semata karena keinginan 
pemerintah untuk terlibat dalam masalah teknis bisnis. Namun, juga diharapkan 
bisa membantu meringankan beban anggaran negara. Karena itu, jika masih banyak 
perusahaan BUMN yang rugi, misi pemerintah pun tidak tercapai. Pertanyaannya, 
layakkah BUMN itu dipertahankan? 

      Kantor Kementerian BUMN sudah saatnya merombak struktur BUMN yang ada. 
Harus ada restrukturisasi baik dalam bentuk penggabungan maupun penutupan 
perusahaan jika perlu. Yang perlu dipertahankan dan dijaga adalah BUMN yang 
berkinerja baik saja. Yang sudah tidak bisa diselamatkan lebih baik dimatikan 
sebelum bisnis mematikan BUMN tersebut. *** 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke