Bapak Lokyh yang budiman,
  Terima kasih atas tanggapan dan nasihat-nasihat Bapak.
  Dari kalimat-kalimat Bapak yang banyak memberikan nasihat kepada saya, saya 
asumsikan Bapak lebih tua dari saya dan lebih bijaksana.
  Namun kalau Bapak perhatikan, pada catatan saya terhadap data yang 
dikemukakan oleh Tossi, tidak satu kata pun yang menyangkut pribadi Tossi, yang 
telah saya kenal sejak tahun 1979.
  Setelah Tossi memberikan tanggapan atas catatan saya, saya hanya menjawab 
butir-butir yang dikemukakannya, tentunya termasuk yang menyangkut pribadi saya.
  Memang betul, bahwa penilaian mengenai diri seseorang, diberikan oleh orang 
lain, namun tidak berarti, bahwa seseorang tidak boleh menilai diri sendiri. 
Adalah hak Tossi untuk memberi penilaian terhadap saya, demikian juga hak Bapak 
untuk berpendapat apapun, dan di sisi lain adalah hak juga saya untuk tidak 
sependapat dengan Bapak atau Tossi.
  Mohon Bapak perhatikan lagi tulisan saya, saya mengutip dua hal dari tulisan 
Tossi, dan fokusnya hanya pada materi tersebut, tidak ada yang lain, apalagi 
mengenai pribadi Tossi.
  Bapak bertanya, “mengapa saya melihat koreksi ini penting?” Kalau Bapak 
membaca dengan teliti jawaban saya kepada Tossi, saya menyatakan, bahwa Tossi 
adalah orang yang sangat terkenal, sehingga tulisan-tulisannya menjadi acuan 
atau referensi bagi orang lain yang akan menulis. Memang boleh saja Tossi 
mengambil contoh peristiwa di masa lalu di Indonesia sebagai perbandingan, 
sehubungan dengan tulisannya mengenai Timor Leste, namun seperti disampaikan 
oleh Pak Ibrahim Isa, usahakan sekorek mungkin.
  Saya melihat hal ini sangat penting, terutama untuk generasi muda Indonesia, 
generasi cucu-cucu Bapak, karena sebagaimana kita ketahui, selama masa Orde 
Baru di bawah Suharto, telah terjadi banyak pemutar-balikan fakta sejarah. 
Sejarah ditulis untuk kepentingan penguasa.
  Contoh yang diambil oleh Tossi untuk perbandingan adalah mengenai 
reorganisasi dan rasionalisasi (Re-Ra). Namun kesalahannya adalah, yang 
dilakukan Re-Ra bukanlah terhadap BKR, melainkan sudah TNI, dan bukan tahun 
50-an, melainkan tahun 1948. Jadi kutipannya mengandung beberapa kesalahan. 
Selain itu, perlu diketahui dasar dan pertimbangan mengapa perlu dilakukan 
Re-Ra. Hal ini saya sampaikan dalam bentuk kisah yang dialami oleh para pelaku 
sejarah. 
  Demikian juga dengan masuknya kembali tentara Belanda ke Indonesia, bukan 
tahun 1947, melainkan sudah tahun 1945.
  Catatan saya banyak mengutip tulisan sejarawan Belanda, Inggris dan Amerika, 
dan beberapa sumbernya juga saya sebutkan.
  Mengenai hal-hal pribadi, kalau Bapak perhatikan juga, saya hanya menjawab 
hal-hal yang dikemukakan Tossi, walaupun saya juga tidak melihat korelasinya 
antara catatan saya, tulisan Tossi, dan peristiwa-peristiwa yang Tossi dan saya 
alami tahun 80-an. Demikian juga saya tak melihat apa hubungannya wawancara 
Pipit Rochijat di TV Jerman dengan topik yang dibahas.
  Bukankah Bapak yang menyinggung masalah yang sangat pribadi, yaitu agama saya?
  Saya terus terang juga tidak melihat, apa hubungannya agama saya dengan topik 
diskusi, namun saya terima dengan lapang dada, nasihat-nasihat Bapak agar saya 
dapat lebih dewasa, walaupun saya kini berusia 62 tahun. 
  Saya akui, bahwa saya bukan pakar agama Buddha, oleh karena itu saya sangat 
beterima kasih apabila Bapak berkenan memberikan pencerahan kepada saya 
mengenai ajaran Sidharta Gautama, karena saya yakin, Bapak sebagai orang yang 
lebih tua dari saya, tentu lebih banyak pengetahun, pengalaman dan 
kebijaksanaan.
  Oleh karena itu, saya tidak sependapat dengan Bapak, bahwa catatan yang saya 
sampaikan terhadap tulisan Tossi sudah “ngalor-ngidul.” Seandainya Bapak, yang 
lebih tua dan bijaksana, dapat secara jujur melihat, bukanlah saya yang membawa 
masalah pribadi ke dalam diskusi ini, dan selain itu, Pak Loekyh-lah yang 
memasukkan masalah agama saya ke dalam diskusi ini. Bukankah demikian Pak? 
Apakah ada perbedaaanya seandainya saya beragama Islam atau Kristen, atau 
seorang komunis yang atheis?
  Mengenai mengirim tulisan melalui Japri, saya sangat tidak keberatan, apabila 
saya menerima tulisan pribadi melalui Japri (jalur pribadi), namun kalau saya 
menerima tulisan melalui milis, saya pikir sudah sewajarnya apabila saya 
menjawab melalui milis juga.
  Dalam hal ini, mohon Bapak juga memberikan nasihat yang sama kepada Tossi, 
agar hal-hal pribadi disampaikannya melalui Japri, supaya Bapak, sebagai orang 
tua yang bijaksana, tidak dituduh “pilih kasih.”
  Namun saya berpendapat, apabila seseorang telah berani menulis untuk publik, 
apalagi untuk publik internasional, sudah seharusnya siap untuk dikritik dan 
“tahan banting.” Kalau tidak mau dikritik, ya tidak usah menulis untuk publik. 
Mantan Presiden Wahid pasti akan bilang: “Gitu aja kok repot!”
  Menurut pendapat saya, itulah gunanya menulis di dunia maya, yang dapat 
menembus dimensi ruang dan waktu. Silang pendapat adalah wajar, dan tergantung 
bagaimana kita memandang tanggapan orang lain. Saya akan berterima kasih kepada 
siapapun, yang memberikan koreksi terhadap tulisan saya, seandainya sumber yang 
disampaikan ternyata benar adanya.
  Di bawah ini saya sampaikan lagi, cuplikan dari catatan saya, di mana Bapak 
dapat melihat, bahwa saya samasekali tak menyinggung pribadi Tossi, melainkan 
“to the point.” Bahwa catatan saya sangat panjang, itu relatif sekali.
  Saya juga menerima banyak email, terutama dari generasi muda, yang berterima 
kasih atas informasi yang saya berikan dengan rinci. Banyak di kalangan 
generasi muda yang sangat rajin membaca, dan haus akan informasi.
  Mohon Bapak sekali lagi membandingkan dengan rweaksi dari Tossi.
  Seandainya Bapak ingin membaca sejarah “versi lain” yang bukan “pesanan” 
penguasa, silakan kunjungi weblog saya: http://batarahutagalung.blogspot.com. 
  Sejak weblog ini saya umumkan kepada publik pada bulan Mei 2006, telah 
dikunjungi oleh lebih dari 250 orang. Ini dapat dilihat dari registrasi 
otomatis di kolom mengenai diri saya di weblog tersebut. Silakan juga memberi 
komentar dan kritik langsung di weblog tersebut.
   
  Teriring salam hormat,
   
  Batara R.H.
  ===============================================
  Sehubungan dengan kutipan fakta-fakta sejarah yang ditulis oleh teman lama 
saya Tossi Abu Prajitno, saya sampaikan beberapa catatan terutama mengenai 
BKR/TKR dan Re-Ra, yang antara lain saya peroleh dari almarhum ayah saya, 
Letkol TNI (Purn.) dr. W. Hutagalung (10.03.1910 - 29.04.2002). Jabatan beliau 
terakhir pada Januari 1950, ketika mengundurkan diri dari TNI adalah Kepala 
Staf "Q" TNI ("Kwartiermeestergeneraal Staf "Q"). Beliau adalah salah satu 
wakil Kementerian Pertahanan RI dalam Panitia Reorganisasi dan Rasionalisasi 
(Re-Ra) TNI tahun 1948.
  Mengenai masuknya tentara Belanda kembali ke Indonesia, saya kutip a.l. dari 
J.A. de Moor, "Westerlings Oorlog", Willy Meelhuijsen, "Revolutie in Soerabaja. 
17 Agustus - 1 December 1945", Laurens van der Post, "The Admiral's Bab" dan 
beberapa sumber lain.
  Semoga catatan ini bermanfaat dalam diskusi ini.
  Salam hangat,
  Batara R. Hutagalung
   
  > 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
> "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil 
> Presiden Mohammad Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang 
> kemerdekaan >Indonesia."
>

Catatan Batara Hutagalung:
  Pada 22 Agustus 1945, dibentuk suatu badan yang dinamakan Badan Penolong 
Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di dalam tubuh BPKKP dibentuk organisasi 
yang dipersenjatai, yang dinamakan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Memang sesuatu 
yang unik, yaitu organisasi bersenjata berada di dalam tubuh suatu organisasi 
sosial. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan Tentara Sekutu yang 
akan melucuti tentara Jepang, bahwa Republik Indonesia yang baru 
diproklamasikan, telah membentuk Angkatan Bersenjata.
  Pada 5 Oktober 1945, Presiden Sukarno mengumumkan berdirinya TKR (Tentara 
Keamanan Rakyat) sebagai kelanjutan dari BKR. Nama Tentara Keamanan Rakyat 
tanggal 7 Januari 1946 berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, kemudian 
tanggal 26 Januari 1946 diganti lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan 
akhirnya tanggal 3 Juli 1947 menjadi TNI -Tentara Nasional Indonesia. Setelah 
“penyerahan kedaulatan” (soevereniteitsoverdracht) dari Pemerintah Belanda 
kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Palais op de Dam, 
Amsterdam pada 27 Desember 1949, TNI yang menjadi inti tentara RIS dinamakan 
Angkatan Perang RIS (APRIS), di mana mantan tentara KNIL diterima ke dalamnya. 
Setelah RIS dibubarkan pada 16 Agustus 1950, maka APRIS berubah menjadi TNI 
kembali. Di masa Orde Baru, TNI menjadi ABRI, dan setelah Suharto lengser, maka 
ABRI berubah lagi menjadi TNI. Entah sampai kapan …
  ---------------------dihapus----------------------
  -------------------------------------------------------------------------
   > 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
> "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara 
> Belanda tahun 47, . . "
>

Catatan Batara R. Hutagalung:
  Tahun 1942 jumlah tentara Belanda –termasuk pribumi yang menjadi serdadu KNIL 
seperti Raden Abdul Kadir Wijoyoatmojo- yang berhasil melarikan diri ke 
Australia hanya sekitar 1000 orang. Mereka kemudian dapat merekrut orang dari 
Suriname dan Curacao untuk menjadi tentara, sehingga saat Jepang menyerah pada 
bulan Agustus 1945, jumlah tentara Belanda yang berada di Australia sudah 
mencapai sekitar 5000 orang.
  Tanggal 27 Agustus 1945, Letnan C.A.M. Brondgeest dari Angkatan Laut Kerajaan 
Belanda memimpin 11 orang yang diterjunkan di Pangkalanbrandan, Sumatera Utara. 
Brondgeest ditugaskan untuk mengkoordinasi pemulihan tawanan serta interniran 
Sekutu yang berada di Sumatera Utara. Pada 6 September 1945 Brondgeest mulai 
merekrut semua orang mantan tentara KNIL yang berada di kota Medan dan 
sekitarnya. Dalam waktu singkat dia dapat mengumpulkan ratusan orang dan untuk 
mengelabui pihak Republik Indonesia, mereka direkrut menjadi polisi yang 
membantu Brondgeest.
  ------------------------------dihapus-----------------
  =====================================================
   
  tossi20 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  Kpd Bung Ibrahim Isa & Batara Hutagalung yth,

Mulanya saya menulis tentang krisis Timor Leste dengan mencoba menganalisa 
bagaimana suatu negara baru diguncang oleh upaya pembentukan tentara baru 
secara gegabah (reckless). Ada frustrasi ekonomi dan diskriminasi regional 
dalam merekrut bekas gerilyawan Falintil untuk membentuk tentara baru FDTL dan 
polisi nasional PNTL. Apalagi Mendagri Rogerio Lobato yang memecat 600an 
prajurit eks gerilyawan (sepertiga dari TNI-nya Timor Leste) itu kemudian 
membentuk semacam Kopassus di dalam Polisi Nasional PNTL. 
Nah, ketika semua ini berkait dengan faksionalisme di dalam negara (state), 
maka guncanglah sang negara, bahkan hampir runtuh - misalnya parlemen gagal 
bersidang secara paripurna. Bahkan negara mengundang pasukan asing - betapa 
tragis, bukan. Bayangkan bung 
Ibrahim dan Batara yang, maaf, super nasionalis, apa nggak keblingsetan 
andaikata burung Garuda kita apabila ditumplekin dan mau ditata kembali oleh 
Kangguru? (Siapa tahu kelak Garuda nan mampu terbang gagah perkasa itu 
diperkosa pula oleh Kangguru yang cuma bisa lompat-lompat, he.. he?)
Nah, tiga dasawarsa Orde Baru amat sukses dalam propaganda soal TimTim sehingga 
publik Indonesia amat abai (ignorant) tentang TimTim. Bahkan kaum nasionalis 
yang seharusnya melihat TimTim sebagai salah satu aib nasional kita, juga tak 
peduli, bukan begitu 
mijnheer Batara? Bahkan para korban musibah HAM seperti kasus 1965-66, juga 
lama bersikap abai terhadap TimTim. Kalau berbicara tentang musibah kejahatan 
kemanusiaan, apalah maknanya beda jumlah korban antara satu juta (1965-66) dan 
200an ribu (TimTim). Bukankah 
kemanusiaan itu pada akhirnya adalah satu dan tunggal, bukan begitu bung 
Ibrahim yang saya hormati?
Singkat kata, karena orang abai terhadap TimTim, dan kebetulan saya pernah 
mengalami langsung di sana dan pernah kenal beberapa pentolannya (termasuk si 
Rogerio Lobato, si petualang maverick itu), maka saya tulis itu dengan sekadar 
ilustrasi sambil lalu bahwa 
krisis pasca revolusioner semacam itu tidaklah unik. Jadi upaya Hatta dengan 
"rasionalisasi" perlu disebut demi analisis komparatif sekadarnya, bukan, meski 
toh berbeda konteks dan perjalanannya.
Di sini, saya berterima kasih kepada Bung Ibrahim Isa yang mengingatkan akan 
hal relevan bahwa upaya Hatta itu juga berekor pada Madiun affair (yang lebih 
gawat dari pada Dili Berdarah pekan pekan lalu).
Tapi, celakanya, tanggapan tanggapan itu lalu berkepanjangan, bertele-tele ke 
hal hal yang tak relevan lagi bagi TimTim. Saya menulis tentang TimTim, bukan 
Indonesia 1940an, jadi saya punya legitimasi sebatas konteks TimTim (ini kaidah 
analisis komparatif) alias saya berhak untuk menolak hal hal tak relevan di 
luar itu.
Jadi para kritisi ini kebablasan. 
Apalagi mijnheer Batara bikin saya pusing. Fokus Batara pada kejahatan 
kemanusiaan Belanda di Indonesia 1940an patut kita hargai, tapi bila ini 
merasuk menjadi obsesi, lalu saya pusing seperti begini: apa nggak ada 
Westerling di kalangan tentara Indonesia di TimTim, dan Aceh? Apa Rawagede 
segede TimTim dan Aceh? 
Obsesi seperti itu mudah meluncurkan kita sampai sesat, tergelincir hingga 
menutup mata pada kejahatan kemanusiaan bangsa sendiri di masa kini (1965-66, 
TimTim dsb). Salah-salah, bahkan bisa terjebak ke dalam rasisme terhadap 
Belanda, bukan lagi anti kolonialisme. Saya yakin bukan itu maksud mijnheer 
Batara, pasti bung Ibrahim Isa pun tak mau demikian.
Soal nasionalisme yang melupakan kejahatan bangsa sendiri mengingatkan saya 
pada sebuah seminar PPI di Hamburg atau Dusseldorf tahun 1980an. PPI yang nakal 
itu memasang potret Soekarno, yang kontan membuat para pejabat KBRI Bon marah 
marah lantas mendatangi 
organisator seminar. "Lho, mana fotonya Pak Harto, kan dia presiden kita, bukan 
Soekarno kan!" Sang organisator menjawab dengan tangkas, sambil menunjuk kepada 
foto Soekarno: "Itu presiden kita. Dia, Soekarno, itu presiden. Kalau Soeharto 
itu raja namanya". Si pejabat 
KBRI diam dan kesal. Hebat sang organisator seminar PPI itu. Salut. Dan 
organisator itu namanya Batara Hutagalung.
Lalu tahun 1987 sebuah televisi Jerman mengundang seorang mahasiswa Indonesia 
untuk tampil secara kritis terhadap Orde baru dengan menggelar acara debat 
dengan pejabat KBRI Bonn. Betapa kaget saya, kok mahasiswa yang muncul di TV 
itu Pipit dari Berlin yang paspornya 
akhirnya ditarik KBRI gara gara acara TV itu. Kok yang datang bukan mahasiswa 
Hamburg yang justru diundang oleh TV Jerman tsb. Mahasiswa Hamburg itu namanya: 
Batara Hutagalung. 
Ada satu lagi kritik Bung Ibrahim Isa, tentang impunitas. Tapi ini saya 
tangguhkan, saya tanggapi lain kali, karena duduk persoalannya berbeda.
Jadi, untuk sementara sekian sazha dulu. Sekali lagi terima kasih dan 
penghargaan saya kepada Bung Ibrahim Isa dan Batara Hutagalung (maaf saya nggak 
punya obat anti-obsesi, he, he, bercanda.. bung)) 
Wassalam hormat,
Tossi AS
   

loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  --- In [email protected], Batara 
Hutagalung 
wrote:

> Wah … wah … wah… rupanya tulisan saya telah membuat teman 
> saya Tossi jadi emosi, sampai-sampai mencap Pak Ibrahim dan
> saya sebagai super nasionalis. Sorry deh Tossi! 

L: Maaf, ingin sekali-kali intervensi, sekali-kali mengkudeta 
moderator :-). Saya tak melihat alasan penggunaan 'super-nasionalis' 
oleh Tossi sebagai indikasi emosi. Justru saya melihat Tossi mampu 
menulis 'kita hargai' sbg indikasi tak emosi dan usaha menghargai 
argumentasi anda (lihat kutipan di bawah).

Menurut saya, lebih baik rekan Batara fokus pada kalimat2 rekan 
Tossi, coba cari kalimat2 yg salah atau tak akurat, bukan pada 
kesalahan pribadi si Tossi (walaupun mungkin benar bahwa Tossi 
emosi). Prejudice dan prasangka itu termasuk membuat asumsi sendiri 
(mis. Tossi emosi) tanpa fakta, indikasi atau kriteria yg bisa 
diterima orang lain (kecuali diterima sendiri).

> Saya tak emosi, apalagi marah dengan tuduhan ini, karena saya
> yang tahu, bahwa saya bukan seorang super nasionalis. Kalau
> memang negara dan bangsa Indonesia melakukan kesalahan, akan
> saya katakan apa adanya, dan tidak akan membela mati-matian.

L: Sikap dan prilaku (mis. supernasionalis) diri kita biasanya hanya 
bisa dinilai lebih obyektif oleh orang lain, bukan lewat klaim diri 
sendiri. Ttp sebaiknya kita tetap fokus pada isi diskusi, bukan pada 
pribadi si pendiskusi (termasuk pribadi diri sendiri).

Saya tak sepakar anda berdua dalam sejarah, ttp secara umum saya 
ingin bertanya mengapa anda menulis "koreksi ini sangat penting, 
karena menyangkut perbandingan dengan sejarah Indonesia". Di mana 
letak pentingnya? Apakah agar orang tak percaya versi lain sejarah 
Indonesia-Belanda th. 40-50-an yg salah? Kalau ya, berarti argumen 
Tossi berikut yg mengkritik anda terlalu fokus pada masa lalu nun 
jauh di masa lampau adalah argumen yg benar!

> > Fokus Batara pada kejahatan kemanusiaan Belanda di Indonesia
> > 1940an patut kita hargai, tapi bila ini merasuk menjadi 
> > obsesi, lalu saya pusing seperti begini: apa nggak ada
> > Westerling di kalangan tentara Indonesia di TimTim, dan 
> > Aceh? Apa Rawagede segede TimTim dan Aceh? Obsesi seperti
> > itu mudah meluncurkan kita sampai sesat, 

L: Untuk istilah 'obsesi' (yg berada di alam bawah sadar) oleh rekan 
Tossi ini, sebagai seorang yg percaya Buddhisme, saya selalu 
menggunakan istilah 'keterikatan pikiran' yg membuat kita tak bisa 
berpikir lurus dan benar (salah satu ajaran utama oleh Siddharta G). 

Maaf, kalau tak salah dalam postingan anda di salah satu milis pada 
hari Waisak yl, anda sendiri seorang yg menjadi dewasa setelah 
sangat percaya ajaran Buddha (hal yg sama terjadi pada diri saya)? 
Jika benar (maaf jika salah), sebaiknya rekan Batara janganlah 
terganggu dan terobsesi pada (menurut anda) kesalahan versi sejarah 
Indonesia terkait dg penjajahan Belanda di tahun 40-50-an.

Walaupun anda sangat yakin bahwa anda sangat benar ttg kesalahan 
versi sejarah yg sangat merusak citra Indonesia, ttp orang akan 
melihat anda lebih bijak apabila anda bisa MEMBATASI TOPIK diskusi 
agar tidak melebar kemana-mana (walaupun anda berbasa-basi 
menulisnya 'hanya catatan'). Lebih2 apabila melebarnya diskusi ini 
ke sejarah Belanda vs Indonesia di masa lalu hanya karena Tossi 
bekerja untuk Belanda (Seandainya pola diskusi ini terjadi, maka 
akibatnya secara mental tak sehat bagi kedua pihak).

> > tergelincir hingga menutup mata pada kejahatan kemanusiaan
> > bangsa sendiri di masa kini (1965-66, TimTim dsb). Salah-salah, 
> > bahkan bisa terjebak ke dalam rasisme terhadap Belanda, bukan
> > lagi anti kolonialisme. "

> Sebenarnya saya hanya mau menyampaikan CATATAN mengenai 
> kekeliruan penulisan sehubungan dengan reorganisasi & 
> rasionalisasi (Re-RA) di tubuh TNI dan kedatangan kembali
> tentara Belanda ke Indonesia. Re-Ra tidak dilaksanakan di
> tahun 50-an, melainkan sejak tahun 1948, dan tentara Belanda
> masuk ke Indonesia bukan tahun 1947, melainkan sudah sejak 
> 27 Agustus 1945. Tossi menganggap hal ini tidak relevan, 
> karena tema pokok tulisannya adalah masalah krisis di TimTim,
> namun saya menganggap koreksi ini sangat penting, karena
> menyangkut perbandingan dengan sejarah Indonesia, 

> Boleh dong saya memberikan koreksi. Saya pikir, catatan yang
> saya berikan sebenarnya juga berguna bagi Tossi, iya `kan? 
> Jadi dalam tulisan-tulisan selanjutnya Tossi dapat 
> menyampaikan hal-hal yang dikutip dengan benar. Saya 
> samasekali tidak memberikan komentar, apalagi kritik 
> terhadap isi tulisan Tossi mengenai krisis di Timor Leste,
> karena saya yakin, mengenai hal ini Tossi lebih banyak
> mengetahuinya.

L: Ini namanya diskusi 'ngalor-ngidul'. Tossi bicara Timor Leste, 
entah kenapa anda nimbrung memberi 'catatan' (kesalahan Belanda?) 
ttg sejarah tahun 40-50-an kepada Tossi yg tentu saja membuat 
diskusi tak terlalu nyambung dan bikin bingung Tossi. Apalagi anda 
terlalu banyak menulis pribadi, termasuk emosi, karir Tossi, dsb, yg 
membuat diskusi menjadi terlalu melebar.

Untuk catatan dari anda, komentar orang lain: jangan baca sejarah 
bangsa Indonesia melawan Belanda hanya versi sejaharawan Indonesia 
saja, ttp baca juga versi orang2 negara lain, khususnya yg jadi 
kajian universitas2 papan atas (mis. di universitas Cornell atau 
kalau melihat kajian orang Belanda, cari di universitas Leiden). 

Maklum dalam pemerintah totalitarian (totalitarian versi Soekarno 
atau versi Soeharto) sambil menulis sejarah, sebagian besar 
sejahrawan Indonesia itu lehernya dipegang dari belakang dan pundi2 
uang gajinya tak akan diisi oleh pemerintah jika tulisannya 
mengkritik Indonesia. 

> Saya sangat gembira, Tossi masih ingat peristiwa dalam 
> penyelenggaraan seminar di Düsseldorff tahun 80-an. Pejabat
> tersebut adalah Prof. Rubini, Atase Pendidikan di KBRI Bonn.
> Kita pertama kali bertemu tahun 1979, dalam seminar di St.
> Augustin, Jerman Barat, mengenai masalah Transmigrasi. 

L: Bagaimana anda menulis tulisan berseri ttg tulisan (yg saya 
potong) terlepas dari tulisan Tossi? Untuk hal2 pribadi, saya kira 
anda bisa coba email Tossi lewat japri. FYI, saya selalu 
berpendapat, dalam setiap konflik, tak ada satu pihak pun yg 100%. 

Salam









Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke