Bapak Lokyh yang budiman, Terima kasih atas tanggapan dan nasihat-nasihat Bapak. Dari kalimat-kalimat Bapak yang banyak memberikan nasihat kepada saya, saya asumsikan Bapak lebih tua dari saya dan lebih bijaksana. Namun kalau Bapak perhatikan, pada catatan saya terhadap data yang dikemukakan oleh Tossi, tidak satu kata pun yang menyangkut pribadi Tossi, yang telah saya kenal sejak tahun 1979. Setelah Tossi memberikan tanggapan atas catatan saya, saya hanya menjawab butir-butir yang dikemukakannya, tentunya termasuk yang menyangkut pribadi saya. Memang betul, bahwa penilaian mengenai diri seseorang, diberikan oleh orang lain, namun tidak berarti, bahwa seseorang tidak boleh menilai diri sendiri. Adalah hak Tossi untuk memberi penilaian terhadap saya, demikian juga hak Bapak untuk berpendapat apapun, dan di sisi lain adalah hak juga saya untuk tidak sependapat dengan Bapak atau Tossi. Mohon Bapak perhatikan lagi tulisan saya, saya mengutip dua hal dari tulisan Tossi, dan fokusnya hanya pada materi tersebut, tidak ada yang lain, apalagi mengenai pribadi Tossi. Bapak bertanya, mengapa saya melihat koreksi ini penting? Kalau Bapak membaca dengan teliti jawaban saya kepada Tossi, saya menyatakan, bahwa Tossi adalah orang yang sangat terkenal, sehingga tulisan-tulisannya menjadi acuan atau referensi bagi orang lain yang akan menulis. Memang boleh saja Tossi mengambil contoh peristiwa di masa lalu di Indonesia sebagai perbandingan, sehubungan dengan tulisannya mengenai Timor Leste, namun seperti disampaikan oleh Pak Ibrahim Isa, usahakan sekorek mungkin. Saya melihat hal ini sangat penting, terutama untuk generasi muda Indonesia, generasi cucu-cucu Bapak, karena sebagaimana kita ketahui, selama masa Orde Baru di bawah Suharto, telah terjadi banyak pemutar-balikan fakta sejarah. Sejarah ditulis untuk kepentingan penguasa. Contoh yang diambil oleh Tossi untuk perbandingan adalah mengenai reorganisasi dan rasionalisasi (Re-Ra). Namun kesalahannya adalah, yang dilakukan Re-Ra bukanlah terhadap BKR, melainkan sudah TNI, dan bukan tahun 50-an, melainkan tahun 1948. Jadi kutipannya mengandung beberapa kesalahan. Selain itu, perlu diketahui dasar dan pertimbangan mengapa perlu dilakukan Re-Ra. Hal ini saya sampaikan dalam bentuk kisah yang dialami oleh para pelaku sejarah. Demikian juga dengan masuknya kembali tentara Belanda ke Indonesia, bukan tahun 1947, melainkan sudah tahun 1945. Catatan saya banyak mengutip tulisan sejarawan Belanda, Inggris dan Amerika, dan beberapa sumbernya juga saya sebutkan. Mengenai hal-hal pribadi, kalau Bapak perhatikan juga, saya hanya menjawab hal-hal yang dikemukakan Tossi, walaupun saya juga tidak melihat korelasinya antara catatan saya, tulisan Tossi, dan peristiwa-peristiwa yang Tossi dan saya alami tahun 80-an. Demikian juga saya tak melihat apa hubungannya wawancara Pipit Rochijat di TV Jerman dengan topik yang dibahas. Bukankah Bapak yang menyinggung masalah yang sangat pribadi, yaitu agama saya? Saya terus terang juga tidak melihat, apa hubungannya agama saya dengan topik diskusi, namun saya terima dengan lapang dada, nasihat-nasihat Bapak agar saya dapat lebih dewasa, walaupun saya kini berusia 62 tahun. Saya akui, bahwa saya bukan pakar agama Buddha, oleh karena itu saya sangat beterima kasih apabila Bapak berkenan memberikan pencerahan kepada saya mengenai ajaran Sidharta Gautama, karena saya yakin, Bapak sebagai orang yang lebih tua dari saya, tentu lebih banyak pengetahun, pengalaman dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, saya tidak sependapat dengan Bapak, bahwa catatan yang saya sampaikan terhadap tulisan Tossi sudah ngalor-ngidul. Seandainya Bapak, yang lebih tua dan bijaksana, dapat secara jujur melihat, bukanlah saya yang membawa masalah pribadi ke dalam diskusi ini, dan selain itu, Pak Loekyh-lah yang memasukkan masalah agama saya ke dalam diskusi ini. Bukankah demikian Pak? Apakah ada perbedaaanya seandainya saya beragama Islam atau Kristen, atau seorang komunis yang atheis? Mengenai mengirim tulisan melalui Japri, saya sangat tidak keberatan, apabila saya menerima tulisan pribadi melalui Japri (jalur pribadi), namun kalau saya menerima tulisan melalui milis, saya pikir sudah sewajarnya apabila saya menjawab melalui milis juga. Dalam hal ini, mohon Bapak juga memberikan nasihat yang sama kepada Tossi, agar hal-hal pribadi disampaikannya melalui Japri, supaya Bapak, sebagai orang tua yang bijaksana, tidak dituduh pilih kasih. Namun saya berpendapat, apabila seseorang telah berani menulis untuk publik, apalagi untuk publik internasional, sudah seharusnya siap untuk dikritik dan tahan banting. Kalau tidak mau dikritik, ya tidak usah menulis untuk publik. Mantan Presiden Wahid pasti akan bilang: Gitu aja kok repot! Menurut pendapat saya, itulah gunanya menulis di dunia maya, yang dapat menembus dimensi ruang dan waktu. Silang pendapat adalah wajar, dan tergantung bagaimana kita memandang tanggapan orang lain. Saya akan berterima kasih kepada siapapun, yang memberikan koreksi terhadap tulisan saya, seandainya sumber yang disampaikan ternyata benar adanya. Di bawah ini saya sampaikan lagi, cuplikan dari catatan saya, di mana Bapak dapat melihat, bahwa saya samasekali tak menyinggung pribadi Tossi, melainkan to the point. Bahwa catatan saya sangat panjang, itu relatif sekali. Saya juga menerima banyak email, terutama dari generasi muda, yang berterima kasih atas informasi yang saya berikan dengan rinci. Banyak di kalangan generasi muda yang sangat rajin membaca, dan haus akan informasi. Mohon Bapak sekali lagi membandingkan dengan rweaksi dari Tossi. Seandainya Bapak ingin membaca sejarah versi lain yang bukan pesanan penguasa, silakan kunjungi weblog saya: http://batarahutagalung.blogspot.com. Sejak weblog ini saya umumkan kepada publik pada bulan Mei 2006, telah dikunjungi oleh lebih dari 250 orang. Ini dapat dilihat dari registrasi otomatis di kolom mengenai diri saya di weblog tersebut. Silakan juga memberi komentar dan kritik langsung di weblog tersebut. Teriring salam hormat, Batara R.H. =============================================== Sehubungan dengan kutipan fakta-fakta sejarah yang ditulis oleh teman lama saya Tossi Abu Prajitno, saya sampaikan beberapa catatan terutama mengenai BKR/TKR dan Re-Ra, yang antara lain saya peroleh dari almarhum ayah saya, Letkol TNI (Purn.) dr. W. Hutagalung (10.03.1910 - 29.04.2002). Jabatan beliau terakhir pada Januari 1950, ketika mengundurkan diri dari TNI adalah Kepala Staf "Q" TNI ("Kwartiermeestergeneraal Staf "Q"). Beliau adalah salah satu wakil Kementerian Pertahanan RI dalam Panitia Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI tahun 1948. Mengenai masuknya tentara Belanda kembali ke Indonesia, saya kutip a.l. dari J.A. de Moor, "Westerlings Oorlog", Willy Meelhuijsen, "Revolutie in Soerabaja. 17 Agustus - 1 December 1945", Laurens van der Post, "The Admiral's Bab" dan beberapa sumber lain. Semoga catatan ini bermanfaat dalam diskusi ini. Salam hangat, Batara R. Hutagalung > 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil > Presiden Mohammad Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang > kemerdekaan >Indonesia." >
Catatan Batara Hutagalung: Pada 22 Agustus 1945, dibentuk suatu badan yang dinamakan Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di dalam tubuh BPKKP dibentuk organisasi yang dipersenjatai, yang dinamakan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Memang sesuatu yang unik, yaitu organisasi bersenjata berada di dalam tubuh suatu organisasi sosial. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan Tentara Sekutu yang akan melucuti tentara Jepang, bahwa Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, telah membentuk Angkatan Bersenjata. Pada 5 Oktober 1945, Presiden Sukarno mengumumkan berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebagai kelanjutan dari BKR. Nama Tentara Keamanan Rakyat tanggal 7 Januari 1946 berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, kemudian tanggal 26 Januari 1946 diganti lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan akhirnya tanggal 3 Juli 1947 menjadi TNI -Tentara Nasional Indonesia. Setelah penyerahan kedaulatan (soevereniteitsoverdracht) dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Palais op de Dam, Amsterdam pada 27 Desember 1949, TNI yang menjadi inti tentara RIS dinamakan Angkatan Perang RIS (APRIS), di mana mantan tentara KNIL diterima ke dalamnya. Setelah RIS dibubarkan pada 16 Agustus 1950, maka APRIS berubah menjadi TNI kembali. Di masa Orde Baru, TNI menjadi ABRI, dan setelah Suharto lengser, maka ABRI berubah lagi menjadi TNI. Entah sampai kapan ---------------------dihapus---------------------- ------------------------------------------------------------------------- > 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb: > "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara > Belanda tahun 47, . . " > Catatan Batara R. Hutagalung: Tahun 1942 jumlah tentara Belanda termasuk pribumi yang menjadi serdadu KNIL seperti Raden Abdul Kadir Wijoyoatmojo- yang berhasil melarikan diri ke Australia hanya sekitar 1000 orang. Mereka kemudian dapat merekrut orang dari Suriname dan Curacao untuk menjadi tentara, sehingga saat Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945, jumlah tentara Belanda yang berada di Australia sudah mencapai sekitar 5000 orang. Tanggal 27 Agustus 1945, Letnan C.A.M. Brondgeest dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda memimpin 11 orang yang diterjunkan di Pangkalanbrandan, Sumatera Utara. Brondgeest ditugaskan untuk mengkoordinasi pemulihan tawanan serta interniran Sekutu yang berada di Sumatera Utara. Pada 6 September 1945 Brondgeest mulai merekrut semua orang mantan tentara KNIL yang berada di kota Medan dan sekitarnya. Dalam waktu singkat dia dapat mengumpulkan ratusan orang dan untuk mengelabui pihak Republik Indonesia, mereka direkrut menjadi polisi yang membantu Brondgeest. ------------------------------dihapus----------------- ===================================================== tossi20 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kpd Bung Ibrahim Isa & Batara Hutagalung yth, Mulanya saya menulis tentang krisis Timor Leste dengan mencoba menganalisa bagaimana suatu negara baru diguncang oleh upaya pembentukan tentara baru secara gegabah (reckless). Ada frustrasi ekonomi dan diskriminasi regional dalam merekrut bekas gerilyawan Falintil untuk membentuk tentara baru FDTL dan polisi nasional PNTL. Apalagi Mendagri Rogerio Lobato yang memecat 600an prajurit eks gerilyawan (sepertiga dari TNI-nya Timor Leste) itu kemudian membentuk semacam Kopassus di dalam Polisi Nasional PNTL. Nah, ketika semua ini berkait dengan faksionalisme di dalam negara (state), maka guncanglah sang negara, bahkan hampir runtuh - misalnya parlemen gagal bersidang secara paripurna. Bahkan negara mengundang pasukan asing - betapa tragis, bukan. Bayangkan bung Ibrahim dan Batara yang, maaf, super nasionalis, apa nggak keblingsetan andaikata burung Garuda kita apabila ditumplekin dan mau ditata kembali oleh Kangguru? (Siapa tahu kelak Garuda nan mampu terbang gagah perkasa itu diperkosa pula oleh Kangguru yang cuma bisa lompat-lompat, he.. he?) Nah, tiga dasawarsa Orde Baru amat sukses dalam propaganda soal TimTim sehingga publik Indonesia amat abai (ignorant) tentang TimTim. Bahkan kaum nasionalis yang seharusnya melihat TimTim sebagai salah satu aib nasional kita, juga tak peduli, bukan begitu mijnheer Batara? Bahkan para korban musibah HAM seperti kasus 1965-66, juga lama bersikap abai terhadap TimTim. Kalau berbicara tentang musibah kejahatan kemanusiaan, apalah maknanya beda jumlah korban antara satu juta (1965-66) dan 200an ribu (TimTim). Bukankah kemanusiaan itu pada akhirnya adalah satu dan tunggal, bukan begitu bung Ibrahim yang saya hormati? Singkat kata, karena orang abai terhadap TimTim, dan kebetulan saya pernah mengalami langsung di sana dan pernah kenal beberapa pentolannya (termasuk si Rogerio Lobato, si petualang maverick itu), maka saya tulis itu dengan sekadar ilustrasi sambil lalu bahwa krisis pasca revolusioner semacam itu tidaklah unik. Jadi upaya Hatta dengan "rasionalisasi" perlu disebut demi analisis komparatif sekadarnya, bukan, meski toh berbeda konteks dan perjalanannya. Di sini, saya berterima kasih kepada Bung Ibrahim Isa yang mengingatkan akan hal relevan bahwa upaya Hatta itu juga berekor pada Madiun affair (yang lebih gawat dari pada Dili Berdarah pekan pekan lalu). Tapi, celakanya, tanggapan tanggapan itu lalu berkepanjangan, bertele-tele ke hal hal yang tak relevan lagi bagi TimTim. Saya menulis tentang TimTim, bukan Indonesia 1940an, jadi saya punya legitimasi sebatas konteks TimTim (ini kaidah analisis komparatif) alias saya berhak untuk menolak hal hal tak relevan di luar itu. Jadi para kritisi ini kebablasan. Apalagi mijnheer Batara bikin saya pusing. Fokus Batara pada kejahatan kemanusiaan Belanda di Indonesia 1940an patut kita hargai, tapi bila ini merasuk menjadi obsesi, lalu saya pusing seperti begini: apa nggak ada Westerling di kalangan tentara Indonesia di TimTim, dan Aceh? Apa Rawagede segede TimTim dan Aceh? Obsesi seperti itu mudah meluncurkan kita sampai sesat, tergelincir hingga menutup mata pada kejahatan kemanusiaan bangsa sendiri di masa kini (1965-66, TimTim dsb). Salah-salah, bahkan bisa terjebak ke dalam rasisme terhadap Belanda, bukan lagi anti kolonialisme. Saya yakin bukan itu maksud mijnheer Batara, pasti bung Ibrahim Isa pun tak mau demikian. Soal nasionalisme yang melupakan kejahatan bangsa sendiri mengingatkan saya pada sebuah seminar PPI di Hamburg atau Dusseldorf tahun 1980an. PPI yang nakal itu memasang potret Soekarno, yang kontan membuat para pejabat KBRI Bon marah marah lantas mendatangi organisator seminar. "Lho, mana fotonya Pak Harto, kan dia presiden kita, bukan Soekarno kan!" Sang organisator menjawab dengan tangkas, sambil menunjuk kepada foto Soekarno: "Itu presiden kita. Dia, Soekarno, itu presiden. Kalau Soeharto itu raja namanya". Si pejabat KBRI diam dan kesal. Hebat sang organisator seminar PPI itu. Salut. Dan organisator itu namanya Batara Hutagalung. Lalu tahun 1987 sebuah televisi Jerman mengundang seorang mahasiswa Indonesia untuk tampil secara kritis terhadap Orde baru dengan menggelar acara debat dengan pejabat KBRI Bonn. Betapa kaget saya, kok mahasiswa yang muncul di TV itu Pipit dari Berlin yang paspornya akhirnya ditarik KBRI gara gara acara TV itu. Kok yang datang bukan mahasiswa Hamburg yang justru diundang oleh TV Jerman tsb. Mahasiswa Hamburg itu namanya: Batara Hutagalung. Ada satu lagi kritik Bung Ibrahim Isa, tentang impunitas. Tapi ini saya tangguhkan, saya tanggapi lain kali, karena duduk persoalannya berbeda. Jadi, untuk sementara sekian sazha dulu. Sekali lagi terima kasih dan penghargaan saya kepada Bung Ibrahim Isa dan Batara Hutagalung (maaf saya nggak punya obat anti-obsesi, he, he, bercanda.. bung)) Wassalam hormat, Tossi AS loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: --- In [email protected], Batara Hutagalung wrote: > Wah wah wah rupanya tulisan saya telah membuat teman > saya Tossi jadi emosi, sampai-sampai mencap Pak Ibrahim dan > saya sebagai super nasionalis. Sorry deh Tossi! L: Maaf, ingin sekali-kali intervensi, sekali-kali mengkudeta moderator :-). Saya tak melihat alasan penggunaan 'super-nasionalis' oleh Tossi sebagai indikasi emosi. Justru saya melihat Tossi mampu menulis 'kita hargai' sbg indikasi tak emosi dan usaha menghargai argumentasi anda (lihat kutipan di bawah). Menurut saya, lebih baik rekan Batara fokus pada kalimat2 rekan Tossi, coba cari kalimat2 yg salah atau tak akurat, bukan pada kesalahan pribadi si Tossi (walaupun mungkin benar bahwa Tossi emosi). Prejudice dan prasangka itu termasuk membuat asumsi sendiri (mis. Tossi emosi) tanpa fakta, indikasi atau kriteria yg bisa diterima orang lain (kecuali diterima sendiri). > Saya tak emosi, apalagi marah dengan tuduhan ini, karena saya > yang tahu, bahwa saya bukan seorang super nasionalis. Kalau > memang negara dan bangsa Indonesia melakukan kesalahan, akan > saya katakan apa adanya, dan tidak akan membela mati-matian. L: Sikap dan prilaku (mis. supernasionalis) diri kita biasanya hanya bisa dinilai lebih obyektif oleh orang lain, bukan lewat klaim diri sendiri. Ttp sebaiknya kita tetap fokus pada isi diskusi, bukan pada pribadi si pendiskusi (termasuk pribadi diri sendiri). Saya tak sepakar anda berdua dalam sejarah, ttp secara umum saya ingin bertanya mengapa anda menulis "koreksi ini sangat penting, karena menyangkut perbandingan dengan sejarah Indonesia". Di mana letak pentingnya? Apakah agar orang tak percaya versi lain sejarah Indonesia-Belanda th. 40-50-an yg salah? Kalau ya, berarti argumen Tossi berikut yg mengkritik anda terlalu fokus pada masa lalu nun jauh di masa lampau adalah argumen yg benar! > > Fokus Batara pada kejahatan kemanusiaan Belanda di Indonesia > > 1940an patut kita hargai, tapi bila ini merasuk menjadi > > obsesi, lalu saya pusing seperti begini: apa nggak ada > > Westerling di kalangan tentara Indonesia di TimTim, dan > > Aceh? Apa Rawagede segede TimTim dan Aceh? Obsesi seperti > > itu mudah meluncurkan kita sampai sesat, L: Untuk istilah 'obsesi' (yg berada di alam bawah sadar) oleh rekan Tossi ini, sebagai seorang yg percaya Buddhisme, saya selalu menggunakan istilah 'keterikatan pikiran' yg membuat kita tak bisa berpikir lurus dan benar (salah satu ajaran utama oleh Siddharta G). Maaf, kalau tak salah dalam postingan anda di salah satu milis pada hari Waisak yl, anda sendiri seorang yg menjadi dewasa setelah sangat percaya ajaran Buddha (hal yg sama terjadi pada diri saya)? Jika benar (maaf jika salah), sebaiknya rekan Batara janganlah terganggu dan terobsesi pada (menurut anda) kesalahan versi sejarah Indonesia terkait dg penjajahan Belanda di tahun 40-50-an. Walaupun anda sangat yakin bahwa anda sangat benar ttg kesalahan versi sejarah yg sangat merusak citra Indonesia, ttp orang akan melihat anda lebih bijak apabila anda bisa MEMBATASI TOPIK diskusi agar tidak melebar kemana-mana (walaupun anda berbasa-basi menulisnya 'hanya catatan'). Lebih2 apabila melebarnya diskusi ini ke sejarah Belanda vs Indonesia di masa lalu hanya karena Tossi bekerja untuk Belanda (Seandainya pola diskusi ini terjadi, maka akibatnya secara mental tak sehat bagi kedua pihak). > > tergelincir hingga menutup mata pada kejahatan kemanusiaan > > bangsa sendiri di masa kini (1965-66, TimTim dsb). Salah-salah, > > bahkan bisa terjebak ke dalam rasisme terhadap Belanda, bukan > > lagi anti kolonialisme. " > Sebenarnya saya hanya mau menyampaikan CATATAN mengenai > kekeliruan penulisan sehubungan dengan reorganisasi & > rasionalisasi (Re-RA) di tubuh TNI dan kedatangan kembali > tentara Belanda ke Indonesia. Re-Ra tidak dilaksanakan di > tahun 50-an, melainkan sejak tahun 1948, dan tentara Belanda > masuk ke Indonesia bukan tahun 1947, melainkan sudah sejak > 27 Agustus 1945. Tossi menganggap hal ini tidak relevan, > karena tema pokok tulisannya adalah masalah krisis di TimTim, > namun saya menganggap koreksi ini sangat penting, karena > menyangkut perbandingan dengan sejarah Indonesia, > Boleh dong saya memberikan koreksi. Saya pikir, catatan yang > saya berikan sebenarnya juga berguna bagi Tossi, iya `kan? > Jadi dalam tulisan-tulisan selanjutnya Tossi dapat > menyampaikan hal-hal yang dikutip dengan benar. Saya > samasekali tidak memberikan komentar, apalagi kritik > terhadap isi tulisan Tossi mengenai krisis di Timor Leste, > karena saya yakin, mengenai hal ini Tossi lebih banyak > mengetahuinya. L: Ini namanya diskusi 'ngalor-ngidul'. Tossi bicara Timor Leste, entah kenapa anda nimbrung memberi 'catatan' (kesalahan Belanda?) ttg sejarah tahun 40-50-an kepada Tossi yg tentu saja membuat diskusi tak terlalu nyambung dan bikin bingung Tossi. Apalagi anda terlalu banyak menulis pribadi, termasuk emosi, karir Tossi, dsb, yg membuat diskusi menjadi terlalu melebar. Untuk catatan dari anda, komentar orang lain: jangan baca sejarah bangsa Indonesia melawan Belanda hanya versi sejaharawan Indonesia saja, ttp baca juga versi orang2 negara lain, khususnya yg jadi kajian universitas2 papan atas (mis. di universitas Cornell atau kalau melihat kajian orang Belanda, cari di universitas Leiden). Maklum dalam pemerintah totalitarian (totalitarian versi Soekarno atau versi Soeharto) sambil menulis sejarah, sebagian besar sejahrawan Indonesia itu lehernya dipegang dari belakang dan pundi2 uang gajinya tak akan diisi oleh pemerintah jika tulisannya mengkritik Indonesia. > Saya sangat gembira, Tossi masih ingat peristiwa dalam > penyelenggaraan seminar di Düsseldorff tahun 80-an. Pejabat > tersebut adalah Prof. Rubini, Atase Pendidikan di KBRI Bonn. > Kita pertama kali bertemu tahun 1979, dalam seminar di St. > Augustin, Jerman Barat, mengenai masalah Transmigrasi. L: Bagaimana anda menulis tulisan berseri ttg tulisan (yg saya potong) terlepas dari tulisan Tossi? Untuk hal2 pribadi, saya kira anda bisa coba email Tossi lewat japri. FYI, saya selalu berpendapat, dalam setiap konflik, tak ada satu pihak pun yg 100%. Salam Web: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Klik: http://mediacare.blogspot.com atau www.mediacare.biz Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

