bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah wa 'ala 
alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, 
 
amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH.
 
sdr2ku di milis, dengan keterbatasan kosa kata diri pribadi dan terutama 
keprihatinan kita semua, yang tentu sekali disamping diri ini juga, alhamdu 
li-lLah ada dapet kiriman walaupun hanya sekelumit dan sekedarnya untuk kita 
sama2 renunkan.
 
silah.
 
wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa asyhadu alla 
Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK. 
wassalamu 'alaikum
 
Potret Kehariinian
 
by Herry Mardian.

Siang tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. 
Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan 
kami setiap hari.
"Coba lihat ini. Kamu sudah baca?" katanya.
Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang 
tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar mengganggunya
"Seorang ibu tega membunuh anak-anaknya yang masih kecil. Tiga orang sekaligus."
Oh, itu. Ya, belakangan ini media pasti memuat kisah itu.
"Ya, saya sudah baca,"kataku. Mataku masih di laptop. Jemariku masih di 
keyboard. Setumpuk buku masih ada di sampingku, beberapa terbuka lembarannya. 
Pekerjaanku setiap hari. "Ada apa dengan berita itu, Bu?"
"Nggak, ibu nggak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan 
itu."
"Ibu sudah baca semua beritanya?"
"Sudah. Kamu tahu nggak, padahal dia lulusan universitas anu dengan IP tiga 
koma dua sekian,"kata ibu menyebut nama sebuah perguruan tinggi terkenal di 
Indonesia. "Jadi pasti dia orang yang pintar."
"Ibu yakin dia pintar?"
"Ya, kan kata koran IP nya tiga koma dua. Terus, suaminya juga aktivis masjid 
anu."Kali ini ibu menyebut nama sebuah masjid di depan perguruan tinggi itu. 
Masjid yang terkenal banyak mewadahi aktivitas keislaman mahasiswa di kota itu. 
"Tapi dia melarang istrinya bekerja."
"Heeh,"aku menanggapi beliau. "Jadi, menurut ibu wanita itu wanita yang jahat 
ya?"
"Apa ada wanita baik yang tega membunuh anak-anaknya?"
Aku menghela nafas, pelan-pelan, supaya jangan sampai kedengaran beliau.
Ini sisi yang tidak aku sukai dari umumnya media kita. Di sebagian acara 
televisi maupun rubrik di koran, banyak yang isinya menggiring persepsi pembaca 
untuk sampai pada sebuah penghakiman. Belum lagi acara-acara gosip dan koran 
tabloid, yang terkesan mendidik pembacanya untuk menikmati kisah jatuhnya 
kehidupan orang, pembongkaran aib-aib, mengangkat masalah rumah tangga orang 
lain, dan semacamnya. Kind a sucks. As if we were a sarcogyps calvus society, 
and have many media for our brain to eat.
Kuhentikan pekerjaanku. Lalu kuraih cangkir kopiku, sambil menghadap sepenuhnya 
pada Beliau, dia yang memberikan setengah nyawanya untukku ketika melahirkanku.
"Bu, seperti ibu tahu, saya kan suka motret. Motret orang."
Ibu sedikit bingung dengan tanggapanku. Hubungannya ke mana? Itu mungkin kata 
yang ada dalam kepala beliau saat itu.
"Kalau ibu suka menikmati hasil foto saya, sebagus apapun, itu hanya sebuah 
potret. Kalau saya memotret pengemis yang wajahnya penuh penderitaan, itu 
adalah dia, pada saat itu, yang bisa tertangkap oleh kamera. Pada saat itu 
saja."
"Hmm"
"Potret seorang pengemis, tidak menggambarkan kenapa dia bisa menjadi seorang 
pengemis. Kita tidak bisa bilang bahwa dia seorang pemalas sehingga jadi 
pengemis, atau ibu tirinya dulu jahat, ia tidak diberi kesempatan bersekolah 
sehingga jadi pengemis yang wajahnya selalu menggambarkan penderitaan yang 
mendalam.
Bu, potret hanya sebuah data. Data yang diambil pada satu saat tertentu. 
Besoknya, data itu bisa berubah sama sekali. Kalau di foto sekarang wajahnya 
terlihat penuh penderitaan, sejam berikutnya bisa jadi saya berhasil memotret 
dia sedang tersenyum senang. Semua tergantung pada saya sebagai pemotret, pada 
momen mana foto itu diambil. Tapi satu foto tidak bisa menggambarkan seluruh 
momen kehidupan si pengemis. Foto adalah sebuah cara bercerita yang terbatas."
Ibu masih terus memperhatikan.
"Berita juga begitu, bu. Seperti potret. Si wartawan hanya memotret apa yang 
nampak di matanya pada saat itu. Ia hanya menangkap gejala, menangkap indikasi. 
Kemudian ia menuliskannya atau menyiarkannya di televisi.
Ketika wartawan menangkap sebuah perilaku seorang wanita yang membunuh 
anak-anaknya, itu sama sekali tidak menggambarkan bahwa wanita itu jahat secara 
keseluruhan. Kalau tentang perilaku membunuhnya itu, oke. Memang itu perilaku 
yang, seperti ibu bilang, jahat. Tapi itu pun hanya perilakunya, belum tentu 
orangnya. Orang, jika berperilaku tertentu, pasti ada penyebabnya, ada 
pencetusnya. Ketika orang merasa dirinya terjepit, maka nalurinya bisa membuat 
seseorang mengeluarkan perilaku yang tidak terduga.
Dan ibu, satu potret itu sama sekali tidak bisa menggambarkan bahwa dia memang 
manusia yang jahat, dari lahir sampai matinya.
Bu, kita sebagai pembaca, jangan hanya melihat permukaannya. Yang harus kita 
lihat adalah apa yang ada di balik itu semua.
Ada berita artis anu yang menceraikan istrinya, kita langsung berfikir bahwa 
dia suami yang jahat. Tidak, belum tentu Bu. Masalah rumah tangga adalah 
masalah yang terlalu kompleks untuk diliput di satu atau dua berita, dan satu 
perceraian hanya sebuah indikasi dari sebuah kehidupan rumah tangga. Hanya 
indikasi. Bisa banyak faktor yang menyebabkan sebuah perceraian, dan siapa tahu 
itu memang langkah yang benar."
Ibu masih memperhatikan juga. Kali ini agak merenung, agaknya mencerna apa yang 
aku sampaikan.
"Kalau di kasus tadi, Bu. Di balik satu pembunuhan itu, ada banyak sekali 
kemungkinan lain yang memicu si ibu membunuh anak-anaknya. Kenapa hanya melihat 
pembunuhannya? Coba ibu juga pertimbangkan misalnya begini: wanita itu orang 
yang cerdas, pintar. Pernah melalui dua jurusan, Arsitektur dan Planologi, di 
universitasnya dengan IP tiga koma dua. Pinter kan?"
"Heeh."
"Tapi setelah lulus, suaminya melarangnya bekerja. Padahal siapa tahu, dia 
sudah punya sebuah rencana besar setelah lulusnya. Tapi karena suaminya 
mengharuskannya tinggal di rumah, maka kehidupannya menjadi terasa seperti 
neraka buatnya. Ibu bisa bayangkan kalau orang sepintar itu, dengan semua 
potensi yang Allah berikan kepadanya, hanya dibolehkan suaminya untuk berurusan 
dengan dapur, cucian, setrikaan, dan mengasuh anak. Tentu akan frustrasi."
"Iya juga."
"Kemungkinan lain: si wanita menyadari bahwa ia harus melakukan semua itu, 
maksudnya meninggalkan apa yang bisa ia raih dengan potensinya, dan memilih 
jadi ibu rumah tangga, justru awalnya diniatkan sebagai sebuah bakti untuk 
suaminya dan anak-anaknya. Ini justru mulia kan? Hanya mungkin ia pada titik 
tertentu tidak kuat, dan terpiculah rasa frustrasinya."
"Oke. Kamu benar. Kalau gitu, apa menurut kamu yang jahat justru suaminya?"
"Lho, bukan Bu. Bukan begitu. Jangan jadi menghakimi si suami karena cerita 
saya dong. Kemungkinan lain yang saya katakan tadi hanyalah sebagai sebuah 
gambaran, bahwa kita tidak bisa menghakimi suatu persoalan yang dialami manusia 
hanya melalui pengamatan yang sebentar saja, dalam jangka waktu tertentu. 
Karena kemungkinannya sangat luas.
Wartawan hanya menuliskan satu kejadian. Sebuah potret. Tapi pembaca seharusnya 
menjaga hatinya untuk tidak berprasangka buruk hanya karena satu kejadian saja. 
Itu hanya indikator, seperti speedometer mobil. Kita tidak bisa menilai seperti 
apa desain mesin mobilnya, sekuat apa bautnya, hanya dengan melihat 
speedometer-nya.
Menurut saya, wartawan seharusnya menjaga untuk tidak menggiring persepsi 
pembaca, dan Ibu sebagai pembaca harusnya juga tetap tangguh untuk menjaga 
persepsinya supaya tidak menjadi terpengaruh karena membaca berita.
Juga ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Kalau si A sekarang tingkah 
lakunya sedang menyebalkan, kita suka seterusnya bilang bahwa dia adalah orang 
yang menyebalkan. Padahal kan, dia menyebalkan hanya saat itu? Kemarin dia 
orang yang berbeda, dan besok pun dia orang yang berbeda. Sebaliknya, kalau si 
B orang yang sangat menyenangkan, itu yang kita potret saat itu. Besok dia akan 
berubah, dan kemarin dia adalah sosok yang berbeda. Bu, kita tidak akan pernah 
tahu bagaimana seseorang secara keseluruhan, walaupun itu dari seorang ibu 
terhadap anaknya.
Hiduplah dalam kehariinian. Persepsi kita mengenai hari ini, jangan 
diperpanjang ke arah kemarin dan besok. Jangan terlampau menggeneralisasi 
segala sesuatu, supaya bisa berprasangka baik. Supaya hati kita tetap netral. 
Yesterday has passed, tomorrow is another day. We live our life today, Bu."
Kali ini ibu mengangguk-angguk.
"Kita bukan hakim, Bu. Kalau kita hakim, kita wajib memberikan keputusan, 
karena itu adalah tanggung jawabnya. Tapi kita kan bukan hakim? Untuk apa kita 
mengambil tanggung jawab untuk memberi sebuah penghakiman, kalau nanti jadi 
bahan pertanggungjawaban kita setelah mati? Walaupun itu hanya sebuah 
penghakiman yang di ujungnya berlaku bagi diri kita sendiri.
Setiap diri kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai 
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kita, paling tidak, adalah 
pemimpin bagi diri kita sendiri. Ummat yang terkecil yang harus kita 
pertanggungjawabkan kelak, ya diri kita ini."
Jakarta, 16 Juni 2006, 15:18.
 
"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"

Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Feed a village from your office.  Donate at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/QhDZaC/GPaOAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke