Begini jadinya kalau kita kurang maksimal memanfaatkan potensi dalam negeri.
  Akibatnya, ketergantungan pada asing sangat tinggi. Biar didikte asing sekali 
pun, kita oke-oke aja...weleh..weleh...
   
  wass,novy
   
RedTOLERANSI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Komentar:
========

50 (limapuluh tahun !) Tahun Berkeley Mafia, - 50 Tahun negeri yang doeloenya 
kayaraya ini telah digadaikan sampai ludes. Sampai Rakyatnya melarat dan 
menderita tidak ketolongan !!! 

RedTOLERANSI. RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

From:"B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]> To:"B.DORPI P.idst." <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Re.: 50 Tahun Berkeley Mafia Date: Mon, 19 Jun 2006 14:03:46 +0700 
[input] [input] [input] [input] 
http://www.rakyatmerdeka.co.id/

Rakyatmerdeka.co.id. Senin. 19 Juni 2006


Kolom - Kwik Kian Gie
50 Tahun Berkeley Mafia 

SEJAK Soeharto berkuasa, ekonom yang tergabung dalam Organisasi Tanpa Bentuk 
yang bernama "Berkeley Mafia" memegang kendali ekonomi Indonesia sampai 
sekarang, dengan jeda sebentar selama Kyai Haji Abdurrahman Wahid menjabat 
sebagai Presiden. 

Di masa itu, pengaruhnya tidak lagi semutlak sebelumnya, namun masih tetap 
besar melalui Dewan Ekonomi Nasional yang diketuai oleh Prof. Emil Salim dan 
Dr. Sri Mulyani Indrawati sebagai sekretarisnya. Setelah itu juga dibentuk Tim 
Asistensi pada Menko EKUIN yang diketuai oleh Prof. Widjojo Nitisastro dengan 
Sri Mulyani sebagai sekretarisnya. 

Jadi dalam periode pemerintahan Abdurrahaman Wahid, seluruh Tim Ekonomi yang 
bukan anggota Berkeley Mafia terus menerus dibayang-bayangi Berkeley Mafia yang 
mempunyai hubungan sangat dekat dan intensif dengan negara-negara dan 
lembaga-lembaga internasional pemberi utang kepada Indonesia. 

Para anggota Berkeley Mafia tidak perlu harus lulusan dari Universitas Berkeley 
di California. Banyak lulusan dari Berkeley yang bukan anggota Berkeley Mafia. 
Sebaliknya, banyak pula para sarjana lulusan dari perguruan tinggi yang bukan 
Berkeley adalah anggota Berkeley Mafia. 

Dalam era Presiden Soekarno yang disebut Orde Lama, pembangunan ekonomi tidak 
memperoleh perhatian yang cukup. Ini disebabkan karena Bung Karno dengan 
rekan-rekannya dihadapkan pada sekelompok besar manusia dengan sangat banyak 
suku yang masing-masing mempunyai latar belakang kebudayaannya sendiri-sendiri, 
serta menghuni sangat banyak pulau. 

Dalam era Presiden Soekarno yang saya lebih suka menyebutnya era Nation and 
Character Building, utang luar negeri sebesar US$ 2 miliar. Sumber daya alam 
praktis utuh. Namun pertumbuhan ekonomi tidak ada atau tidak seberapa, 
kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya terbelakang. Pada akhir pemerintahan 
Soekarno inflasi mencapai 600%. Pada akhir pemerintahannya kondisi politik 
sangat tidak stabil dengan terjadinya G-30-S PKI beserta aftermath-nyoi. 

Mengapa ekonomi "diterlantarkan"? Benarkah Bung Karno tidak mengerti ekonomi 
dan tidak mempunyai perhatian terhadap pembangunan ekonomi? 

Mengapa tidak mengundang modal asing secara besar-besaran, dan mengapa tidak 
mempersilakan akhli-akhli asing mengendalikan Indonesia melalui nasihat-nasihat 
atau rekomendasi yang mengikat, karena dibiarkan menggrojok Indonesia dengan 
utang? 

Dari berbagai pidato Bung Karno dapat dengan sangat jelas diketahui bahwa Bung 
Karno mengerti betul pentingnya pembangunan ekonomi. Namun ada dua faktor yang 
membedakan Bung Karno dengan pikiran-pikiran Berkeley Mafia. Yang pertama ialah 
tugas untuk menggembleng bangsa Indonesia menjadi satu nation yang diikat 
dengan Tunggal Eka dalam Kebhinekaannya membutuhkan waktu dan prioritas tinggi, 
sehingga pembangunan ekonominya tidak terlampau tertangani, mengingat akan 
beratnya tugas menyatukan bangsa ini, yang diganggu oleh DI/TII, RMS, 
PRRI/Permesta, dan belum lagi rong-rongan dari kekuatan-kekuatan geopolitik. 
Kedua, karena Bung Karno seorang nasionalis dalam arti positif. 

Tentang mengapa Bung Karno mempunyai reserve terhadap modal asing, Ibu Megawati 
pernah bercerita kepada saya. Istana selalu ramai dikunjungi investor asing 
yang minta kepada Bung Karno supaya dibolehkan mengeksplorasi dan 
mengeksploitasi minyak dan sumber daya mineral lainnya. Bung Karno selalu 
menolak kecuali yang minimal sekali untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Ibu 
Mega yang ketika itu berusia 16 tahun bertanya kepada ayahnya, mengapa menolak? 

Dijawab oleh Bung Karno: "Nanti Dis, kita tunggu sampai kita mempunyai 
insinyur-insinyur sendiri. ” 

Jadi Bung Karno tidak anti asing, tetapi ingin menggarap sumber daya mineral 
yang ada di bumi Indonesia oleh insinyur-insinyur Indonesia sendiri yang sedang 
disiapkan, terutama oleh almamaternya, ITB. Lagi-lagi tidak memusuhi asing, 
namun lebih mencintai bangsanya tanpa merugikan orang lain. Bung Karno 
memimpikan bangkitnya perusahaan-perusahaan minyak Indonesia seperti Shell, 
Exxon Mobil, Chevron, Total dan sebagainya. 

Sekarang kita mempunyai sangat banyak insinyur pertambangan, dan di antaranya 
banyak yang bergelar Ph.D dari universitas-universitas bereputasi tinggi di 
Eropa dan Amerika Serikat. Namun 92% dari minyak kita dieksploitasi oleh 
perusahaan-perusahaan asing. Pertamina hanya mengeksploitasi 8% saja. Formula 
kontrak bagi hasil mengatakan 85% untuk Indonesia dan 15% untuk perusahaan 
minyak asing. Namun kenyataan sampai sekarang, 40% dinikmati oleh 
perusahaan-perusahaan asing dan 60% oleh bangsa Indonesia. 

Mengapa asing tidak memperoleh 15% sesuai dengan kontrak? Karena di dalam 
kontrak itu ada ketentuan bahwa biaya eksplorasi harus dibayar terlebih dahulu 
sampai habis. Yang selalu menjadi pertanyaan di benak saya ialah mengapa tidak 
habis-habis terbayar sampai sekarang ? 

Seperti kita ketahui, di tahun 2006, ketika Petronas yang awalnya belajar dari 
kita berjaya sebagai perusahaan transnasional yang sudah mulai membuka 
pompa-pompa bensin di Indonesia, blok Cepu yang konon mempunyai kandungan 
minyak sebesar 1 sampai 2 miliar barrel itu eksploitasinya praktis diserahkan 
kepada Exxon Mobil. 

Hutan-hutan kita gundul, dana reboisasi dikorup, sehingga demikian kecilnya 
sampai tidak ada artinya sama sekali kalau maksudnya untuk melakukan reboisasi. 
Sumber daya mineral kita dieksploitasi dengan kontrak-kontrak yang tidak pernah 
diketahui cukup jelas duduk perkaranya oleh pemiliknya, yaitu rakyat Indonesia 
beserta wakil-wakilnya. Pembukuan Pertamina dan pembukuan di Departemen 
Keuangan dalam bidang minyak tidak pernah terbuka buat rakyat beserta 
wakil-wakilnya. Utang luar negeri dan utang dalam negeri terakumulasi dengan 
pembengkakan demikian besarnya, sehingga 25% dari APBN harus dipakai untuk 
membayar utang. 

Hakikat utang ialah ditanamkan sedemikian rupa, sehingga dapat dibayar dari 
nilai tambah atau value added yang diciptakan oleh utang itu. Maka dikatakan 
bahwa utang harus mempunyai self liquidating character. Tetapi utang pemerintah 
kita hanya dapat dibayar melalui membuat utang baru dan menjual asset negara. 
Utang dipakai untuk membangun sesuatu. Pada waktu utang harus dibayar, yang 
dibangun itu lenyap lagi untuk membayar utang. 

Akibatnya pemerintah tidak mempunyai cukup uang untuk melakukan tugas- tugas 
pokok pemerintah dalam bidang ekonomi, yaitu membangung infra struktur yang 
cukup dari hasil pajak. Hasil pajaknya harus dipakai untuk membayar utang. 

Dalam kondisi seperti ini, dicanangkanlah sebuah ideologi yang mengatakan bahwa 
jalan raya bebas hambatan atau freeway yang di negara-negara paling kapitalis 
dan paling liberal disediakan dengan cuma- cuma, di Indonesia dinyatakan 
sebagai purely commercial goods, sehingga rakyat yang menggunakannya harus 
membayar tarif yang cukup tinggi untuk dapat memberi laba atau return on 
investment yang bersaing dengan kemungkinan investasi dalam bidang-bidang 
lainnya. 

Ideologi lainnya ialah bahwa harga minyak yang harus dibayar oleh pemiliknya 
harus ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Tidak boleh ditentukan oleh 
pemiliknya sesuai dengan kepatutan atau daya beli pemiliknya. Alasan yang 
dikemukakan ialah ideologi mekanisme pasar yang harus dberlakukan kepada bangsa 
Indonesia, walaupun bangsa Indonesia tidak mempunyai mekanisme pasar untuk 
minyak. 

Maka diambillah mekanisme pasar di New York, walaupun hanya memperdagangkan 30% 
dari volume minyak dunia. Bentuk pasar Indonesia yang oleh undang-undang 
ditetapkan sebagai pasar yang monopoli dengan penugasan menjual BBM dengan 
harga yang tingginya ditetapkan sesuai dengan daya beli pemiliknya, harus serta 
merta dihapus, diganti dengan harga hasil mekanisme pasar di New York, tanpa 
mengubah atau membuang pasal 33 dari Konstitusinya terlebih dahulu.



---------------------------------
Yahoo! Mail SpamGuard - Lesen Sie nur die Mails, die Sie auch wirklich lesen 
wollen. 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/Q0DZdC/hOaOAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke