Info lain dari anak ITB yg mendengar konon dan konon dari tetangganya ...

masarcon: yg kasus bandung itu gimana ?
x: yang bunuh 3 anak kandung?
masarcon: iyah
x: katanya sih mentalnya emang gitu
x: paranoid
x: dulu waktu sma sesekali mengkonsumsi obat penenang
x: karena sering gelisah
x: rendah diri
x: dll
x: menyalahkan diri sendiri
masarcon: ada link yg menarik gak ttg ini
masarcon: kamu infonya darimana ?
masarcon: dia anak dokter kan ...
x: ya itu
x: saya baca detik
x: hehe
x: iya
x: tetangganya bang adi nugroho TN7
x: kemaren ketemu bang adi di sabuga

On 6/20/06, Ari Condro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> http://ullyuntoro.blogspot.com/
> Sang Buah Hati Minggu lalu, milis alumni fisika dikejutkan oleh sebuah
> berita duka, yaitu meninggalnya 3 orang putra salah seorang rekan kami yang
> bernama Iman Abdullah. Iman ini yunior saya, 2 angkatan dibawah saya. Namun
> saya kenal cukup akrab karena sama-sama aktif di himpunan dan Salman. Masih
> terbayang jelas dalam ingatan saya rupa imut Iman yang selalu tersenyum dan
> ceria, juga bagaimana sholeh dan alimnya dia. Iman biasa memanggil saya
> dengan sebutan teh Ully (dari kata teteh atau kakak dalam bahasa sunda).
>
> Karena itu, betapa terkejutnya saya ketika membaca berita itu. Tak
> terbayang rasanya, jangankan kehilangan 3 anak sekaligus, 1 anak saja pasti
> sudah dalam sekali kedukaan yang dirasakan. Yang lebih mencengangkan,
> belakangan ada berita yang mengindikasikan bahwa ketiga anak yang sedang
> lucu-lucunya itu bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan, melainkan
> karena dibunuh oleh ibunda mereka sendiri, orang yang merasakan beratnya
> mengandung dan sakitnya melahirkan ketiga anak tersebut! Ini berita yang
> saya cuplik dari republika online:
> **
> *Kasih Ibu Berujung Petaka *
>
> *Air mata, tampaknya tak lagi dimiliki Iman Abdullah setelah peristiwa
> itu. Habis terkuras kepedihan yang dialaminya. Tiga anak, buah hati yang
> selama ini menghidupi semangatnya dari hari ke hari, punah dalam waktu
> bersamaan. Yang lebih menggiriskan, semua itu kemungkinan besar dilakukan
> belahan jiwanya yang lain, sang istri, Anik Koriah. *
>
> *''Saya baru selesai menangis Senin malam (12/6),'' kata Iman, ketika
> ditemui di rumah kerabat jauhnya di Margahayu, Bandung. ''Itu pun karena
> mata saya tak lagi mengalirkan air.'' Iman, rasanya tidak tengah
> melebih-lebihkan. Kelopak matanya menonjol sembab, membuat matanya seolah
> hanya merupakan garis tipis. Dari garis itu, tak terlihat sinar apa pun
> mengintip. Tatapannya saat berbicara pun sering kali membentur dinding
> kosong. *
>
> *Tetapi, Iman sama sekali bukan lelaki berjiwa ringkih. Suami, bapak, mana
> yang akan sanggup menghadapi semua itu dengan keteguhan sebagaimana
> diperlihatkannya selama ini? Jumat (9/6) lalu, kepulangannya ke rumah seolah
> hanya untuk menemui tiga jasad terkasih itu terbujur kaku tanpa nyawa.
> Anak-anak yang tengah lucu-lucunya: Abdullah Faras Elmaki (6 tahun) Nazhif
> Aulia Rahmatullah (3), dan Muhammad Umar, yang baru berusia tujuh bulan.
> Direktur Lembaga Wakaf Zakat (LWZ), Masjid Salman- Institut Teknologi
> Bandung (ITB), itu bahkan masih tegar untuk memimpin warga melakukan shalat
> jenazah untuk ketiga putranya itu di Masjid RS Al-Islam, Bandung. *
>
> *Sebelumnya, kepulangan Iman ke rumah setelah sejak Rabu (7/6) tidur
> berbekal kesibukan di kantornya itu, masih sempat melarikan ketiga anaknya
> ke RS Al-Islam. Tetapi, memang tak ada lagi yang bisa dilakukan. Ketiga anak
> mungil itu telah meninggal dunia, bahkan sebelum dibawa ke RS. Tim medis RS
> Al-Islam juga tidak bisa mengetahui apa yang menjadi sebab meninggalnya
> ketiga anak itu. Pasalnya, baik Iman maupun istrinya, saat itu meminta pihak
> RS tidak melakukan otopsi. *
>
> *Tetapi, saat itu pun polisi sudah menaruh curiga. Karena itu, polisi
> sempat mengamankan beberapa barang di rumah pasangan Iman dan Anik, seperti
> botol susu, obat-obatan, serta penggorengan yang digunakan. Semula polisi
> menduga, ketiga anak itu tidak lebih dari korban keracunan. Soalnya, saat
> anak-anak itu dibawa ke rumah sakit, bibir ketiganya terlihat membiru. *
>
> *Tetapi, untuk mengaitkan sangkaan itu kepada Anik, sang ibu, tak
> terpikirkan seorang pun. ''Sebagai tetangganya, kami hanya berpikir
> keracunan. Apalagi sekaligus tiga orang anak,'' kata Asep, salah seorang
> tetangga keluarga Iman di Margahayu.
> Memang, sukar untuk mempercayai betapa Anik tega melakukan semua itu. Ibu
> muda itu jauh dari kesan seorang ibu yang akan tega menyakiti darah
> dagingnya sendiri. Dilahirkan 31 tahun lalu, sebagaimana Iman sendiri, Anik
> Koriah adalah lulusan cemerlang ITB. Anik berkuliah di Jurusan Arsitektur
> ITB, sebelum kemudian pindah jurusan ke Planologi. Di jurusan baru itulah
> prestasinya tercatat cemerlang, hingga lulus dengan indeks prestasi di atas
> 3. *
>
> *Tidak sekadar cerdas, Anik juga tergolong aktivis. ''Sejak
> semester-semester awal, dia sudah aktif di Masjid Salman,'' kata seorang
> rekannya. Wajar, bila semua fakta itu, dibenturkan dengan kenyataan Anik
> yang saat ini menjadi satu-satunya tersangka, membuat banyak kalangan
> terperangah. *
>
> *Lalu, apa yang membuat Anik bisa jatuh kepada kekhilafan setragis itu?
> Hingga saat ini banyak versi beredar. Yang paling banyak disebut adalah soal
> 'jatuhnya' kondisi sosial ekonomi Anik pascapernikahannya dengan Iman.
> Sebelum menikah, Anik, putri seorang dokter terkemuka di Boyolali, tergolong
> mahasiswa berkecukupan. Kabarnya, setelah menikah, justru ia baru merasakan
> pahitnya kesulitan ekonomi. *
>
> *Tetapi, sangkaan bahwa soal ekonomilah yang menjadi penyebab semuia itu,
> langsung dibantah Iman. ''Gaji saya di Salman tergolong paling tinggi,''
> kata Iman, tanpa menyebutkan nominal. Ia juga mengaku mendapatkan mobil
> dinas, yang kadang digunakan juga untuk urusan keluarganya. Namun, Iman
> sendiri hingga kini masih belum mengetahui pasti penyebabnya.
> Yang agak jelas, semua itu tampaknya berhubungan dengan kondisi kejiwaan
> Anik. Paling tidak, itulah versi polisi saat ini, sebagaimana diungkapkan
> Kapolresta Bandung Timur, AKBP Edison Sitorus, Selasa (13/6) lalu. *
>
> *Selain itu, Adardam Achyar, penasihat hukum yang kini menangani Anik,
> juga menguatkan hal tersebut. Menurut Adardam, indikasi adanya gangguan
> kejiwaan dalam kasus ini begitu kuat. ''Saat ngobrol, ekspresi Anik selalu
> berubah-ubah,'' kata Adardam, tentang kliennya itu. Ia juga mengakui, sering
> kali pembicaraan Anik juga tidak terfokus. *
>
> *Adardam bahkan bercerita, Anik sempat mengakui sendiri pembunuhan itu.
> Kepada Adardam ia mengaku, pembunuhan yang dilakukannya itu semata karena
> kasih sayangnya terhadap ketiga anaknya itu. ''Ia sangat senang bercerita
> tentang anak-anaknya. Bahkan, katanya, dia melakukan hal itu juga karena
> sayang,'' kata Adardam. *
>
> *Pernyataan Adardam itu dikuatkan Iman. ''Istri saya memang mengatakan
> seperti itu. Tetapi, saya sendiri tak habis mengerti dengan apa yang
> dilakukannya,'' kata Iman. Akankah Iman memaafkan sang istri? Ia mengaku,
> meski tidak akan pernah memahami penyebabnya, rasa sayang akan istrinya kini
> justru bertambah. Bagaimanapun, kata Iman, istrinya itu merupakan ladang
> amal dan amanah yang harus dijaga selama hidup. Iman sendiri memandang
> kejadian yang menimpanya sebagai ujian dari Tuhan. ''Meski saya akui, ini
> ujian terberat yang pernah saya terima,'' kata dia. ( dsy/rfa ) *
>
> Saya (dan banyak rekan lainnya) yang tidak mengalami sendiri tak bisa
> menahan rasa haru dan tangis mendengar kisah sedih ini. Anaknya yang tertua,
> Faras, baru berusia 5 tahun 10 bulan, hampir seusia Reyhan, dan bersekolah
> di TK, sama seperti Reyhan. Tak berbayangkan rasanya jika kejadian seperti
> ini menimpa anak-anak saya, atau bahkan salah satu anak saja, apakah saya
> masih bisa berfikiran positif dan setabah Iman. Yang jelas, setiap kali saya
> memeluk atau mencium anak-anak, yang terbayang adalah ketiga anak tak
> berdosa itu, dan saya mengucap syukur sedalam-dalamnya bahwa saya masih bisa
> memiliki mereka, buah hati saya.
>
> Mungkin saya an teman-teman tidak akan pernah tahu apa yang menjadi
> penyebab sebenarnya dari tragedi ini. Yang pasti kami semua turut berduka
> cita yang sedalam-dalamnya atas musibah tersebut. Semoga Iman dan keluarga
> diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapinya dan ketiga malaikat kecil
> itu akan menjadi penjemput dan pendampingnya diakhirat nanti. Amiiinnn
>
> Note: buat yang ingin lihat berita lengkapnya, silahkan klik link2 ini:
>
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/10/0104.htm
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/16/0103.htm
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/14/0103.htm
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/13/0201.htm
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/B6DZeC/bOaOAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke