Artikel yang menjelaskan bahwa Liputan 6 SCTV tak ada kaitannya dengan penampilan Titiek Soeharto sebagai presenter dalam Piala Dunia. Produksi dan Redaksi dua institusi yang ideologinya berbeda.
Koran Tempo, Selasa, 20 Juni 2006 Opini Titiek Soeharto dan Jurnalisme SCTV Akan hilang kekerasan komunal atau individual yang merespons produk media secara brutal dan main kekerasan. Iskandar Siahaan Kepala Penelitian dan Pengembangan Pemberitaan SCTV Pendidikan media (media literacy), terutama televisi, buat publik Indonesia memang masih perlu digalakkan. Publik Indonesia perlu dimelekkan agar mampu merespons setiap tayangan televisi secara benar dan proporsional. Untuk bisa melakukan itu, mereka yang bergerak di bidang pemelekan media atau media literacy perlu mengetahui dan memahami sistem penyiaran televisi, bagaimana institusi penyiaran diorganisasikan, bagaimana para praktisi bekerja di dalamnya, dan nilai-nilai apa yang menjadi anutan mereka. Munculnya banyak lembaga pemantau media (media watch) atau individu akademisi atau pengamat yang rajin menuliskan opini di media massa adalah sinyal baik buat negara kita untuk mulai membangun publik konsumen media yang cerdas dan kritis. Hasil kerja mereka akan sekaligus membuat hubungan media dengan publik bisa berjalan di koridor yang beradab. Akan hilang kekerasan komunal atau individual yang merespons produk media secara brutal dan main kekerasan. Karena ia seorang peneliti di Komisi Penyiaran Indonesia sekaligus analis di Komunitas Melek Media Televisi, tadinya saya berharap tugas itulah yang sedang dilaksanakan Teguh Imawan ketika pendapatnya dengan tajuk "Lengser Presenter ala Titiek Soeharto" (Koran Tempo, 15 Juni). Tapi ternyata harapan ini tinggal harapan. Malah saya khawatir bukan kecerdasan dan rasionalitas yang tumbuh pada diri publik pembaca, melainkan justru sebaliknya, yakni irasionalitas dan purbasangka. Tidak mencerdaskan Kemunculan Titiek Soeharto di program acara sepak bola Piala Dunia, yang konon menuai protes dan dipersoalkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia, tidak ada hubungannya dengan Liputan 6 SCTV. Menyimpulkan SCTV tengah mulai menaikkan citra Keluarga Cendana seperti dulu mulai mendorong lengsernya Soeharto sungguh-sungguh tidak akan mencerdaskan publik. Publik akan tercerahkan jika diberi gambaran seperti apa institusi SCTV diorganisasikan. Seperti institusi penyiaran swasta komersial lainnya, SCTV membangun organisasinya dalam bagian-bagian sesuai dengan fungsinya masing-masing. Ada bagian pemrograman, ada bagian pemberitaan (news), ada bagian teknik, ada bagian pemasaran dan penjualan, dan ada bagian keuangan. Bagian pemrograman dan bagian pemberitaan adalah dua entitas yang berbeda meski sama-sama memproduksi program untuk diri sendiri (in-house production). Bagian pemrograman, selain membeli program dari luar, membawahkan departemen produksi. Inilah yang memproduksi musik, kuis, dan acara olahraga, termasuk sepak bola Piala Dunia. Sama-sama di bawah payung SCTV, tapi nilai dan norma kerjanya berbeda. Bagian pemberitaan adalah kumpulan jurnalis yang bekerja berdasarkan nilai-nilai jurnalisme. Di sana yang utama adalah mengabdi pada kebenaran, menimbang kepentingan publik, berimbang, tidak berpihak, dan merayakan kemanusiaan. Semua nilai ini tertera dalam kode etik dan diberlakukan pada apa saja, termasuk ketika memilih seorang presenter. Nah, pemilihan Titiek untuk menjadi presenter di acara sepak bola itu tidak ada kaitan dan tidak ditentukan oleh para jurnalis yang berhimpun di bagian pemberitaan. Itu murni kerja bagian produksi dengan segala otonomi dan kebebasannya. Di SCTV, ihwal otonomi dan kebebasan bagian pemberitaan ini sudah teruji sejak menjelang datangnya fajar reformasi. Ketika ada masanya penguasa di awal reformasi mencoba mengkooptasi bagian pemberitaan dengan jalan mengakuisisi saham, para jurnalisnya melawan dan berhasil menggagalkannya (lihat Tim Redaksi LP3ES, Jurnalisme Liputan 6: Antara Peristiwa dan Ruang Publik, 2006). Dengan paparan ini, jelaslah buat publik bagaimana seharusnya merespons segala program yang ada di SCTV. Hal yang sama sebenarnya bisa dilakukan ketika respons hendak ditujukan buat institusi penyiaran swasta komersial lainnya. Tapi jangan diterapkan untuk, misalnya, institusi penyiaran televisi berlangganan atau televisi komunitas atau televisi publik. Itu tidak akan pas, jadinya. Teropong ia dengan alat yang pas, supaya gambaran yang diperoleh juga pas. Tidak pas Betapa keterakitan citra-citraan, lengser-melengserkan, dan ungkapan "kau yang mulai dan kau mengakhiri" menjadi tidak pas, bisa dilihat dari isi tayangan Liputan 6 di hari-hari ketika Titiek muncul sebagai presenter di acara sepak bola itu. Johnson Panjaitan dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia sebagai kuasa hukum para korban Orde Baru tampil di layar Liputan 6 Petang dalam segmen dialog dan mengemukakan pendapatnya soal surat keputusan penghentian penuntutan perkara yang dimenangkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Padahal malam sebelum dan sesudahnya Titiek tampil di acara sepak bola. Sehari kemudian, Liputan 6 Petang menayangkan berita unjuk rasa Koalisi Anti-Utang. Di awal berita, ada sound-up yang mengaitkan kasus Soeharto dengan keinginan pemerintah sekarang menambah utang. Hal-hal begini perlu diketahui publik, dan para analis bisa mencoba mencari tahu dan menyebarkan kepada publik apa yang menggerakkan para jurnalis Liputan 6 tetap teguh pada nilai-nilai independensinya. Sebab, memang sebuah berita yang diproduksi para jurnalisme hanya mungkin mendapatkan kredibilitasnya jika dikerjakan dengan pertimbangan kepentingan publik. Terlepas dari siapa penguasanya dan siapa pemiliknya, berita harus tetap dibuat dan disebarkan jika kepentingan publik menuntutnya. Kasus "cabut gigi" adalah contoh baik untuk melihat bagaimana pada akhirnya nurani para jurnalis akan bergerak ketika tuntutan publik menghampirinya. Tapi jangan lantas ini dipersepsikan sebagai perbuatan para jurnalis yang ingin membuat sejarah. Galibnya, pers atau jurnalisme atau jurnalis cukup mencatat sejarah. Sejarah yang muncul sebagai realitas itu demikian kompleks. Tak mudah meringkas dan meringkusnya sebagai kebenaran yang total. Bahwa kemudian dampak dari pemberitaan itu menimbulkan perubahan, itu hanyalah hasil ikutan atau akibat. Sekarang pun Liputan 6 tidak ingin membuat sejarah dengan menaik-naikkan citra seseorang atau institusi tertentu. Jurnalis bisa salah. Kalau sesuatu memang terjadi dan merupakan cermin aspirasi dan harapan publik, Liputan 6--seperti dulu menjelang reformasi--pasti akan merekamnya. Tapi, jika itu tidak terjadi, atau tidak ada, atau tidak mencerminkan aspirasi dan harapan publik, sangatlah riskan memaksakannya tampil sebagai realitas media. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

