(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
SEKITAR KEBANGKITAN KOMUNISME
DAN MASALAH PERAN TNI-AD
Berhubung dengan adanya pernyataan dari Pangdam Jaya dan Pangdam Bukit
Barisan serta Sekjen DPP Partai Golkar (Letjen-Pur Sumarsono ) dan juga
berbagai ucapan dari sejumlah tokoh-tokoh (dari kalangan agama dan
intelektual) tentang kebangkitan kembali PKI atau meluasnya bahaya laten
komunisme akhir-akhir ini, tulisan kali ini mengajak para pembaca untuk
mencoba menelaah berbagai segi yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataan
semacam itu. Dan, dari berbagai segi ini, masalah-masalah yang timbul antara
PKI dan TNI-AD merupakan salah satu segi yang terpenting, karena
persoalannya mencakup banyak soal yang berkaitan dengan situasi negara dan
bangsa pada masa lalu dan juga dewasa ini.
Perkembangan sesudah Perang Dunia ke II
Sesudah Perang Dunia ke-II berakhir dalam tahun 1945, dan dengan
diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, maka mulailah perang dingin
antara kubu blok Soviet dan kubu Barat yang didominasi oleh kekuatan
pro-AS. Dalam perebutan pengaruh di skala dunia yang sengit selama perang
dingin ini, berkat kedudukannya yang strategis (dan karena kekayaan
buminya ) Republik Indonesia telah menarik perhatian kedua belah fihak.
Fihak blok Barat (baca: terutama AS) yang kuatir akan perkembangan pengaruh
kiri dalam pasukan-pasukan bersenjata yang ikut dalam revolusi 45
menganjurkan kepada pemerintah Indonesia menjalankan red drive proposal
untuk membersihkn anasir-anasir kiri dalam pasukan bersenjata Indonesia.
Peristiwa Madiun juga tidak bisa dilepaskan sama sekali dari konteks sejarah
pada waktu itu.
Kemenangan revolusi Tiongkok di bawah pimpinan Mao Tsetung, yang berakhir
dengan lahirnya RRT dalam tahun 1949, dan diusirnya Tjiang Kai Shek ke
Taiwan, mendorong imperialisme AS untuk makin memperkuat campurtangannya di
kawasan Asia. Juga, kelahiran (tahun 1945) Republik Demokratik Vietnam di
bawah Ho Chi Minh, dan kemudian disusul oleh Perang Korea telah makin
memperbesar kekuatiran blok Barat (terutama AS) akan makin melebarnya
pengaruh komunisme di Asia.
Konferensi Bandung dalam tahun 1955 yang sangat bersejarah bagi banyak
bangsa di Asia-Afrika dalam perjuangan mereka melawan kolonialisme dan
imperialisme Barat, telah menaikkan tinggi-tinggi ketokohan Bung Karno dalam
panggung politik internasional. Peran Bung Karno semakin penting dan juga
makin dibenci oleh kubu nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme) dengan
makin berkobarnya perang di Indo-Cina, dan makin kuatnya gerakan solidaritas
rakyat-rakyat Asia-Afrika dan gerakan politik non-blok. Perkembangan politik
internasional yang demikian itu mempunyai pengaruh atau mengakibatkan effek
yang tidak kecil di Indonesia.
Bersatunya perjuangan Bung Karno dan PKI
Seperti sudah diketahui oleh banyak orang, sejak mudanya, Bung Karno adalah
seorang nasionalis kiri yang revolusioner, dan seorang pemimpin perjuangan
anti-kolonialis dan anti-imperialis yang teguh dan gigih. Karena itulah ia
dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Belanda dan kemudian dibuang ke Endeh
dan Bengkulu. Sikap politiknya yang kiri dan revolusioner ini
dipertahankannya terus ketika ia sudah menjadi presiden RI. Ia mempunyai
pandangan politik yang mementingkan kepentingan rakyat kecil dan mendambakan
masyarakat adil dan makmur.
Pandangan politiknya yang kiri dan anti-imperialisme atau anti-imperialisme
ini dengan gamblang bisa dilihat, oleh siapa saja, dari kumpulan sebagian
tulisan-tulisan dan pidatonya sejak dari muda belia sampai menjadi presiden
RI, yaitu Di bawah Bendera Revolusi. Jelaslah bahwa Bung Karno adalah
satu-satunya -- sampai sekarang ini -- pemimpin kiri dan nasionalis
revolusioner, dan yang Muslim, tetapi yang toleran dan terbuka serta
berpandangan luas, sehingga bisa mempersatukan sebagian terbesar bangsa
Indonesia.
Pandangan politik Bung Karno yang demikian ini mendapat dukungan dari PKI,
satu-satunya partai di Indonesia, yang sejak lahirnya sudah menjadikan
anti-kolonialisme dan anti-imperialisme sebagai jiwa dan juga tujuan
perjuangannya. Jadi, Bung Karno dan PKI dipersatukan oleh tujuan perjuangan
bersama. Seperti yang bisa disaksikan oleh banyak orang sejak tahun 50-an,
dalam perjuangan untuk masyarakat adil dan makmur yang anti-imperialis ini
PKI telah merupakan kekuatan pendukung Bung Karno yang paling utama. Dengan
kalimat lain, bisalah dikatakan bahwa besarnya kekuatan politik Bung Karno
adalah terutama berkat dukungan PKI dan golongan progressif lainnya.
Perkembangan politik dalamnegeri sesudah tahun 1959, menunjukkan bahwa
politik revolusioner Bung Karno, baik dalam bidang dalamnegeri maupun
internasional, menunjukkan peningkatan yang luar biasa cepatnya. Di antara
tanda-tanda penting yang menunjukkan arah ini adalah : diumumkannya Manipol
(Manifesto Politik) oleh MPRS, politik Berdikari, pe-Nasakom-an berbagai
bidang (termasuk duduknya pemimpin-pemimpin PKI dalam pemerintahan Pusat
dan daerah), keluarnya Indonesia dari PBB, pernyataan Go to hell to your
aid kepada AS, Ganefo, Konferensi Wartawan Asia-Afrika, perjuangan Trikora,
Ganyang Malaysia, KIAPMA (Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer
Asing) dan poros Jakarta-Pnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang.
Peran tokoh-tokoh TNI-AD dan campurtangan asing
Dengan pengakuan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia oleh
Belanda, dan dengan makin meruncingnya perang dingin (disebabkan perang
Korea, lahirnya RRT dan Republik Demokratik Vetnam) usaha nekolim untuk
memasukkan Indonesia ke dalam wilayah pengaruh mereka dan untuk mencegah
meluasnya komunisme di Asia, maka imperialisme AS mulai aktif menggalang
sekutu-sekutunya dan kakitangan-kakitangannya di Indonesia sejak permulaan
tahun 1950-an.
Di antara sekutu dan kakitangan imperialisme AS ini terdapat tokoh-tokoh
Masyumi, PSI, dan secara tertutup (atau terselubung) juga terdapat di
kalangan pimpinan TNI-AD. Melalui berbagai cara pendekatan (antara lain :
pendidikan atau training bagi perwira-perwira tinggi , dan berbagai
bantuan lainnya) telah dipupuk kerjasama dan persahabatan antara
kekuatan gelap AS (terutama CIA) dan tokoh-tokoh TNI-AD di Pusat maupun
daerah.
Peran Masjumi dan PSI dan sejumlah perwira-perwira TNI-AD di daerah dalam
mengobarkan perlawanan terhadap Bung Karno -- dan juga terhadap PKI --
terlihat dengan jelas dengan meletusnya (dalam tahun-tahun 1953-1954)
gerakan tiga Selatan (Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi
Selatan) di mana pîmpinan militer setempat telah melarang kegiatan PKI dan
menangkapi sebagian dari pimpinannya.
Bantuan atau persekongkolan antara imperialisme AS dengan tokoh-tokoh
Masyumi, PSI dan tokoh-tokoh Angkatan Darat ini makin muncul dengan lebih
nyata dengan lahirnya berbagai pembrontakan dengan terbentuknya (dalam
tahun-tahun 1956-57) dewan dewan seperti Dewan Garuda di Sumatera Selatan,
Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan
Manguni di Sulawesi. Sekarang sudah diketahui orang banyak bahwa PRRI dan
Permesta (tahun 1958) yang digerakkan oleh unsur-unsur pimpinan militer yang
anti-Sukarno dan juga anti-PKI telah mendapat bantuan yang besar sekali dari
kekuatan nekolim (terutama AS).
Pertumbuhan kekuatan PKI
Walaupun boleh dikatakan bahwa sebagian terbesar dari keluatan militer
(waktu itu lazim disebut angkatan perang) adalah pro Bung Karno, tetapi
sebagian kecil pimpinannya dapat dipengaruhi oleh partai-partai Masyumi dan
PSI, dan mendapat simpati dari kekuatan AS.
Dalam pemilu yang pertama kali dilakukan secara bebas dan rahasia di
Indonesia dalam tahun 1955, 30% dari seluruh angkatan perang Republik
Indonesia memilih PKI, sedangkan partai Masjumi dan PSI hanya mendapat 20%.
Hasil yang begitu besar yang diperoleh PKI dari pemungutan suara di kalangan
angkatan perang RI ini tentu saja merupakan kejutan yang tidak mengenakkan
bagi imperialisme AS beserta sekutunya atau kakitangannya di Indonesia.
Secara keseluruhan, dalam pemilu tahun 1955, PKI memperoleh suara 16 %, dan
menjadi partai yang ke-empat sesudah PNI, NU, dan Masyumi. Sejak dapat
dihancurkannya seluruh kekuatan PRRI-Permesta (yang disokong CIA) dalam
tahun 1959, pengaruh PKI makin membesar. Seiring dengan makin meningkatnya
perjuangan politik Bung Karno di berbagai bidang dalamnegeri dan juga bidang
internasional, maka dukungan PKI kepada Bung Karno semakin kuat, dan dalam
proses mendukung politik Bung Karno ini pengaruh kekuatan PKI juga makin
membesar. Bung Karno menemukan dalam PKI kekuatan yang diperlukannya untuk
merealisikan gagasan-gagasannya yang kiri dan revolusioner dan
anti-imperialisme AS, yang diembannya sejak muda-belia.
Membesarnya kekuatan PKI dan juga makin menonjolnya ketokohan Bung Karno di
bidang internasional ini menimbulkan kekuatiran dan sekaligus juga kemarahan
imperialisme AS berikut sekutu-sekutunya atau kakitangannya di Indonesia,
termasuk yang ada di dalam kalangan TNI-AD. Bagi imperialisme AS kehadiran
sosok Bung Karno adalah ibarat duri yang harus dicabut atau penyakit
berbahaya yang harus dilenyapkan sama sekali. Dan untuk melenyapkan atau
menghancurkan sama sekali kekuatan politik Bung Karno, haruslah dibasmi dulu
PKI yang menjadi tulang-punggung kekuatan politik Bung Karno.
Peristiwa G30S,PKI dan TNI-AD
Dalam meninjau kembali peristiwa G3OS, berbagai faktor seperti tersebut di
atas bisa merupakan bahan untuk mencoba melihat hubungan antara masalah PKI,
masalah Bung Karno, masalah TNI-AD, masalah campur-tangan asing, serta
berbagai masalah dalam negeri dan internasional pada waktu itu.
Dari semua itu nampak dengan jelas bahwa terjadinya G30S merupakan
kesempatan bagi kekuatan imperialisme AS bersama sekutu-sekutunya di
Indonesia (baik di kalangan sipil maupun militer, termasuk sebagian kalangan
agama) untuk menghancurkan sama sekali kekuatan PKI. Dan dengan kehancuran
kekuatan PKI maka hancur pula akhirnya kekuatan politik Bung Karno. Apa yang
sudah dicoba dilakukan berkali-kali sejak permulaan tahun 1950-an oleh
imperialisme AS bersama sekutu-sekutunya di Indonesia untuk menghancurkan
PKI dan melemahkan kekuatan politik Bung Karno, tetapi selalu gagal,
akhirnya dapat dilaksanakan karena terjadnya G30S.
Seperti yang disaksikan oleh banyak orang, untuk menghancurkan PKI dan juga
menghabisi sama sekali kekuatan politik Bung Karno, TNI-AD telah melakukan
berbagai tindakan yang luar biasa kejamnya atau biadabnya. Jutaan orang
tidak bersalah telah dibunuh dan dipenjarakan, dan keluarga mereka dibiarkan
mengalami berbagai penderitaan selama puluhan tahun.
TNI-AD adalah perusak persatuan bangsa
Dari tinjauan sejarah RI sejak permulaan tahun 50-an kelihatan jelas bahwa
sikap anti-komunis (yang kemudian berkembang menjadi anti-Bung Karno) yang
dianut sebagian pimpinan Angkatan Darat telah berkali-kali menyebabkan
rusaknya persatuan bangsa. Dengan mendapat simpati dan juga bantuan
imperialisme AS, unsur-unsur anti-komunis dalam kalangan militer ini juga
telah menjadi kekuatan yang reaksioner atau kontra-revolusioner, yang
merusak jalannya revolusi rakyat Indonesia menuju masyarakat adil dan
makmur.
Sejarah modern Indonesia juga menunjukkan bahwa dengan dibangunnnya oleh
mereka rejim militer Orde Baru, bukan saja mereka telah menjadikan Republik
Indonesia selama lebih dari 32 tahun sebagai sekutu imperialisme, melainkan
juga menjadikan TNI-AD sebagai alat untuk menterror rakyat secara
besar-besaran dengan berbagai cara dan dalam jangka pula. Kebiadaban atau
kebengisan sebagian kalangan TNI-AD yang dilakukan terhadap begitu banyak
anggota PKI dan para korban 65 lainnya yang non-PKI adalah sesuatu yang
perlu dicatat oleh bangsa kita dewasa ini dan oleh anak cucu kita.
Sekarang ini, sebagian dari pimpinan TNI-AD bersama sejumlah tokoh-tokoh
di kalangan politik dan agama - meniup-niupkan lagi tentang bangkitnya
kembali PKI, atau masih adanya bahaya laten PKI, atau ideologi komunis
yang belum mati. Selama puluhan tahun, pimpinan militer bersama Orde
Barunya telah menggunakan semboyan-semboyan serupa untuk menakut-nakuti
banyak orang guna mematahkan perlawanan atau menangkas serangan dari
penentang-penentang Orde Baru.
Gerakan buruh dan tani untuk menuntut perbaikan hidup, dan aksi-aksi yang
dilakukan oleh para mahasiswa atau angkatan muda kita pada umumnya untuk
menuntut dadilinya para koruptor (termasuk koruptor terbesar, yaitu
Suharto) dan ditegakkanya hukum dan keadilan akhir-akhir ini menunjukkan
peningkatan yang sangat tajam. Berbagai kejahatan atau penyelewengan yang
dilakukan oleh unsur-unsur militer (misalnya: kasus Munir) dan tokoh-tokoh
Golkar (misalnya : gubernur, bupati dan konglomerat) juga banyak mendapat
gugatan atau hujatan. Munculnya neo-Orde Baru makin disoroti dan dikritik
oleh banyak orang.
Mereka beranggapan bahwa perlawanan terhadap sisa-sisa Orde Baru dan para
pendukung Suharto harus dipatahkan. Salah sati di antara caranya :
menghidupkan kembali momok PKI atau mencanangkan lagi bahaya laten PKI.
Lagu lama yang sudah usang itu dan resep lama yang sudah kedaluwarsa itu
masih mau dijajakan lagi oleh sebagian pimpinan TNI-AD. Kita lihat saja,
apakah barang dagangan yang busuk ini masih laku sekali, ataukah sebaliknya,
tidak diacuhkan orang lagi!
Paris, 23 Juni 2006.
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.2/373 - Release Date: 22/06/2006
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/