masarcon, kalo menurut daku mbak Aris bukannya pilih2 tebu. Kan udah 
jelas dari jawaban mbak Aris kalo mbak Aris gak mau menjawab karena 
keterbatasan pemahamannya.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mbak Aris kalau apa yang 
masarcon postingkan itu pemahaman orang lain(kaum fundies?) akan 
tafsiran Jalalain dan Ibn Katsir. Maksudku tanpa masarcon pernah 
mempelajari sendiri secara mendalam tentang tafsir-tafsir itu ?

Terus terang, saya sendiri belum pernah mempelajari scara mendalam 
tentang tafsir Jalalain dan Ibn Katsir. Namun dengan berbaik sangka 
kepada semua muffasirin, dan membaca mukaddimah surat At-taubah, 
saya menarik kesimpulan demikian:

Tafsir Jalalain dan Ibn Katsir tersebut tidak seharusnya hanya 
dicomot begitu saja dari keseluruhan konteksnya. Saya tidak tau 
siapa yang mencomot: orang2 fundies itu kah (sumber dimana masarcon 
mencopy-paste kan) ato memang masarcon sendiri yang mencomotnya lalu 
memberikan komentar2 seperti itu. Tapi siapapun itu, saya hanya tau 
masarcon yang mempostingkannya disini berarti masarcon yang mencomot 
atau ikut2an mencomot...seperti orang2 fundies tsb.???

Tatsir Jalalain dan Ibn Katsir, buat saya oke-oke saja, karena surat 
At-taubah itu adalah surat yang situasinya dimana pemutusan hubungan 
antara kaum muslimin dan musyrikin dikarenakan kaum musyrik banyak 
melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya antara muslimin 
dan musyrikin. Pada jaman Nabi SAW masih hidup, sangat mudah 
menentukan mana yang musyrik mana yang bukan, tidak seperti jaman 
kini orang menjadi linglung tidak bisa membedakan...:-). Semangat 
juga beda. Jadi, ketika banyak perjanjian dilanggar, itu kan namanya 
pengkhianatan...dan kita tau apa arti seorang pengkhianat dalam 
Islam.  Genderang perang harus dikumandangkan...eng ing eng...:-)

wassalam,


--- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> bagaimana aris mau menjelaskan upaya upaya penutupan gereja, 
persekusi
> terhadap orang ahmadiyyah, ldii, dan lain lain, jika ajaran 
semacam itu
> memang ceto melo melo dan dipahami dengan taken for granted.
> 
> dan kenapa pula, jika ada diayat, dan juga ada dalam tafsir, kita 
masih
> harus bersusah payah mengartikan dan mengkategorikan denan itu, 
sekedar
> supaya cuci tangan ?
> 
> bukankah anda anda sendiri yg mengatakan bahwa ayat yg qothi dan 
sudah jelas
> penjelasannya tidak boleh ditafsir ulang ?
> 
> kenapa harus pilih pilih tebu ?  apakah masalah politik dan 
kondisi yg tidak
> memungkinkan untuk melaksanakannya bulat bulat ?  sehingga sibuk 
menipu diri
> terlebih dahulu ?  jadi ujungnya politik dan kekuasaan semata, 
kalau saya
> boleh menyimpulkan.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> On 6/27/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   Mas Ari, jika mas ragu tanyakan saja pada Jurbir HTI di 
sekretariatnya
> > atau via telpon mengenai pemahaman mereka tersebut dibawah. Anda
> > mengkaitkannya dengan HTI bukan? pemahaman saya terbatas 
mengenai ini, meski
> > saya juga tahu kesimpulan jawabannya. Ana hanya takut salah 
menguraikan
> > kembali dan tidak tepat bahasanya. Antum tipe orang yang nggak 
puasan, dan
> > curious, sehingga perlu orang yang sepadan, lebih bagus dan 
pintar yang
> > menjelaskannya daripada saya yang ilmunya terbatas ini.
> >
> > Selain itu, dibawah ini pemahaman dari orang lain yang memahami 
pemahaman
> > orang lain bukan?Jadi, jika ini Antum benar-benar ingin mencari
> > kebenaran,bertanyalah kesana sumbernya langsung? Sejak dulu 
pertanyaannya
> > ini terus yang diulang dan Antum meragukan jawaban pemahaman 
saya terdahulu.
> >
> > Bolehkah saya bertanya bagaimanakah antum sebagai orang yang 
beriman
> > terhadap Al Quran menanggapi surat dalam Al Quran di bawah? Mau 
antum
> > tafsirkan bagaimana?
> >
> >
> > Sepahaman saya yang terbatas, Satu surat harus juga dikaitkan 
dengan
> > qarinah dan surat-surat lain dan hadis untuk bisa menarik suatu 
hukum
> > tertentu, tidak bisa langsung diintepresentasikan dengan sesuka 
hati? Untuk
> > bisa menafsirkan Al Quran, Kita harus punya kemampuan bahasa 
arab (nahwu
> > sorof, balaghoh, dipercaya para ahlinya,) ulumul quran, ulumul 
hadis,
> > terkait memilah ayat yang nasakh mansukh, muqayyad dan mujmal, 
aam dan khas,
> > dll bukan? CMIIW
> >
> > Kita juga perlu mengecek tafsir sebenarnya Ibnu Katsir dan 
Tafsir Sayyid
> > Quth, selain itu kita juga menimbang kemampuan diri kita untuk 
menafsirkan
> > Ayat-ayat Al Quran, agar tidak terjerumus menafsikan ayat-ayat 
sesuka hati?
> > Rinciannya, cara dan dalil pengistimbatannya beliau dll.
> >
> > Keduanya, dibanding kemampuan aris. sangat jauh buanget deh. 
Apalagi
> > tafsir Ibnu Katsir menjadi rujukan para Imam (Syafiie dkk).
> >
> > postingan INI :
> >
> >
> >
> > Salah satu isi syarat itu, antara lain:
> >
> > - orang Kristen berjanji pada diri mereka sendiri
> > untuk tidak membangun gereja, kapel atau biara yang
> > baru, juga tidak akan memperbaiki yang sudah rusak,
> > dan tidak mengambil dan menghidupkan kembali gereja,
> > kapel atau biara yang sudah dipakai oleh orang Islam.
> >
> > - tidak akan mencegah orang Islam untuk masuk atau
> > mampir di gereja, baik siang atau malam.
> > - tidak akan meniru orang Islam, baik dalam hal
> > pakaian (peci, sorban atau sandal), atau pun gaya
> > potong rambut.
> > - tidak akan meniru gaya bicara orang Islam.
> >
> > Dan syarat-syarat lain yang jumlahnya banyak. Yang
> > hendak mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca
> > sendiri tafsir Ibn Katsir.
> >
> > => Kesimpulan: Dari keterangan-keterangan ini, dapat
> > disimpulkan bahwa orang-orang politeis, Yahudi, dan
> > Kristen harus diperangi, sehingga mereka takluk,
> > membayar jizyah, dan mengikuti aturan/hukum yang
> > membuat mereka terhina. Mereka, dengan kata lain,
> > menjadi orang-orang dzimmi yang harus dihinakan.
> > Menurut sebuah hadis, mereka bahkan harus disudutkan
> > ke pinggir jalan.
> >
> > Ringkasnya: Islam memperlakukan orang-orang yang
> > beragama lain sebagai musuh yang harus diperangi.
> > Inilah jihad.
> >
> > Banyak kalangan Islamis yang membela diri bahwa jihad
> > dalam Islam adalah untuk membela diri (jihad difa'i).
> > Pembelaan semacam ini kurang berdasar, sebab ayat itu
> > jelas memerintahkan kepada umat Islam untuk memerangi
> > orang Kristen bukan semata-mata sebagai pembelaan
> > diri, tetapi karena mereka memeluk agama yang salah.
> >
> > Dan inilah yang terjadi pada akhir hayat Nabi. Beliau,
> > menjelang wafat, menyiapkan pasukan di bawah pimpinan
> > sahabat yang masih sangat muda, Usamah b. Zaid untuk
> > berperang melawan Romawi. Saat itu, Romawi sama sekali
> > tidak menyerang "negara" Madinah, sehingga perang yang
> > dilakukan Nabi tidak bisa dianggap sebagai "jihad
> > difa'i" atau pembelaan diri. Ini adalah jihad ofensif.
> >
> > Atas dasar inilah, Abul A'la al-Maududi dalam
> > risalahnya yang terkenal "Al-Jihad fi SabililLah" dan
> > kemudain diikuti Sayyid Qutb dalam tafsir "Fi Dzilal
> > al-Quran" mengatakan bahwa jihad dalam Islam bukan
> > sekedar membela diri, tetapi juga ofensif.
> >
> > Jadi, berdasarkan ayat ini, dan tafsirannya oleh
> > kalangan ulama seperti Ibn Katsir, negara Islam, tanpa
> > alasan membela diri, bisa ujug-ujug menyerang negara
> > kafir, persis seperti AS tiba-tiba menyerang Irak.
> >
> > Kalau "negara" Islam menyerang negara kafir karena
> > alasan bahwa negara itu mengikuti agama yang batil,
> > maka AS menyerang Irak karena alasan menyebarkan
> > demokrasi. Tetapi, dua-duanya sama: menyerang negara
> > lain yang berdaulat karena alasan menegakkan
> > "kebenaran" tertentu.
> >
> > Pertanyaan buat para pendukung negara khilafah tentu
> > sangat jelas:
> >
> > Jika kalian mengikuti dengan konsisten ayat dalam
> > Surah Al-Taubah itu, serta tafsir yang diberikan oleh
> > sebagian ulama, maka negara khalifah akan melakukan
> > agresi terus-menerus terhadap negara "kafir". Sebab,
> > kalau tidak, negara itu tidak konsisten dengan
> > perintah dalam Qur'an.
> >
> > Jika ini benar, maka negara khilafah adalah monster
> > yang menakutkan, sama dengan monster Amerika sekarang
> > ini. Negara semacam ini tak beda dengan negara abad
> > pertengahan yang brutal, mencaplok dan meng-agresi
> > negara lain yang berdaulat.
> >
> > Jika konsep "jihad ofensif" diakui oleh kalangan HT,
> > maka kita diajak kembali ke zaman pertengahan yang
> > gelap.
> >
> > Sekian.
> >
> > Jawaban saya: perlu cek lagi ya mas, sepemahaman saya, 
kesimpulannya tak
> > sesederhana seperti itu. Jika jihad ofensif pun diterapkan pada 
sikon
> > tertentu dengan menimbang keadilan non muslim. saya sudah 
menjelaskannya
> > pada pembagian Kafir terdahulu. Ketegori dzimmah,kafir Mu'ahid, 
harbi fi'lan
> > ada bahkan ada tambahan kategori kafir musta'mim CMIIW. Jihad 
ofensif
> > dilakukan pada kafir Harbi fi'lan... saya kira ini juga yang 
dipahami
> > pejuang Khilafah seperti HTI. ^_^
> >
> >
> > Jadi gimana kalau antum merendahkan hati untuk main ke sana 
saja, dan
> > langsung bertanya pada sumber yang tepat dan layak memuaskan 
kekritisin
> > antum.afwan ya
> > salam,
> > aris
> >
> >
> >
> >
> > Ari Condro <[EMAIL PROTECTED] <masarcon%40gmail.com>> wrote:
> > orang yg terikat dengan syara wajib membunuh orang kafir. 
bagaimana anda
> > menjelaskan ayat yg jelas tsb ?
> >
> > Tanpa ditafsirkan ulang, banyak ayat dalam Quran akan
> > menimbulkan masalah besar jika diterapkan begitu saja
> > dalam masyarakat, atau dalam negara khilafah.
> >
> > Salah satunya adalah ayat berikut ini. Ana pengen
> > mendengar bagaimana pendukung khilafah menanggapi
> > masalah ini.
> >
> > Dalam QS 9:29 (Al-Taubah, ayat 29), Allah SWT
> > berfirman sebagai berikut:
> >
> > Qatilu al-ladzina la yu'minuna bilLahi wa la bi
> > al-yaum akhiri wa la yuharrimuna ma harramalLahu wa
> > rasuluhu wa la yadinuna din al-haqqi min alladzina utu
> > al-kitaba hatta yu'thu al-jizyata 'an yadin wa hum
> > shaghirun.
> >
> > Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada
> > Allah, hari akhir, dan tidak mengharamkan segala
> > sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan
> > tidak menganut agama yang benar, yaitu orang-orang
> > yang mendapatkan kitab, sehingga mereka itu semuanya
> > memberikan jizyah (pajak) dalam keadaan takluk dan
> > terhina.
> >
> > Mari kita baca sejumlah keterangan dalam tafsir
> > mengenai ayat ini.
> >
> > Dalam tafsir Al-Jalalain, kita temukan keterangan
> > pendek seperti ini:
> >
> > Wa la yuharrimuna ma harramalLahu (... dan
> > [perangilah] orang-orang yang tak mengharamkan sesuatu
> > yang diharamkan oleh Allah): "Seperti khamar," kata
> > tafsir Jalalain.
> >
> > Wa la yadinuna din al-haqq (... dan [perangilah]
> > orang-orang yang tidak mengikuti agama yang benar):
> > "Agama yang kokoh, yang menghapuskan agama-agama
> > lainnya, yaitu agama Islam," kata tafsir Jalalain.
> >
> > Min alldzina utu al-kitaba (orang-orang yang
> > mendapatkan kitab): "Yaitu orang-orang Yahudi dan
> > Kristen," kata tasfir Jalalain.
> >
> > Hatta yu'thu al-jizyata (sehingga mereka membayar
> > jizyah): "Yaitu pajak yang dipikulkan ke mereka setiap
> > tahun," kata tafsir Jalalain.
> >
> > Wa hum shaghirun ([dalam keadaan] terhina): "Terhina
> > dan tunduk pada kekuasaan Islam," kata tafsir
> > Jalalain.
> >
> > => Kesimpulan: Dengan keterangan pendek dari tafsir
> > Jalalain ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa:
> >
> > Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari
> > akhir, orang-orang yang tidak mengharamkan sesuatu
> > yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, orang-orang
> > Yahudi dan Kristen yang tidak mengikuti agama Islam
> > sebagai agama yang menghapuskan agama-agama lain --
> > mereka itu semua harus diperangi, sehingga mereka
> > takluk dan membayar pajak setiap tahun dalam keadaan
> > terhina.
> >
> > Sekarang, mari kita simak keterangan dalam tafsir Ibn
> > Katsir, tafsir yang paling banyak dirujuk oleh
> > kalangan Islamis-fundamentalis-salafi di mana-mana.
> >
> > Ibn Katsir berkata:
> >
> > Ketika urusan orang-orang musyrik sudah selesai dan
> > dapat diatasi, dan ketika masyarakat sudah
> > berbondong-bondong masuk Islam, dan ketika jazirah
> > Arab sudah dapat dibereskan, maka Allah memerintahkan
> > (kepada Nabi) untuk memerangi dua kelompok ahli kitab,
> > yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen. Perintah ini
> > turun pada tahun kesembilan (hijrah). Karena itu,
> > Rasul SAW kemudian bersiap-siap untuk memerangi
> > orang-orang Romawi, dan mengajak orang-orang untuk
> > itu.
> >
> > Tentang firman Allah "wa hum shaghirun", artinya,
> > mereka (tunduk dalam keadaan) hina dina. Karena itu,
> > tidak boleh memberikan penghormatan kepada orang-orang
> > dzimmi, juga tidak boleh mengangkat mereka di atas
> > derajat orang-orang Islam. Sebab mereka adalah
> > orang-orang yang hina dan celaka (adzilla', asyqiya'),
> > sebagaimana (ditunjukkan) oleh sebuah hadis riwayat
> > Muslim dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasul SAW
> > bersabda, "Jangan memulai mengucapkan salam kepada
> > orang Yahudi dan Kristen. Jika kalian bertemu dengan
> > mereka di jalan, maka kalian harus menydutkan mereka
> > (agar terpojok) ke tempat yang paling sempit".
> >
> > Kemudian Ibn Katsir mengutip dengan lengkap surat
> > perjanjian (khithab) antara Khalifah Umar b. Khatthab
> > dengan orang-orang Kristen di kawasan Syam (Syria).
> > Surat itu mengandung banyak poin yang isinya membatasi
> > hak-hak orang Kristen begitu rupa sehingga kedudukan
> > mereka benar-benar dalam keadaan terhina seperti
> > perintah ayat dalam surah Al-Taubah itu.
> >
> > Salah satu isi syarat itu, antara lain:
> >
> > - orang Kristen berjanji pada diri mereka sendiri
> > untuk tidak membangun gereja, kapel atau biara yang
> > baru, juga tidak akan memperbaiki yang sudah rusak,
> > dan tidak mengambil dan menghidupkan kembali gereja,
> > kapel atau biara yang sudah dipakai oleh orang Islam.
> >
> > - tidak akan mencegah orang Islam untuk masuk atau
> > mampir di gereja, baik siang atau malam.
> > - tidak akan meniru orang Islam, baik dalam hal
> > pakaian (peci, sorban atau sandal), atau pun gaya
> > potong rambut.
> > - tidak akan meniru gaya bicara orang Islam.
> >
> > Dan syarat-syarat lain yang jumlahnya banyak. Yang
> > hendak mengetahui lebih lanjut, silahkan membaca
> > sendiri tafsir Ibn Katsir.
> >
> > => Kesimpulan: Dari keterangan-keterangan ini, dapat
> > disimpulkan bahwa orang-orang politeis, Yahudi, dan
> > Kristen harus diperangi, sehingga mereka takluk,
> > membayar jizyah, dan mengikuti aturan/hukum yang
> > membuat mereka terhina. Mereka, dengan kata lain,
> > menjadi orang-orang dzimmi yang harus dihinakan.
> > Menurut sebuah hadis, mereka bahkan harus disudutkan
> > ke pinggir jalan.
> >
> > Ringkasnya: Islam memperlakukan orang-orang yang
> > beragama lain sebagai musuh yang harus diperangi.
> > Inilah jihad.
> >
> > Banyak kalangan Islamis yang membela diri bahwa jihad
> > dalam Islam adalah untuk membela diri (jihad difa'i).
> > Pembelaan semacam ini kurang berdasar, sebab ayat itu
> > jelas memerintahkan kepada umat Islam untuk memerangi
> > orang Kristen bukan semata-mata sebagai pembelaan
> > diri, tetapi karena mereka memeluk agama yang salah.
> >
> > Dan inilah yang terjadi pada akhir hayat Nabi. Beliau,
> > menjelang wafat, menyiapkan pasukan di bawah pimpinan
> > sahabat yang masih sangat muda, Usamah b. Zaid untuk
> > berperang melawan Romawi. Saat itu, Romawi sama sekali
> > tidak menyerang "negara" Madinah, sehingga perang yang
> > dilakukan Nabi tidak bisa dianggap sebagai "jihad
> > difa'i" atau pembelaan diri. Ini adalah jihad ofensif.
> >
> > Atas dasar inilah, Abul A'la al-Maududi dalam
> > risalahnya yang terkenal "Al-Jihad fi SabililLah" dan
> > kemudain diikuti Sayyid Qutb dalam tafsir "Fi Dzilal
> > al-Quran" mengatakan bahwa jihad dalam Islam bukan
> > sekedar membela diri, tetapi juga ofensif.
> >
> > Jadi, berdasarkan ayat ini, dan tafsirannya oleh
> > kalangan ulama seperti Ibn Katsir, negara Islam, tanpa
> > alasan membela diri, bisa ujug-ujug menyerang negara
> > kafir, persis seperti AS tiba-tiba menyerang Irak.
> >
> > Kalau "negara" Islam menyerang negara kafir karena
> > alasan bahwa negara itu mengikuti agama yang batil,
> > maka AS menyerang Irak karena alasan menyebarkan
> > demokrasi. Tetapi, dua-duanya sama: menyerang negara
> > lain yang berdaulat karena alasan menegakkan
> > "kebenaran" tertentu.
> >
> > Pertanyaan buat para pendukung negara khilafah tentu
> > sangat jelas:
> >
> > Jika kalian mengikuti dengan konsisten ayat dalam
> > Surah Al-Taubah itu, serta tafsir yang diberikan oleh
> > sebagian ulama, maka negara khalifah akan melakukan
> > agresi terus-menerus terhadap negara "kafir". Sebab,
> > kalau tidak, negara itu tidak konsisten dengan
> > perintah dalam Qur'an.
> >
> > Jika ini benar, maka negara khilafah adalah monster
> > yang menakutkan, sama dengan monster Amerika sekarang
> > ini. Negara semacam ini tak beda dengan negara abad
> > pertengahan yang brutal, mencaplok dan meng-agresi
> > negara lain yang berdaulat.
> >
> > Jika konsep "jihad ofensif" diakui oleh kalangan HT,
> > maka kita diajak kembali ke zaman pertengahan yang
> > gelap.
> >
> > Sekian.
> >
> > On 6/27/06, aris solikhah wrote:
> > >
> > > Hem kisah umar dibawah ini baru saya tahu. Perlu dirunut sumber
> > > informasi ini. Alasan pemakaian jilbab bukan karena alasan 
membedakan
> > ini
> > > budak atau tidak. (sebuah alasan yang klise dari buku yang 
pernah saya
> > > baca). Sebelum turunnya kewajiban jilbab dan kerudung, orang-
orang
> > wanita
> > > Quraisy merdeka telah memakai baju menutup aurat untuk 
membedakan status
> > > mereka. Namun bukan karena alasan itu memakai baju jilbab dam 
kerudung
> > > apalagi untuk mencegah tubuh dari serbuan badai pasir. Budak 
muslimah
> > pun
> > > berkewajiban memakainya. Terlihat jelas dari nashnya.
> > >
> > > Hujjah dalam Al Quran sudah jelas mengenai seorang muslimah 
memakai
> > > jilbab. Bukankah dalam Alquran ada ayat muhkamat yang jelas dan
> > > muhtasyabihat mas?
> > >
> > > Orang-orang yang kadang tak mau terikat dengan syariat 
Islamlah yang
> > suka
> > > memplintir surat dan wahyu dalam Al Quran untuk mencari-cari 
alasan
> > berlepas
> > > dari kewajiban terikat aturan Allah.
> > >
> > > Okey.. bisa jadi manusia ketika diingatkan tetap tidak mau 
memakainya,
> > dia
> > > bisa cari-cari alasan dihadapan manusia lain. tapi bagaimana 
dia
> > > mempertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak?
wallahu'alambishawab.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Ari Condro > wrote:
> > > nggak mengakui ya, kalo itu wahyu yg udah diotak atik akal 
manusia.
> > > nih, tambah satu lagi, wahyu yg di otak atik akal manusia. 
tanya kenapa
> > > umar ra pakai melepas jilbabnya si budak wanita ?
> > >
> > > TANYA KENAPA ???? !!!!
> > >
> > > From: "Chae" [EMAIL PROTECTED]<chairunisa_mahadewi%
40yahoo.com>
> > > To: [email protected] <wanita-muslimah%
40yahoogroups.com>
> > > Sent: Friday, August 05, 2005 9:44 AM
> > > Subject: [wanita-muslimah] Re: Jilbab
> > >
> > > Seketika sang Khalifah pun menegur keras dengan Nada
> > > marah "ya laka'! Atatasyabbahina bi al-hara-ir? Alqi
> > > al-qina'!"("perempuan celaka! Apakah engkau ingin menyerupai 
perempuan
> > > merdeka? Buka kerudung itu!).
> > >
> > > Peristiwa di atas dituliskan oleh Ibrahim bin `Umar al-Biqa'iy 
(w. 885
> > > H) dalam karangannya Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-
Suwar
> > > (Beirut: Dar al-Kutb al-`Ilmiyah, 1415/1995, jilid VI, halaman 
136).
> > > Pelarangan Umar itu diungkapkan lebih eksplisit dalam kitab Al-
Mughni
> > > (Mesir: Al-Manar, 1348, tashhih oleh Sayed Rasyid Ridha, jilid 
I,
> > > halaman 643) karangan Ibnu Qudamah (w.603H):
> > >
> > > "Inna `umar ibn al-khattab kana la yad'u amah taqna'u fi 
khilafatihi
> > > wa qala innama al-qina' lil hara-ir."
> > > (`Umar bin Khattab tidak memberikan toleransi bagi budak 
perempuan
> > > untuk mengenakan kerudung di masa kekhalifahannya. `Umar 
berkata:
> > > `kerudung itu hanyalah bagi perempuan merdeka'.)
> > >
> > > Mengapa Umar bin Khattab menyatakan "kerudung itu hanyalah bagi
> > > perempuan merdeka"?
> > >
> > > Pada zaman Rasul dan Umar ra, Jilbab (please note*jenis 
pakaian yang
> > > disebutkan dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 59) dan khimar 
(jenis
> > > pakaian yang disebutkan dalam Alquran Surah An-Nur ayat 24). 
Jilbab
> > > itu sebenarnya merujuk ke jenis pakaian yang dipakai oleh 
perempuan
> > > Iran saat ini, jubah hitam panjang yang menutupi tubuh 
pemakainya dari
> > > ujung kepala hingga ujung kaki, jadi sudah included Jilbab 
versi
> > > Indonesia yaitu penutup kepala) merupakan pakaian identitas 
secara
> > > simbolik membedakan wanita merdeka dari para wanita budak.
> > >
> > > Syahdan ketika para2 istri Nabi dan wanita2 lainya hendak 
membuang
> > > hajat atau keluar rumah pada malam hari , mereka sering 
mendapatkan
> > > gangguan dari para kelompok pemuda dan ketika mereka di tegur, 
mereka
> > > berkilah karena mereka tidak tahu kalau para perempuan itu 
bukan budak.
> > >
> > > memang para budak khususnya budak perempuan dalam budaya arab 
pada
> > > saat itu boleh di "ganggu" dalam arti bisa menjadi target 
pelecehan
> > > seksual.
> > >
> > > Jalal al-Din al-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya Al-Durr al-
Mantsur
> > > fi al-Tafsir al-Ma'tsur (Beirut: Dar al-Fikr, 1414H/1993M, 
Jilid VI,
> > > halaman 659) menyatakan bahwa sebelum ayat ini diwahyukan, 
banyak
> > > laki-laki di Madinah yang mengikuti perempuan mukmin dan 
mengganggu
> > > mereka, jika laki-laki itu ditegur, maka mereka akan berkata: 
`saya
> > > kira dia budak perempuan' maka Tuhan memerintahkan perempuan-
perempuan
> > > mukmin untuk membedakan pakaian mereka dari pakaian budak, dan
> > > mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.
> > >
> > > kalimat dzalika adna an yu'rafna fala yu'dzaina (yang demikian 
itu
> > > supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka 
tidak
> > > diganggu) dalam ayat di atas, Menjadi berkaitan dengan alasan2 
yang
> > > dikemukakan di atas. Mereka di kenali sebagai apa? tidak di 
ganggu
> > > oleh siapa??
> > >
> > > Menjadi jelas ketika jilbab di pandang sebakai simbol dari 
identitas,
> > > kita bisa memahami mengapa Umar ra sama sekali tidak memberikan
> > > toleransi kepada para budak wanita untuk menggunakan atau 
memakai
> > > Jilbab.
> > >
> > > Keterangan yang lebih jelas mengenai kebijakan Umar itu dapat 
ditemui
> > > dalam kitab Al-Dzakhirah (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 
1994, tahqiq
> > > oleh Muhammad Hajji, jilid 2, halaman. 103) karangan Syihab al-
Din
> > > Ahmad ibn Idris al-Qarafi (w. 1285M/684H) yang menyebutkan:
> > >
> > > "Wa qad kana `Umar radhiyallahu anhu yamna'u al-ima' min al-
izar, wa
> > > qala li ibnihi alam ukhbir anna jariyataka kharajat fi al-
izari wa
> > > tasyabbahat bi al-harair, wa law laqaituha la awja'tuha 
dharban. Ma'na
> > > nahi `Umara radhiyallahu `anhu al ima' `an tasyabbihinna bil 
harair:
> > > anna al-sufaha' jarrat `adatuhum bi al-ta'arrudh lil-ima' duna
> > > al-harair, fa khasiya radhiyallahu `anhu an yaltabis al-amra
> > > fayata'arradha al-sufaha' lil harair dzawat al-jalalah, fa 
takunu
> > > al-mufsidatu a'zham; wa hadza ma'na qawlihi ta'ala: dzalika 
adna an
> > > yu'rafna fala yu'dzaina, ay an yatamayyazna bi `alamatihinna 
`an
> > > ghairihinna!"
> > >
> > > ("Sesungguhnya `Umar r.a melarang budak perempuan dari 
[mengenakan]
> > > izar (secara harfiah dapat berarti sarung yang menutupi badan, 
atau
> > > pun jilbab), dan ia berkata kepada anaknya: "tidakkah benar 
berita
> > > bahwa budak perempuanmu keluar rumah dengan memakai izar dan
> > > menyerupai perempuan merdeka, jika aku menjumpainya akan 
kupukul dia.
> > > Makna `Umar r.a melarang budak perempuan dari menyerupai 
perempuan
> > > merdeka adalah karena kaum berandalan tetap melakukan 
kebiasaan mereka
> > > dalam hal mengganggu budak perempuan dan tidak kepada perempuan
> > > merdeka, oleh karena itu `Umar r.a khawatir akan terjadi
> > > ketidakjelasan [dalam hal pembedaan simbol pakaian- pen.] 
sehingga
> > > kaum berandalan itu pun lalu mengganggu perempuan merdeka yang
> > > memiliki kemuliaan, maka akan terjadi mafsadah yang besar; dan 
inilah
> > > pengertian perkataan Tuhan: `yang demikian itu supaya mereka 
lebih
> > > mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu', yaitu 
agar
> > > [perempuan merdeka] membedakan `alamat [karakteristik-
karakteristik]
> > > mereka dari selain mereka!").
> > >
> > > Untuk lebih baiknya lagi kita bisa mengupas alasan2 kuat yang 
dimiliki
> > > Umar ra sebagai landasan pelarangan para budak wanita memakai 
jilbab.
> > >
> > > Pertama: dalam kondisi budaya sosial masyarakat pada waktu 
itu, wanita
> > > budak tidak memiliki hak-hak di mata hukum (harus di akui pada 
awal
> > > ajaran Islam, perbudakan tidak dilarang dan hanya berupa
> > > langkah-langkah untuk lebih membudayakan pelepasan atau 
memerdekan
> > > budak dan lebih menekankan hak2 individu budak karena pada 
saat itu
> > > menghapus perbudakan justru akan menimbulkan keburukan2 yang 
lebih
> > > besar daripada membiarkanya).
> > >
> > > Kedua: karena tidak adanya hak-hak yang dilindungi di dalam 
hukum atau
> > > keberadaanya di akui dan di lindungi oleh hukum maka siapa 
saja dari
> > > golongan non budak (orang-orang merdeka) bisa 
melakukan "gangguan"
> > > salah satunya adalah pelecehan seksual.
> > >
> > > ketiga: pelecehan seksual pada budak2 khususnya budak 
perempuan yang
> > > melakukan kegiatan di luar rumah pada malam hari bisa saja 
berujung
> > > pada pemerkosaan, baik perorangan ataupun masal.
> > >
> > > "Kana anas min fassaq ahl al-madinah bi al-layl hina yakhtalith
> > > al-zhulm, ya'tuna ila thuruq al-madinah fa yata'arradhuna li 
al-nisa',
> > > wa kanat masakin ahl al-madinah dhayyiqah, fa idza kana al-layl
> > > kharaja al-nisa' ila al-thuruq, fa yaqdhina hajatahunna, fa 
kana
> > > ulaika al-fassaq yattabi'una dzalika min hunna, fa idza ra-aw 
imraat
> > > `alaiha jilbab qalu: hadzihi hurrah fakaffu `anha, wa idza ra-
aw
> > > al-mar-ah laysa `alaiha jilbab qalu: hadzihi amah fawatstsibu 
`alaiha."
> > >
> > > (Orang-orang fasik dari penduduk Madinah ketika petang 
menjelang
> > > gelap, datang ke jalan-jalan Madinah untuk mengganggu 
perempuan,
> > > [karena] rumah-rumah penduduk Madinah sempit, apabila malam
> > > perempuan-perempuan keluar ke jalan-jalan untuk membuang 
hajat, [dan]
> > > orang-orang fasik itu mengikuti mereka, jika mereka melihat 
perempuan
> > > berjilbab mereka berkata: `ini perempuan merdeka' lalu mereka
> > > menghindar dari perempuan itu, apabila mereka melihat 
perempuan tanpa
> > > mengenakan jilbab, mereka berkata: `ini budak perempuan' lalu 
mereka
> > > pun mengerubunginya.)
> > >
> > > Jika seandainya Jilbab tidak di bekukan dalam simbol identitas 
wanita
> > > merdeka atau Umar ra mentoleransi para budak wanita memakai 
jilbab
> > > tentunya Jilbab sebagai simbol identitas wanita merdeka akan 
samar
> > > bahkan hilang. Sehingga besar kemungkinan ada wanita merdeka 
yang
> > > mengalami "gangguan" pelecehan seksual hingga sampai kepada
> > > pemerkosaan. Kejadian seperti ini bisa menimbulkan peperangan 
antar
> > > kabilah seandainya ternyata perempuan yang mendapatkan 
gangguan tsb
> > > adalah salah satu anggota dari kabilah2 tertentu.
> > >
> > > Jadi Rujukan pertama (I)= JILBAB BUKANLAH PAKAIAN MUSLIMAH 
KARENA PADA
> > > KENYATAANYA SEORANG WANITA DARI GOLONGAN BUDAK WALAU STATUSNYA 
ADALAH
> > > MUSLIMAH TIDAK BOLEH MEMAKAI JILBAB, KARENA FUNGSI DAN 
KEDUDUKAN JILBAB
> > > HANYA SEBATAS SIMBOL IDENTITAS SEORANG WANITA MERDEKA.
> > >
> > > Rujukan kedua (II)= PERINTAH MENGUNAKAN JILBAB TIDAK 
DIMAKSUDKAN UNTUK
> > > MENUTUP AURAT, DALAM HAL INI AURAT TIDAK ADA HUBUNGANYA DENGAN
> > > PERINTAH MEMAKAI JILBAB TERHADAP WANITA MERDEKA DI ZAMAN NABI.
> > >
> > > Chae
> > >
> > > On 6/23/06, Tampubolon, Mohammad-Riyadi <
> > > [EMAIL PROTECTED]<Mohammad-Riyadi.Tampubolon%
40unilever.com>
> > >
> > > wrote:
> > > >
> > > > Menurut anda itu atas perintah wahyu..??? Mmmmmm mungkin 
wahyudin ari
> > > > condro...
> > > >
> > > > v (^_^)
> > > >
> > > >
> > > > -----Original Message-----
> > > > From: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > > [mailto:
> > > > [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > > ] On
> > > > Behalf Of Ari Condro
> > > > Sent: Friday, June 23, 2006 3:56 PM
> > > > To: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > >
> > > > Subject: Re: [ppiindia] Re: Kompas: Depdiknas Pembunuh
> > > >
> > > > lha itu teroris bom bali :p
> > > >
> > > > On 6/22/06, Tampubolon, Mohammad-Riyadi <
> > > > [EMAIL PROTECTED]<Mohammad-Riyadi.Tampubolon%
40unilever.com>
> > > >
> > > > wrote:
> > > > >
> > > > > Wahyu yang sudah berubah menjadi hasil olah pikir manusia 
mana bisa
> > > > > disebut wahyu...?
> > > > > Manusia yang mengolah wahyu sesuai hasratnya saja yang 
menganggap
> > itu
> > > > > masih wahyu.. :-p Lalu orang yang termakan omongan orang 
seperti itu
> > > > > mau disebut sebagai apa...
> > > > >
> > > > >
> > > > > -----Original Message-----
> > > > > From: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > >
> > > > oups.com> [mailto:
> > > > > [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > >
> > > > oups.com>] On Behalf Of
> > > > > Ari Condro
> > > > > Sent: Thursday, June 22, 2006 4:26 PM
> > > > > To: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>
> >
> > >
> > > > oups.com>
> > > > > Subject: Re: [ppiindia] Re: Kompas: Depdiknas Pembunuh
> > > > >
> > > > > iman dan ilmu,
> > > > > wahyu dan akal.
> > > > >
> > > > > menurut aris, itu tidak berjalan seiring, namun wahyu 
harus di atas
> > > > > akal.
> > > > > meski yg dinamakan "wahyu" sudah berubah, menjadi hasil 
olah pikir
> > > > > manusia dogmatis.
> > > > >
> > > > > On 6/22/06, Nugroho Dewanto
> > > > >
> > > > >
> > > >
> > > > > wrote:
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > At 01:36 AM 6/22/06 -0700, you wrote:
> > > > > >
> > > > > > >Begitu pula saya, saya menyayangi Anda ilalillah, karna 
akidah
> > > > Islam.
> > > > > > >Karna Anda saudara saya semuslim, semua yang saya tulis 
dimilis,
> > > > > > >untuk
> > > > > > itu
> > > > > > >tanda sayang saya semuanya Insya Allah. Kritik, saran,
> > > > > > >nasehat-menasehati
> > > > > >
> > > > > > >adalah tanda cinta atau sayang sejati. Atau tanda benci 
sejati,
> > > > > > >tapi saya
> > > > > >
> > > > > > >memilih pilihan pertama.
> > > > > > >
> > > > > > >Saya berharap, suatu saat mas Dede berubah menerima 
syariat Islam
> > > > > > >dan
> > > > >
> > > > > > >tak
> > > > > >
> > > > > > >menolaknya lagi. Semoga Allah menyayangi Antum dan 
memberikan
> > jalan
> > > >
> > > > > > >kebaikan yang diridhoi Allah. Amin salam, aris
> > > > > > ============
> > > > > >
> > > > > > saya menyayangi semua mahluk ciptaan Tuhan tak peduli apa
> > agamanya,
> > > > > > warna kulitnya atau kebangsaannya.
> > > > > >
> > > > > > tapi sampai kapanpun saya tak akan menerima syariat 
islam yang
> > > > > > dibuat manusia di abad ke-7 diterapkan di abad
> > > > > > ke-21 ini.
> > > > > >
> > > > > > di abad ke-7 belum ada lampu lalu lintas --hasil akal 
budi
> > > > > > manusia-- untuk mengatur ketertiban di jalan raya. kalau 
anda
> > > > > > konsisten dengan syariat dari abad ke-7 mestinya anda 
tak perlu
> > > > > > patuhi
> > > > >
> > > > > > lampu lalu lintas. terabas saja karena itu cuma buatan 
manusia,
> >
> > === message truncated ===
> >
> >
> > The great job makes a great man
> > pustaka tani
> > nuraulia
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >  
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke