Refleksi: Mungkin saja presiden SBY lebih senang berperan sebagai "master of 
ceremony"  daripada mengurus tugas yang dipercayakan oleh  para pemilihnya.

http://www.indomedia.com/bpost/062006/28/opini/opini2.htm

 
Wapres Lebih Berperan

ANGGOTA Komisi X DPR Masduki Baidlawi mengharapkan, Presiden Yudhoyono tidak 
membiarkan Wapres mengendalikan kebijakan strategis seperti pendidikan. Ia 
menilai, selama ini Wapres justru lebih banyak mengeluarkan kebijakan yang 
mendasar seperti penolakannya terhadap ulangan Ujian Nasional (UN). 
Sampai-sampai Menteri Pendidikan Nasional justru lebih takut kepada Wapres 
daripada Presiden. Ia tidak menghendaki Wapres lebih dominan dalam kebijakan 
strategis.

Pernyataan itu disampaikan sehubungan kebijakan Wapres yang melarang 
diadakannya ulangan UN. Kebijakan itu membuat harapan siswa yang tidak lulus UN 
pupus. Pernyataan Wapres diucapkan pada saat Departemen Pendidikan Nasional, 
DPR dan siswa yang gagal ujian tengah bernegosiasi. Dengan pernyataan itu, 
siswa yang tidak lulus UN hanya bisa mengikuti ujian persamaan Paket C. 
Presiden yang sejak semula diharapkan bisa mengambil inisiatif membantu 
anak-anak yang gagal ujian itu, diam saja.

Kasus UN hanyalah salah satu contoh betapa Wapres lebih banyak memegang kendali 
pemerintahan dibandingkan Presiden. Contoh lain, perjanjian damai antara RI 
dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipertanyakan banyak orang juga 
inisiatif Wapres Jusuf Kalla. Pemberian bantuan untuk korban gempa di Jogja dan 
Jateng sebesar Rp10 juta sampai Rp30 juta untuk setiap rumah yang rusak ringan, 
sedang dan berat, Wapres juga yang menjanjikan.

Bahkan penyelesaian kasus lumpur panas di Sidoarjo (Jatim), Wapres pun turun 
tangan. Yang paling baru, Wapres menjanjikan uang makan dan perbaikan rumah 
korban banjir di Sulawesi Selatan.

Sebaliknya, kita melihat kegiatan Presiden lebih banyak urusan formalitas, 
memimpin rapat kabinet, menerima tamu, membuka pertemuan atau melawat ke luar 
negeri. Persoalan dalam negeri yang krusial, Wapres lebih mengambil peran. 
Zaman Pak Harto atau Megawati masih berkuasa, Presidenlah yang membuat 
keputusan penting, bukan wakilnya. Dalam sistem kabinet presidensiil, Presiden 
adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, Wapres bertugas mewakili 
Presiden. Di Amerika Serikat, jabatan Wapres tidak banyak disukai. Mereka lebih 
memilih menjadi senator, karena senator lebih berkuasa daripada Wapres.

Bukannya jelek apa yang dilakukan Wapres Jusuf Kalla. Kita justru angkat topi, 
karena dia ternyata sangat tanggap dan cepat dalam mengambil kebijakan. Yang 
kita pertanyakan, untuk urusan sangat strategis seperti perjanjian dengan GAM 
atau ujian ulangan UN, mengapa bukan Presiden yang mengambil keputusan. 
Bukannya tidak percaya pada kebijakan Wapres, tetapi kita khawatir 
jangan-jangan ini merupakan awal dari persaingan mereka menuju 2009 nanti, saat 
diadakan pemilu dan pemilihan Presiden. Ketika terjadi gempa di Jogja, 
Yudhoyono beberapa hari berada di Jogja, sampai-sampai Kantor Presiden pindah 
ke Istana Gedung Agung. Tetapi begitu Jusuf Kalla datang, ia langsung 
menjanjikan bantuan. Yudhoyono hanya berkunjung kesana kemari untuk menghibur 
korban.

Posisi Yudhoyono sebagai Presiden memang dilematis. Ia dipilih langsung oleh 
rakyat, tetapi partainya tidak punya suara signifikan di DPR. Dukungan terkuat 
justru dari Golkar yang dipimpin Jusuf Kalla. Banyak kebijakan pemerintah yang 
diselamatkan oleh Golkar, misalnya dalam soal hak interpelasi anggota DPR yang 
gagal digelar karena ditentang fraksi terbesar tadi. Kita paham pada faktor 
psikologis seperti ini, tetapi mengelola negara tidak bisa dilakukan dengan 
ewuh pekewuh. Hak dan kewajiban Presiden diatur melalui konstitusi. 

Kita khawatir apa yang diputuskan Wapres tidak sejalan dengan Presiden, tetapi 
demi sopan santun Presiden diam saja. Contohnya adalah kebijakan UN ulangan. 
Sebagian besar yang pernah diberitakan media tulis atau disiarkan 
radio/televisi, menghendaki UN diulang. Meski tidak ada penelitian, rasanya 
seperti itulah hati nurani kita dalam menyikapi kegagalan anak-anak kita. 
Pernyataan bahwa mereka tidak gigih, kurang rajin belajar adalah pernyataan 
yang menyakitkan. Sementara keberhasilan UN itu sendiri belum bisa menjadi 
tolok ukur keberhasilan pendidikan, karena masih banyak yang harus diuji. 
Karena itu rakyat sebenarnya masih menghendaki agar Presiden membuat keputusan 
yang final, tetapi Yudhoyono diam saja.

Apa yang dikemukakan oleh Baidlawi sebenarnya juga dirasakan oleh rakyat. Kita 
melihat ada sesuatu yang aneh dalam pembagian tugas Presiden-Wapres. Presiden 
dan Wapres memang harus beriringan, tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Tetapi 
tentunya Presidenlah yang harus berada di depan.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke