>
>
><http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=232618>http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=232618
> 
>
>
>Jumat, 23 Juni 2006,
>Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga
>
>RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (APP) yang telah mengalami revisi 
>menurut rencana akan disahkan bulan Juni ini. Salah satu yang bersuara 
>lantang menolak pengesahan RUU itu adalah Komponen Rakyat Bali (KRB), yang 
>bahkan sempat mengancam akan keluar dari NKRI. Berikut perbincangan Nong 
>Darol Mahmada dan M. Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Cok 
>Sawitri, seniman yang menjadi salah satu penggerak KRB, pada 15 Juni 2006 
>lalu.
>
>Mbak Cok Sawitri, bagaimana kondisi sekarang ini di masyarakat Bali 
>setelah pro-kontra RUU APP?
>Kondisi di Bali baik, jadi kalau akhir pekan mau liburan silakan. Semua 
>bentuk penyikapan kami adalah dalam proses aksi budaya. Kami tidak punya 
>tradisi kontroversi, tapi selalu dengan jenana, berdasarkan dialog yang 
>panjang antara orang tua dan komponen masyarakat. Sampai sekarang sikap 
>masyarakat Bali masih menolak total terhadap draf RUU APP, yang direvisi 
>sekalipun.
>
>Yang kami sebut komponen rakyat Bali adalah forum cair yang terdiri dari 
>berbagai lapisan masyarakat, dan tidak berstruktur, sekalipun ada tim 
>intinya. Aksi budaya ini sebenarnya adalah sebuah penyadaran bahwa dalam 
>demokrasi itu--masyarakat Bali dididik dalam rwa-bhineda namanya-- yang 
>hitam itu belum tentu hitam benar, yang putih itu belum tentu putih benar, 
>pasti ada abu-abu. Tidak harus marah ketika ada perbedaan pendapat, tidak 
>harus berprasangka, harus didialogkan.
>
>Sebenarnya masyarakat Indonesia belum paham masyarakat Bali itu seperti 
>apa, karena kan yang dikenal daerah objek wisata, masyarakatnya ramah, 
>suka menari, suka senyum. Kami kan berdasarkan Siwa-Budha yang kemudian 
>disebut Hindu Bali itu, kemudian Prof. Mandra yang memberikan nama Hindu 
>Dharma. Sebenarnya Hindu di Bali berdasarkan konsep Siwa-Budha itu.
>
>Di situ jelas sekali sifat toleransinya pun berbeda. Kalau dalam konsep 
>toleransi Barat misalnya kalau kamu mau dikasih empat kamu akan kasih 
>empat. Tapi kalau orang Bali itu ngasih empat bisa nggak dapat apa-apa, 
>yang penting untuk kepentingan (bersama). Makanya orang Bali itu terkenal 
>malas ngomong, penurut, apa saja program dari pusat Bali pasti nomer satu. 
>Posyandu, Adipura, macam-macam..
>
>Jadi selalu ada proses dialog. Dan kami menyadari pasti ada rwa-bhineda. 
>Bali punya konsep demokrasi lokal yang bagus, yang disebut dengan desa 
>kala patra. Desa itu wilayah, kala itu waktu dan patra itu cara pandang. 
>Nah, di cara pandang ini seorang sarjana pasti berbeda bicaranya dengan 
>seseorang yang pengalamannya tidak dalam pendidikan akademik. Atau dia 
>seorang petani akan beda kepentingannya. Di situ yang harus didialogkan 
>dan mayoritas itu bukan kebenaran. Di situ akan ada selalu patra keputusan 
>tafsir bersama, kebijakan, imbauan, belum tentu bagus berlaku di daerah 
>lain di Bali. Bali itu terdiri dari 9 kabupaten dengan 3.400 desa adat.
>
>Itu berarti dari bawah ke atas prosesnya itu?
>Ya, sama dengan penolakan terhadap RUU APP, inisiatifnya selalu dari 
>masyarakat dan tidak dalam bentuk hura-hura atau polemik dulu. Kami duduk 
>bersama dulu, ada diskusi panjang, mempelajarinya, bahkan mengundang ahli.
>
>Apa alasan utama penolakan itu?
>Kami menolak karena sosial religius, spirit yang berbeda. Karena kalau 
>diperhatikan dengan serius, draf RUU APP itu paradoks sekali dan akan 
>menjebak ketika pelaksanaannya. Kalaupun diperbaiki, ia memerlukan kajian 
>akademis yang serius dan itu memerlukan waktu. Dan dari segi hukum, 
>bukankah kita punya KUHP, UU Pokok Pers, Dewan Pers, dan kita tahu ada 
>konsekuensi ketika kita bicara pornografi. Tentang pornoaksi yang saya 
>rasa secara leksikal kata baru, dan perlu definisi. Sebuah definisi itu 
>bukan hanya mengartikan pemikiran kita aja, tapi perlu kajian yang panjang 
>juga.
>
>Dan kita tahu secara sejarah pun pornografi selalu mengalami kontroversi. 
>Tidak bisa juga dikatakan bahwa Bali kemudian pro-pornografi, tidak 
>seperti itu. Karena di dalam draf RUU APP itu kan justru mengizinkan 
>secara legal meskipun dengan alasan pendidikan dan kesehatan. Ada pasal 
>yang justru mengizinkan pemerintah menunjuk badan tertentu.
>
>Masyarakat Bali memiliki tarian yang dinilai sangat erotis. Mungkin Anda 
>bisa menjelaskan posisi tarian-tarian yang seperti itu?
>Jangan melihat dulu ke Bali. Kalau Anda tahu, tari Asia secara umum memang 
>berbeda pakemnya dengan tari Eropa. Pada dasarnya dari Sabang sampai 
>Merauke, dasar dari komposisi gerak kita adalah berpijak di kaki dan 
>mengembangkan tangan, hanya Bali punya kelebihan di gerak mata. Begitu 
>konsekuensi berpijak di kaki badan bergerak, tangan berkembang itu pasti 
>bergoyang. Erotika dalam tari itu yang mana? Nah, katakan Tari Serimpi, 
>barisan itu bahkan dari gerakan pencak silat misalnya, karena itu 
>konsekuensi berpijak tangan bergoyang mengembangkan tangan itu.
>
>Nah, kalau misalnya berbicara tentang porno pasti beda. Porno dalam 
>pengertiannya itu kan eksplorasi dalam konteks pelacuran, ini saya ambil 
>dari leksikologi yang berlaku. Erotika itu kan sebetulnya yang negatif, 
>karena kalau di dalam dunia lukis, dunia seni erotika kadang-kadang 
>menjadi poses pencarian dari teman-teman seniman, bukan untuk mengundang 
>birahi. Erotika dalam pengertian yang lain itu mungkin bisa diartikan 
>sebagai yang mengundang birahi. Kita harus terbuka kalau ada yang 
>mengartikan seperti itu, karena tidak ada kesepakatan untuk itu.
>
>Persoalannya kan kita itu mempersoalkan sebuah tubuh, kapan tubuh ini 
>menjadi perangsang dan kapan tidak. Nah, ketika dia dalam aktivitas yang 
>berkaitan dengan obyek seni, menjadi aneh karena bahasa erotika dalam 
>bahasa seni beda. Ini yang sebetulnya menurut saya memerlukan penjelasan. 
>Karena, mohon maaf saja, di Bali dari pagi hingga malam berkesenian. Dan 
>peristiwa tari itu tidak hanya di gedung tarian tapi juga di halaman 
>rumah, di gedung. Semua ekspresi kami itu kesenian, jadi kalau misalnya 
>nanti tanpa suatu pengertian yang dalam proses kreatif seni, tanpa 
>mengerti bagaimana dunia tari, bagaimana mengerti dunia lukis dan sebagainya.
>
>Yang menjadi dasar pengertian masyarakat Bali, RUU APP ini bukan 
>menghalangi proses kesenian sebetulnya, tetapi proses kreatif. Ada yang 
>gila-gilaan, ada yang eksentrik dan sebagainya, tapi itu kasuistis. Tapi 
>pada umumnya kreativitas pasti memerlukan jiwa merdeka itu, kemerdekaan 
>berpikir, kemerdekaan rasa. Bukan tanpa batas, tapi pasti memerlukan jenana.
>
>Indonesia punya banyak tarian. Ada Jaipongan, Tokek, dan sebagainya. 
>Sementara pemda menghidupkan supaya budaya itu tidak lenyap, tapi satu 
>sisi itu mau "dimusnahkan" karena dianggap porno. Apa pandangan Anda?
>Kami menolak RUU APP dengan sebuah kesadaran sejarah. Kita bisa punah 
>ketika kebudayaan kita hilang. Prof Bandem bersama Wayan Juniarta dan 
>Marlo sempat melakukan riset soal itu. Karena itu sungguh benar apa yang 
>dibilang: kita jangan main-main untuk penghilangan kebudayaan-kebudayaan, 
>ekspresi-ekspresi masyarakat.
>
>Bagi kami, moralitas itu kan sebetulnya kesepakatan sosial. Moralitas itu 
>nggak bisa disamain dari satu daerah ke daerah yang lain. Kalau di Bali 
>hanya ibu saja lho yang boleh memaki anaknya, yang paling kasar. Kalau 
>(yang melakukan) orang lain itu akan menjadi komunal dan marah, dia siapa? 
>Sekalipun pemerintah itu nggak boleh, ini saya memakai perspektif orang Bali.
>
>Bagaimana Bali melihat perempuan?
>Ibu itu penting sekali bagi kami, karena pura yang paling ditakuti disebut 
>paibon, nama ibu. Dan di Bali ini sangat gender spiritual, dengan 
>Siwa-Budhanya, karena dalam konteks Siwa-Budha ini yang paling dekat 
>dengan kita, itu ada namanya tahap ardana prameswara, yakni Tuhan itu 
>tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. Dan ardana prameswara ini dalam 
>konteks taksu yang berkaitan dengan kesenian itu dialah penari kosmis yang 
>selalu bekerja. Oleh karena itu laku seorang seniman itu adalah meniru 
>sang pekerja kosmik itu. Jadi sebetulnya masyarakat Bali itu dia otomatis 
>akan selalu mengekspresikan dirinya seperti yang diajarkan itu.
>
>Apakah tidak ada istilah syiar di Hindu?
>Kami punya dharma wacana, tetapi itu tidak untuk mencari penganut baru. 
>Hindu itu saking bebasnya, setiap daerah itu pasti mengekspresikan 
>kebudayaan lokalnya. Hindu Bali itu pasti beda dengan Hindu India. Nah, 
>meskipun kami punya misalnya 3.000 ayat Weda, tapi dibagi dua kolomnya itu 
>ada darma sastra, ada arta sastra. Terus ada empat lagi, ada Yajur, ada 
>Atarwa, ada Sama. Ada Bhagawat Gita yang menjadi bacaan anak muda, 
>kemudian ada bacaan untuk calon pendeta.
>
>Nah, kami tidak punya budaya syiar seperti itu, yang diajarkan itu 
>prinsipnya begini; bahwa manusia itu, siapapun dia, seburuk apapun dia, 
>bisa jadi dia saudaramu yang dulu, tapi dia lahir di keluarga yang lain. 
>Jadi kita nggak mungkin memusuhi seseorang biarpun dia beragama lain. 
>Jangan-jangan itu sepupu jauh kita. Karena kalau diusut-usut secara 
>silsilah ternyata bangsa Indonesia ini sepupu jauh, sepupu dekat, karena 
>ada perkawinan antara Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. Ujung-ujungnya 
>gennya sama semua.
>
>Kita masih melihat tradisi di Bali masih begitu kuat, meskipun ia adalah 
>pulau turis. Bagaiman Bali menyikapi "orang luar"?
>Indonesia itu kan baru umurnya 60 tahun. Bali itu punya sistem yang sudah 
>teruji 1000 tahun, yang namanya tri kayangan; Ada pariyangan, daerah suci 
>dan pawongan untuk masyarakatnya, kemudian palemahan, tempat yang dianggap 
>tidak suci. Kemudian dalam konteks hubungan ketatanegaraan atau wilayahnya 
>disebut desa kala patra. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat 
>Bali. Dan konsepnya itu di Bali itu sangat menghargai perbedaan satu desa 
>dengan yang lain. Ini yang menyebabkan Bali sangat kuat. Dan hubungannya 
>dengan pariwisata Bali itu sudah mulai dari tahun 1920. Sebetulnya di Bali 
>terus terjadi dialog, di Bali pun kritis terhadap perkembangan pariwisata 
>ysng terus-menerus terjadi, tidak seperti yang dibayangkan. Jadi di Bali 
>sebetulnya terus terjadi itu dialog dan mencari solusi itu.
>
>Karena kalau cuma pro-kontra tanpa solusi kan susah. Sama seperti tolak 
>RUU APP ini. anggota DPR kita sekarang ini kan diam, padahal bulan Juni 
>secara teknis tidak mungkin (disahkan). Dia harus jujur bahwa bulan Juli 
>dia reses dan Agustus dia akan melakukan pekerjaan baru. Padahal 
>seharusnya dia melakukan sesuatu yang lebih bagus untuk bangsa ini. Jadi 
>pansus itu harus mulai jujur terutama kepada pendukungnya supaya jangan 
>dipakai oleh masyarakat lagi untuk saling curiga-mencurigai, karena dia 
>tidak bisa menjawab apa yang dia janjikan kepada pendukungnya.
>
>Indonesia saat ini punya pekerjaan yang besar, tapi yang paling penting 
>adalah proses kemanusiaan kita. Saya rasa kita risau ya soal toleransi, 
>hubungan kita dengan satu sama lain. Kita harus percaya tak seorang pun 
>dapat mengkapling surga, dengan paspor kemunafikan dan sebagainya, harus 
>memberantas ini atau itu. Karena pelacur juga keyakinan sendiri, preman 
>pun punya keyakinan sendiri dan sebagainya, dan kita nggak tahu yang 
>terjadi nantinya. Jangan mendahuluilah.
>
>Karena itu sesungguhnya Indonesia saat ini seharusnya mulai digagas, tapi 
>jangan lagi tafsirnya dari pusat. ***



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke