HARIAN ANALISA
Edisi Sabtu, 1 Juli 2006

Presiden: 
Selidiki Kepemilikan Senjata Alm Brigjen Koesmayadi 

Jakarta, (Analisa) 



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Mabes TNI agar kasus kepemilikan 145 
pucuk senjata mantan Wakil Asisten Logistik Kasad (alm) Brigjen Koesmayadi 
segera diselidiki dan agar hukum ditegakkan dalam kasus tersebut. 

"Tadi direktif (perintah-red) Presiden agar hukum ditegakkan. Kita ikuti itu... 
Sistem supaya bekerja, Puspom, Intelijen dan hukum ditegakkan," kata Panglima 
TNI Marsekal Djoko Suyanto, di Istana Negara, Jumat (30/6), usai mengikuti 
acara peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional tahun 2006. 

Perintah tersebut, menurut Djoko, dinyatakan Presiden Yudhoyono setelah 
mendapat laporan tentang "insiden" ditemukannya kepemilikan senjata Alm Brigjen 
Koesmayadi. 

Brigjen Koesmayadi meninggal dunia pada Minggu (25/6) siang di kediamannya di 
Jalan Pangandaran kompleks Raflesia, Cibubur, Jakarta Timur, akibat serangan 
jantung. 

Sesuai prosedur baku internal TNI Angkatan Darat, maka pada hari yang sama 
dilakukan penarikan kembali inventaris senjata di rumah almarhum di Jalan 
Pangandaran No15, Ancol, Jakarta Utara. 

Dari hasil penarikan inventaris senjata itu, terdapat 145 pucuk senjata terdiri 
atas 96 senjata laras panjang, senjata laras panjang tanpa alur tujuh pucuk, 42 
senjata laras pendek dan amunisi atau peluru sebanyak 28.985 butir. 

Puluhan senjata itu, terdiri atas jenis Senapan Serbu (SS)-1, MP5, M16 dan AK, 
yang merupakan senjata baku yang selama ini digunakan satuan-satuan TNI 
Angkatan Darat. 

Selain itu ditemukan pula sembilan granat tangan dan 28 teropong. 

Panglima TNI kepada wartawan di Istana Negara, Jumat (30/6), menjamin bahwa TNI 
akan serius menangani kasus kepemilikan 145 senjata itu dan ia mengatakan 
dirinya telah memerintahkan agar semua senjata diamankan. 

Selain itu, ia juga telah menginstruksikan dilakukannya pengusutan hingga 
tuntas proses pemilikan senjata-senjata tersebut oleh alm Koesmayadi, termasuk 
asalnya dari mana serta siapa saja yang ikut mengetahui tentang keberadaan 
ratusan senjata itu. 

"Jadi Puspom sudah ada instruksi soal itu dibantu oleh Bais, apabila dalam 
lingkungan TNI itu sendiri kurang informasi yang diterima itu bisa juga ke BIN. 
Kalau perlu ke Polri," kata Djoko. 

Djoko belum dapat mengatakan sanksi apa yang akan diberikan kepada mereka yang 
terlibat dalam kepemelikan senjata oleh alm Koesmayadi. 

"Kita lihat jadi proses itu sedang berjalan kita lagi mencari siapa-siapa yang 
harus kita mintai keterangan, siapa-siapa nanti yang harus diselidiki lebih 
lanjut," katanya. 

Namun ia memastikan bahwa penyimpanan senjata dengan jumlah yang telah 
dikatakan Kasad Jenderal Djoko Santoso sebagai 'di luar kepatutan' itu adalah 
prosedur yang salah. 

"Senjata kan tidak mungkin sekian banyak ditempatkan di rumah. Itu sudah pasti. 
Salah satu prosedur penyimpanan, penggudangan, lalu "menghandling" bagaimana, 
apalagi senjata," tegas Panglima. 

Menurut Panglima, penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kehilangan 
senjata dalam jumlah begitu banyak yang kemungkinan dialami TNI. 

"Saya tidak ingin menduga-duga lebih lanjut karena prosesnya sedang berjalan. 
Registrasinya juga dilihat, apakah registrasi itu ada didaftar di staf logistik 
Angkatan Darat TNI," katanya. 

Ketika ditanya apakah akan ada penertiban kepemilikan senjata oleh 
personil-personil TNI lainnya, Djojo Suyanto mengatakan penertiban sebetulnya 
sudah merupakan sesuatu yang otomatis dijalankan. 

"Sebenarnya prosedur tetap sudah ada. Ini kebetulan ada kasus seperti itu. Yang 
lain-lain memang sudah diperlakukan seperti dulu. Ini ada kasus seperti itu ya 
kita tangani dengan serius," kata Panglima. 

"Sebenarnya pengetatan itu harus dari hari ke hari tidak hanya ada kasus ini 
apalagi senjata," tambahnya. (Ant) 


 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke