DH:Bagaimana dengan kaum Muslim Suni dan kaum Muslim shiite yang sejak
dahulu, tanpa AS sudah bunuh bunuhan? Juga orang Turki dan Kurdi,
tanpa campurtangan asing bunuh bunuhan?

SB:Perselisihan Suni-Shiah, telah ada ribuan tahun yang lalu. Timbul karena
hasutan kala itu.Kondisi sekarang seharsnya tidak terjadi demikian. Dakwah
memang harus lurus disampaikan. Dengan cara yang benar dan santun. Itu saja
inti masalahnya.

DH:Allah berdiri dipihak mana? Sunni atau Shhite? Turki atau Kurdi?

SB:Allah SWT Maha Pemurah, lha orang kafir aja masih dikasih rezeki, banyak
lagi! Keberhasilan suatu kelompok diantaranya ditentukan karena kegigihan
dan kesungguhannya, dalam Islam disebut jihad, dan takdir adalah hasil akhir
dari usaha tersebut Yang menang belum tentu pihak yang benar dan sebaliknya.






--- In [email protected], "Samsul Bachri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> MENCEGAH ADU DOMBA
> ANTAR SESAMA MUSLIM
> Buletin al-Islam Edisi 310
>
> Saat ini banyak pihak mengkhawatirkan adanya bentrokan fisik antar
komponen
> umat Islam. Hal ini dilandaskan pada ketegangan dan hampir
bentroknya dua
> kelompok di Jakarta pada 26 Mei lalu. Berikutnya, muncul juga
ketegangan di
> Jember dan penghadangan di Demak (15 Juni 2006). Kejadian yang
menjurus pada
> aksi kekerasan seperti ini sangat memprihatinkan. Untuk memahami
hal ini,
> perlu dikaji hal-hal yang melingkupinya.
>
> Pihak Asing dan Adu Domba
> Sejak peledakan Gedung WTC AS telah memproklamirkan perang tanpa
akhir
> terhadap terorisme. Saat itu AS menyatakan, "Eeither with us or
with
> terrorists (Bersama kami [AS] atau bersama teroris)." Jadi,
teroris yang
> dimaksud adalah setiap pihak yang menentang kezaliman yang
dilakukan AS.
>
> Dalam kunjungannya ke Indonesia, para pejabat AS selalu menjadikan
tema
> terorisme sebagai salah satu agenda utamanya. Menlu AS Condoleezza
Rice
> datang ke Indonesia bulan Maret lalu. Dalam jumpa persnya, ia
(10/3/2006)
> menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia sudah matang dalam
menangani
> kemungkinan kehadiran kelompok garis keras. Garis keras yang
dimaksud adalah
> kelompok Islam seperti halnya Hamas di Palestina. Diharapkan
melalui
> kerjasama ini Indonesia makin memerangi kelompok-kelompok Islam
yang mereka
> sebut 'garis keras'. Lalu Rice menghendaki Indonesia menjadi
negara yang
> disebut dengan negara 'Islam moderat'.
> Akhir Maret 2006, PM Inggris Tony Blair juga datang. Di dalam
negerinya,
> Inggris hendak melarang gerakan-gerakan Islam yang dianggapnya
keras.
> Kebijakan luar negerinya pun senantiasa mengekor AS yang terus-
menerus tak
> menghendaki Islam dan umatnya bangkit. Contoh nyata adalah dalam
kemenangan
> Hamas. Walaupun secara demokratis Hamas menang, AS dan Inggris
tetap
> merintangi Hamas dengan mengeluarkan kecaman dan keberpihakannya
kepada
> Israel.
> Dalam wawancara ekslusif dengan salah sebuah stasiun TV nasional,
Blair
> menegaskan maksud kunjungannya ke Indonesia tidak lepas dari
urgensi
> Indonesia sebagai negeri Muslim yang menurutnya dapat menjadi
simbol
> penyatuan demokrasi dengan Islam. Jadi, kedatangan Blair adalah
untuk
> mengokohkan Indonesia yang tidak menerapkan Islam kâffah, melainkan
> menerapkan demokrasi sekular yang liberal. Islam yang
diperkenankan hanyalah
> yang bercorak liberal. Tidak aneh kalau seorang pentolan kelompok
liberal
> mengakui (Media Indonesia, 20/6/2006) bahwa 'Islam' liberal adalah
untuk
> demokrasi liberal-pas dengan agenda Barat.
> Agenda sesungguhnya atas kunjungan Blair ke Indonesia adalah untuk
melakukan
> politik belah bambu (adu domba) terhadap kaum Muslim. Sebab, apa
yang
> disampaikan dan dilakukan oleh Blair di Indonesia-sebagai pribadi
maupun
> cerminan dari sikap pemerintahannya-berbeda dengan sikap yang
sebenarnya.
> Hal ini bisa dilihat dalam pernyataan Menteri Dalam Negeri Inggris
Charles
> Clarke yang mengatakan, "Tidak ada tawar-menawar tentang pendirian
kembali
> Khilafah dan syariah Islam ." PM Inggris Tony Blair juga
menyatakan, "Islam
> merupakan ideologi Iblis/jahat (evil ideology) dengan ciri: (1)
ingin
> mengeliminasi Israel; (2) menjadikan syariat Islam sebagai sumber
hukum; (3)
> menegakkan Khilafah; (4) bertentangan dengan nilai-nilai liberal."
(BBC News
>  16/7/2005).
> Kunjungan Menteri Pertahanan AS Rumsfeld, awal Juni ini, juga
mengandung
> adanya tekanan AS terhadap Indonesia untuk memaksakan cara
memerangi teroris
> yang mereka definisikan. Hal ini terlihat dari pernyataan Menhan
Indonesia
> Juwono Sudarsono yang mengultimatum AS agar jangan mencoba
memaksakan
> keinginan antiterorismenya kepada negara lain.
> Jadi, kunjungan pejabat AS dan Inggris dalam waktu berdekatan
tersebut
> menyangkut upaya memerangi Islam demi menghunjamkan demokrasi
liberal dengan
> dalih perang melawan terorisme.
>
> Dua Cara Penghancuran
> Dalam rangka mencapai hal tersebut, setidaknya terlihat ada dua
cara yang
> mereka tempuh. Pertama: kerjasama keamanan permanen. AS sangat
ambisius
> mengajak Indonesia untuk bergabung dalam kerjasama keamanan
permanen yang
> dikenal dengan Proliferation Security Initiative (PSI). Kunjungan
> berturut-turut dua petinggi AS dalam waktu berdekatan, yaitu Menlu
AS
> Condoleeza Rice dan Menhan AS Donald Rumsfeld, sama-sama berupaya
untuk
> meyakinkan (baca: menekan) Pemerintah Indonesia untuk bergabung
dalam PSI.
> Pemerintah Indonesia saat ini mulai serius menanggapi tawaran
petinggi AS
> tersebut. Sebagaimana yang diberitakan Republika (13/6), dalam
rapat kerja
> dengan Komisi I DPR (12/6), Menko Polhukam Widodo AS meminta DPR
agar tidak
> serta-merta menolak PSI.
>
> Sebenarnya, PSI tersebut lebih merupakan upaya AS untuk meraih
> kepentingannya. Kepentingan AS dalam PSI ini sangat tampak dalam
Pidato
> Kenegaraan Presiden Bush pada 2 Februari 2005, "Kita bekerjasama
dengan 60
> pemerintahan dalam Proliferation Security Initiative (PSI) untuk
mendeteksi
> dan menghentikan aliran bahan-bahan berbahaya... Dalam jangka
panjang,
> perdamaian yang kita upayakan hanya bisa diraih dengan
menghapuskan semua
> kondisi yang mendorong radikalisme dan ideologi-ideologi pembunuh."
> (http://www.usembassyjakarta.org).
>
> Jelas terlihat, di antara kepentingan AS dan PSI itu adalah Islam
yang terus
> dicitrakan radikal, yang disebut dengan 'ideologi pembunuh' karena
memiliki
> konsep jihad dan disebut 'teroris' yang telah didefinisikan
sepihak itu.
> Padahal siapa yang membunuh 120.000 warga sipil Irak? Siapa yang
> memporakporandakan Afganistan? Jadi, siapa yang lebih layak
disebut penganut
> 'ideologi pembunuh', Islam ataukah Kapitalisme yang diemban oleh
> negara-negara penjajah itu?
> Lebih dari itu, dengan tergabung dalam PSI, langsung atau tidak
langsung,
> Indonesia telah menjadi 'anggota' Pertahanan Atlantik Utara
(NATO). AS pun
> akan langsung masuk dengan atau tanpa izin ke wilayah Indonesia
dengan dalih
> menjaga keamanan. Jika ini terjadi, yang rugi adalah semua rakyat,
termasuk
> yang menjadi kaki tangannya.
> Kedua, adu domba. Kini tersebar kabar telah dibentuk
pasukan/milisi.
> Disinyalir ada aliran dana untuk pelatihan tersebut mencapai USD 2
juta.
> Sumbernya dari badan intelijen Inggris MI6 (Tabloid Intelijen,
edisi
> 16-29/6/2006). Jika ini benar maka mirip dengan apa yang terjadi di
> Palestina atau Somalia, dua kelompok Muslim dihadap-hadapkan demi
kemenangan
> asing, atau seperti di Irak antara Kurdi dan non-Kurdi, di Iran
antara
> kelompok yang disebut AS konservatif dan kelompok modern. Padahal,
betapa
> banyak jejak badan intelijen Amerika (CIA) di balik konflik
antarmilisi.
> Kini di Indonesia pun ada indikasi umat Islam diadu-domba. Ini
harus
> dicegah!
>
> Adu Domba: Metode Penjajah
> Adu domba (devide et impera) adalah metode penjajah yang tidak
pernah
> berubah. Sayang, masih ada kaum Muslim-sadar atau tidak-yang mau
diadu domba
> dengan sesamanya hanya lantaran membela pemimpin yang berasal dari
> kelompoknya, membela partainya, atau sekadar ikut-ikutan; tanpa
lagi
> memandang apakah pembelaannya tersebut memang sesuai dengan ajaran
Islam
> atau tidak. Akibatnya, seolah-olah yang bertarung adalah Islam
dengan Islam.
> Kesatuan umat, persaudaraan, ghîrah, kesetiakawanan, solidaritas,
dan
> penghargaan pada nilai Islam nyaris hilang.
>
> Melihat fenomena demikian, tampaknya pendapat Ziauddin Sardar
(1999) ada
> benarnya. Umat kita saat ini, menurutnya, adalah hasil gemblengan
pemimpin
> yang masih mewarisi budaya kolonial yang terus menerapkan politik
adu domba,
> baik halus maupun kasar. Pemimpin di Dunia Islam sekarang ini hanya
> komprador/kaki tangan Barat. Padahal, menurut Taqiyyuddin an-
Nabhani dalam
> buku At-Takattul Hizbiy (1953), musuh umat sebenarnya adalah
penjajah Barat.
> Artinya, para penguasa kaum Muslim, para cendekiawan yang ter-
Barat-kan, dan
> kalangan zhallamiyyin yang membebek pada ideologi Barat hanyalah
pion-pion
> penjajah yang sengaja dipasang untuk menghadang perjuangan
menegakkan
> syariat Islam. Jelaslah, upaya membenturkan antar umat hanyalah
untuk
> menghambat lajunya kemenangan Islam dan melanggengkan cengkeraman
> Kapitalisme dan Liberalisme pimpinan AS.
>
> Umat Islam, Bersatulah!
> Allah SWT berfirman:
> Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah
> saudara-saudara kalian dan bertakwalah kalian kepada Allah agar
kalian
> dirahmati. (QS al-Hujurat [49]: 10).
>
> Al-Qurthubi di dalam buku tafsirnya menyebutkan bahwa persaudaraan
antar
> kaum Mukmin adalah dalam hal agama dan kehormatan, bukan dalam
nasab.
> Persaudaraan dalam agama lebih kokoh dibandingkan dengan
persaudaraan nasab.
> Sebab, persaudaraan nasab dapat terputus dengan perbedaan agama,
sedangkan
> persaudaraan dalam agama tidak pernah terputus dengan perbedaan
nasab. Namun
>  sayang, sikap dan perasaan ini tidak sepenuhnya diaplikasikan oleh
> kebanyakan kaum Muslim saat ini.
> Lebih jauh, Allah SWT berfirman:
> Berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-
berai.
> (QS Ali Imran [3]:103).
>
> Tegas sekali, ayat ini memerintahkan kaum Mukmin untuk bersatu
atas dasar
> Islam dan untuk menegakkan Islam, dengan menjadikan syariah
sebagai tolok
> ukurnya; bukan bersatu demi kelompok, partai, figur, ataupun
fanatisme
> masing-masing. Sebab, al-Quran sebagai tali kemenangan memang
diturunkan
> Allah SWT sebagai metode kehidupan untuk membangkitkan umat dari
kelemahan,
> kehinaan, keterbelakangan, dan keterpecahbelahan saat ini.
> Jelaslah bahwa Islam merupakan penyatu kaum Muslim. Sebaliknya,
semangat
> golongan, kesukuan dan kebangsaan adalah semangat Jahiliah yang
tidak layak
> dijadikan penyatu kaum Muslim. Apalagi hal itu dilakukan untuk
berseteru
> dengan sesama Muslim. Untuk itu, setiap Muslim harus segera
meninggalkan
> segala bentuk pemikiran dan ikatan kufur dan beralih pada ikatan
Islam.
> Dengan demikian, setiap upaya untuk menjadikan sesama Muslim saling
> berhadapan dalam bentrokan fisik wajib dihancurkan.
> Langkah mendasar dan menyeluruh pun perlu segera dan terus
dilakukan.
> Caranya adalah: Pertama, kembali pada pemahaman Islam yang
membuang jauh ego
> golongan, kesukuan, ataupun nasionalisme sempit; karena sesama
Muslim adalah
> saudara yang harus saling membahu dalam menegakkan Islam. Kedua,
mengusir
> bisikan dan tipuan setan dari kalangan penjajah kufur dan para
pengikutnya
> yang justru melanggengkan umat dalam keterpecahbelahan. Ketiga,
terus
> berupaya bersatu untuk menyatukan umat Islam di bawah panji Lâ
ilâha illâ
> Allâh Muhammad Rasûlullâh. []
>
> KOMENTAR:
> Target Pemberangusan: Ormas Islam Anti-AS (Republika, 19/06/2006)
> Jika benar, berarti pembubaran ormas Islam memang pesanan AS untuk
> kepentingannya sendiri.
>
>
>
>
>
>
>
>
> ===================================================================
>         Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> ===================================================================
> Yahoo! Groups Links
>







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke