Mawar Merah Café Bandar:
SUNGAI SEINE DAN KISAH-KISAH LAINYA
15
BERBAGAI RUANG BAGI KEGIATAN SASTRA-SENI DI PARIS [1]
Sastra-seni merupakan bagian dari kehidupan penduduk Paris. Merupakan
keperluan yang dihajatkan benar. Kegiatan sastra-seni di kota ini
sungguh-sungguh tidak mengenal musim.
Dalam perbandingan, tentu saja, kegiatan di musim panas jauh lebih meningkat
dibandingkan dengan kegiatan di musim rontok, musim semi apalagi di musim
dingin. Contoh yang paling menyolok adalah kegiatan para pelukis di Place de
Tertre, yang terletak di puncak Montmartre. Pada musim dingin saking dingin
boleh dikatakan para Place de Tertre menjadi sepi dari para pelukis. Berbeda
keadaannya pada musim panas ketika tidak ada usikan cuaca dan para wisatawan
mengalir tanpa henti sampai larut malam. Kegiatan teater pun demikian. Pada
musim panas, teater-teater terbuka yang dibangun oleh pemerintah kotapraja
dengan memanfaatkan sisa-sisa ruang kota yang ada, digunakan oleh para artis
untuk melakukan pertunjukan-pertunjukan. Sedangkan pada musim dingin, teater
terbuka ini, menjadi sepi. Kalau pun ada pertunjukan teater pada musim dingin,
pertunjukkan-pertunjukkan itu dilakukan oleh beberapa seniman dengan
menggunakan ruang terbuka, misalnya di halaman gereja atau ruang luas yang
banyak dilalui umum, terutama para wisatawan. Dari segi perbandingan jumlah
juga maka artis-artis pantomim, pada musim panas pun jauh lebih banyak pentas
dibandingkan dengan musim yang menyengat sungsum. Sehingga bisa dikatakan
musim panas adalah musim marak pementasan sastra-seni terbuka.
Yang kumaksudkan dengan terbuka, bukan hanya di alam terbuka seperti taman,
halaman gereja, bahkan kuburuan, atau ruang-ruang luas beratapkan langit,
tapi juga pertunjukan-pertunjukan yang dilakukan di kendaraan-kendaraan umum,
terutama kereta api di bawah tanah [metro]. Ya, gerbong-gerbong metro dan
lorong-lorongnya. Hanya saja sekarang, untuk melakukan pertunjukkan di metro
diperlukan izin khusus dari Jawatan Kereta Api [RATP]. Yang kukira agak unik,
bahwa RATP sering menyelenggarakan konser di ruang-ruang kawasannya. Sedangkan
di gerbong-gerbong kereta atau di tembok kade metro dipasang puisi-puisi karya
para penyair dari seluruh dunia, termasuk pantun-pantun dari Indonesia. RATP
juga menerbitkan majalah mingguan khusus tentang Paris : "A Nous Paris".
Mingguan yang sangat bermanfaat bagi para pengunjung Paris. Disebarkan secara
cuma-cuma. Artinya RATP bukan hanya mengurus dan menangani masalah transpor
umum yang melayani jutaan penduduk saban hari, tapi juga telah menjadi
pendukung pengembangan sastra-seni. Aku hanya bertanya diam-diam pada diri
sendiri: Kapankah hal begini bisa berlangsung di Indonesia? Keadaan yang
sebenarnya bukan terlalu ajaib jika segalanya "berporos pada rakyat" seperti
dikatakan oleh sobatku Prof. Dr. Ngo Manhlan dari ISMEA Paris dan dikelola
dengan baik serta dituntun oleh keberpihakan manusiawi. Kukatakan juga tidak
ajaib dan mustahil karena aku yakin benar rakyat kita dan orang Indonesia,
sesungguhnya bukan rakyat dan orang-orang dungu. Untuk meluncurkan "sputnik"
Soviet ke ruang angkasa misalnya, ada tangan manusia Indonesia. Dua dokter
kangker terbaik di dunia juga adalah manusia Indonesia kendati sekarang tidak
dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri. Demikian juga, entah berapa jumlah dokter
medikal dan insinyur yang dikirim ke luar negeri dulu oleh Presiden Soekarno
demi Indonesia, sekarang juga dicuekkan oleh Indonesia begitu saja dan
dimanfaatkan oleh negara lain.
Pemasangan puisi-puisi berasal dari seluruh penjuru dunia ini, seakan mau
mengatakan bahwa sastra, khususnya puisi tidak mengenal perbatasan. RATP
Perancis ingin menyebarkan kearifan pikir dan kesimpulan pengalaman hidup
seluruh dunia kepada seluruh penumpang. Inikah ujud kongkret dari universalitas
sastra-seni secara kongkret itu? Inikah ujud dari keberpihakan manusiawi
sastra-seni itu?
Pementasan terbuka yang dilakukan di mana-mana oleh berbagai kalangan, termasuk
pemajangan puisi-puisi dari seluruh penjuru dunia oleh RATP, kupahami juga
sebagai bentuk pemassalan [dengan istilah sekarang, sosialisasi sastra seni]
yang dulu di Indonesia dirumuskan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra]
sebagai "meluas dan meninggi", membuat sastra-seni , termasuk puisi kembali ke
asalnya, ke fungsi semulanya memenuhi hajat kehidupan bermasyarakat manusiawi
sebagaimana ditunjukkan oleh puisi Dayak Katingan bernama "sansana kayau"
sampai sekarang misalnya.
Dalam hal ini, aku sungguh terpana, melihat larisnya CD Mozart dalam jumlah
hingga jutaan euros. Tak pernah kubayangkan karya-karya klasik Mozart menjadi
selaku ini di pasar Perancis. Melihat keadaan ini pertanyaan yang muncul di
kepalaku adalah: Adakah hubungan lakunya karya-karya Mozart dengan tingkat
pendidikan suatu masyarakat? Apakah "meluas dan meninggi" itu tidak ada
hubungannya dengan tingkat pendidikan dan kebudayaan suatu masyarakat?! Karya
Mozart jadinya ternyata bukanlah karya "aeng-aeng" atau "ndakik-ndakik" yang
terkucil dari kehidupan. Dan juga ternyata tidak mengucilkan diri. Tingkat
pendidikan dan kebudayaan akan membantu menumbuhkan tingkat apresiasi pada
sastra-seni. Dengan ini yang ingin kukatakan betapa pentingnya kurikulum dalam
meningkatkan taraf pendidikan, termasuk soal ajar-mengajar sastra-seni. Karena
soal ajar-mengajar akhirnya menyangkut haridepan suatu bangsa dan negeri,
berangkat dari pembinaan suatu generasi. Bertolak dari pandangan ini, jika ada
benarnya permasalahan yang kuketengahkan sekarang [betapa pun amat minim] ,
barangkali, kita perlu melihat bagaimana soal kurikulum dan masalah
ajar-mengajar sastra-seni di sekolah-sekolah negeri kita.
Sebagai ilustrasi, di sini aku ingin mengetengahkan cerita seorang teman yang
seorang insinyur Prancis yang nikah dengan seorang perempuan dari desa Jawa
Barat. Temanku ini merasa sangat heran, ketika mendengar bahwa para keponakan
Indonesia dari pihak istri, sama sekali tidak pernah membaca karya sastra
dengan serius, termasuk karya-karya Pramoedya A.Toer. "Padahal kau tahu", ujar
teman insinyurku ini, " untuk mengenal masyarakat Perancis murid-murid SLP-SMA
bahkan sejak sekolah dasar diniscayakan membaca karya-karya sastra. Bagaimana
mereka bisa mengenal masyarakat Perancis tanpa membaca Zola, Hugo, Balzac, dan
lain-lain?. Mengetahui keadaan ini aku segera pergi ke tokobuku-tokobuku dan
membelikan karya-karya sastrawan Indonesia, terutama Pramoedya", lanjut
temanku itu. Mendengar keterangannya, aku hanya diam dan merenung agar
hati-hati dalam berkomentar. Aku pun tidak ingin begitu saja mengiyakan atau
menidakkan. Tapi dengan diam, aku sudah mendapatkan suatu masukan berharga.
Mudah-mudahan, apa yang diajukan oleh seorang insinyur tentang peran sastra
bagi kehidupan dan pengenalan masyarakat ini bisa ada manfaatnya sebagai acuan
bagi para sastrawan, pencinta sastra, para pendidik, dan para pengambil
keputusan politik.
Pementasan terbuka, pemasangan puisi di gerbong-gerbong metro, kukira bisa
dipahami juga dari ucapan sahabatku di atas.
Saban melihat dan membaca puisi-puisi serta pementasan terbuka begini, sebagai
pencinta sastra-seni yang terus mencoba memahami sastra-seni, senantiasa saja
aku teringat akan nasib puisi dan seni pentas "modern" di tanahair.
Pertanyaan apa-siapa sesungguhnya sastrawan-seniman itu menguntitku bagai
bayangan. Apakah "modern" berarti bertentangan dan bertolakbelakang dengan
kemanusiaan dan usaha memanusiawikan manusia? Apakah gerangan sastra-seni itu
secara hakiki?
Sebagai pelajar awal di bidang ini, dan makin jadi pelajar awal, aku masih
mencari jawabnya sementara suasana Paris sehari-hari, yang tahu bahwa aku
dari Indonesia, terus mengusik menagih jawab bagaimana penterapannya untuk
Indonesia. Olehnya aku merasa kian menjadi pelajar awal dungu dan keniscayaan
untuk terus belajar agar relatif tepat menjawab. Karenanya pula aku rasakan
benar, bahwa cinta dan niat baik saja masih "belum apa-apa" jika ditakar
dengan tuntutan cinta serta mimpi itu sendiri apalagi dengan jutaan nyawa yang
berserakan demi Republik dan Indonesia. Sastra-seni akhirnya berujung pada
tanggungjawab manusiawi juga, bukan pada pemburuan nama dan ketenaran. Kalaupun
hal ini ada dan muncul, ia hanyalah bagian dari hukum sebab-akibat belaka bukan
tujuan seorang penyair .****
Paris, Juli 2006.
----------------------
JJ. Kusni
[Bersambung....]
Keterangan foto:
pertunjukan ini dlakukan di rue di Ravignan, dekat Place des Abbesses,
Montmartre, 75018 Paris. [Foto: Jelitheng. Dari Dok.: JJK].
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/