PENDIDIKAN bukan PENGAJARAN - Pendidikan [4]
Entah disadari atau mungkin juga tidak di sadari, apa yang ada di dalam praktek
persekolahan kita di Indonesia sekarang ini lebih kepada masalah PENGAJARAN dan
bukan kepada masalah PENDIDIKAN.
Secara umum, PENDIDIKAN meliputi 3hal pokok yang dituju bagi siswa nya, yakni
Afektif, Kognitif dan Psikomotorik.
Afektif yakni yang berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, manajemen
emosi, dll.
Kognitif yakni yang berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika,
analisis, dll
Sedangkan Psikomotorik adalah yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi apa
yang sudah diperolehnya melalui jalur kognitif.
Baikpun mulai Tk, SD, SMP, SMU sampai perguruan tinggi pun S1, S2 maupun S3,
porsinya sekarang ini lebih kepada masalah Kognitif atau transfer of Knowledge
nya saja. Ini yang disebut dengan Pengajaran. Sebatas pengajaran lah sekarang
ini yang dipraktekkan di dalam proses belajar mengajar.
Masalah apakah ilmu yang diajarkan itu siswa bisa mempraktekkan atau tidak,
menjadi nomer ke sekian bagi tujuan pembelajaran. Demikian juga dengan masalah
moral, akhlak, atau afektifnya menjadi nomer ke sekian juga di dalam concern
masalah pembelajaran ini.
Walhasil sebenarnya meski tujuan pendidikan di Indonesia yang sudah dituangkan
di dalam UU RI no 20 tahun 2003 adalah pembentukan diri manusia yang utuh
sebagaimana disebutkan di Pasal 1 ayat 1 :
Pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa,
" Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara."[1]
Tetapi di dalam kenyataan prakteknya, belumlah dilakukan PENDIDIKAN itu
melainkan baru sebatas apa yang disebut dengan PENGAJARAN, hanya sebatas
transfer of knowledge saja.
Oleh sebab itu bisalah kita maklumi, bagaimanakah "HASIL" dari wajah pendidikan
kita, bisa kita pahami bagaimanakah wujud hasil siswa-siswa/murid-murid yang
ada..
Pendidikan sudah bukan lagi sebuah pendidikan bagi mereka yang bersekolah,
melainkan hanya sebatas perpindahan ilmu saja yang sebenarnya bisa mereka
dapatkan ilmu itu dimana saja. Bisa dibaca sendiri, bisa dipelajari sendiri,
dan bisa dimengerti sendiri. Lalu apa sebenarnya manfaat sekolah dalam keadaan
yang demikian itu?
Sistem pendidikan yang ada di Indonesia, secara prakteknya belumlah mampu
menunjukkan bahwa sistem yang ada di Indonesia benar-benar adalah sistem
PENDIDIKAN dan bukan sebatas PENGAJARAN.
Belum lagi di tambah dengan kualitas guru atau dosennya.
Adakah mereka selalu meng up date ilmu yang mereka punyai?
Sayang banget ketika ada fenomena seorang guru yang 5 tahun mengajar, buku yang
dipakai ya itu-itu saja, dan buku yang dibaca juga yang itu-itu saja.
Seolah-olah dia pinter sekali ketika mengajar, hanya gara-gara dia sudah hafal
apa isi buku yang selama 5 tahun dipegang dan disampaikan kemurid-muridnya.
Ironis banget !
Lalu bisa kita bayangkan, bagaimanakah kualitas siswanya jika gurunya seperti
itu?
Ada guru yang pintar tapi tak bisa mengajar...
Ada guru yang tak pintar tapi mampu mengajar...
Ada pula guru yang pintar mampu mengajar tapi tak ada kesempatan berkembang...
Buku tak mampu beli, sekolah lagi...apalagi..he..he..
Sibuk untuk menutup kekurangan biaya dapur yang harus terus mengepul..
Sibuk untuk mencari tambahan gaji ketika dompet dan saku tak lagi bisa terisi
....
Seandainya kita memakai landasan pendidikan adalah pembelajaran afektif,
kognitif dan psikomotorik pada siswa didik, maka sudah semestinya guru-gurulah
yang pertama kali di didik, yang pertama kali mendapatkan pendidikan, tentang
apa itu pendidikan sendiri, tentang bagaimana metoda yang sebaiknya digunakan,
tentang style penyampaikan sebuah pelajaran, dan tentang bagaimana meningkatkan
kualitas sang guru sendiri. Tentu saja secara afektif, kognitif dan
psikomotorik juga melandasi recruitment dari guru yang bersangkutan. Bukan soal
kemampuan mereka dalam rangka transfer of knowledge saja, melainkan bagaimana
guru yang bisa "digugu dan di tiru" itu? bagaimana kemampuan aplikasi dari sang
guru terhadap ilmu yang akan disampaikan nanti?
Tak lupa tentu saja, kemampuan guru di dalam memahami mental psikologi
murid-muridnya mestilah di miliki, kemampuan memahami kondisi mental
murid-muridnya mestilah dimiliki.
Juga kemampuan di dalam berkomunikasi dengan sang murid, kemampuan
berkomunikasi untuk menyampaikan materi, dll,dlsb..
Bisa kita bayangkan sekarang ini, banyak guru-guru yang mengajar tapi tidak
memahami konsep dari pendidikan, lalu mau dibawa kemanakah murid-muridnya?
Ketidak lulusan murid bukan sepenuhnya karena kebodohan murid, melainkan lebih
banyak dipengaruhi oleh kemampuan guru mendidik dan bagaimana sistem pendidikan
itu sendiri bisa menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Dan tanggung jawab pemerintah di dalam masalah ini sebagaimana amanat tujuan
bangsa yakni "mencerdaskan kehidupan bangsa"
Sudah waktunya PENGAJARAN yang sekarang ini dilakukan dikembalikan lagi menjadi
PENDIDIKAN. Dengan di awali MENDIDIK guru-guru yang bertugas supaya mereka
benar-benar bisa mendidik murid-muridnya...dan bukan hanya mengajar
murid-muridnya...apalagi menghajarnya..:)
sebuah renungan Senin
huttaqi
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Sistem Pendidikan Nasional, Nuansa Auliya, Bandung, 2005,hal.11.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/