Diskusi via Email antara Koordinator JIL (Ulil Abshar Abdalla) dengan
Orang Awam 


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: ingin tahu
To: [EMAIL PROTECTED]

Salam sejahtera untuk Anda dan rekan2 semua. Saya ingin mengetahui
lebih mendalam tentang pemikiran Islam Liberal. Sejujurnya, saya adalah
orang yang awam, yang tidak pernah mengecam pendidikan formal yang
tinggi, baik dalam ilmu agama maupun umum. Saya hanya lulus SMA, pernah
sempat kuliah di PT dan D3 tapi semuanya putus di tengah jalan. Saya
lebih senang belajar mandiri (autodidak) terutama lewat membaca
buku-buku, baik buku umum, terutama buku agama (Islam). Oleh karena
saya orang awam, saya mengharap uraian Anda tidak dengan bahasa yang
sukar (njlimet). Sesuai dengan pesan Rasulullah saw: "Berbicaralah
kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka!" Saya rasa Anda
menerima Hadits di atas, karena Hadits tsb agaknya tidak bertentangan
dengan ilmu psikologi komunikasi modern. Dan setahu saya JIL menerima
hal yg demikian. Mudah2an Anda bersedia membagi pengetahuan dengan saya
yg awam ini dan terimakasih sebelumnya.

Wassalam,


YusufDate: Mon, 13 Dec 2004 10:45:36 -0800 (PST) 
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Re: ingin tahu 
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]> 

Salam,
Silahkan mengunjungi situs JIL www.islamlib.com. Semua bahan-bahan yang
anda butuhkan tentang JIL ada di sana.

Selamat membaca!

UlilDate: Tue, 14 Dec 2004 17:03:34 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: tentang kalian
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Setelah saya membuka-buka dan menelaah beberapa link dalam situs
islamlib (utamanya link "Tentang Kami"), saya akhirnya mengambil
kesimpulan mengenai Islam Liberal sbb: 

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran terhadap Islam secara
bebas dengan mengabaikan aqidah dan qaidah yang ada dalam Islam itu
sendiri. Sistim pemikiran seperti ini jelas bathil dan sesat. Kenapa
demikian? Begini logikanya:

a. Semua upaya penafsiran (pemikiran) sebebas apapun dia, tentu
menggunakan metode, kaidah atau proses berpikir tertentu; kalau tidak
demikian, itu bukan tafsir sebagai buah pikir melainkan lebih pantas
disebut ngawur, nglantur atau nglindur. Kesimpulannya, tidak ada
pemikiran yang bebas nilai, dia harus menggunakan kaidah berpikir
tertentu agar diakui sebagai buah dari suatu proses berpikir. 

b. Islam memiliki sejumlah nilai-nilai (aqidah dan qaidah) itu pasti
(dan itu diakui oleh JIL sendiri), terlepas dari adanya sejumlah
perbedaan pendapat terhadap beberapa materi dalam aqidah/qaidah
tersebut. Nilai-nilai itulah yang harus digunakan agar buah pemikiran
(penafsiran) kita terhadap Islam mendapat pengakuan sebagai bagian dari
Islam. Sebagaimana halnya sebuah karya ilmiah dalam bidang ilmu
tertentu, tidak akan mendapat pengakuan apa-apa bila tidak menggunakan
metode ilmiah yang sesuai dengan bidang pembahasan karya tersebut,
apakah itu fisika, sosiologi dan lainnya. 

c. Nah, karena JIL tidak menggunakan aqidah dan qaidah Islam secara
disiplin dan konsisten (kecuali yang sesuai dengan selera berpikirnya)
dalam melakukan penafsiran bagaimana mungkin layak untuk diterima
sebagai bagian dari Islam. Bahkan sudah sepantasnya kalau menurut Islam
- sekali lagi menurut Islam - JIL adalah sesat dan keluar dari Islam;
meskipun menurut pemikiran liberal sah-sah saja. Jadi, bertaubatlah!

"Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai
permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Dan
peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri
tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri..." (QS
6:70)

"Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda
gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka maka pada hari (kiamat)
ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan
mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mendebat
ayat-ayat Kami." (QS 7:51)

Wassalam,


YusufDate: Sun, 19 Dec 2004 22:40:10 -0800 (PST)


From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: tentang kalian
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>

Salam,
Sebaiknya anda belajar dan membaca lebih banyak agar tidak mudah
menganggap bathil suatu ide.

Islam tidak membutuhkan orang-orang yang picik-pikiran dan suka
menyesatkan sesama Muslim.

Baca lagi dan baca lebih banyak lagi.

UlilDate: Mon, 20 Dec 2004 17:58:17 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: picik
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Saya sangat setuju dengan anjuran anda utk banyak membaca (itu hobi
saya). Tapi tolong jawab pertanyaan saya: 

Apakah menerima semua pendapat atau tidak menolak satupun pendapat
adalah syarat utk terhindar dari picik-pikiran? 

Apakah tidak ingin dikatakan sesat bukan salah satu bentuk
picik-pikiran? 

Lebih jauh lagi (saya ingin tahu aqidah kaum liberal); apakah menurut
anda tidak ada dikhotomi antara haq dan bathil, benar dan salah, lurus
dan sesat?

Wassalam,


YusufDate: Mon, 20 Dec 2004 19:26:11 -0800 (PST)


From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Re: picik
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>

Salam,
Anda boleh menerima atau menolak pikiran atau ide. Tetapi tidak berhak
menyesatkan suatu ide. Itu bukan cara yang baik untuk berdiskusi.
Apalagi anda hanya membaca sekelumit pikiran, dan dengan gampang
menuduh suatu pikiran yang sekelumit itu sebagai sesat. Ini adalah
model Islam a la Hartono Ahmad Jaiz (anda kenal, pengarang buku "Paham
Sesat dalam Islam" itu?). Paham Hartonoisme ini yang membuat situasi
diskusi dalam Islam menjadi tidak kondusif, karena dengan mudah
sesorang disesatkan, dikafirkan, disyirikkan, dst. 

Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas
Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak
selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba
untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa
mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan
adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang
dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu, sesat-menyesatkan seperti yang anda
lakukan adalah bertentangan dengan semangat dasar Islam sebagaimana
dipahami oleh kaum liberal. Kamu mengikuti semangat yang dikembangkan
oleh para mujtahid dahulu, "Ra'yuna shawabun yahtamilul khatha', wa
ra'yu khashmina khtha'un yahtamilush shawab." 

Anda boleh mengkritik paham Islib. Kami juga mengkritik pemahaman
kelompok-kelompok Islam lain. Tetapi kami tidak setuju dengan
sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan. Sebab, kami menganggap bahwa
jalan kebenaran menuju kebenaran adalah banyak. Bukan hanya satu. Islam
satu, yes. Tetapi dipahami secara beda-beda. Tuhan satu, yes. Tetapi
cara manusia mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda. Qur'an satu,
yes. Tetapi tafsirnya beda-beda. Saya menolak anggapan bahwa satu jenis
tafsir atau pemahaman adalah paling benar, dan yang lain dianggap
sesat. 

Islam liberal tidak pernah mendaku, sebagaimana kaum Islam
fundamentalis, bahwa dirinya paling benar.

Kita semua adalah "salik", dalam istilah tasawwuf, pejalan-kaki yang
sedang mencari kebenaran. sementara jalan menuju kepada kebenaran itu
banyak ragamnya.

Terakhir, apakah ada dikotomi antara "haq" dan "bathil"? Jelas ada.
Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut,
itulah masalah dasarnya. Orang-orang dengan semangat Hartonoisme akan
dengan mudah menuduh bahwa pendapat-pendapat yang berlawanan dengan
dirinya adalah bathil. Inilah yang terjadi dalam Islam selama ini:
semua kelompok menganggap dirinya yang paling haq, yang lain bathil.
Orang Sunni menganggap orang Syiah bathil, begitu juga sebaliknya. Di
dalam Sunni sendiri, masing-masing kelompok membathilkan kelompok yang
lain. Bagi saya, Islam menjadi buruk citranya karena hal-hal semacam
ini.

Islam liberal menghendaki bentuk pemahaman Islam yang lain, yakni
pemahaman yang menempatkan semua perbedaan firqah, mazhab, isme,
pandangan, ideologi, aliran dan lain-lainnya sebagai sebuah kekayaan
Islam, dan tidak boleh disesatkan atau dikafirkan. Hanya dengan begitu
Islam menjadi suatu peradaban yang kaya. Islam akan menyempit menjadi
agama yang kerdil jika orang-orang yang berpandangan picik bahwa
pemahamannya sendiri adalah paling benar (seperti anda?) marak di
mana-mana, jika Hartonoisme berkecambah dan bertambah-tambah.

Semoga penjelasan ini mencukupi.

UlilDate: Tue, 21 Dec 2004 18:27:55 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: baru awal
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Terima kasih, karena pemahaman saya ttg pemahaman kaum liberal semakin
bertambah. 

Namun penjelasan anda bukannya mencukupi justru baru merupakan awal
dari diskusi kita yg mungkin akan memanjang dan melebar. Saya harap
anda tetap bersabar meladeni.

Ungkapan2 yg anda kemukakan memang sepintas cukup indah dan
menyejukkan, namun sesungguhnya sangat lemah dan menggelikan. Satu
contoh saja: imbauan anda agar tidak ada yg disesatkan atau dikafirkan
karena Tuhan satu tapi cara mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda;
kita adalah pencari kebenaran dan jalan utk menuju kebenaran itu banyak
ragamnya. OK!

Taruhlah, jalan menuju Tuhan dan Kebenaran itu beragam dan
berbeda-beda, tapi apakah diantara sekian banyak jalan itu tidak ada
yang sesat? Apakah aliran "seks bebas" dan "bunuh diri massal" dengan
alasan ritual penyembahan kpd Tuhan, tidak bisa dikatakan sesat? 

Bisa saja anda dengan kemampuan berolah-kata sedemikian rupa dapat
mengelak penggunaan cap "sesat" terhadap aliran seperti itu; dengan
mengatakan itu adalah bentuk "pencarian Tuhan yg belum selesai" atau
"kebebasan berekspresi di hadapan Tuhan yg kebablasan" atau "puncak
kegilaan manusia dalam ber-Tuhan" dan seabrek jungkir-balik dansa
bahasa yg lainnya; namun saya kira kita dan ummat manusia sedunia tetap
saja lebih mudah menerima penggunaan kata "sesat" thd mereka. 

Nah, kalau kita (atau kebanyakan kita) bisa menerima cap "sesat" thd
golongan2 "kebablasan" semacam itu, mengapa kita harus menolak
penggunaan kata "sesat" thd sejumlah golongan2 tertentu meski dg kadar
dan tingkat kesesatan yg berbeda-beda? Spt ungkapan Tuhan dlm al-Quran
ttg "kecondongan yg sedikit" dengan kalimat "... laqad kidta tarkanu
ilaihim syaian qalilan" [QS 17:74] dan "kesesatan yg jauh" dengan
kalimat "... faqad dhalla dhalalan ba'idan" [QS 4:116].

Itu hanya satu contoh komentar saya thd uraian anda. Komentar2 yg
lainnya saya simpan dulu agar diskusi kita tidak terlalu memanjang dan
melebar. 

Di atas saya katakan ini baru awal dari diskusi kita karena saya
melihat titik pangkal pembicaraan yg mudah2an bisa mengurai benang atau
jaring kusut dari pemikiran "Jaringan Ummat Liberal" (usul saya JIL
berganti nama dulu menjadi JUL). Titik awal diskusi kita adalah ucapan
anda: ".... apakah ada dikotomi antara haq dan bathil? Jelas ada.
Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut,
itulah masalah dasarnya." Yah, itulah masalah dasarnya. Kalau begitu,
apa defenisi kaum liberal sendiri ttg al-haq dan al-bathil?

Wassalam,


YusufDate: Tue, 21 Dec 2004 19:39:49 -0800 (PST)


From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Re: baru awal
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>

Salam,
Setahu saya, yang suka bermain silat lidah, dan bermain dengan retorika
bahasa yang seolah-olah meyakinkan adalah kaum fundamentalis. Ayat dan
hadis kerap dihambur-hamburkan. Satu dua kalimat langsung penuh sesak
dengan kutipan-kutipan dari Kitab Suci. Seolah-olah suatu pembicaraan
yang penuh dengan ayat suci akan benar dengan sendirinya. 

Saya belajar di pesantren. Pengalaman yang saya perolah dari pesantren
adalah: kiai-kiai saya jarang mengutip ayat dan hadis, karena mereka
khawatir keliru menafsirkan. Paling jauh mereka mengutip pendapat ulama
atau kiai yang lain. Kalau pun keliru, tak apa-apa, toh mereka manusia.
Itulah pengalaman yang membekas pada diri saya hingga sekarang. Dan
itulah yang membuat saya agak "muak" melihat kaum fundamentalis di
kampus-kampus yang setiap bicara selalu memercikkan ayat dan hadis di
mana-mana. 

Ayat dan hadis bisa mengalami inflasi jika diobral dengan cara
demikian. 

Kembali ke pokok soal yang anda (saya tak mau pakai kata "antum" a la
kaum fundamentalis di Jakarta) persoalkan. Soal kebebasan menafsir. 

Kebebasan menafsir sudah menjadi kenyataan dan fakta dalam sejarah
pemikiran Islam. Itu terjadi dari sejak zaman sahabat dan makin
berkembang pada generasi-generasi ulama yang datang belakangan. Ribuan
tafsir dari pelbagai sudut pendekatan ditulis oleh ulama. Ada tafsir
yang liberal atau yang literal. Ada tafsir dengan pendekatan sufi yang
sangat "bebas" dan ada tafsir "bil ma'tsur" a la "al-Durr al-Mantsur"
yang sangat taat dengan pemahaman harfiah. 

Ribuan tafsir itu tak mungkin ditulis jika tak ada kebebasan
berpendapat dan berpikir dalam Islam.

Yang saya kaget, umat Islam sekarang, yang umumnya tak belajar tradisi
pemikiran Islam yang kaya, tiba-tiba membenci kebebasan berpikir.
Ada-ada saja alasannya. Salah satu alasannya: kebebasan berpikir itulah
yang menyebabkan Iblis terjatuh dan sesat. Sebab Iblis memakai
pikirannya sendiri dan menolak perintah Tuhan. Ketauhilah saudaraku,
argumen ini sudah pernah dipakai oleh para ulama dahulu yang menentang
penggunaan qiyas atau silogisme, tetapi toh ulama lain tak terpengaruh
dengan pendapat ini, dan tetap menganggap qiyas sebagai salah satu asas
penting dalam istinbath hukum.

Alasan lain yang paling populer, dan tampaknya di sinilah anda (sekali
lagi bukan "antum") terjatuh, adalah bahwa jika kebebasan berpikir
dibiarkan, maka orang akan cenderung kebablasan. Apakah demi kebebasan
berpikir "seks bebas" dihalalkan? Apakah demi kebebasan, cara-cara
ibadah dengan bunuh diri massal diperbolehkan? Kalau semua pendekatan
kepaa Tuhan adalah sah, apakah cara "gila" yang ditempuh oleh sekte
seperti "Ranting Daud" itu absah?

Dan seterusnya. 

Saya sungguh heran dengan tanggapan semacam ini. Orang-orang yang
berjuang untuk tagaknya kebebasan pikiran, baik di Barat atau di Timur,
tidak pernah berpikir bahwa hal itu untuk menghalalkan "seks bebas".
Yang patut dicurigai adalah, kenapa soal seks begitu mengganggu pikiran
umat Islam. Apakah mereka begitu "ngeres" pikirannya, sehingga dipenuhi
dengan seks melulu?

Kenapa hal yang pertama terlintas di pikiran anda begitu mendengar soal
"kebebasan berpikir" adalah soal seks? Apakah anda mempunyai masalah
dalam hal ini (maaf)?

Semua agama, bukan hanya Islam, mengharamkan zina. Semua agama
mengharamkan pembunuhan, pencurian, berbohong, menipu, bersikap tak
hormat pada orang tua, dst. Apa yang dalam tradisi Yahudi disebut
sebagai "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement) adalah merupakan
ajaran-ajaran yang universal, bukan saja dalam agama Yahudi tetapi juga
Islam dan agama-agama lain. Praktek-praktek penyembahan agama yang
melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama
besar. 

Di negeri-negeri yang menjunjung tinggi pemikiran yang bebas, pencurian
dan pembunuhan tidak dengan sendirinya halal demi kebebasan berpikir. 

Di sinilah saya percaya, bahwa akal manusia dan wahyu Tuhan sebetulnya
bertemu dalam satu titik. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taymiyah
sebagai "Muwafaqat Sharihil Ma'qul li Shahihil Manqul". 

Bagaimana jika wahyu dan akal bertentangan?

Saya mengikuti pendapat Ibn Rushd, seorang filosof dan ahli fikih dari
abad 13 M, dalam "Fashl al Maqal Fi Ma Baina al Hikmati was Syariati
min al Ittishal". Menurut dia, jika ada pertentangan antara keduanya,
maka wahyu harus ditakwil. Tetapi, hal ini harus dilihat dengan cermat.
Tidak semua pendapat akal manusia dengan sendirinya sah. Hanya pendapat
yang dalam istilah Ibn Taymiyah disebut "sharih", pendapat yang
dilandasi dengan argumen yang kokoh, dan bukan sekedar memperturutkan
hawa nafsu belaka, yang dapat dipertimbangkan.

Apa pendapat yang "sharih" itu? Ibn Rushd sendiri tidak menetapkan
suatu ancar-ancar. Bagi saya, ancar-ancar itu tidak ketat, kaku, sebab
pada akhirnya yang menentukan sebuah pendapat masuk akal dan tidak
adalah kalangan cerdik pandai sendiri. Ibn Rushd sendiri sudah
mengatakan dalam "Bidayat al Mujtahid" bahwa "al nushush mutanahiyah wa
al waqai' ghairu mutanahiyah", teks-teks agama dan wahyu terbatas
jumlahnya, sementara situasi sosial terus berubah. Bagaimana mungkin,
kata Ibn Rusdh, sesuatu yang terbatas akan mengatasi yang tak terbatas.
Di situlah akal manusia dan kebebasan berpikir diperlukan. 

Tentang masalah "haq" dan "bathil", jelas hal itu ada. Yang menjadi
soal adalah orang-orang yang sejenis dengan anda yang mudah
"membathilkan" pandangan orang-orang yang berbeda. Anda menyebut JIL
bathil? Atas dasar apa? Atas dasar kutipan ayat dan hadis yang
berhamburan dengan seenaknya itu? Apakah kalau sudah mengutip ayat lalu
selesai? Bukankah ayat bisa ditafsirkan macam-macam.

Ambil contoh ayat berikut ini. Ada ayat yang berbunyi, "La tudrikuhul
abshar wa huwa yudrikul abshar wa huwal lathiful khabir". Ayat itu,
kira-kira, isinya adalah bahwa Tuhan itu begitu lembut sehingga tak
bisa dilihat oleh mata. Oleh karena itu, manusia tak akan bisa melihat
Tuhan, meskipun di sorga. Atas dasar ayat inilah kaum Mu'tazilah
menolak kemungkinan manusia melihat Tuhan di sorga. 

Tetapi ada ayat lain, "Wujuhun yauma-idzin nadhirah, ila rabbiha
nadlirah". Ayat itu kira-kira isinya adalah bahwa orang-orang yang
beriman, di sorga nanti, akan melihat Tuhan. Atas dasar inilah kaum
Asyariyyah berpendapat bahwa manusia mungkin melihat Tuhan di sorga. 

Bagaimana anda mendamaikan antara kedua ayat itu. Kaum Mu'tazilah pakai
ayat. Kaum Asyariyah pakai ayat. Mana yang benar.

Intinya, belum tentu kalau anda memakai ayat dan hadis dengan
sendirinya anda sudah bisa menyudahi diskusi dan menuduh yang lain
salah, sesat, bathil, murtad, kafir, dst.

Saya mengakui adanya yang "haq" dan yang "bathil". Tetapi saya, sebagai
manusia, mempunyai pengetahuan yang terbatas, dan saya tak layak dengan
begitu mudah menyalahkan dan membathilkan pendapat lain. Yang saya
lakukan hanyalah mengkritik, tetapi saya tidak akan pernah sampai pada
kesimpulan bahwa pendapat lawan saya bathil, kecuali jika pendapat itu
jelas-jelas melawan akal sehat. Kalau ada orang berpendapat bahwa
membunuh adalah halal, jelas itu batal, dari sudut pandang apapun.
Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa cara beribadah orang Kristen
dan Hindu adalah batal. 

Dalam menghukumi sesutau "bathal" atau "haq", kita harus memakai dua
instrumen: wahyu dan akal. Tidak bisa hanya dengan wahyu. Oleh karena
itu, saya keberatan sekali dengan tindakan ceroboh para kaum
fundamentalis yang mengobral ayat dan hadis, tetapi mengabaikan
penalaran akal sehat.

Ala kulli hal, apa yang saya tulis ini belum tentu benar. Sebab hanya
Allah lah yang tahu mana yang benar mana yang salah. Kita hanya
berusaha untuk benar.

UlilDate: Wed, 22 Dec 2004 17:47:45 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: akal-sehat
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Membaca email anda yg lalu, kesan yg saya tangkap adalah uraian anda
lebih banyak merupakan curahan perasaan dan emosi yg campur-aduk
(kesal-muak-sinis-kaget-bingung jadi satu). Saya mengerti perasaan anda
dan saya turut prihatin dg kekesalan dan kebingungan anda. Namun upaya
saya utk sedikit menjernihkan dan menenangkan arus pemikiran kita agak
terhambat dg curahan pemikiran (dan emosi) anda yg cukup deras.
Barangkali memang begitu cara berpikir dan model diskusi anda dan
komunitas anda di utan kayu. Hanya saja saya tak ingin ber-su'u zhann
dengan mengatakan bahwa itu salah satu cara anda mengacaukan
konsentrasi orang yg ingin berpikir lurus-lurus saja.

Tapi tak apalah, mari kita kembali mengurai benang kusut ketimbang
berlarut-larut dlm emosi dan ratapan thd ummat Islam yg memang (saat
ini) sedang centang-prenang. Benang-merah uraian kita masih seputar
"kebebasan berpikir" dlm kaitannya dg haq & bathil, benar & salah,
lurus & sesat. 

Ada sedikit kemajuan, karena sepertinya anda sudah mengakui adanya
jalan beragama yg sesat dan bathil dg pernyataan anda: "....
praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan
dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar". Meskipun anda belum
berani (atau masih malu) menggunakan kata "sesat" di situ, tapi
maksudnya kurang lebih sama; karena jika semua agama-agama besar adalah
"jalan yg benar" (menurut anda) berarti apa yg "ditolak" oleh mereka
adalah "jalan yg salah". Salah jalan = sesat. Alaisa kadzalik?

Nah, satu jalinan benang kusut telah berhasil kita tarik simpulnya
yaitu memang ada jalan yg benar dan ada jalan yang sesat atau "salah
jalan" (bila anda tidak tega menggunakan kata "sesat"). Sayangnya,
kriteria benar dan sesatnya suatu jalan beragama anda serahkan begitu
saja (tanpa jelas dalil dan argumennya) pada dua hal yaitu "akal-sehat"
dan "nilai-nilai universal" yaitu nilai-nilai yg terdapat dlm semua
agama. Di sini pemikiran kita saling kusut lagi. Mari kita coba uraikan
jalinan benang kusut ini dengan menarik suatu titik-temu yg kita
sepakati bersama. 

Dalam beberapa bagian tulisan anda dalam email-email yg terdahulu anda
telah memberikan suatu kesimpulan yg sangat berharga ttg "aqidah" kaum
liberal yaitu bahwa "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak
bersumber dari Tuhan". Kalau memang demikian pengakuan dan keyakinan
anda, bagaimana kalau kita katakan saja (karena di titik ini pikiran
kita sepakat) bahwa: 

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi
akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain
ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Anda setuju dengan pernyataan di atas?

Wassalam,
YusufDate: Thu, 23 Dec 2004 09:26:54 -0800 (PST)


From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Re: akal-sehat
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>

Salam,
Dari mana anda menyimpulkan sejak awal bahwa dalam perspektif Islam
liberal tidak ada yang "salah" dan "benar"? Tidak ada "haq" dan
"batil"? 

Sudah tentu hal itu ada. Yang membedakan anda dengan kaum Muslim
liberal seperti saya adalah batasan mengenai dua istilah itu. 

Aqidah kami adalah: Islam bukan satu-satunya agama yang benar, dan
bukan pula paling benar. Maksud saya "Islam" sebagai nama agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad. Kami memandang bahwa kebenaran tersebar
dalam semua agama. Oleh karena itu, kami tidak akan memandang agama
lain sebagai bathil. 

Ada standar universal tentang kebathilan. Hal itu tampak dalam hal-hal
yang baik secara wahyu atau akal sehat dianggap batal, seperti tindakan
kejahatan yang terkandung dalam "Sepuluh Perjanjian" (Ten
Commandement). 

Belum tentu hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan yang secara
harafiah tertera dalam Quran adalah batil. Misalnya, hukuman penjara
bagi pencurian yang menurut fiqh sudah memenuhi syarat untuk dikenai
hukum potong tangan.

Kenapa demikian? Sebab, dalam kerangka bepikir kami, tidak semua hal
yang secara harafiah tercantum dalam Qur'an mesti kita ikuti secara
harafiah pula. Kenapa demikian, kita diskusi di lain kesempatan (kalau
saya ada waktu).

Sekarang saya akan menanggapi pernyataan anda di bawah ini: 

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi
akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain
ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Apa yang anda maksudkan dengan "jalan agama"? Apakah jalan itu
menyangkut ibadah, mu'amalah, akhlaq, adab, atau apa? Sebab agama
memiliki dimensi yang kompleks. Di level mana anda mau berbicara?

Apa yang anda maksudkan dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan"?
Bisakah anda menggunakan istilah yang jauh lebih standar dalam keilmuan
Islam? Sebab istilah "kriteria Tuhan" sama sekali tidak jelas. 

Saya tak akan menjawab pertanyaan anda ini kalau anda tidak menjelaskan
masalah itu dulu.

UlilDate: Thu, 23 Dec 2004 19:42:39 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: kriteria agama
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Saya cukup surprise mendengar pernyataan anda bahwa agama memiliki
dimensi yang sangat kompleks. Tadinya saya menganggap kaum liberal
mempersempit makna agama pada tataran moral saja. Syukurlah kalau
begitu! Bila anda meminta saya memperjelas di level mana kata "agama"
yang saya maksud dalam kalimat: 

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi
akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain
ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."

Maka saya katakan bahwa sebenarnya yg saya maksud adalah "agama" dlm
arti yg seluas-luasnya (di semua lini kehidupan). Tapi agar diskusi
kita tidak terlalu melebar sehingga bertele-tele (apalagi anda sedang
sibuk, mungkin ikut seminar natal dsb) maka dalam diskusi kali ini saya
membatasi pada level "aqidah" atau "kepercayaan" saja dulu. 

Adapun yg saya maksud dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan"
tidaklah terlalu muluk-muluk, anda tidak usah bingung. Persis seperti
pengertian kriteria yg terdapat dalam kamus-kamus (kriteria = standar,
ukuran, patokan, norma). Dalam kaitannya dengan Tuhan dan Agama berarti
kepercayaan dan amalan apa saja dalam beragama yg harus dimiliki oleh
seseorang untuk mendapatkan ridha Tuhan. Kalau anda meminta istilah yg
lebih islami (ehm...) ya Rukun Iman dan Rukun Islam itu. Tapi saya kira
seorang liberalis sejati macam anda lebih senang menggunakan istilah yg
universal. 

Nah, kalau kedua pengertian di atas kita gabung maka pernyataan tadi
bisa diperjelas sebagai berikut:

"Tidak ada standar, ukuran, patokan dan norma yang terbaik dan tersehat
(bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu kepercayaan
(aqidah) dalam agama selain standar, ukuran, patokan dan norma yang
ditetapkan oleh Tuhan."

Sekali lagi: apakah anda setuju dengan pernyataan di atas? Kalau anda
memang sedang super sibuk, cukup dijawab dengan dua huruf "YA" atau
"NO".

Wassalam,
YusufDate: Fri, 24 Dec 2004 06:23:30 -0800 (PST)


From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: kriteria agama
To: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>

Salam,
Jelaskan dulu, apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam masalah
akidah.

Urusan akidah dalam Islam tidak sesimpel yang anda bayangkan.
Pertengkaran pendapat luar biasa hebatnya. Banyak sekte timbul di sana.
Masing-masing mendaku sebagai paling benar, paling sesuai dengan
kriteria Tuhan.

Apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam akidah? Apa saja
isinya?

UlilDate: Sun, 26 Dec 2004 18:37:04 -0800 (PST)


From: "yusuf anshar" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: kesimpulan dan saran
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>

Meskipun anda tidak menjawab dengan "ya" atau "no" tapi dari tema baru
yg anda angkat dapat disimpulkan bahwa anda setuju dan memang tidak
bisa tidak, anda mesti setuju dg pernyataan tsb. Karena pernyataan tsb
adalah konsekuensi logis dari prinsip kaum liberal sendiri bahwa:
"produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari
Tuhan". Saya bertanya "setuju atau tidak" hanyalah utk mengingatkan dan
menegaskan kembali aqidah dan aksioma tsb. Karena siapapun yg ditanya -
asalkan dia tidak atheis - tentang siapa yg paling tahu (segala hal,
apalagi ttg agama) apakah Tuhan atau manusia; pasti akan menjawab
"Tuhan" tanpa perlu berpikir panjang lagi; meskipun diantara mereka
sendiri masih sibuk berdebat ttg "Tuhan". Yah, di situlah anehnya
manusia dan di situlah hebatnya Tuhan yg menciptakan manusia. 

Di bawah ini saya urutkan dulu kemajuan dan kesimpulan yg telah kita
capai dari diskusi ini:
1. Adanya jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama dan adanya jalan yg
bathil, salah, sesat dalam beragama. 
2. Tidak ada yang paling tahu ttg jalan yg haq, benar, lurus dalam
beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama selain
Tuhan. 

Bagaimana cara manusia mendapat ilmu Tuhan itu? Jawabannya ialah lewat
Wahyu. Orang yang mendapat wahyu dari Allah disebut Nabi atau Rasul.
Berhubung komunitas anda masih mengaku beragama Islam (paling tidak
berlabel Islam), maka Wahyu yg dimaksud dlm pembicaraan kita ini tidak
lain adalah wahyu terakhir (yakni al-Quran) yg diturunkan kepada Nabi
dan Rasul terakhir (yakni Muhammad saw).

Kalau demikian, berarti kesimpulan di atas kita tambah dengan
kesimpulan ketiga sbb:

3. Untuk mengetahui jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta
jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama kita harus merujuk pada
firman Allah dalam al-Quran dan sabda Rasul dalam al-Hadits. 

Sekarang barulah kita memasuki medan pertarungan sesungguhnya antara
semua golongan, sekte dan aliran yg mengaku diri Islam (termasuk JIL).
Medan pertarungan itu adalah: 

"Mana jalan beragama yg haq, benar, lurus dan mana jalan beragama yg
bathil, salah, sesat menurut Allah dan Rasul-Nya (menurut al-Quran dan
as-Sunnah)?"

Hal ini sesuai dengan - dan sudah mencakup - pertanyaan anda: bagaimana
kriteria dan materi aqidah dalam Islam? Menurut anda, aqidah Islam
tidak simpel, sengit dipertengkarkan hingga menimbulkan banyak sekte.
Bagaimana ini? 

Sebelumnya, ada dua prinsip dan fakta yg harus kita ingat:
1. Aqidah Islam (demikian pula aspek-aspek lain dlm Islam) adalah apa
yg dikatakan oleh al-Quran dan as-Sunnah, bukan apa yg dikatakan oleh
sekte-sekte ummat Islam.
2. Sekte-sekte tsb baru muncul jauh sepeninggal Nabi saw dan tidak kita
dapati di zaman Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Mengapa di zaman Nabi belum muncul sekte-sekte? Penyebabnya ada dua: 
1) Ketika itu wahyu masih turun dan penerima wahyu (yg punya otoritas
utk menjelaskannya) yaitu Nabi masih hidup. Sehingga semua pertanyaan
yg timbul seputar Islam akan dijawab langsung oleh "nara sumber
kebenaran" yakni Allah lewat lisan Nabi-Nya. 
2) Sikap para sahabat yg "sami'na wa atha'na" dan tidak suka bertanya
yg tidak perlu. Hal-hal yg berkaitan dengan aqidah yg disampaikan oleh
al-Quran dan al-Hadits langsung mereka imani dan yg berkaitan dengan
amaliyah langsung mereka amalkan. 

Perselisihan pendapat yg menjurus ke perpecahan mulai terjadi setelah
lenyapnya faktor pertama di atas (Nabi wafat). Kemudian dari zaman ke
zaman, perpecahan semakin menjadi-jadi hingga menimbulkan sekte-sekte,
seiring dengan makin lunturnya "watak sahabat" (faktor kedua) di
kalangan ummat Islam. Lemahnya iman, rendahnya ketaatan serta banyak
bertanya dan berdebat merupakan pintu gerbang terbesar (dari sisi
internal) bagi timbulnya sekte-sekte dlm Islam.

Adapun dari sisi eksternal, masuknya filsafat dlm tubuh ummat Islam
(disamping faktor politik) merupakan salah satu penyumbang terbesar
bagi maraknya sekte-sekte itu. Mengapa demikian? Pekerjaan filsafat
hanya dua, bertanya dan berdebat, berdebat dan bertanya, tak
putus-putusnya bagaikan "lingkaran setan" (karena bila berhenti berarti
tamatlah riwayat filsafat). Seandainya seluruh filsuf yg ada di dunia
dibebankan utk menuntaskan satu permasalahan saja sebelum berpindah ke
permasalahan selanjutnya, niscaya habis umur mereka dan habis umur
dunia, sedang mereka masih sibuk berpikir ttg "apa itu berpikir?".
(Rene Descartes yg sempat diduga mati bunuh-diri, terkenal dg ucapan
hampanya cogito ergo sum = aku berpikir maka aku ada. Kalau benar ia
bunuh-diri, mungkin saja ia ingin membuktikan kesimpulannya dan tidak
ingin kesimpulannya itu dipertanyakan lagi). Apalagi utk memikirkan ttg
"akal", alih-alih utk memikirkan ttg Sang Pencipta akal dan apa yg
dimaui Tuhan. Manakala cara filsafat dipakai dlm beragama niscaya kita
tidak akan mendapatkan hasil apa-apa selain kekufuran. Kenapa? Karena
agama diturunkan bukan utk itu (dipertanyakan dan diperdebatkan). Agama
diturunkan utk diimani dan diamalkan. (NB: filsafat dan turunannya
sebetulnya berguna untuk membahas sains, bukan agama).

Bercermin dari kedua fakta dan faktor penyebabnya di atas, maka dapat
kita simpulkan bahwa utk mengetahui ajaran Allah dan Rasul-Nya yg
benar, kita harus kembali ke masa awal Islam, melihat bagaimana para
sahabat pada umumnya (utamanya as-sabiqun al-awwalun, khususnya
al-khulafa' ar-rasyidun) mengimani dan mengamalkan al-Quran dan
as-Sunnah. Itulah Islam yg masih bersih dari distorsi dan kontaminasi
sekte-sekte dan penafsiran-penafsiran yg menyimpang. Bukankah anda
sendiri pernah berkata:

"Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas
Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak
selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba
untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa
mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan
adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang
dikehendaki Tuhan." 
(Saya kutip tanpa perubahan, dari email anda tanggal 20 Desember 2004).

Memang para sahabat termasuk dlm perkataan anda "kita adalah manusia
relatif". Tapi seperti yg saya kemukakan di atas, sikap para sahabat
terhadap al-Quran dan al-Hadits tidak seperti kita. Para sahabat tidak
suka bertanya dan berdebat, demikian pula tidak suka menakwil dan
menafsirkan. Apa yg mereka terima dari Allah dan Rasul-Nya (al-Quran
dan as-Sunnah) mereka sikapi dengan iman dan amal. Sehingga apa-apa yg
mereka sepakati (ijma' para sahabat) bukanlah hasil penafsiran dan
pemahaman pribadi mereka melainkan hasil dari sikap mengimani dan
mengamalkan apa-apa yg disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ijtihad
baru mereka lakukan manakala menemukan hal-hal baru yg tidak mereka
dapati (secara eksplisit) dalam al-Quran dan as-Sunnah, itupun dengan
cara yg sangat hati-hati dan tetap berlandaskan aqidah dan kaidah yg
mereka dapati dlm al-Quran dan as-Sunnah. 

Dari uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan keempat yg merupakan
hasil akhir dari diskusi kita yaitu: 
4. Jalan beragama yg haq, benar, lurus menurut Allah dan Rasul-Nya
adalah jalan beragama sebagaimana yg telah disepakati (ijma') oleh para
sahabat Rasulullah saw sedang jalan beragama yg bathil, salah, sesat
adalah jalan beragama yg bertentangan dengan kesepakatan (ijma') para
sahabat Rasulullah saw. 

Keempat kesimpulan di atas - kalau anda menelaah baik2 diskusi kita
dari awal hingga kini - pada dasarnya disarikan dari prinsip2 atau
pernyataan2 anda sendiri. Jadi saya hanya mencoba memetakan kembali
prinsip2 anda dalam bingkai Islam yg terlepas, sementara anda sendiri
tidak mau melepaskan label "islam" dari nama jaringan anda (entah
karena pertimbangan strategis duniawi ataukah ukhrawi; Allahu A'lamu). 

Sekarang mari kita introspeksi. Adakah diantara para sahabat yg tidak
menganggap kafir orang yg mempertuhankan Yesus Kristus? Adakah diantara
al-khulafa' ar-rasyidun yg mengkafirkan sesama mereka sebagaimana
Syi'ah yg mengkafirkan Abubakar dan Umar? Adakah diantara para sahabat
yg menghalalkan wanita muslimah menikah dengan pria non-muslim?
Bagaimana dengan komunitas anda?

Benang dan jaring kusut JIL telah saya uraikan sehingga terpisahlah
tali Islam dari tali liberal dengan empat simpul di atas. Kini
terpulang kepada anda, mau memegang tali yang mana. "Al-haqqu min
rabbika faman sya-a falyu'min wa man sya-a falyakfur". Saya tidak bisa
berbuat apa-apa lagi selain memberikan saran dan imbauan berikut: 

1. Bila anda mau berpegang dengan keempat asas di atas, berarti anda
harus menanggalkan pemikiran liberal anda yg bertentangan dengan ijma'
atau kesepakatan kaum muslimin. Andaikata itu terjadi, saya menyarankan
agar anda mengganti nama JIL menjadi JMP (Jaringan Muslim Progresif)
misalnya. Seorang muslim yg progresif (berpikiran maju) tidak mesti
menanggalkan aqidah dan qaidah keislaman mereka. Anda bisa membahas
berbagai isu-isu aktual seputar ummat Islam dengan jujur, terbuka dan
kritis tanpa perlu melanggar ajaran Islam. 
2. Bila anda tidak mau melepaskan pemikiran liberal anda, maka anda
harus melepaskan label "Islam" dari nama komunitas anda; misalnya
menjadi JUL (Jaringan Ummat Liberal).
3. Bila anda tidak mengindahkan salah satu dari kedua saran di atas,
berarti anda tetap berpegang dengan tali liberal yg kufur dan
melilitkannya dengan tali Islam sehingga menghasilkan pemikiran yg
kusut dan sesat lagi menyesatkan banyak kaum muslimin. Inna lillahi wa
inna ilaihi raji'un.

Wassalam, 
Yusuf 


Diskusi berakhir sampai di sini; ditandai dengan tidak dibalasnya email
yang terakhir ini. Sebelum memuat (mempublikasikan) diskusi ini di
website, Yusuf Anshar terlebih dahulu mengirim email "pemberitahuan"
kepada Ulil Abshar Abdalla tentang akan dipublikasikannya diskusi ini.
Namun ternyata email "pemberitahuan" itu tidak kunjung dibalas pula.


"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"Leo ImanovAbdu-lLahAllahsSlave


                
___________________________________________________________ 
The all-new Yahoo! Mail goes wherever you go - free your email address from 
your Internet provider. http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke