Link:
  http://blog.360.yahoo.com/blog-pfQ6q7EjeqLvcsnwWgb6rrCA?p=10&n=28500
   
   
  Gaza
   
  "Palestina": mungkin ini sepatah kata dengan gema kehilangan, dan jadi 
penting justru karena kehilangan, di zaman ini.  Ketika tank-tank 
Merkava Israel memasuki wilayah Gaza akhir Juni 2006, dunia mendengar 
gema kata itu kembali, dengan rasa ngilu. "Lihat," Israel yang menyerbu 
itu seakan-akan menegaskan, "orang Palestina boleh merasa punya 
pemerintahan dan negara tersendiri, tapi itu hanya fiksi!"
   
  Mungkin Mahmoud Darwish juga yang benar. Penyair Palestina itu menulis 
baris ini dalam sajaknya:  "Kami bepergian seperti orang lain, tapi 
pulang ke sebuah tempat yang tak ada". Di situ seperti terungkap rasa 
sedih yang ditelan: tempat yang tak ada itu justru begitu berarti -- 
tempat yang tak hadir tapi dibentangkan  tiap hari:
   
  Kami punya sebuah negeri kata-kata. Bicaralah, bicaralah
Agar kubuka jalanku, di batu sebuah batu
   
  Yang menyedihkan tentang Palestina ialah bahwa sebenarnya ia seperti 
bangsa lain, juga seperti bangsa Israel: ia dimulai dengan kata, 
ditegakkan dengan bicara, ketika ada yang direnggutkan dari diri. 
Nasionalisme tumbuh dengan retorika tentang sebuah subyek yang 
kehilangan. Tapi tak banyak bangsa yang sampai di abad ke-21 ini 
masih terus seperti yang tampak di kamp pengungsi Jabalaya itu, juga 
agak jauh di sebelah selatan: orang Palestina menyiapkan barikade, 
mempersenjatai diri dengan granat, mortir,  AK47, dan sabuk berisi 
peledak,  seraya tahu mereka akan kalah. Pesawat-pesawat tempur jet 
F16 Isarel mengaum di langit, dan orang-orang itu hanya bisa 
mengatakan,  "Kami punya tubuh yang bisa meledak."
   
  Tubuh yang bisa meledak....Palestina bukan hanya "tanah tumpah darah" 
dalam arti yang harfiah, tapi juga sebuah komunitas yang dianggit dari 
rasa sakit dan terus menerus dipenggal.
   
  Kita tak tahu sampai kapan, tapi kita tahu justru sebab itu Palestina 
akan selalu hidup sebagai hasrat. Atau ia mengimbau seperti sebuah 
cakrawala: tiap kali didekati ia menjauh, namun di sanalah arah 
ditetapkan. Matahari terbit dan tenggelam dan terbit lagi, tapi 
repetisi itu tak terasa rutin, sebab tiap menit, tiap jam, dan tiap 
hari Palestina selalu berisi ketegangan: antara amarah dan cita-cita,  
kemungkinan dan kematian,  ketergusuran dan kepahlawanan,  nostalgia 
dan sulitnya harapan.  
   
  Dalam ketegangan itulah "Palestina" diucapkan dan Palestina berdiri, 
dengan sosok yang tak selalu serupa, dengan retorika dan panji-panji 
yang berubah-ubah;  dulu pernah Marxis, pernah nasionalis, dan kini 
Islamis. "Bicaralah, bicaralah", kata sajak Dawish itu, "agar kubuka 
jalanku, di batu sebuah batu". 
   
  Palestina mungkin kini satu-satunya bangsa yang menuntut untuk selalu 
diutarakan, sebab ia dibatasi bukan oleh sebuah wilayah, tapi oleh 
sebuah paradoks: ia dibentuk oleh rasa penuh, bahkan meluap-luap, 
dalam kekosongan.
   
  Fiksikah ia? Jawabnya dapat diambil dari sejarah  nasionalisme umumnya:
kita ingat Bennedict Anderson menyebut bangsa sebagai sebuah "imagined 
community", dan kita tahu setiap gagasan "persatuan" atau "kerukunan" 
nasional selalu mengandung "buah rindu" (untuk memakai kiasan Penyair 
Amir Hamzah) yang masak dan jadi imajinasi, bahkan fantasi, yang lahir 
dari hasrat yang terpotong. Tapi tak hanya itu. Tak kalah penting buat 
disebutkan ialah bahwa biarpun "fiksi", ia efektif untuk mengatur 
hubungan sosial sehari-hari, antara petani di Gaza dan guru di Tepi 
Barat, antara padri di Bethlehem dan penjual piring porselin di 
Yerusalem. Ia juga "fiksi" yang bisa membedakan, sering dengan darah 
dan besi, antara si Palestina dan si Israel.
   
  Sebab ia bisa merasuk bahkan ke dalam sebuah hari yang bersahaja. 
Sepotong fragmen The Third Way: A Journal of Life in the West Bank 
oleh Raja Shehadeh:
   
  "Terkadang, bila aku berjalan di perbukitan, dan secara tak sadar 
menikmati sentuhan tanah yang keras di telapak kakiku, menghidu bau 
perdu dan bukit dan pohon-pohon di sekelilingku - aku tak sengaja 
memandangi sepucuk pokok zaitun, dan di depan mataku ia seakan-akan 
berubah jadi lambang samidin, perjuangan kami, kehilangan kami. Dan 
pada saat itu juga, aku merasa direnggutkan dari pohon itu, dan 
sebagai gantinya tampak sebuah rongga yang melompong ke mana amarah 
dan rasa sakitku mengalir, masuk."
   
  Shehadeh berbicara tentang "rongga yang melompong". Ia bandingkan 
pohon yang dicerabut itu dengan tanah merah yang baru dibalik, kawat 
berduri dan buldoser yang kukuh, hal yang mengingatkannya kepada 
pemukiman bangsa Yahudi dari mana orang Palestina tergusur..    
   
  Lukisan Shehadeh mengisyaratkan, bahwa "fiksi" itu juga bisa menemukan 
ekspresinya dalam sesuatu yang lebih dalam dan lebih dahsyat - dalam 
puisi Darwish, juga dalam laku yang bengis. Kita tahu "tubuh yang 
meledak" itu untuk membuat Palestina mungkin, juga harga diri, bangsa, 
tanahair, keadilan, kemerdekaan, dan pelabagai suara dan penanda lain 
yang bisa menggugah semua orang meskipun dengan tafsir yang 
berbeda-beda.
   
  Memang, akhirnya tak akan ada yang sepenuhnya bisa jadi tafsir  kata 
(dan buah rindu) Palestina. "Ruang-ruang beraneka-ragam yang di sini 
dan di sana di tengah kita, memang dapat menampung, tapi tak dapat 
menangkap lengkap, masa lalu", tulis Edward Said dalam After the Last 
Sky, renungannya sebagai seorang cendekiawan Palestina di tanah asing. 
Ruang-ruang itu mewakili gedung tanpa tujuan yang menyeluruh. Wilayah 
itu belum dipetakan dan hanya sebagiannya saja diketahui.
   
  Itu sebabnya PLO ataupun Hamas tak bisa jadi satu-satunya wakil "Palestina". 
--  
kata dengan gema kehilangan itu. Satu-satunya tafsir adalah rasa 
kehilangan itu sendiri, rongga yang gerowong dan pohon yang tercerabut,
yang lahir dari perasaan dizalimi,  seperti ketika tank-tank Minerva 
itu menderu masuk Gaza di akhir Juni.
  
Goenawan Mohamad

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke