Sudah mati tetapi belum dikuburkan.

----- Original Message ----- 
From: "rio_armando89" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, July 07, 2006 7:51 AM
Subject: [ppiindia] Re: NASIONALIS INDONESIA BERSATULAH


> Mas Alvin,
> Piagam jakarta itu sudah mati. Demokrasi itu ibarat madu manis yang
> membuat para peminumnya ketagihan.
> Kalo pun SI mau dipaksakan maka diperlukan revolusi besar2an
> sebagaimana yang terjadi di Iran. Tetapi itu berarti mereka harus
> berhadapan dengan militer.
> So, biarkan para pejuang SI berkubang dalam lumpur nostalgia jaman
> behula yang tidak maju-maju.
>
>
> Salam,
> RIO
>
>
>
> --- In [email protected], "Alvin Daniel" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>>
>> Yang masih mencintai Indonesia dengan pluralisme
>> keagamaan dan etnik sudah pasti musuh SI sebagai hukum
>> negara.
>> mau dikemanakan perjuangan para founding fathers kita yg
>> sudah sakit2an melawan Jepang dan Belanda?
>> memang siapa yg mengusir Jepang tahun 1945? bukan
>> Indonesia, tapi Fat Man dan Little Boy alias Bom hidrogen
>> ciptaan Yahudi US yaitu Robert Oppenheimer, Marie Curie, dan
>> Albert Einstein!
>> siapa yg mengusir Belanda? 350 tahun bercokol di tanah negeri
>> ini dengan cara memecah belah antara si Islam dengan si
>> Islam! antara si Jawa dengan si Jawa! antara si Ambon dengan
>> si Ambon....(kok bisa?)
>> Belanda hengkang karena Jepang masuk ke Indonesia...yang
>> memang secara spirit dan persenjataan Jepang diatas angin!
>>
>> lalu sejak itu baru berdirilah NKRI, yang beberapa tahun
>> kedepannya masih dirogoh2 oleh gerilyawan Islam separatist
>> DI/TII dkk...lalu komunis...lalu Orba...lalu sekarang kembali ke
>> gerilyawan separatis SI?
>> NOWAY MAN!!!
>>
>> tanah Indonesia adalah milik bangsa Indonesia, bukan Kristen,
>> bukan Islam, bukan Hindu, bukan Budha, bukan Taois, bukan
>> Komunis, bukan Sosialis, bukan Suhartois, tapi semua orang
>> yang merasa sebagai bangsa Indonesia!!!! sebagai bangsa yg
>> ingin mengejar ketertinggalannya dari bangsa2 lain sebagai
>> bangsa yg WELL CIVILIZED!!!! sebagai bangsa yang ingin keluar
>> dari kemiskinan dan kebodohan berkepanjangan!!
>>
>> no religion becomes the best solution for this country!!!
>> but a human INTELLIGENCE!!!
>>
>>
>>
>>
>>
>> --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO"
>> <rm_danardono@> wrote:
>> >
>> > *** Dari milis tetangga dikirim oleh Sadewa:
>> >
>> > ---> untuk mbak Aris dan kawan kawan sepemikiran:
>> >
>> > "Bahkan partai-partai besar yang didominasi oleh orang Islam,
>> tidak
>> > mendukung konsep negara Islam. Karena itu yang
>> mendompleng
>> > prinsip "mayoritas-minoritas" untuk menggoalkan cita-citanya,
>> > sebenarnya tidak berangkat dari realitas konkrit. Mereka
>> berangkat
>> > dari realitas statistik dan mengandalkan "Islam KTP". Di sini
>> jelas,
>> > yang menolak penegakan Syariat Islam terutama justru dari
>> umat Islam
>> > sendiri. Di sisi lain umat nonIslam di negeri ini kecil sekali
>> > jumlahnya. Andaikata mereka bersatu (Hindu, Buddha,
>> Konghucu,
>> > Nasrani) menolak pemberlakuan Syariat Islam, suaranya tetap
>> tak
>> > berarti...."
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > Kolom Mayapada 07-07-2006
>> >
>> > NASIONALIS INDONESIA BERSATULAH
>> >
>> >
>> > Belakangan ini, ancaman perpecahan di antara sesama
>> bangsa Indonesia
>> > semakin nyata. Hal ini terlihat ketika pemerintah dengan tegas
>> > menyatakan agar empat konsensus dasar tetap
>> dipertahankan
>> > sebagai "harga mati", yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan
>> ikrar
>> > Bhinneka Tunggal Ika, sementara itu di lain pihak muncul
>> > tuntutan "harga mati" pula berupa pemberlakuan Syariat Islam
>> secara
>> > nasional dan tetap dipertahankannya perda-perda yang
>> bermuatan
>> > Syariat Islam. Bahkan ada seruan agar mulai presiden hingga
>> kepala
>> > desa mendukung pemberlakuan Syariat Islam di seluruh
>> Indonesia. Umat
>> > Islam yang tidak mendukungnya masuk kategori murtad.
>> >
>> > Fenomena ini tidak boleh dipandang enteng. Ini sudah
>> merupakan
>> > tantangan yang provokatif dan insinuatif. Sama saja dengan
>> usaha
>> > untuk mendirikan negara di dalam negara. Apalagi, yang
>> bersemangat
>> > mensosialisasikan Syariat Islam ini pula yang pernah
>> menegaskan
>> > bahwa "lebih baik tidak ada Indonesia daripada ada Indonesia
>> tetapi
>> > tidak berdasarkan Syariat Islam". Bukankah fenomena ini
>> sama artinya
>> > dengan usaha-usaha untuk menggantikan dasar negara
>> (Pancasila),
>> > undang-undang negara (UUD 1945) dan semboyan persatuan
>> nasional
>> > (Bhinneka Tunggal Ika)?
>> >
>> > Fenomena ini juga jelas menunjukkan usaha-usaha
>> > untuk "menyeragamkan" bangsa Indonesia yang
>> berbeda-beda agama,
>> > suku, etnis dan kultur di bawah satu payung kebesaran
>> bernama
>> > Syariat Islam. Alasannya, hukum ini bukan buatan manusia
>> seperti
>> > halnya Pancasila atau Piagam PBB, tetapi merupakan
>> "rakhmatan lil
>> > alamin", hukum Allah sebagai rahmat untuk seluruh umat
>> manusia di
>> > alam ini. Karena untuk seluruh umat manusia, jadi harus
>> diberlakukan
>> > juga untuk seluruh umat di bumi, tak peduli apa agamanya,
>> apa
>> > kebangsaannya. Sebab agama yang benar di muka bumi ini
>> hanya satu,
>> > yakni Islam. Di luar itu kafir.
>> >
>> > Mari kita tak usah memikirkan bagaimana gerangan Syariat
>> Islam
>> > diberlakukan di Amerika, Kanada atau Norwegia. Kita kembali
>> ke
>> > Indonesia yang diklaim mayoritas penduduknya beragama
>> Islam. Apakah
>> > kalau penduduknya mayoritas beragama Islam, maka yang
>> mayoritas itu
>> > dipastikan setuju dengan pemberlakuan Syariat Islam
>> sebagai dasar
>> > dan hukum negara? Sedangkan pemberlakuan Syariat Islam
>> "bagi pemeluk-
>> > pemeluknya" yang tercantum di Piagam Djakarta saja akhirnya
>> harus
>> > dihapus. Dalam Pemilu 1955, yang keluar sebagai pemenang
>> bukan
>> > partai Islam melainkan partai nasionalis (PNI). Memang kalau
>> Masjumi
>> > dan NU digabung (bersatu) suaranya lebih besar dari PNI.
>> Tetapi
>> > bukankah kedua partai yang berasaskan Islam itu tidak
>> bersatu?
>> >
>> > Ketika ada pilihan, negara berdasarkan Islam atau Pancasila,
>> kedua
>> > partai yang mendukung dasar Islam ini pun tidak berhasil
>> menang,
>> > karena yang mendukung Indonesia berdasarkan Pancasila
>> bukan hanya
>> > PNI, melainkan juga partai-partai nasionalis lainnya.
>> Pelaksanaan
>> > pemilu selama Orde Baru tidak dapat kita jadikan tolok ukur
>> karena
>> > sudah direkayasa agar Golkar selalu menang. Tetapi
>> bagaimana dengan
>> > pemilu di era reformasi? Pemilu 1999 dan 2004 juga
>> memperlihatkan
>> > partai-partai berasas Islam tidak dapat tampil dominan baik
>> dalam
>> > perolehan suara maupun kursi di parlemen. Dalam pemilu
>> 1999 pemenang
>> > pertama PDI-P, dan dalam pemilu 2004 pemenang pertama
>> Golkar.
>> > Andaikata mayoritas bangsa Indonesia mendukung partai
>> Islam (karena
>> > mayoritasnya beragama Islam), maka sejak republik ini
>> merdeka
>> > Indonesia sudah berasaskan Syariat Islam, sudah menjadi
>> negara
>> > Islam, karena patai Islam akan menang terus. Bukankah
>> kenyataannya
>> > tidak demikian?
>> >
>> > Sesudah Syariat Islam dalam kemasan Piagam Djakarta
>> mengalami
>> > kegagalan, dan kemudian disusul lewat perda-perda, lalu UU
>> APP, kini
>> > Syariat Islam diperjuangkan tanpa kemasan lagi, melainkan
>> langsung
>> > dan secara terbuka. Kampanye agar mendukung Syariat Islam
>> bukan lagi
>> > hanya ditujukan kepada Walikota Solo, tetapi juga Presiden RI
>> dengan
>> > segenap kabinetnya sampai ke tingkat kepala desa.  Mereka
>> yang
>> > mendukungnya untuk menjadi dasar negara dan hukum
>> negara, akan
>> > merapatkan barisan memberikan suaranya pada partai Islam
>> manapun
>> > yang juga mendukung penegakan Syariat Islam dalam
>> kehidupan
>> > berbangsa dan bernegara.
>> >
>> > Inilah fenomena yang menunjukkan perpecahan bangsa
>> sudah di ambang
>> > pintu. Ada sekelompok orang sedang membangun rumah di
>> dalam rumah.
>> > Mayoritas penduduk Indonesia memang beragama Islam,
>> tetapi tidak
>> > otomatis yang mayoritas itu pendukung Syariat Islam sebagai
>> dasar
>> > negara. Bahkan partai-partai besar yang didominasi oleh
>> orang Islam,
>> > tidak mendukung konsep negara Islam. Karena itu yang
>> mendompleng
>> > prinsip "mayoritas-minoritas" untuk menggoalkan cita-citanya,
>> > sebenarnya tidak berangkat dari realitas konkrit. Mereka
>> berangkat
>> > dari realitas statistik dan mengandalkan "Islam KTP". Di sini
>> jelas,
>> > yang menolak penegakan Syariat Islam terutama justru dari
>> umat Islam
>> > sendiri. Di sisi lain umat nonIslam di negeri ini kecil sekali
>> > jumlahnya. Andaikata mereka bersatu (Hindu, Buddha,
>> Konghucu,
>> > Nasrani) menolak pemberlakuan Syariat Islam, suaranya tetap
>> tak
>> > berarti.
>> >
>> > Jelas sudah, yang menolak pemberlakuan Syariat Islam
>> sebagai dasar
>> > dan hukum negara bukanlah pemeluk agama nonIslam,
>> melainkan
>> > nasionalis Indonesia. Mereka mayoritas beragama Islam.
>> Dalam konteks
>> > membangun negara, persatuan bangsa,  mereka tidak
>> mengembangkan
>> > aspirasi kelompok, melainkan aspirasi kebangsaan. Mereka
>> inilah yang
>> > harus bersatu merapatkan barisan untuk menghadapi
>> aspirasi
>> > sektarian, aspirasi kelompok yang menginginkan Indonesia
>> menjadi
>> > negara teokrasi.
>> >
>> > Untuk itu nasionalis seluruh Indonesia (yang mayoritas
>> beragama
>> > Islam), bersatulah di bawah tripanji  kebangsaan kita:
>> Pancasila,
>> > UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, demi tetap tegaknya
>> Negara
>> > Kesatuan Republik Indonesia!
>> >
>>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
> -- 
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.9/382 - Release Date: 7/4/2006
>
> 



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke