Mawar Merah Café Bandar:
TAMU DARI TELEVISI TRANSOFRMASI INDONESIA [TRANS TIVI] Minggu pertama awal bulan Juli 2006 . Petang. Aku sedang bekerja di bar Koperasi Restoran Indonesia. Menyiapkan servis malam yang dimulai pada jam 19:00. Sebelum servis dimulai tiga orang muda berwajah Asia masuk dengan tas-tas serta kamera-kamera filem. Dua orang perempuan dan seorang lelaki. Seorang di antara perempuan muda itu mengenakan jilbab dan seorang lagi tidak. Melihat kedatangan mereka, aku bertanya-tanya dalam hati: Siapa gerangan mereka? Sebab aku sering keliru dengan tebakan orang-orang berwajah Asia. Bisa saja mereka dengan Brunei, Malaysia, Philipina, Viêt Nam, Singapura, Jepang atau Madagaskar. Wajah Asia dan jilbab tidak memastikan mereka dari Indonesia. Mau apa mereka? Yang berjilbab segera menghampiriku, berkata dengan ramah dalam bahasa Indonesia: "Kami ada janji ketemu dengan Pak Yoso". Soejoso adalah penanggungjawab Tim Penanggungjawab Koperasi Restoran Indonesia. Mendengar keterangan itu aku segera paham bahwa mereka dari Trans Tivi Jakarta yang ingin membuat filem tentang orang-orang terhalang pulang, istilah yang pertama kali diucapkan oleh Gus Dur ketika menjadi Presiden Republik Indonesia [RI], sahabat lama orang-orang Koperasi. Seperti diketahui sebelum Gus Dur menjadi presiden RI, hubungan kami dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia [KBRI] sangat buruk. KBRI melarang orang-orang Indonesia, apalagi para pejabat dan mahasiswa datang makan ke restoran koperasi kami yang dituduh sebagai restoran orang-orang PKI dan pusat kegiatan anti Orde Baru [Orba]. Padahal apa yang kami lakukan melalui restoran ini tidak lain hanya mencari hidup tanpa membungkuk-bungkuk belas kasihan pada pemerintah Perancis dan juga mempromosi Indonesia melalui pendekatan kebudayaan. Kegiatan politik adalah urusan masing-masing orang anggota koperasi dan sama sekali tidak boleh dibawa-bawa dengan kegiatan restoran sebagai usaha produktif. Selembar poster politik pun tidak terpampang di tembok-tembok. Yang kami pajangkan justru bendera Indonesia dan lambang garuda. Tentu saja pemancangan bendera Merah Putih dan garuda adalah bersifat politik. Melambangkan bahwa semua orang Indonesia yang bekerja di restoran merasakan diri tetap sebagai Indonesia, bertanahair dan berbangsa Indonesia. Tapi berbeda dengan tuduhan berpolitik seperti yang dilemparkan oleh Orba kepada kami. Kalau koperasi restoran kami pun juga melakukan kegiatan-kegiatan kebudayaan maka kegiatan-kegiatan ini pun lebih bermaksud memperkenalkan Indonesia ke para langganan. Tidak kubantah karena memang demikian adanya bahwa Koperasi Restoran ini didirikan oleh para pencari suara politik di Perancis setelah mereka kehilangan paspor Indonesia semenjak Orba menguasai Indonesia. Ia didirikan terutama untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan tidak mengharapkan bantuan sosial dari pemerintah Perancis. [Lebih lanjut, lihat: JJ.Kusni, "Membela Martabat Diri Dan Indonesia. Koperasi Restoran Indonesia di Paris", Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005, 275 hlm]. Semenjak Gus Dur menjadi Presiden RI maka sikap KBRI Paris pada kami berobah 180 derajad. Juli Mumpuni, mantan Atase Pers KBRI pada masa Dubes Adian Silalahi bahkan dalam kesannyta di buku tamu menyebut Koperasi Restoran kami sebagai "duta bangsa". Pada malam perpisahan sebelum kembali ke Jakarta ketika masa jabatannya selesai, Dubes Adian Silalahi bahkan mengharapkan agar "Koperasi Restoran Indonesia ini bisa bertahan selama mungkin" dengan misi demikian. Sambil mempersilahkan ketiga anak muda Indonesia itu duduk berkenalan. Melalui perkenalan inilah kutahu nama-nama mereka.Yang lelaki bernama Rizky Amron, "Associate Producer" Trans Tivi, sedangkan perempuan muda berjilbab bernama Dewi Laila Sari [wartawan], biasa dipanggil Dewi sedangkan yang perempuan muda berwajah bundar telor bernama Hadini Amalia, biasa dipanggil Dini. Setelah tahu Dewi punya marga Hasibuan, maka untuk menyambutnya kuputar kaset lagu-lagu Batak Toba. Tapi Rizky memintaku menggantikan kaset itu dengan kaset gending-gending Jawa untuk dia rekam. "Mengapa tidak musik Bali, Riz?, ujarku sambil menggantikan kaset. "Gending Jawa terlalu lambat dan kurang dinamik bagiku. Kukira bangsa kita perlu mengobah pola pikir dan mentalitas "alon-alon waton kelakon" menjadi "cepat tepat", lanjutku. "Tidak, aku mau gending Jawa" jawab Rizky yang Melayu Kalimantan tanpa menghiraukan komentarku. Dewi dan Dini hanya tersenyum mendengar kata-kataku serta melihat ketidakacuhan Rizky. Mungkin mereka pandang menggelikan. Sambil menunggu Soejoso yang sedang belanja bersama dua teman lainnya, datang, Rizky melakukan shooting serta memintaku terus bekerja seakan-akan ia tak ada di depanku. Sementara Dewi mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diriku, pendidikan formalku, mengapa aku memilih Perancis sebagai negeri suaka, dan macam-macam pertanyaan. Sedangkan Dini bertindak sebagai tamu yang kulayani dari meja bar. Pembuatan filem tentang Koperasi Restoran kami, bukanlah pertama kali ini dilakukan. Terus-terusan tivi Perancis sudah pernah melakukannya demikian pula Dhany Agustinus dari Institut Kesenian Jakarta [IKJ] yang sedang belajar di Akademi Filem terkemuka Perancis dan Eropa, Fimes, di Paris, telah membuat filem khusus dan mendapat penghargaan dari Fimes sebagai karya terbaik. Sedangkan Laila Khudori dan teman-temannya pernah juga ke mari untuk membuat filem tentang perjalanan hidup anak eksil di Eropa. Paris menjadi latarbelakang utamanya. Kehidupan kaum eksil yang oleh Gus Dur disebut sebagai yang "terhalang pulang" atau "klayaban", akhir-akhir ini memang menjadi obyek perhatian banyak kalangan Indonesia, baik wartawan atau pun para seniman. Evi Mariani dari Harian The Jakarta Post menggunakan kesempatan berada di Belanda telah melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang hasilnya ia di Harian tersebut sehalaman penuh. Di samping menjawab pertanyaan-pertanyaan Dewi dan Dini serta Rizky yang sibuk men "shooting"ku dan dekor restoran, aku pun menggunakan kesempatan itu untuk juga balik bertanya. "Dalam rangka apa kawan-kawan membuat filem tentang koperasi restoran ini dan kehidupan kaum eksil Indonesia?" tanyaku kepada mereka bertiga. "Apakah dalam rangka tema politik "rekonsiliasi nasional" yang sekarang hangat dibicarakan di Indonesia?" lanjutku. Rizky menjawabku pasti : "Ya. Dan rencananya akan kami siarkan pada 17 Agustus mendatang". "O, kalau begitu boleh aku titip pesan dan pesan yang sangat kuharapkan mendapat garisbawah?" "Apa itu?" tanya Rizky yang terus sibuk men"shooting" diriku dan ruangan restoran. Sebenarnya, baru sekarang aku mau difilem. Dan tentu saja bukan suatu kebanggaan. Sebelumnya aku sangat menghindar. Lebih-lebih pada masa Orba. Kutolak tanpa tawar-menawar dan tanpa "tapi". "Mengapa kau pakai banyak nama samaran?", celetuk Dewi. "Ah, itu mah pertanyaan gampang,Wi ", ujarku sambil meneruskan pekerjaanku di bar untuk servis malam. "Orba punya akal, mengapa kita tak boleh punya akal menghadapinya yang oleh orang Viêt Nam" disebut sebagai "luwes" dan "berakal". "Apa pesanmu yang kau minta digarisbawahi tadi?" tanya Rizky. "Aku harapkan agar apa yang kukatakan pada Evi Mariani dan ditulisnya di The Jakarta Post [23 Agustus 2005] bahwa "JJ. Kusni claims his rights to be Indonesian" disampaikan. JJ. Kusni di sini hanyalah salah satu nama dari sekian banyak eksil di berbagai negeri. Hal ini kuharapkan benar jika tujuan kawan-kawan adalah mendorong rekonsialiasi nasional. "Claim" ini adalah tanpa syarat karena ia adalah hak". Dewi dan Dini memandangku, entah dengan perasaan apa. Sedangkan Rizky menjawabku dengan kata : "Ya!". "Kukira pesan ini merupakan kata kunci, Riz". Rizky menangguk. Sesuai dengan janjinya di telpon untuk datang secepat bisa, akhirnya Bung Soejoso datang. Begitu datang, ia pun segera menemui tiga anak muda ini dan berbincang dengan Dewi dan Dini. Sedangkan Rizky sibuk melakukan "shooting" dengan kameranya. Dengan kedatangan Soejoso, aku merasa terbebaskan dari kamera dan pertanyaan serta keniscayaan melayani mereka. "Sepulang dari Suriname, kami masih akan kembali lagi kemari lho", ujar Rizky lagi. Ketika melakukan servis malam dan sampai sekarang, yang terpikir padaku sambil melihat kipas kenang-kenangan dari Dewi yang mengusik benakku adalah pertanyaan: "Akankah Rizky dan teman-teman memenuhi harapanku? Akankah kata kunciku akan disampaikan dalam film itu nanti? Ataukah kata "ya" hanya sekedar cara menjawab untuk menghindar dan menyenangkan tanpa tanggungjawab pada kata? Untuk tidak menyibuki diri dengan jawabannya, aku siap bahwa harapan dan kata kunci itu dijadikan busa atau gelembung sabun sebagaimana sering kudapatkan di Indonesia bagaimana orang menggunakan bahasa dan sikap pada kata seelastis kata "mbesuk" dalam bahasa Jawa. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik benak ini, aku pun sadar bahwa dalam siaran radio,; tivi dan koran, uang pemilik modal bukan tidak berperan dalam menyensor sebagaimana Arifin C Noer disensor dalam filemnya "G30S/PKI" yang "notorious" [notorius] itu. Untuk tidak terganggu dalam pekerjaan melayani para tamu maka kunasehati diriku bahwa aku harus belajar menghadapi dan memenangi kehidupan sebagaimana adanya. Bahwa hidup bukanlah sahabat yang ramahtamah, tak obah seorang perempuan kekasih yang cantik, galak dan tegaan, tapi tetap kucintai. Terlanjur sudah kupilih. Duka, khianat dan dusta hanyalah beberapa corak warna dari pada kanvas kehidupan -- lukisan indah mengundang selaksa tafsir sang penanya, pencari, pengembara atau kapitan sebuah pinisi. Aku memang sedang dan terus belajar mempercayai serta menghargai manusia, terutama di Indonesia, negeri di mana manusia terlalu lama dihantui ketakutan dan tiarap. Ditiarapkan ketakutan sehingga tidak sadar digiring ke penjara diri sendiri yang pengap, hitam sehitam gelita malam tanpa bulan dan bintang demi selembar nyawa. Dingin membekukan otak dan hati. Oleh karenanya nilai manusiawi di negeri demikian, jadi berada di urutan kelas kambing atau di urutan paling "buncit" [belakang], ujar orang Banjar. Membalas kenang-kenangan yang diberikan oleh tiga anak muda ini, kepada masing-masing mereka kuberikan buku sastra karya penulis-penulis klasik Eropa Barat. Sekaligus sebagai tanda terimakasihku atas kedatangan mereka. Buku adalah jendela dan pintu terbuka melihat serta mengembarai dunia. Barangkali buku bisa menjadi tanda persahabatan yang indah dan padan dengan harapan memburu esok memacu matahari. Walau pun terhadap buku, kita dituntut bukan hanya tidak buta aksara tapi juga untuk bisa dan pandai membaca. *** Paris, Juli 2006. ---------------------- JJ. Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design. http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

