Mengenai SDM kita tak mudah masalahnya, saya akan coba memberikan 
ulasan, secara sederhana.

Seorang putra sahabat saya, seorang keluarga konglo, pernah ditolak 
masuk ke ITB, mungkin karena bukan pri. Dia langsung ke As masuk 
Universitas elite yang tak mudah masuk, karena selain sangat mahal, 
juga test berat sekali. UCLA, University of California, Los Angeles. 
Lulus dengan summa cum laude dibidang elektrotekhnik.
Dia langsung mendapat pekerjaan yang gemilang dengan bayaran tinggi 
di perusahaan telpon AS, AT&T. Dia lulus SMU tarakanita dengan 
cemerlang.

Kini, dia dipanggil pulang sahabat saya, sang ayah, lalu bekerja di 
perusahaan besannya di Jawa Tengah. Seluruh kedahsyatan 
intellektualitasnya tak terpakai, karena pekerjaan yang cukup 
sederhana, walau di pimpinan.

Contoh lain: sahabat saya, yang memiliki pabrik di Jakarta merekrut 
staff lulusan universitas. Puluhan dia test masuk. Pertanyaan yang 
paling sederhana mengenai pengetahuan umum, tak ada yang mampu jawab.

Kesimpulan saya: bahan dasar, yakni bahan manusia cukup baik. Namun 
penempaannya yang kurang mengasah mereka menjadi innovator, sebagai 
solution experts, tetapi sekedar sebagai penghafal buku buku.

Saya bicara dengan banyak pengikut program S3 untuk pertanian di 
dari Indonesia, di Austria. Mereka ditempa disini diberbagai bidang. 
dari bio engineering sampai mekanisasi pertanian. Kebanyakan dari 
GAMA dan Un Has.

Kesan saya, mereka rata rata cerdas dan kuat dalam ilmu pengetahuan, 
sebagai konsep. Tetapi reaksi pikir mereka seringkali tidak menjurus 
pada problem solution, apalagi innovation.

Ini bukan soal mental, soal budaya apalagi agama. Isme isme tak 
mempunyai dampak dalam persoalan intellektualitas. Seperti mbak fau 
terangkan, plastik adalah bahan baku yang simple, tetapi ditambah 
value added sehingga menjadi lensa yang andal untuk laser, ini baru 
nilai yang sebenarnya.

Air keruh lebih banyak ditemukan dinegara kita, namun juara dalam 
mengembangkan sarana atau aparat penjernihan air, bukan kita, malah 
seperti Austria ini, yang mutu airnya sangat istimewa (kebanyakan ex 
gletscher, salju abadi).

RSUP Vienna hampir tiap bulan melaporkan methoda baru dalam 
treatment penyakit yang ditakuti, seperti canser, dsg. Juga enemuan 
alat pacu jantung mini yang mampu memperanjang usia pasien. patent 
demi patent dicatatkan.

Jadi jangan kita bicara agama dahulu, namun dalam pembinaan ilmiah 
dalam kontext applikasi methodologi mutakhir dalam bidang ilmu yang 
dipelajari.

SDA tanpa jajaran SDA yang mumpuni, tak berdampak apa apa. Korea 
selatan ditakuti AS dan dianggap partner yang sejajar, karena SDM 
mereka yang dahsyat, Korea utara, ditertawakan.SDM mereka hanya 
terbatas, masalah kelaparan belum kunjung teratasi.

Salam

Danardono











--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> saya setuju dengan pendapat mas Samsul, Mbah Dana dan Mbakyu Fau.. 
dan saya hanya menambahkan apakah SDM kita kurang bagus? Btw SDM 
kita yang bagus alumni ITB hasil PHK Dirgantara kemana? Keluar 
negeri?!... Kalau saya boleh menambahkan satu lagi selain kita 
introspeksi diri terhadap diri kita atau analisis SWOT gitu lah ^_^, 
apakah kita juga menyadari keadaan seperti ini memang disengaja 
demikian, kaya (SDM dan SDA) namun dibuat miskin dan merana secara 
mayoritas ^_^. Keadaan kita sengaja dibuat begini bukan 
oleh 'siapa'? KAlau kita kita bangkit, maka akan negara yang merasa 
dirugikan bukan?
>    
>   Salah satu elemen untuk peningkatan SDM adalah character 
building dan mental. Nah masalahnya kita mau pakai apa landasannya? 
nilai-nilai ketimuran? Yang mana? Landasan kapitalisme atau materi 
seperti AS? atau atheisme? atau agama?
>    
>   itu yang perlu di fikirkan. Saya memikirkan saat ini sedang 
trend training-training spiritualisme dimana2, ESQ, Find Magical of 
You, Leadership, shalat kusyuk, To Be Change, dll maka pilihan itu 
ada pada diri kita. Dan kita bisa menebak kecenderungan Indonesia 
so..^_^
>    
>   salam,
>   aris 
> 
> Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Makanya semboyan pertama adalah "Bangunlah jiwanya, dst........" 
Hanya
> kebanyakan pemimpin melupakan itu........
> 
> ----- Original Message -----
> From: "RM Danardono HADINOTO" 
> To: 
> 
> Sent: Monday, July 10, 2006 5:40 PM
> Subject: [ppiindia] Re: AS Negara Terkaya Sedunia
> 
> 
> > Betul.
> >
> > Kebanyakan negara kaya SDA adalah negara termiskin didunia.
> > Sebaliknya, negara yang andal SDMnya, memimpin dunia. Bahkan
> > Singapura, menyalip Indonesia berkat keandalan SDM mereka.
> >
> > Dibawah ini ada artikel yang menunjang statement ini.
> >
> > Salam
> >
> > danardono
> >
> >
> > Ayam Mati di Lumbung
> >
> >
> > Kahlil Rowter
> >
> > Sungguh ironis bangsa Indonesia. Dengan sumber daya alam, jumlah
> > penduduk yang banyak dan sumber dana besar, tidak dapat
> > mentransformasikan diri menjadi bangsa besar dan kaya.
> >
> > Baru-baru ini terungkap keberadaan dana pemerintah dalam jumlah
> > cukup besar, paling tidak Rp 70 triliun, yang tidak terpakai dan
> > tersimpan di Bank Indonesia. Sebagian dana akan dipakai untuk
> > menutup defisit anggaran yang naik karena pengeluaran yang tidak
> > diduga sebelumnya, di samping karena turunnya penerimaan pajak
> > seiring melambatnya ekonomi Indonesia. Mungkin tidak seluruhnya
> > dapat dipakai karena harus disisakan sebagian untuk cadangan
> > darurat.
> >
> > Dalam sistem perbankan juga terdapat dana "menganggur" yang dapat
> > ditakar dari nisbah pinjaman terhadap deposito (loan to deposit
> > ratio) sekitar 62 persen. Artinya saat ini tersedia dana 
menganggur
> > lebih dari Rp 480 triliun. Sebagian dana ini ditempatkan dalam
> > obligasi pemerintah (Surat Utang Negara), Sertifikat Bank 
Indonesia
> > (SBI), dan instrumen lainnya. Situasi ini merugikan sekaligus
> > perekonomian, sektor perbankan, dan BI. Untuk perekonomian 
berarti
> > terdapat dana menganggur yang seyogianya dapat didayagunakan 
untuk
> > investasi "berbuah" pertumbuhan ekonomi. Untuk perbankan, 
penempatan
> > selain pada kredit berakibat pendapatan yang rendah. Terakhir, BI
> > yang menyerap kelebihan likuiditas itu dengan SBI senilai Rp 177
> > triliun lebih saat ini, harus mengeluarkan ongkos sangat besar
> > karena membayar bunga.
> >
> > Sebagian SBI juga dimiliki bank-bank pembangunan daerah
> > sebagai "kantung" sementara dana milik pemerintah daerah, yang 
belum
> > disalurkan. Per Maret 2006 akumulasi dana milik pemda itu 
mencapai
> > Rp 70 triliun.
> >
> > Dana-dana menganggur ini mencerminkan rendahnya pemanfaatan 
sumber-
> > sumber dalam negeri untuk investasi. Terdapat pula pemanfaatan 
utang
> > luar negeri yang kurang optimal. Penyerapan tambahan utang luar
> > negeri pada tahun 2006 diperkirakan 30 persen. Penyerapan seluruh
> > akumulasi utang luar negeri terus turun dari 70 persen tahun 1999
> > menjadi sekitar 50 persen tahun 2003.
> >
> > Penyerapan utang luar negeri yang rendah ini pada saat yang sama
> > juga diiringi penyerapan anggaran pemerintah secara umum pada
> > tingkat 32% dan belanja modal 15% sampai bulan Juni 2006.
> >
> > Artinya anggaran pemerintah sulit diharapkan memicu pertumbuhan
> > ekonomi. Padahal sangat dibutuhkan saat pertumbuhan ekonomi
> > Indonesia melemah dan kemampuan swasta terbatas, antara lain 
karena
> > tingginya suku bunga.
> >
> > Potensi pertumbuhan
> >
> > Seandainya seluruh dana menganggur di perbankan dan milik 
pemerintah
> > dapat diinvestasikan dalam satu tahun, secara teoretis 
pertumbuhan
> > ekonomi dapat ditambah 4,5 persen. Atau, jika dibagi dalam dua
> > tahun, dampaknya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi paling 
tidak
> > 2,2 persen per tahun. Sesedikit apapun sumbangannya penggunaan 
dana
> > menganggur ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat
> > diperlukan untuk menyerap angkatan kerja baru dan pengangguran 
yang
> > kini mencapai 11 juta orang. Untuk itu diperkirakan pertumbuhan 
per
> > tahun minimal 7 persen beberapa tahun ke depan.
> >
> > Salah satu sebab rendahnya penyerapan anggaran di daerah adalah
> > duplikasi pengeluaran pembangunan pemerintah pusat dan daerah.
> > Efisiensi penggunaan dana investasi juga harus ditingkatkan dan
> > selanjutnya daerah harus berusaha mendapatkan sendiri sumber dana
> > investasinya, misalnya melalui penerbitan obligasi daerah. 
Alokasi
> > anggaran seharusnya didasarkan pada kinerja pemerintah dalam
> > memenuhi standar yang telah ditentukan. Pada saat ini tidak 
terdapat
> > sistem yang dapat memonitor kinerja atau keluaran (output)
> > pemerintah sehingga terbuka kemungkinan misalokasi dana. 
Dampaknya
> > selain pemborosan dana, juga tidak tercapainya standar produksi 
jasa
> > pemerintah yang diinginkan masyarakat.
> >
> > Pola pengeluaran pemerintah yang umumnya lambat di paruh pertama
> > setiap tahun dan meningkat menjelang akhir tahun sangat tidak
> > kondusif. Di satu sisi pada saat pengeluaran rendah maka berbagai
> > proyek tidak dijalankan atau dikerjakan dengan pendanaan dari
> > pemasok. Hal ini tentunya meningkatkan biaya proyek itu sendiri 
dan
> > rawan penyelewengan. Sebaliknya pada saat dana sedang dikucurkan,
> > pelaksanaan berbagai proyek dilakukan tergesa-gesa yang 
berpotensi
> > menurunkan kualitasnya sekaligus menyulitkan pemantauan keuangan.
> >
> > Salah satu cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan
> > menggunakan anggaran multi-tahun, di mana kelebihan dana otomatis
> > dibawa ke tahun berikutnya. Kerangka waktu pendanaan proyek 
optimal
> > jika disamakan dengan kerangka pengerjaan fisik proyek.
> >
> > Perkembangan terakhir
> >
> > Upaya pemerintah untuk memilih beberapa komoditas unggulan, 
dengan
> > memberikan beberapa insentif, sudah tepat. Hanya dengan fokus,
> > kemajuan dapat dicapai. Lebih dari sekedar insentif, ada baiknya
> > jika unit-unit pemerintah yang relevan dengan komoditas unggulan
> > tersebut bekerja sama untuk mengupayakan kegiatan intensif pada
> > setiap lini dalam proses produksinya.
> >
> > Thailand misanya, sejak bertahun-tahun lalu pemantauan suatu
> > komoditas unggulan, katakan pepaya, dari supermarket di Tokyo 
(pasar
> > utama komoditas ini) sampai ke lahan produksinya di Thailand. 
Dengan
> > perhatian pada setiap titik produksi ini, seluruh jalur produksi,
> > transportasi sampai pemasaran dapat dioptimalkan.
> >
> >
> > Dalam situasi di mana pengangguran tinggi sekaligus pemakaian
> > kapasitas produksi juga tinggi, sangat dibutuhkan investasi agar
> > pertumbuhan dapat ditingkatkan. Saat industri dan konsumen masih
> > bergulat menyesuaikan diri dari kenaikan harga bahan bakar minyak
> > tahun lalu dan masih tingginya suku bunga, maka stimulus fiskal
> > sangat diharapkan. Sayangnya hal ini belum terealisir. Padahal
> > ketersediaan dana di dalam negeri sangat besar dan segaligus
> > pemanfaatan pinjaman luar negeri juga masih kurang.
> >
> > Terlepas dari stimulus fiskal secara langsung, Indonesia 
sebenarnya
> > punya sumber dana yang sangat cukup di dalam negeri untuk 
menunjang
> > investasi dan pertumbuhan. Untuk memanfaatkannya dibutuhkan 
strategi
> > yang jelas, dan cepat karena makin lama pertumbuhan yang lambat 
maka
> > pembentukan ekspektasi akan makin menyulitkan peningkatan
> > pertumbuhan itu sendiri. Karena untuk melakukan investasi 
dibutuhkan
> > cukup banyak pemilik modal yang mau mengambil risiko, sementara
> > makin lama harapan mereka dikecewakan makin takut pula mereka 
untuk
> > mengambil risiko. Akibatnya akan dibutuhkan insentif yang makin 
lama
> > makin besar untuk menggerakkan investasi, dengan ongkosnya serta
> > risikonya makin besar pula.
> >
> > Alangkah sayangnya kalau Indonesia tidak dapat mengambil 
kesempatan
> > melakukan terobosan di tengah ketersediaan dana. Sementara 
bangsa-
> > bangsa lain lari makin cepat, Indonesia tidak boleh tertinggal.*
> >
> > Kahlil Rowter, Chief Economist CIMB-GK Securities Indonesia
> >
> >
> > ------------------------------
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], "fauziah swasono" 
> > wrote:
> > >
> > > IMHO, mempunyai SDA melimpah belum jaminan untuk menjadi kaya.
> > Bukan
> > > semata2 karena selalu "dirampok" negara tak ber-SDA. Tetapi 
lebih
> > > karena angin surga yang menyesatkan. Lupa kalau 
sebanyak2nya "harta
> > > warisan" suatu saat akan habis juga, sedangkan ilmu malah bisa
> > > berkembang biak.
> > >
> > > Lihat saja kehidupan kita sehari2. Harta warisan dari ortu kalo
> > cuma
> > > dimakanin aja bakal habis juga. Sedangkan ilmu yang diamalkan 
scr
> > > profesional malah bisa menjamin kehidupan seseorang.
> > >
> > > Negara2 kaya SDA semacam Indonesia, negara2 Afrika dan Amerika
> > Latin
> > > banyak yang miskin krn pemerintahnya malas dan korup. Teknologi
> > tidak
> > > dikuasai, uang hasil jualan diembat sendiri. Sedangkan negara2
> > miskin
> > > SDA justru sadar diri. Jepang, Korea, Singapur, adalah bbrp
> > contohnya.
> > > Jepang yang negaranya mungil dan gak habis2nya kena gempa, 
malah
> > > sekarang bisa menguasai banyak teknologi canggih dan menjadi 
the
> > > second largest economy in the world (setelah USA).
> > >
> > > Suka atau tidak, didunia ini, nilai tambah (value added) itu 
lebih
> > > berharga/mahal daripada barang mentah. Berapa harga getah 
karet?
> > > Bandingkan dg harga ban mobil. Berapa harga kaca, besi dan 
plastik?
> > > Bandingkan dg lensa Nikon VR 70-200. It's technology that 
changes
> > it,
> > > and no average people would have mastered it. Harus 
diperjuangkan,
> > > dipelajari, dikembangkan. Robot bukan diciptakan dari 
mengkhayal.
> > Dan
> > > saya pikir, ini bentuk salah satu keadilan Allah. Sehingga 
orang
> > > "miskin" punya kesempatan untuk maju. Kalau tidak, selamanya 
orang
> > > miskin tetap miskin karena gak punya harta warisan yang cukup.
> > >
> > > Sebagai info, cadangan minyak USA (proved reserves) jauh lebih
> > besar
> > > daripada punya Indonesia. Data akhir 2005: US: 29.3 T barrels 
dan
> > > Indonesia 4.3 T barrels. 20 tahun yl: US 36.4 T barrels dan RI 
9.2
> > T
> > > barrels.
> > >
> > > Sudah, lupakan saja kalau kita itu kaya harta warisan, lebih 
baik
> > kita
> > > semua bekerja keras dan susul dulu itu Malaysia negara 
tetangga dan
> > > serumpun yang dulu dibelakang kita sekarang mulai jauh didepan
> > kita.
> > > CMIIW, thanks.
> > >
> > > salam,
> > > fau
> > >
> > > --- In [email protected], aris solikhah wrote:
> > > >
> > > > Btw apa yang membuat AS kaya? Darimana kekayaan AS?Apakah
> > > dari SDA-nya sendiri atau 'menjarah' negara lain? ^_^
> > > >
> > > > AS Negara Terkaya Sedunia
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > WASHINGTON, SABTU - Amerika Serikat menjadi negara terkaya di
> > > dunia pada tahun 2005, dengan Produk Dometik Bruto (PDB) 
mencapai
> > > 12,46 triliun dolar AS.
> > > >
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> 
*********************************************************************
******
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> 
*********************************************************************
******
> > 
_____________________________________________________________________
_____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> 
> 
> 
*********************************************************************
******
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> 
*********************************************************************
******
> 
_____________________________________________________________________
_____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> The great job makes a great man
>   pustaka tani 
>   nuraulia
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Next-gen email? Have it all with the  all-new Yahoo! Mail Beta.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke