Surat Kembang Gunung Purei:
"TOAST" SEPI, RINDU, HATI DAN TUBUH 3. Pertanyaan tentang apa-bagaimana jalan keluar dalam menghadapi dua permasalahan yang diajukan Xiao Lan sejak kalimat pertama cerpen, untuk sementara saya tangguhkan untuk melihat lebih dahulu bagaimana Xiao Lan memahami apa itu sepi, rindu, hati dan tubuh. Guna keperluan ini maka, kukutip bagian-bagian dari cerpen "Toast" [Lihat: Lampiran di bagian 1 "surat" ini]. Apakah "sepi" dan apa pula "rindu", menurut Xiao Lan. Entah itu diucapkan oleh tokoh "aku" atau pun tokoh figuran "aku" yaitu Cali? Jawaban pertanyaan ini bisa dilihat dari dialog tokoh "aku" dan Cali di bawah ini: "Lalu rinduku tumpah ruah seperti banjir Nuh yang meruntuhkan langit dan menggemuruhkan bumi. Dadaku tidak mampu lagi menahan sesaknya. Cintaku amblas kena amplas. Ibarat kupu-kupu, kepaknya tak utuh lagi, warna sayapnya luntur di dalam secangkir kebingungan. Hatiku menggelegak seperti burung gagak berkoak-koak. Hanya hening sesaat, selebihnya sepi merajai. Sepi itu hendak mencabut napasku. Karena ia sudah membekukan nadiku. Sepi itu gigil yang ngilu. Membuatku bisa merapatkan geligi gigi menahan gemelutuknya. Tetapi ketika mulutku akan membuka, tidak ada satu pun suara. Sepi seperti hantu yang bertahta di atas lidahku. Ia membangun istana di seluruh rongga mulutku sehingga aku gagu. Bahkan menangis pun sudah tak mampu. Siapa yang bisa tahan? ''Aku memilih rindu,'' bar tender itu menjawab sambil mengangsurkan segelas long island untukku. Kuteguk. ''Di dalam setiap kerinduan ada harapan. Ada keinginan. Sedangkan sepi hanya suatu keadaan. Kesepian itu melukai. Membuat hati berdarah dan bernanah. Tetapi kerinduan sekadar meninggalkan lebam memar yang membiru,'' jawabannya membuatku tersedak!" Apabila kita perhatikan pendapat Cali, yang sesungguhnya merupakan alat dari Xiao Lan untuk menyampaikan idenya -- sedangkan secara watak dasar tidak juga terlalu jauh dari tokoh "aku", hingga bisa dikatakan Cali adalah bayangan si "aku" juga, bonekanya si "aku" maka nampak bagiku bahwa "sepi" bagi Xiao Lan "suatu keadaan" yang "melukai", "membuat hati berdarah dan bernanah". "Keadaan" yang bermula dari permasalahan cinta individual atau pribadi. Bandingkan dengan bagaimana Chairil Anwar memahami "sepi" dalam puisinya " Malam Di Pegunungan" [ lihat: Chairil Anwar, "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Cetakan ke-3,Jakarta, 1993, hlm. 27]: "Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, Jadi pucat rumah dan kaku pepopohan? Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!" Ketika melukiskan keadaan dan berada di tengah kesunyian di pegunungan, Chairil menanyai diri : Apa gerangan yang membuatnya sepi. Apakah sepi itu? Menjawab pertanyaannya sendiri, akhirnya Chairil menemukan bahwa dirinya memang seorang kesepian bagaikan seorang "bocah cilik main kejaran dengan bayangan". Dan kukira, "bayangan" di sini bisa bermakna "mimpi" penyair tentang esok berdasarkan keadaan hari ini yang sedang dihidupinya. "Bayangan" beginilah yang membuatnya sepi, selalu tidak puas, senantiasa bertanya dan memburu makna sampai ia pada usia 27an tahun berkata: "sekali berarti sudah itu mati" dan berkesimpulan : "Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, pacu laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan hancurkan lagi apa yang sudah kau perbuat, Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja!" [Ibid: "Kepada Kawan"] Semangat serupa kukira terdapat pada baris-baris alm. Ramadhan KH dalam kumpulan puisinya "Tanah Kelahiran 7" in: "Priangan Si Jelita" [PT DuniaPustaka Jaya, Cetakan ketiga, Jakarta, 1975): Setengah bulatan bumi kusilang arah membusur Nyatanya aku hanya seorang pengembara" Pengembara yang kesepian. Gelisah memburu makna. Apakah kesepian Xiao Lan sama dengan kesepian Chairil dan Ramadhan? Agaknya tidak. Sama sekali tidak. Tokoh aku dan pembantunya Cali, dua tokoh yang asyik dengan kesepian diri sendiri, lari pada "long island". Apakah ini perbedaan keadaan angkatan? Tentu saja. Dan dari sini, barangkali bisa membedakan wajah pola pikir dan mentalitas angkatan sekarang dan yang terdahulu. Wajah pola pikir dan mentalitas Indonesia hari ini tercermin pada tokoh "aku" dan Cali yang hidup di bawah langit globalisasi sebagai tingkat baru kapitalisme yang sedang menyerbu Indonesia. "Uang sebagai raja" [l'argent roi] memojokkan orang-orang ke pinggir yang sepi di mana mimpi tak punya arti dibandingkan dengan jalan pintas untuk hidup sekedar hidup padahal seperti yang kurasakan sendiri "life is not for bread alone" seperti yang pernah dikatakan oleh seorang pengarang Soviet dulu . Keadaan yang juga kusaksikan waktu bekerja di Indonesia melalui ungkapan "rapat-rapat melulu, padahal rapat tidak bisa menjadi nasi" ["rapat dia tau jari bari", jika menggunakan istilah Dayak Katingan]. Ketika dari hasil rapat itu tersedia nasi di piring, menyuap nasi itu saja tidak bisa. Keadaan ini menumbuhkan kekerdilan manusia. Globalisasi kapitalis agaknya selainkan mengerdilkan jiwa manusia, juga telah membuat manusia kehilangan akal, suka pada jalan pintas dan juga pada kekerasan serta pelarian [eskapisme]. "Long island", bukankah suatu pelarian dari kesepian? KKN, fanatisme, sabetanisme, jenderal tentara menjual senjata, bisnis janda, termasuk ekspolatasi seks dan erotisme dalam sastra, bertaburannya motel-motel, tempat-tempat karaoke [tempat pelacuran terselubung], dan lain-lain... apakah bukan ujud dari jalan pintas ini juga? Membandingkan kosep Chairil dan Ramadhan dengan wacana Xiao, nampak di sini La wawasan Xiao Lan kiranya mungkin berbeda. Tokoh "aku" dan Cali dalam cerpen "Toast" bertemu di seloki "long island" eskapisme. Jasa Xiao Lan di sini, terletak pada kejujurannya mengungkapkan tokoh tipikal atau khas perkotaan kelas menengah Indonesia kekinian. Hal yang juga tercemin melalui berbagai nama samaran penulis di berbagai milis yang amat "neko-neko", "aeng-aeng", seperti "aku gila", "mayat perempuan", dan sejenisnya... Sebagaimana aku memperhatikan milis-milis yang menyebut diri sebagai milis sastra tapi lebih banyak berhahahihi, berhikhik, saling sanjung dan ucapan selamat tentang ini dan itu. Aku membaca pilihan nama samaran begini dan keadaan-keadaan begini sebagai suatu gejala berarti dilihat dari segi pola pikir dan mentalitas, sebagai suatu kadar perkembangan di negeri kita, dan sama sekali bukan suatu kebetulan tanpa arti. Dalam hal ini aku berterimakasih kepada seorang teman yang merumuskan keadaan begini sebagai konsep "melayang-layang" dalam mencari serta menemukan diri pada usia sudah tidak lagi remaja bahkan sudah beranak berbini. Patutkah keadaan begini dipahami dari segi perbedaan angkatan? Mengapa harus mencari permaafan diri sementara perkembangan dunia di luar kita dan negeri ini sendiri terus melaju. Pemaafan diri, kupandang tidak lain dari cara menyelamatkan muka dari ketidakberdayaan. Masalah hakiki tidak terselesaikan permintaan permaafan diri serta pemahaman. Seorang penjulis tidak meminta pemahaman dan permaafan. Penulis punya misi tanggungjawab. Karena itu Lu Sin berpesan pada anak tunggalnya: "Jangan jadi penulis jika kau tak sanggup jadi gila". Niscayakah kita berasyik-asyik dengan "pipit-isme" atau "tempe-isme" [jika menggunakan istilah bung Karno] pikiran dan mentalitas. Memburu nama hampa tanpa makna, kukira tidak lain dari ujud nyata "pipit-isme" dan "tempe-isme" kekinian. Bangsa kita bukanlah bangsa "pipit" dan "tempe". Ini kuyakini benar dan bisa kubuktikan. Etnik-etnik kita pun juga tidak demikian kalau kelak akhirnya Indonesia menjadi masa silam. Indonesia dan republik, tidak memerlukan "pipit-isme" dan "tempe-isme". "Pipit-isme" dan "tempe-isme" hanyalah busa dan gelembung sabun. Hal menarik lain dari cerpen Xiao Lan adalah tokoh Cali, "bar tender", si bonekanya, yang memilih "rindu": ''Aku memilih rindu,'' bar tender itu menjawab sambil mengangsurkan segelas long island untukku. Kuteguk. ''Di dalam setiap kerinduan ada harapan. Ada keinginan. Sedangkan sepi hanya suatu keadaan. Kesepian itu melukai. Membuat hati berdarah dan bernanah. Tetapi kerinduan sekadar meninggalkan lebam memar yang membiru,'' jawabannya membuatku tersedak!" Yang menarik di sini adalah kata-kata Cali yang juga merupakan kata-kata Xiao Lan bahwa "Di dalam setiap kerinduan ada harapan. Ada keinginan". Artinya Cali masih seorang pemimpi, seseorang yang masih membela harapan dan keinginan, bukan hidup sekedar hidup sekali pun ia bekerja untuk memenuhi keperluan raganya sebagai "bar tender" yang oleh sementara orang di Indonesia dipandang sebagai pekerjaan rendah. Sikap, yang ketika sementara orang Indonesia datang ke Koperasi Restoran Indonesia Paris, langsung dicela terbuka sebagai tidak menghargai manusia dan kerja badan sebagaimana juga teguran langsung kepada tamu-tamu dari Arab Saudi yang mengajak tidur perempuan anggota koperasi yang sedang servis. "Tuan-tuan cari saja perempuan untuk tuan-tuan tiduri malam ini dan besok selama di Paris di tempat lain. Di restoran ini jelas bukan alamat tepat untuk mendapatkannya. Restoran ini bukan alamat germo", tegur tetua bagian layanan. Membaca keadaan Cali, sang pemimpi sebagai "bar tender" , aku melihat kenyataan bahwa sering sang pemimpi adalah penempuh "jalan sunyi" jika menggunakan istilah Arief Budiman sebagaimana para pendiri Republik Indonesia, Repbulik dan Indonesia, oleh kolonialis Belanda dituding sebagai "pemberontak", "bandit" dan macam-macam lagi predikat negatif. Bedanya Cali, sang pemimpi, perindu dan penyinta dengan para pembangun Republik Indonesia, ia tidak mempunyai jalan keluar bagaimana mendapatkan penyanyi kekasih. Keadaan pikir dan mental Cali mengingatkan aku pada suatu pertemuan pada di Kuningan Jakarta pada masa jayanya Soeharto. Pertemuan itu disebutkan sebagai "Pertemuan Angkatan Bingung" oleh salah seorang wartawan Harian Media Indonesia Jakarta. Agaknya Cali tidak beda dari Angkatan Bingung. Dan benarkah kesanku setelah membaca cerpen Xiao Lan bahwa Angkatan Bingung masih ada di negeri kita sampai hari ini. Pola pikir dan mentalitas tokoh "aku" dan Cali juga kudapatkan dari korespondensi pribadi dengan seorang teman di Jawa Tengah yang menganjurkan aku agar tidak pulang ke Indonesia. "Mas hanya akan tersiksa di Indonesia", ujar sobatku itu. "Mosok sih hidup untuk cari susah" , lanjutnya. Dengan pola pikir dan mentalitas begini, setia, cinta dan mimpi akan esok sama sekali tidak punya arti seperti dikatakan oleh Chairil Anwar: "Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?" dan "Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar" Aku sangat berharap, dan sekali sangat sekali, mudah-mudahan aku salah besar dan total dalam memahami tokoh "aku" dan Cali yang "kosong" hati dan kepala hingga lari kepada ,"long island". Yang satu, tokoh eskapisme , sedangkan yang lain tokoh pemimpi yang masih merindu dan bermimpi tapi tidak tahu bagaimana mewujudkan mimpinya. Sehingga penyanyi kekasih yang sangat dicintainya tapi menghilang, hanya berada di bayangan, tanpa tahu bagaimana mendapatkan buah hati itu. Jika demikian, apakah gerangan beda tokoh "aku" dan Cali yang tak berdaya? Setali tiga uang, bukan? Jika dilihat dari segi kenyataan dan hakekat? Inikah manusia yang ideal bagi republik dan Indonesia? Kukira, tokoh begini bukan hanya "melukai" Indonesia, republik dan kemanusiaan tapi juga akan menghancurkan Indonesia, republik dan tidak memanusiawikan manusia serta diri sendiri. Benarkah sastra berfungsi begini? Sekedar pertanyaan acuan di tengah kegarangan hidup di republik dan negeri ini. Terbayangkah kita sebagai manusia , anak negeri dan bangsa akan sampai jika menyanjung tokoh yang lari pada seloki "long island"? "Melayang-layang" oleh "long island" eskapisme. Terbayang padaku Indonesia dan republik serta warganya berada dalam keadaan "melayang-layang" sebelum hilang entah di mana dan ke mana. Dari segi ini, aku memahami ucapan kejengkelan seorang teman yang teman dari Kairo : "Mari kita hancurkan Indonesia dan Republik!". Kutambahkan: "Mari kita hancurkan harkat manusiawi diri kita sendiri dan jadi barang dagangan! Kali ini tak lagi n ada mimpi dan cinta". Cocok bukan dengan globalisasi kapitalis. Dalam keadaan begini , gerbang besar terbuka bagi masuknya takhayulisme dan eskapisme. Di negeri kita, banyak sekali bentuk eskapisme dan kebingungan. Ujud dari yang disebut oleh Alain Touraine, sosiolog Perancis dari l'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales [l'EHESS] , Paris, sebagai bentuk dari "kekosongan" [la vide, the emptiness]. Aku mengkhawatirkan benar kalau-kalau "the emptiness" ini menandai Indonesia sampai sekarang, sebagaimana yang tersirat dari cerpen "Toast" Xiao Lan. "The empitness" gampang membuat anak negeri dan bangsa tak enggan mencampakkan martabat diri dan terjaring oleh jala "for bread only" dan lain-lain jalan pintas. Apakah Indonesia sekarang adalah negeri dan bangsa "of the emptiness"? Apakah cerpen Xiao Lan "Toast" bisa dipandang cerminan dari keadaan? Aku sekedar bertanya karena dirasuki oleh setujuku pada konsep Republik dan Indonesia sebagai wacana yang masih jauh dari sudah diejawantahkan, sekaligus sebagai orang awam pencinta sastra. Aku bertanya, termasuk menanyaimu Xiao Lan yang berkali-kali menanyaiku apakah sudah membaca "Toast" atau belum. Republik dan Indonesia, jika kita menyepakatinya sebagai konsep besar dan mulia, masih merupakan esok yang patut dirajut dan direnda bagai kita merajut dan merenda "bénang dinding" ,jika menggunakan ungkapan Dayak Katingan. Indonesia dan republik adalah suatu "bénang dinding" juga adanya. Kukira!**** Paris, Juli 2006 --------------------- JJ. Kusni [Bersambung.....] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

