Politisi Oportunis        
      Selasa, 11 Juli 2006  
      Oleh: I Dewa Gde Satrya Widiadata*


      Patut diakui, sumbangsih organisasi kepemudaan (OKP) terhadap 
kepemimpinan dan keterwakilan politik di Indonesia cukup besar. Setidaknya, 
berdasar catatan sejarah era Orde Lama hingga era reformasi, akan tampak bahwa 
generasi politisi-politisi yang menonjol pada eranya masing-masing adalah 
berlatar belakang OKP. Kelompok Cipayung (HMI, GMKI, GMNI, PMKRI) menelurkan 
politisi-politisi Orde Baru yang masih eksis sampai sekarang, seperti Akbar 
Tandjung, Cosmas Batubara, dan sebagainya. Demikian halnya PMII. 


      Hingga saat ini, pengalaman hidup bersama membangun gerakan mahasiswa 
melalui background OKP terbawa dalam sidang-sidang dewan, kabinet, hingga 
pengambil keputusan tertinggi, presiden. Ironisnya, kedewasaan berpolitik dalam 
situasi itu amat sulit terbangun. Orang akan sulit menelaah kebenaran di atas 
persahabatan. Apalagi dalam hal pengambilan keputusan menyangkut hajat hidup 
orang banyak, latar belakang persahabatan antarsesama alumnus OKP, baik di 
organisasi yang sama maupun berbeda tetapi pernah menjalin relasi, akan 
mendominasi. 


      Kalkulasi dagang dalam pengambilan keputusan politik akan terjadi. Sebab, 
lebih mudah mengambil keputusan dengan banyak pendukung ketimbang oposan. 
Mereka yang berlatar belakang OKP mendapat kemudahan untuk itu. Sementara itu, 
rasionalitas kebijaksanaan dalam sebuah kebijakan politik terbengkalai. 
Keputusan politik lebih banyak distorsi kepentingan, dalam hal ini kepentingan 
para alumnus OKP.


      Tatkala mereka berkumpul dalam suatu partai politik, histori persahabatan 
dan kesamaan ideologi menjadi daya tawar tersendiri untuk menyelamatkan dan 
meraih kekuasaan. Tidak ada dalam mekanisme itu ritme harmoni politik yang 
dengan permainan cantiknya membawa berkah bagi rakyat. Sebab, orientasi mereka 
masih berdimensi masa lampau, balas budi, rasa sungkan, dan 
subjektivitas-subjektivitas lain.
      Daripada sibuk memikirkan penyelamatan masa depan bangsa ini, mereka pun 
memperkuat jaringan kekuasaan, baik dengan sesama politisi maupun juniornya di 
tingkat gerakan mahasiswa. Kerap ditemui, seorang politisi "mendekati" 
juniornya supaya tidak meributi kinerja mereka dengan demo-demo. Dalihnya, 
kesamaan latar belakang OKP. Apalagi, kebanyakan OKP memiliki ideologi sendiri, 
peluang untuk mempererat ikatan emosional akan terbuka luas.


      Bandingkan dengan gerakan mahasiswa intrakampus yang tanpa anutan 
ideologi. Relasi pasca perkuliahan baik dengan senior maupun rekan seangkatan 
lebih longgar. Kecuali, ada keperluan dana, bantuan pekerjaan, dan keperluan 
pribadi lain. Tetapi, untuk kepentingan strategis yang sifatnya rekrutmen kader 
politik di tingkat partai politik, junior-junior gerakan mahasiswa intrakampus 
mempunyai sedikit peluang untuk menembus lingkaran elite politik.


      Tak jauh berbeda dengan problematika ormas sektarian yang dibahas pada 
minggu sebelumnya, problematika OKP menyimpan tragedi yang tak kalah getirnya. 
Lingkup persoalannya bermuara pada apa yang sangat tidak kondusif bagi kemajuan 
perpolitikan di Indonesia, yaitu subjektivitas yang mengatasi rasionalitas, 
kebijaksanaan, objektivitas, dan sebagainya. 


      Untuk apa, misalnya, seorang mahasiswa bergabung dalam suatu OKP jika 
tidak mengakar pada basis ideologi dan keseluruhan dimensi sejarah organisasi 
itu? Gugatan tersebut kerap ditujukan kepada mereka yang "masih hijau" dengan 
dinamika OKP. Mendapat gugatan semacam itu, kader-kader OKP akan berusaha keras 
untuk memenuhinya. Segala hal yang telah dicetak senior-seniornya dipelajari. 
Termasuk sepak terjang politik dan relasi-relasi kekuasaannya berupaya untuk 
dikenali.


      Sebagai insan kader OKP, mereka harus mengenal secara pribadi 
alumni-alumninya. Sayang, di tingkat kaderisasi dan pendidikan internal, 
anggotanya tidak dibekali perspektif visi organisasi yang mendalam. Akibatnya, 
peluang setiap orang untuk memanfaatkan momentum keanggotaan OKP bagi 
keuntungan pribadi cukup besar. Banyak kader OKP yang mulai membina relasi baik 
dengan senior-senior mereka yang menjadi politisi beken. 


      Tetapi, di luar konteks itu, keanggotaan OKP mengalami degradasi makna. 
Untuk apa sebenarnya menjadi anggota OKP? Jika hanya untuk memikirkan nasib 
pribadi selepas kuliah dengan berbaik-baik hati pada alumni-alumni yang 
memiliki kekuasaan, hal tersebut justru merongrong ketahanan gerakan mahasiswa 
itu sendiri. OKP menjadi diminati mahasiswa karena catatan sejarahnya. Juga, 
melalui OKP, peluang untuk berkenalan dengan dunia luar terbuka lebar.


      Bukan untuk meraih keuntungan pribadi yang sifatnya memanfaatkan, tetapi 
untuk memperkaya diri dengan menguji kualitas pengembangan diri dalam 
forum-forum diskusi dan gerakan kemahasiswaan. Selepas itu, kader-kader OKP 
diharapkan memberikan feedback yang konstruktif bagi kemajuan gerakan mahasiswa 
di tingkat kampus.


      Tak tepatlah jika kader-kader OKP justru menjadi antagonis di dalam 
kampusnya sendiri karena merasa berpengalaman melakukan gerakan ekstrakampus. 
Sebaliknya, sisi-sisi kelebihan OKP yang sulit ditemui pada gerakan mahasiswa 
intrakampus patut diberikan. Entah itu sekadar skill memengaruhi opini publik, 
strategi membangun jaringan kerja yang produktif, maupun perkembangan situasi 
sosial-politik. Hanya pada konteks itulah, OKP akan terselamatkan dari 
kepentingan-kepentingan individual.


      Becermin dari rekrutmen senior kepada juniornya di OKP yang selama ini 
terjadi, mekanisme itu semakin tidak kondusif bagi kehidupan publik yang banyak 
tergerus oleh kiprah buruk para politisi. Sebab, hambatan untuk menjadi manusia 
mandiri dalam pemikiran dan kepentingan terkungkung oleh perasaan-perasaan 
subjektif. Biarkan waktu yang menempa kader-kader OKP agar terhindar dari 
performa politik oportunis.

      I Dewa Gde Satrya Widiaduta, alumnus PMKRI angkatan 2000.

      
http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1320&Itemid=33
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke