Bela 

  Oleh Mujtaba Hamdi

    Sudah cukup lama lembaga itu bergerak, tapi tak banyak orang menyadari ada 
hal yang sedikit aneh. Bukan soal kelakuannya yang memang kerap bikin teriak, 
suka gertak. Bukan ihwal reaksinya yang kerap ringan tangan, main gebuk, 
gampang hajar. Juga bukan sikap mentang-mentangnya yang suka main usir, main 
tutup, dengan ancaman remuk jika ditentang. Bukan, bukan itu, ini soal kecil 
saja: nama.
  Lembaga itu menyandang nama dengan embel-embel “pembela Islam”. Memang 
bagus-bagus saja, ada tersirat niat luhur melakukan sebuah upaya “membela”. Ada 
perjuangan. Ada kerelaan berkorban. Tentu ada empati pula, rasa turut menderita 
atas kesengsaraan yang dialami korban. Juga rasa kasihan, karena korban tak 
cukup punya daya, lemah, tak mampu berbuat banyak demi membela diri, dus butuh 
pembela di luar dirinya.
  Tapi, siapa yang tak berdaya itu? Di sini sedikit ganjil, yang lemah itu 
bukan si miskin, bukan si yatim, bukan si tergusur, tapi... Islam. Kata 
“membela Islam” macam menyiratkan adanya posisi Islam sebagai “yang lemah”, 
yang kemudian memerlukan uluran tangan-tangan kekar yang punya kekuatan lebih 
sebagai “pembela”. Arogansi? Hmm, kata ini tak terlalu tepat, barangkali. Rasa 
percaya diri berlebihan—frasa ini mungkin lebih pas, meski sedikit boros. 
  Ini bukan sekadar main-main kata, tapi soal pikiran yang berdiam di balik 
kata. Kata “membela Islam” dengan siratan makna macam klaim lembaga itu, bukan 
main sulitnya ditemukan dalam al-Quran. Al-Quran dikenal sebagai kitab yang 
kerap memotret peristiwa politik ataupun situasi sosial tertentu dengan 
kata-kata yang, sebut saja, in-depth, mendalam. Tapi ketika mencari kata untuk 
gambaran peristiwa yang disebut “membela”, mungkin yang kita temukan adalah 
“Allah membela...”, yang tentu sama sekali tak aneh sebab Allah memang 
Al-Qawiy, Yang Mahakuat. 
  Baik, katakanlah istilah “membela” itu diwakili kata dâ-fa-’a, yu-dâ-fi-’u, 
di-fâ-’an, maka yang kita dapati adalah Surat al-Hajj (22) ayat 38. “Innallâha 
yudâfi’u ‘anil-ladzîna âmanû,” bunyi ayat itu, “Sesungguhnya Allah membela 
orang yang beriman.” Ayat ini bicara soal orang mukmin yang terusir. Kala itu, 
umat Muhammad di Makkah tengah dizalimi kaum Musyrikin. Mereka terus-menerus 
mengalami penganiayaan, hingga akhirnya Nabi pun harus keluar dari Makkah. 
  Wajarlah jika di ayat berikutnya disebutkan bahwa dizinkan bagi orang mukmin 
berperang, karena mereka telah dianiaya. Mereka dalam posisi lemah. Jumlah 
belum banyak, jabatan politik belum kuat. Sedangkan mereka harus menghadapi 
raksasa-raksasa Quraisy Makkah yang menguasai kekuasaan politik maupun modal 
ekonomi. Tapi Allah segera memberikan keyakinan, “Allah membela orang-orang 
yang telah beriman.” 
  Ya, yang tampak dalam ayat ini adalah gambaran kaum mukmin yang lemah 
berbanding dengan kaum Quraisy yang serbakuat. Allahlah yang kemudian membela 
kaum mukmin itu. “Sungguh Allah Mahakuasa menolong mereka,” begini disebut di 
ayat selanjutnya. Dan, hmmm, ini bukan tentang gambaran Islam yang lemah dan 
kemudian ada sosok-sosok perkasa yang tampil membelanya. Dan kita tahu mengapa 
demikian: Islam hadir memang bukan untuk dibela tapi untuk membela manusia dari 
kekejaman dan kesewenangan manusia lain.
  Di bagian lain al-Quran, kita bisa lihat gambaran peristiwa berbeda yang 
muncul dari ayat yang memakai kata da-fa-’a—ini jika kita hendak cari kata 
seakar dengan dâ-fa-’a. Kata ini menyimpan makna menahan, mencegah, menolak, 
mendorong. “Idfa’ bil-latî hiya ahsanus-sayyi’ata,” begitu ayat 96 Surat 
al-Mukminum (23), “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.” 
  Ayat ini merupakan titah Allah kepada Nabi ketika menghadapi begitu 
menderunya kalimat dan perilaku menyakitkan dari kaum Musyrik. Nabi 
diperintahkan agar membalas justru dengan perbuatan baik, bahkan dengan memberi 
maaf. Dan kita tahu, Nabi kerap tak segan mengampuni tindakan-tindakan jahat 
kaum Musyrik. 
  Di Surat Fushshilat (41) ayat 34, kalimat dengan nada semacam kembali 
disebut. “Idfa’ bil-latî hiya ahsan, tolaklah [kejahatan] itu dengan perbuatan 
yang lebih baik.” Ada tambahan kata-kata yang mengagumkan di ayat ini: “…hingga 
yang antara kau dan dia ada permusuhan menjadi seolah-olah teman karib yang 
sangat setia, waliyyun hamîm.” Sebuah titah yang tak hanya menginstruksikan 
untuk membalas kejahatan orang dengan kebaikan, melainkan lebih dari itu: 
memberi kebaikan sedemikian rupa hingga layaknya karib yang selalu bersama.
  Tak perlulah heran jika gambaran-gambaran peristiwa dan situasi macam dalam 
ayat ini sangat berbeda dengan yang ditampilkan kelompok yang menyebut diri 
“pembela” itu. Ini barangkali tak penting lagi. Rasa percaya diri lebih urgen. 
Rasa yakin yang tak tergoyahkan, bahwa yang sedang dibela adalah sesuatu yang 
luhur, jauh lebih diperlukan. Ada dua rasa percaya yang lebih mendesak 
ditanamkan: layak sebagai pembela dan ada yang pantas dibela. 
  Yang pertama dibangun dengan terus-menerus membangkitkan rasa percaya diri 
yang supertinggi, seperti sebuah suara “aku adalah wakil umat Islam”, yang 
diwiridkan dalam diam, dalam dunia taksadar, hingga mengental menjadi mental. 
Yang kedua dibangkitkan dengan menegakkan jari telunjuk, menuding ke sebuah 
arah: ada yang telah menodai Islam. 
  Maka, ketika ada tombol berbunyi: “Betul Si Gendut telah menghina Islam?”, 
raga-raga dengan dua rasa percaya itu segera bereaksi otomatis: “Betul.” Lalu 
kita tahu kemudian yang terjadi: raga-raga itu berubah jadi kerumunan dengan 
satu bunyi “membela Islam” menggasak target-target yang diidentifikasi sebagai 
“menghina Islam”. Padahal kita juga tahu: yang disebut “menghina Islam” itu tak 
lain adalah suara lain yang menggentarkan si “pembela”. Suara lain yang tak mau 
mengangguk oleh teriakannya, yang lalu dirasa sebagai sebuah ancaman.
  Dan, di mana lalu Islam? Di mana “yang dibela”? Kabur, atau yang dibela 
mungkin adalah sebuah perasaan yang terancam. Sebab kita tahu jihad, sebuah ide 
perjuangan yang paling dikenal, tak pernah beriringan dengan konsep “membela 
Islam”. Jihad, sebuah upaya sungguh-sungguh yang melibatkan totalitas raga dan 
jiwa yang celakanya telah tereduksi menjadi sekadar pembenar aksi-aksi brutal, 
terasa pas diiringi ‘fî sabîlillah’, di jalan Allah. 
  Tengok lagi: berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah, dan bukan membela 
Allah. Tapi kita barangkali sudah patut bersyukur, embel-embel itu baru 
“membela Islam”, belum sampai “membela Allah”. Jika yang terakhir ini terjadi, 
kita sudah tak tahu lagi apakah Al-Qawiy akan diungguli hanya oleh sebuah rasa 
percaya diri supertinggi. Wallahu A’lam.
  ----------

Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Harus dibedakan antara takut dengan kehati2an. Islam mengedepankan 
upaya
pencegahan sbelum segalanya menjadi terlanjur. Bukan takut akan kejahatan,
melainkan memang harus ada upaya pencegahnnya. Kejahatan memang pasti kalah,
namun kita juga harus punya strategi untuk menangkalnya. Itulah bukti
keimanan. Keimanan bukan berarti pasrah ketika ada yang memukul
kita............

----- Original Message -----
From: "abdi christ" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, July 11, 2006 10:52 PM
Subject: [ppiindia] Re: Memerangi Premanisme dengan FPI --> Nizami

> Idealnya, orang membela diri bila diserang. Orang membela diri bila
> dikepung. Tetapi fenomena FPI malah jungkir balik: membela diri dengan
> menyerang, menginjak2, membubarkan, meneriakkan nama Tuhan sambil
> melempar batu, mengeroyok.
>
> Padahal kalau memang (benar2) beriman, seharusnya tahu kalau "Tuhan
> bisa membela DiriNya sendiri". Kalau umat memang milikNya, tidakkah
> Dia akan membelaNya?
>
> Kenapa Saudara Nizami harus takut dengan lingkungan yang semakin
> memburuk? kenapa anda harus cemas dengan pelacuran, narkoba,
> pornografi, perjudian, di sekitar anda? Kenapa anda cemas dengan apa
> yg ada diluar anda?
>
> Apakah apa yang berada DILUAR diri Anda, dapat mempengaruhi APA yang
> ada DI DALAM diri Anda?
>
> Kalau memang demikian, iman anda = iman yang terpengaruh oleh keadaan.
> Kalau memang demikian, tidak heran, anda memerlukan FPI untuk membela
> kesalehan hidup anda, dan bukan TUHAN sendiri.
>
> Saya beritahu:
>
> " jikalau apa yg ada didalam diri anda lebih besar dan kuat daripada
> apa yg ada diluar anda. Anda bukan cuma akan menjadi orang2 yang hidup
> suci ditengah2 kebobrokan masyarakat. Tetapi anda juga akan menjadi
> Terang bagi mereka yang berada dalam kegelapan."
>
>
> > A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Assalamu'alaikum wr wb,
> >
> > Jika kejahatan/kemungkaran dibiarkan, niscaya dia akan
> > merajalela.
> >
> > Saat ini perjudian, minuman keras, narkoba, pelacuran,
> > pornografi, dsb begitu marak. Aparat nyaris tidak
> > bertindak. Padahal dampaknya begitu buruk.
> >
> > Perjudian mengakibatkan bapak-bapak yang kecanduan
> > lebih memilih menghabiskan uangnya di meja judi
> > ketimbang memberi makan keluarganya atau untuk biaya
> > sekolah anaknya.
> >
> > Minuman keras mengakibatkan orang kecanduan dan rusak
> > otaknya. Tak jarang banyak terjadi perkelahian ketika
> > pikiran sudah mabuk.
> >
> > Narkoba selain merusak otak juga bisa menyebabkan
> > kematian. Pengedar narkoba tidak segan-segan meracuni
> > anak SD-SMP agar ketagihan dan jadi pelanggan mereka.
> > Bahkan di dekat tempat tinggal saya ada anak TK yang
> > bengong-bengong karena dicekoki narkoba.
> >
> > Pelacuran terbukti menyebar-luaskan berbagai penyakit
> > herpes, rajasinga, Aids dan sebagainya bukan hanya ke
> > pria hidung belang, tapi juga ke istrinya yang tidak
> > berdosa. Perzinahan terjadi dan pengguguran anak haram
> > hasil pelacuran sering terjadi.
> >
> > Pornografi juga merajalela. Playboy tetap bebas
> > terbit. Aparat tidak berani menahan pemilik modal
> > majalah Playboy.
> >
> > Pada saat aparat tidak berani bertindak, majulah FPI.
> > Jika tidak ada FPI maka kemaksiatan di atas merajalela
> > tanpa ada pihak yang berusaha mencegahnya.
> >
> > Wassalamu'alaikum wr wb
> >
> > ===
> > Dampak Pornografi: 1 di antara 3 wanita AS diperkosa. Tiap tahun 2,3
> juta wanita hamil di luar nikah di Indonesia (Dr. Boyke). Berantas
> pornografi dukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi - www.nizami.org
> >
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail.yahoo.com
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>



         

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke