http://www.indomedia.com/bpost/072006/14/opini/opini1.htm


Banjir, Jangan Salahkan Tuhan

Oleh: Ahmad Juhaidi
Urang Padang Batung Kandangan

Menyerahkan jawaban semua persoalan kepada agama (Tuhan) tentu saja tidak 
keliru. Tetapi, sikap berlebihan dan mengabaikan kreativitas individu akan 
membawa kepada sikap fundamentalistis. 

Hari-hari ini, banua berada dalam bencana yang relatif lebih dahsyat dibanding 
tahun-tahun lalu. Banjir yang menenggelamkan Kabupaten Banjar dan Tanah Bumbu, 
konon, terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak analisis yang ingin 
menjelaskan bencana itu. 

Ulama mengingatkan, semua itu adalah cara Allah mengingatkan manusia agar 
kembali ke jalan Nya. Ketika itulah agama menjadi favorit untuk menjelaskan dan 
berlindung dari bencana yang telah merenggut korban jiwa tersebut. Agama 
menjadi ruang untuk menjawab berbagai persoalan dan pertanyaan musykil (thorny 
questions) yang kini hadir. Agama tiba-tiba menjadi medan pelarian diri, bahkan 
opium yang menghibur --kalau kita gunakan bahasa Marxian.

Masjid pun menjadi tempat berlindung ketika banjir mengancam, meskipun masjid 
itu berada di dataran rendah. Itu hanya pertanda betapa simbol agama menjadi 
tempat pertama untuk berlindung dari musibah. Khutbah, ceramah, artikel di 
media massa berlomba menyerukan agar kembali kepada ajaran Tuhan. Tuhan marah 
karena terlalu banyak maksiat di banua ini. Komentar itulah yang dominan 
menghiasi ruang publik. Pejabat pun sibuk mengajak rakyat untuk bersabar 
--bukankah sabar disayangi Tuhan.

Semua itu menjadi pegangan bahkan terkesan mengalahkan pendekatan geologis atau 
akademis lainnya. Kerusakan lingkungan tak disalahkan oleh pejabat di banua 
ini. Analisis yang mengarah kepada kerusakan lingkungan akibat penambangan dan 
pembalakan liar, tak terdengar lagi dalam gemuruh khutbah dan kedermawanan 
pejabat.

Media massa yang semestinya lebih kritis mencari penyebab, tampaknya lebih 
menyukai menulis tentang penderitaan pengungsi atau anak yang terpisah dari 
orangtuanya. Media sangat jarang, bahkan tidak ada, melakukan investigasi 
mengenai kerusakan lingkungan di banua ini. Barangkali, bercerita tentang 
penderitaan lebih menarik daripada mencari mengapa penderitaan itu terjadi. 
Pemilihan Nanang dan Galuh lebih enak ditulis media, ketimbang menelisik 
mengapa bencana melanda.

Tentu saja, kehadiran tiga menteri juga lebih pantas disambut daripada membuat 
otokritik tentang pelestarian alam. Itu semua tidak mengherankan, karena 
--konon-- ada seorang pejabat yang bersedia memberikan Rp10 juta kepada 
wartawan agar berita tentang kerusakan alam di daerahnya tidak diekspos dan 
dikaitkan dengan banjir.

Oleh karena itu, tidak mengherankan berita tentang kerusakan alam sangat jarang 
diungkap media. Terlepas dari hal itu, menurut bahasa Pierre Bourdieu, dalam 
deraan bencana kita mungkin sedang mengalami disenhecment of the world. Dunia 
sedemikian tak berarti, nisbi, dan kosong.

Dalam benak setiap orang, hampir tersemat apa yang oleh Heiddeger disebut 
kecemasan atau aungthz. Tuhan hadir tepat waktu, dianggap sebagai 'sumber' 
bencana dan dalam waktu bersamaan sebagai jalan yang memberi harapan. Dalam 
sudut pandang sosiologi, Peter L Berger meyakini, agama adalah sacred canopy 
yang sampai kapan pun akan melindungi manusia dari chaos. Agama baginya 
merupakan semesta simbolik yang selalu memberi makna pada kehidupan manusia, 
dan karena itu akan selalu dibutuhkan setiap saat.

Berbeda dengan Peter L Berger, AN Wilson (novelis dan wartawan Inggris) malah 
menulis buku berjudul Against Religion: Why We Should Try to Live Without It. 
Di sini, Berger terlihat optimis dalam memandang agama. Sementara Wilson 
pesimis terhadap peranan positif agama bagi manusia.

Berger dan Wilson melihat agama dari sudut pandang yang berbeda. Keduanya bisa 
benar dan bisa salah. Titik persamaannya: keduanya memandang agama seperti 
gunung berapi. Yang satu optimis gunung api sangat berguna, karena dapat 
menciptakan lahan pertanian yang subur melalui lahar yang dimuntahkannya. Yang 
pesimis, justru melihat lahar sebagai ancaman karena bila gunung api meletus 
akan banyak korban. Maka, akan lebih baik bila kita melihat gunung api sebagai 
subjek yang mempunyai potensi membangun dan merusak sekaligus, dan kita harus 
mampu mengendalikannya.

Oleh karena itu, kita membutuhkan kemampuan teknologi. Terhadap agama kita 
membutuhkan kemampuan penalaran, wisdom dan kesadaran diri. Ringkas kata, kita 
perlu aktualisasi pemikiran, pemahaman dan perilaku keagamaan di tengah 
masyarakat yang serba plural sekaligus kental dengan sentimen primordial ini. 
Tidak hanya menjadikannya sebagai tempat pelarian ketika bencana melanda.

Mengutip Slamet Thohari, musibah dan penderitaan memberi ruang bagi agama untuk 
menjadi penjelas keadaan sehingga membunuh penjelasan ilmiah. Dengan cara 
mereproduksi wacana yang mengukuhkan spirit agama dan Tuhan secara berlebihan, 
agama yang mestinya menjadi refleksi dan pergulatan personal kini menjadi 
spirit dan kesadaran kolektif. Ia lalu menjadi sistem yang mengolonisasi 
lebenswelt individu. Kini ada kecenderungan besar, orang tidak lagi berpikir 
kreatif dalam menyikapi pelbagai musibah.

Menyerahkan jawaban semua persoalan kepada agama (Tuhan) tentu saja tidak 
keliru. Tetapi, sikap berlebihan dan mengabaikan kreativitas individu akan 
membawa kepada sikap fundamentalistis. Agama menjadi kebenaran mutlak pada 
semua sektor wilayah publik, dan secara perlahan menenggelamkan sikap kritis. 
Bahkan, tidak mustahil agama akan dijadikan alat untuk menghindarkan diri dari 
tanggung jawab atas kerusakan lingkungan.

Statemen 'Banjir adalah musibah dan cobaan Tuhan' dan 'Mohon bersabar 
pemerintah akan membantu', seolah mengajak publik untuk tidak mempersoalkan 
andil bahkan keterlibatan penguasa dalam pengerukan hasil alam tanpa 
memperhatikan lingkungan. Dalam kondisi demikian, penguasa bak pahlawan yang 
hadir saat penderitaan menimpa dan akhirnya Tuhan diposisikan mereka sebagai 
yang 'bersalah' menimpakan cobaan itu. Padahal dalam Alquran disebutkan dengan 
jelas, bahwa kerusakan di laut dan di bumi akibat tangan manusia. Bencana tidak 
hanya membawa penderitaan dan kerugian, tetapi juga sisi 'positif' bila kita 
dapat menyikapinya secara jernih dan menjadikannya sumber inspirasi. Menyikapi 
bencana secara berlebihan dan meletakkannya dalam kerangka agama semata tanpa 
sikap yang kritis, merupakan sikap fatalis yang tidak berarti. Itu merupakan 
cara yang kurang produktif, karena akan membunuh kreativitas dan daya nalar 
manusia. Bukankah kreativitas dan nalar adalah keistimewaan manusia? 
Wallahua'lam

blog: lanjung.blogspot.com
e-mail: [EMAIL PROTECTED]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke