Tulisan Syafi'i Maarif lumayan. Mengecam teroris yang
melakukan perlawanan terhadap AS.

Cuma Syafii luput menulis: bagaimana dengan serangan
maut AS ke Iraq dan Afghanistan yang menewaskan
puluhan ribu penduduk sipil di sana? Atau serbuan maut
Israel ke Palestina yang juga menewaskan penduduk
sipil?

Apakah ummat Islam harus melepaskan jihad dan menyerah
saja jika diserbu dan dibantai AS dan Israel?

Apakah Syafii menulis begitu karena Muhammadiyyah
menerima dana dari yayasan Asia Foundation?

--- In [email protected], sidqy suyitno
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Netters,
>   Mohon ma'af posting terdahulu tidak lengkap.
Mudah2an ini memang lengkap.
>   Salam,
>   Sidqy L.P. Suyitno
>    
>   POLITIK, DAKWAH, DAN TEOLOGI MAUT
>   Oleh: Ahmad Syafii Maarif
>   Pendahuluan
>   Judul yang semula diberikan Sinar Harapan adalah
“Politik Islam vs. Dakwah Islam”, saya ubah menjadi
“Politik, Dakwah, dan Teologi Maut” dengan tiga
pertimbangan: pertama, sekalipun pada ranah praksisme,
watak politik pada umumnya berbenturan dengan sifat
dakwah, dalam perspektif al-Qur’an tidak semestinya
demikian. Kedua, dengan perubahan judul itu
pembicaraan saya siang ini diharapkan akan bercorak
lebih umum, tidak larut dalam realitas kekinian
politik Indonesia yang menyesakkan nafas. Ketiga,
lagi, dari perspektif al-Qur’an, baik dakwah mau pun
politik sama-sama punya dimensi pendidikan untuk
pencerahan. Kemudian apa yang dimaksud dengan teologi
maut dalam kaitannya dengan politik yang menggejala di
kalangan segelintir umat Islam? Mari kita coba
melihatnya lebih jauh.
>   Politik dan dakwah pada ranah praksisme
>   Apa yang pernah saya sampaikan dalam ungkapan
berikut adalah format praksisme tentang hubungan
politik dan dakwah:
>   Politik mengatakan:
>   Si A adalah kawan
>   Si B adalah lawan
>   Dakwah mengoreksi:
>   Si A adalah kawan
>   Si B adalah sahabat.
>   Politik cenderung berpecah dan memecah Dakwah
merangkul dan mempersatukan.  
>   Dalam perspektif al-Qur’an, politik seharusnya
menjadikan filosofi dakwah sebagai acuan, tetapi
alangkah sulitnya, termasuk realitas yang sering kita
tonton dalam kelakuan partai-partai yang mengaku
berdasarkan Islam. Sikut menyikut, perang ayat,
masing-masing ingin “memaksa” Tuhan untuk berpihak
kepada kepentingan jangka pendeknya, berupa posisi
politik dan ekonomi, merupakan realitas sepanjang
sejarah. Sulit sekali praktik politik itu dapat
dijinakkan oleh dakwah yang menjunjung tinggi moral
dan sikap santun. Oleh sebab itu, di dunia nyata tidak
mudah bagi kita untuk membedakan kelakuan politik
antara mereka yang mengaku percaya kepada wahyu dan
mereka yang tidak hirau lagi dengan segala prinsip
yang berhulu kepada nilai-nilai
profetik-transendental, di samping adanya pengalaman
agama di Eropa yang menentang kemajuan ilmu
pengetahuan. Barangkali karena melihat kenyataan yang
serba kontradiktif inilah, seorang Bertrand Russell
sampai kepada pendapat bahwa “semua agama
>  itu berbahaya” (all religions are harmful). 
>   Tetapi dunia tanpa Tuhan dan agama juga akan
kehilangan apa yang disebut “nilai-nilai tertinggi”
sebagai acuan yang dalam bahasa F. Nietzshe
diungkapkan dalam formula “kematian Tuhan.”  Jika kita
bawa turun ke bumi Indonesia kontemporer,
pertanyaannya adalah: apa ada perbedaan fundamental
antara kelakuan politik mereka yang rajin ke masjid,
bahkan sudah haji, dengan mereka yang tidak lagi hirau
kepada agama sebagai sumber nilai tertinggi? Bukankah
kedua kelompok ini telah sama-sama “membunuh” Tuhan,
sehingga acuan moral tertinggi sudah lama menghilang? 
>   Akibatnya sangat nyata, yaitu merapuhnya hampir
seluruh pilar moral bangsa. Indonesia dari hari ke
hari semakin ringkih dan kropos saja, baik karena
beban utang negara yang sudah mencapai Rp. 1.300
triliyun,  mau pun karena gurita korupsi yang masih
mengganas, pembalakan kayu, pajak yang tidak distor ke
kas negara oleh penagihnya yang telah menggarong
kekayaan bangsa dalam jumlah puluhan triliyun. Juga,
yang tidak kurang  membebani batin kita adalah wajah
premanisme sebagian politisi kita yang sungguh
a-moral, tidak terkecuali sebagian mereka yang mengaku
dan duduk sebagai wakil rakyat.
>   Dalam pada itu muncul pula sekelompok kecil orang
dengan jubah dakwah, tetapi di otak belakang mereka
sarat dengan libido kekuasaan, ingin mengubah
Indonesia menjadi sebuah negara teokratis, karena
negara Pancasila dinilai telah gagal mencapai tujuan
utamanya berupa terciptanya “keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.” Ironisnya adalah negara
teokratis yang adil terhadap semua dan terbuka seperti
yang mereka berhalakan itu tidak ada contohnya di muka
bumi sekarang ini. Artikulasi politik mereka sungguh
sangat dangkal, tetapi dalam suasana mental bangsa
yang lagi goyah, jualan mereka ada juga pembelinya. 
Labih seram lagi, dari catatan harian seorang
perangkai bom dan pembunuh berdarah dingin yang
ditembak di Wonosobo pada 27 April 2006, tahulah kita
bahwa telah muncul sekelompok orang yang sedang
memasarkan teologi maut: ingin cepat mati, karena
tidak berani hidup. Di seberang sana telah menanti
bidadari yang cantik! Orang ini demikian tinggi
mengagumi Dr. Azhari
>  Husain yang dinilai mati syahid saat dikepung dan
ditembak di Batu, Malang,  pada 9 Nopember 2005 itu
dengan kalimat:
>   “Di antara sifat-sifat beliau yang ana [saya, aku,
Bahasa Arab] amati selama ana berinteraksi dengan
beliau di antaranya: penyayang terhadap binatang,
beliau sangat tidak suka bila melihat orang yang
mengurung burung/ikan sendirian, beliau sangat bahagia
bila melihat  burung yang bebas dan berkicau.
>   Beliau juga sangat tegar, kuat dalam memegang
prinsip, sangat-sangat benci kepada orang kafir,
beliau sangat menjaga harga diri/muruah. Pernah suatu
ketika kita singgah di sebuah tempat, ahlul bait [tuan
rumah] siap menampung beliau dengan segala
akomodasinya, namun beliau tetap memberikan sejumlah
dana kepada ahlul bait guna memenuhi kebutuhan
akomodasi selama beliau tinggal di situ.
>   Beliau sangat tegar, dan sangat benci atas segala
kekufuran, beliau tidak ingin tertangkap oleh thoghut
[yang melewati batas, tuhan palsu, kekuatan yang
menyesatkan] hidup-hidup, kenapa? Di antara
alasan-alasan beliau yang pernah disampaikan kepada
ana : ketika dua pasukan salingan berhadapan, maka
haram hukumnya untuk mundur, namun bila jumlah musuh
lebih banyak maka diperbolehkan untuk mundur
(bergabung dengan yang lain). Namun, menurut beliau,
ia akan lebih memilih bertahan dan menyerang. 
>   Beliau juga sering mengatakan kepada ana, bahwa di
antara tingkatan-tingkatan syahid itu: orang yang tahu
dan yakin bahwa ia akan syahid, ia pun syahid, dan di
tangan ia sendiri (demi menjaga rahasia); yang kedua,
syahid karena oleh tangan musuh; yang ketiga… wah ana
lupa tuh. 
>   Catatan tentang Azhari ini tidak kurang dari 11
halaman tulis tangan, sekalipun tidak dibubuhi angka
halaman. Sebuah paradoks terbaca dalam catatan itu:
binatang disayangi, tetapi manusia dibunuh dengan
alasan jihad yang tersesat arah. Penderitaan rakyat
Palestina yang dizalimi Israel dengan dukungan
pemerintah Amerika menjadi latar belakang mengapa bom
bunuh diri diekpor pula ke Indonesia. Ini yang sama
sekali tidak nalar. Mengapa Indonesia dijadikan target
sasaran bom bunuh diri? 
>   Dalam catatan hariannya, si perakit bom ini juga
tidak lupa menyertakan memori Azhari ketika berada di
Afghanistan yang langsung terkait dengan al-Qaidah
pimpinan Usama bin Laden. Kita turunkan, di antaranya:
>   Di antara memori yang tidak bisa beliau lupakan
adalah ketika pergi ke bumi jihad Afghan. Di kala
sidang diadakan majlis dengan para petinggi al-Qaidah,
di antaranya Syekh Usama, Aiman, dan lain-lain, dan
para pembesar. Merupakan suatu kebiasaan bahwa mereka
duduk di atas bantal-bantal. Kala itu ada satu bantal
yang berada tepat di samping Syekh Usama, maka para
ikhwah [sahabat] mujahidin pun saling berbisik,
siapakah yang akan duduk di samping Syekh Usama?
Apakah ada pejabat lain yang belum datang? Hingga
suatu ketika Syekh Usama menunjuk asy-Syahid [Azhari]
untuk duduk di samping beliau. Asy-Syahid pun
menganggap yang ditunjuk itu bukanlah dia, namun
ikhwah  lain karena asy-Syahid tidak bisa berbahasa
Arab kecuali “kaifa haluka” [apa kabar] saja. Namun
Syekh Usamah kembali menunjuk ke arah asy-Syahid untuk
duduk di sampingnya.  Maka ikhwah-ikhwah yang lain pun
mendorong beliau untuk segera memenuhi panggilan Syekh
Usamah. Akhirnya dengan berat hati asy-Syahid pun
duduk
>  di samping Syekh Usama dan para petinggi lainnya.
(Jika pada saat itu satelit musuh memfoto majlis
tersebut, mungkin musuh akan bertanya-tanya, siapa nih
yang duduk di samping Syekh Usamah?). 
>   Dalam catatan si perakit bom ini disebutkan bahwa
pengetahuan agama Azhari tidak seberapa, tetapi
mengapa karismanya begitu dahsyat? Pengikutnya rela
mati, demi melaksanakan perintah tokoh yang tidak
mengerti agama ini? Mungkin setidak-tidaknya ada dua
faktor yang patut dikatakan. Pertama, Azhari adalah
seorang dengan kualifaid doktor tamatan Inggris,
cerdas,  dan penuh dedikasi untuk merealisasikan
teologi mautnya; kedua, karena Usama bin Laden telah
memberikan legitimasi politik dan moral kepada Azhari
dengan memanggilnya duduk di sampingnya dalam sebuah
sidang di Afghanistan. Kedua faktor ini tampaknya
menjadi unsur penting mengapa Azhari, warga Malaysia
itu, punya pengikut fanatik, bukan di negaranya
Malaysia yang relatif makmur, tetapi di Indonesia,
sebuah bangsa korup, di mana para elitnya telah lama
mati rasa. Kondisi ini merupakan lahan subur bagi
kekuatan-kekuatan militan destruktif, baik yang keras
dalam wacana, tetapi bukan kelompok teroris, mau pun
yang keras
>  dalam wacana dan sekaligus kejam dalam tindakan.
Selama suasana kumuh dan timpang ini belum juga
membaik, Indonesia akan tetap rentan bagi mereka yang
haus kekuasaan melalui kekerasan.
>   Politik dan dakwah di negara Pancasila dan situasi
eksternal
>   Ada sebuah prestasi besar yang patut disyukuri di
Indonesia, yaitu Pancasila telah diterima oleh
mayoritas kekuatan politik dan rakyat Indonesia. 
Adapun masih ada kelompok-kelompok kecil yang ingin
menukarnya dengan yang lain dan anti demokrasi,
jumlahnya dari ke hari semakin mengecil, tetapi
lantang dan vokal. Seakan-akan merekalah yang mewakili
Islam di Indonesia, bukan Muhammadiyah dan Nahdhatul
‘Ulama, dua sayap besar umat Islam di nusantara yang
sudah menerima Pancasila sebagai dasar dan ideologi
negara. Mengapa mereka anti demokrasi? Salah satu
jawabannya adalah karena mereka tidak mau ikut pemilu,
sebab pasti kalahnya. Jangankan kelompok-kelompok
garis keras ini, partai-partai dengan dasar Islam pun
dalam Pemilu 2004 juga menderita kekalahan fatal. Jika
kalah, dan pasti kalah, maka wibawa mereka di depan
publik akan merosot secara drastis. Ini yang mereka
tidak mau lihat.
>   Pada ranah praksisme, Pancasila juga bukan sepi
dari masalah-masalah serius. Selama hampir 60 tahun
pasca proklamasi, Pancasila sering dihadapkan kepada
tragedi demi tragedi. Beberapa waktu yang lalu, saya
menulis tentang tragedi yang diderita Pancasila dalam
kurun dan rentang waktu yang panjang. Sebagian
kutipannya adalah sebagai berikut:
>   … yang ingin ditegaskan adalah bahwa Pancasila
dengan nilai-nilai luhurnya yang dahsyat itu telah
mengalami tragedi demi tragedi, tidak dalam kata,
tetapi justru dalam laku, sebagaimana yang sering saya
kemukakan di berbagai forum. Dalam ungkapan lain, jika
kita memperkatakan Pancasila, implementasi nilai-nilai
luhur inilah yang seharusnya menjadi titik perhatian
utama, bukan memperdebatkannya secara teoretikal.
>   Bagi saya semua nilai dasar yang terkandung dalam
Pancasila sangat jelas, tidak perlu orang terlalu
berbelit-belit menyikapinya. Sila pertama, “Ketuhanan
Yang Maha Esa,” jelas memberi landasan kuat bagi
kehidupan beragama secara tulus dan otentik. Sila
kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tidak bisa
ditafsirkan selain bahwa bangsa ini wajib menegakkan
keadilan dan keadaban dalam berprilaku, baik
perorangan maupun dalam kehidupan kolektif dalam
politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Penyimpangan
dari prilaku adil dan beradab adalah pengkhianatan
terhadap sila ini. Dan inilah yang sering berlaku
selama hampir 61 tahun kita merdeka. 
>   Pengkhianatan ini tidak semata-mata dalam bentuk
upaya sementara orang yang ingin mengganti Pancasila
dengan dasar lain. Tetapi laku yang beringas, tindak
kekerasan, pelanggaran HAM, menggarong harta bangsa,
main hakim sendiri, merusak milik negara sekalipun itu
dengan meneriakkan Allahu Akbar, semuanya adalah
perbuatan khianat dalam perspektif sila kedua.
>   Kemudian, sila ketiga berupa “Persatuan
Indonesia”, bukan “Kesatuan Indonesia”, semestinya
membimbing bangsa ini dalam kebhinnekaan (pluralisme)
yang kaya dalam mosaic budaya yang beragam. Tetapi,
yang terjadi selama sekian dasar warsa adalah politik
negara yang sentralistik dan penyeragaman tata sistem
sosial budaya local secara paksa melalui
undang-undang. Ini adalah bentuk pengkhianatan
konstitusional yang telah menimbulkan keresahan dan
perlawanan diam-diam dari berbagai sub-kultur
Indonesia yang kaya itu.
>   Sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan”, tegas sekali
memerintahkanbahwa demokrasi harus ditegakkan secara
bijak melalui musyawarah yang bertanggung jawab dan
dengan lapang dada. Di luar cara-cara itu, sila
kerakyatan yang memuat prinsip demokrasi itu akan
membuahkan malapetaka berkepanjangan yang telah
menjadikan rakyat banyak sebagai kelinci percobaan
politik yang amoral. Perkembangan terakhir dalam cara
kita berdemokrasi tampaknya semakin jauh dari roh
Pancasila dalam pengertiannya yang utuh dan padu. Ini
adalah bentuk tragedi yang selalu saja ditimpakan
orang pada Pancasila.
>   Terakhir, sila kelima, “Keadilan sosial bagi
[seluruh] rakyat Indonesia”, telah menjadi yatim piatu
sejak kita merdeka. Hampir tidak ada kebijakan
pemerintah dan DPR yang benar-benar dibimbing oleh
sila ini.  Rakyat dari masa ke masa tidak semakin
merasakan keadilan, tetapi penindasan berencana via
undang-undang, apakah undang-undang itu berupa darurat
militer, undang-undangan hubungan pusat dan daerah,
undang-undang penanaman modal asing, dan lain-lain. 
Oleh sebab itu, matahari sudah condong ke barat bagi
kita semua untuk berhenti menjadikan Pancasila sebagai
retorika politik yang kosong dan menipu. Pancasila di
bawah sinar wahyu harus menuntun seluruh laku kita
dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,
sekarang dan untuk selama-lamanya, jika Indonesia
memang masih mau dipertahankan.  
>   Kutipan yang agak panjang ini sudah sedikit
menjelaskan di mana posisi saya dalam membaca peta
politik dan dakwah di  Indonesia, sebuah bangsa yang
sedang ringkih dan rapuh secara moral. Saya melihat
tidak ada pilihan lain selain dari bersikap demikian,
jika keutuhan bangsa dan negara ini mau dipelihara dan
dipertahankan dalam tempo yang panjang. Jika perbaikan
fundamental ini tidak juga kunjung menjadi kenyataan
dalam dekat ini, maka teologi maut masih akan punya
pengikut, betapa pun di antara pemimpin puncaknya
telah ditangkap atau terbunuh.
>   Dimensi global dari terorisme di Indonesia
>   Selanjutnya, mari pula kita kaitkan sejenak
situasi nasional kita dengan peta global yang jauh
dari suasana adil, ramah, dan manusiawi. Saya dapat
memahami hipotesis yang dikemukakan Tariq Ali, seorang
penulis Inggris keturunan India, yang mengatakan bahwa
kekuatan yang  berbenturan sekarang bukan antar
peradaban, tetapi antar dua kubu fundamentalisme:
fundamentalisme Kristen politik yang dipimpin oleh
Presiden George W. Bush dan fundamentalisme Islam
politik dipimpin oleh Usamah bin Laden. 
>   Sewaktu era perang dingin Bin Laden adalah sahabat
Amerika, demi melawan Uni Soviet yang menduduki
Afghanistan pada waktu itu. Lebih dari tujuh tahun Bin
Laden berperang di sana  dengan bantuan Amerika. Maka
tidaklah mengherankan bahwa di sampul depan buku Tariq
ini terpampang muka Bush yang sedang memakai pakaian
Usama bin Laden, sementara di sampul belakang kita
saksikan Usamah bin Laden sedang berpidato di podium
kepresidenan Amerika Serikat.  Pendeknya di mata
Tariq, kedua fundamentalis inilah yang tengah mengacau
dunia. Bush melalui politik imperialistiknya, Bin
Laden dengan bom bunuh dirinya sambil membunuh orang
lain. Pengikutnya di Indonesia di luar nalar telah
pula melakukan keonaran dan kebiadaban dengan bom
bunuh diri untuk membunuh orang lain yang tidak ada
sangkut pautnya dengan apa yang terjadi di Palestina,
Afghanistan, Chechnya, atau Iraq. 
>   Kita kutip Tariq Ali tentang kaitan Amerika
Serikat dengan kelompok Islam militan di Afghanistan:
>   Washington’s role in the Afghan war has never been
a secret, but few citizens in the West were aware that
the United States utilised the intelligence services
of Egypt, Saudi Arabia and Pakistan to create, train,
finance and arm an international network of Islamic
militants to fight the Russians in Afghanistan. 
>   Sekarang antara Bush dan Bin Laden telah pecah
kongsi sejak tragedi 11 September 2001 yang biadab dan
menghebohkan jagat raya itu. 
>   Yang tidak kurang biadabnya adalah bahwa atmosfir
pertarungan dua fundamentalisme itu dibawa ke
Indonesia oleh Azhari, Noor Din M. Top, dan para
pengikutnya di negeri ini yang telah melakukan
keonaran demi keonaran sampai sekarang. Dengan cara
membabi buta mereka meledakkan bom di Bali, Marriot,
dan di kedutaan besar Australia di Jakarta. Dalam
pembicaraan panjang dengan Detasemen Khusus 88
Kepolisian Republik Indonesia pada 9 Maret 2006 di
Hotel Hyyat Jogjakarta, saya mendesak agar terorisme
di Indonesia cepat diakhiri. Keganasan mereka sungguh
sudah sangat melampaui batas dengan teologi maut yang
jadi pegangan mereka. Tampaknya Detasemen ini telah
bekerja keras, dan sampai batas-batas tertentu
berhasil. 
>   Tetapi alangkah sukarnya melumpuhkan seluruh
jaringan teror mereka dalam kondisi sebuah bangsa yang
sedang rapuh! Dan pada tataran global, umat Islam
secara keseluruhan masih berada di buritan peradaban
teknologis. Perpecahan sesama mereka masih jauh dari
selesai. Konflik Syi’i-Sunni di Iraq pasca invasi
Amerika dan sekutunya adalah di antara contoh mutakhir
yang dapat kita saksikan. Kesulitan kita di Indonesia
ditambah lagi oleh pernyataan segelintir orang bahwa
teroris yang tewas ini juga mati syahid. Cara berfikir
yang kacau ini telah menambah beban mental mayoritas
umat Islam Indonesia yang masih berfikir jernih, tidak
kalang kabut, sekalipun di antara mereka banyak yang
miskin.
>   Penutup
>   Dengan segala borok dan beban berat yang terpikul
di bahu umat Islam sekarang ini, baik pada tingkat
nasional, mau pun pada skala global, the silent
majority dari mereka masih tetap siuman dan tidak
pernah lupa bahwa missi mulia Islam adalah membangun
peradaban untuk menebarkan rahmat di muka bumi.,  bagi
semua, dengan tidak memandang perbedaan agama, latar
belakang, etnisitas, bahkan kelompok ateis pun harus
merasakan rahmat itu. Doktrin inilah yang menuntun
saya untuk terus berteriak dan berteriak bahwa jalan
kekerasan bukan jalan al-Qur’an, tetapi jalan setan
yang terkutuk. Kegagalan umat Islam berurusan dengan
gelombang modernitas yang agresif  pasti telah dan
akan tetap menyadarkan mereka bahwa cara-cara biadab
dan gelap mata hanyalah punya satu risiko: bunuh diri.
>   Akhirnya, saya ingin menyudahi pembicaraan siang
ini dengan kutipan makna ayat al-Qur’an berikut:
>   Wahai orang-orang yang beriman: “Jawablah
panggilan Allah dan panggilan rasul, pada saat rasul
itu memanggilmu kepada sesuatu yang menghidupkan
kamu.” Teologi maut yang membenarkan pembunuhan dan
hara-kiri peradaban jelas mengingkari dan bahkan
mengkhianti ayat ini. 
>   Posisi di buritan peradaban dan himpitan perasaan
yang berat (despair) tidak boleh menyebabkan orang
lalu menjadi gelap mata dan berbuat onar di muka bumi.
Matahari tampaknya masih akan bersinar milyaran tahun
lagi. Oleh sebab itu stamina spiritual umat Islam
harus tetap tegar dan prima, betapa pun beratnya
situasi yang melingkari mereka. Jangan korbankan masa
depan melalui perbuatan nekat dan putusasa.
>   (Disampaikan pada public lectures bersama Nono
Anwar Makarim dan Faisal Basri dalam rangka peringatan
lima tahun terbitnya kembali Sinar Harapan, di Garden
Tarrace, Four Seasons Hotel, Jakarta, 6 Juli 2006)
>   Jakarta, 6 Juli 2006  
> 
>                               
> ---------------------------------
> Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make
PC-to-Phone calls.  Great rates starting at
1&cent;/min.
> 
> [Non-text portions of this message have been
removed]
>


===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
http://www.media-islam.or.id

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke