Surat Kembang Gunung Purei:

"TOAST" SEPI,  RINDU, HATI DAN TUBUH

7.

Membaca cara Xiao Lan bercerita,  aku langsung teringat akan cara kakekku,  
akan ibuku dan tukang-tukang tutur  berkisah di kampungku di Sungai Katingan, 
Kalimantan Tengah,  pada masa kanak dahulu, kepada anak-cucu dan lingkungan 
mereka. Waktu yang mereka gunakan dalam bercerita sangat pendek. Entah 
menjelang tidur malam ataukah pada subuh pagi, sebelum mereka turun ke ladang, 
ke hutan atau ke kebun rotan dan karet yang jauh dari kampung. Di saat-saat 
beginilah, aku mendengarkan rupa-rupa kisah lisan mereka, sambil berbaring di 
tikar lampit [tikar dari rotan]  sendiri yang kuhampar dan kugulung kembali 
seusai dipakai.  Kalau bukan bercerita, kakek meniup suling balawung dari 
bambu, lalu menyelang-nyeling lagunya dengan rupa-rupa kisah. Dalam waktu 
sesingkat ini, kakek dan para penutur, hanya bisa mengisahkan cerita-cerita 
singkat yang barangkali sekarang sepadan dengan sebuah cerpen. Tapi apa yang 
mereka kisahkan sangat melekat di ingatan. Dari mana kemudian kupahami betapa 
sastra lisan turut mengasuhku, mengembangkan daya hayalku dan figur-figur 
mengesankan. Tema-tema kisah pun bermacam-macam. Termasuk soal hubungan intim 
lelaki perempuan. 

Mengenangkan kembali teman hubungan intim lelaki- perempuan ini yang dituturkan 
oleh kakek, aku sering merenung. Sejauh ingatanku, tokoh yang dituturkan oleh 
kakek pada suatu subuh, adalah konflik antara tokoh Sangumang dengan Maharaja. 
Sangumang, tokoh dari kalangan bawah, sedangkan Maharaja dari kalangan atas dan 
berwatak tidak menyenangkan penduduk. Maharaja, mempunyai seorang anak 
perempuan yang cantik.  Sangumang berusaha menyunting anak gadis Maharaja 
secara adat, tapi tentu saja pinangannya ditolak. Sangumang tak kehilangan 
akal. Karena si gadis juga menyayangi Sangumang, maka untuk mengalahkan 
Maharaja, keduanya sepakat untuk bersetubuh sampai  anak gadis Maharaja itu 
hamil. Maharaja akhirnya menyerah dan mengawinkan mereka. Cara  begini disebut 
"mangakap".

Yang ingin kukatakan dengan kisah Sangumang ini adalah bahwa teman erotis dan 
seksis, dalam sejarah sastra lisan, agaknya tidak juga ditabukan. Sampai 
sekarang pun sering kita saksikan dalam pergelaran acara "deder" di mana lelaki 
perempuan berdialog di depan umum dengan menggunakan puisi-puisi spontan.  
Barangkali yang menentukan dalam soal ini, kukira adalah cara pengungkapan 
"makna" dan "pesan".  

Dalam cara bertuturnya, Xiao Lan, sebagaimana juga para penutur sastra lisan di 
kampungku dengan menggunakan waktu yang sempit,  berkisah secara langsung. 
Mengetengahkan persoalannya,  menguraikan permasalahan itu sedikit demi 
sedikit, merentangkan konflik-konflik yang ada pada tokoh-tokoh cerita, lalu 
menyimpulkannya atau kalau tidak meninggalkan pertanyaan kepada para pendengar 
dan pembacanya. Sistematik ini seakan mempunyai kemiripan dengan tekhnik 
penulisan sebuah skripsi atau tesis akademi.  Sistematik ini juga, kukira, 
terdapat dalam penulisan puisi.  Sebagai contoh, kuambil sanjak Chairil Anwar  
berikut:


TUTI  ARTIC

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakkan menjilat es artic;
Sore ini  kau cintaku, kuhiasai dengan susu + coca cola.
Istriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
--- ketika kita bersepeda kuantar kau pulang ---
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar  

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi .... hati terlantar
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

[Dari: Chairil Anwar, "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jakarta, Cetakan Ketiga, 
1993, hlm. 41].


Permasalahan, diketengahkan pada bait pertama sedangkan pengembangan konflik 
dan analisanya bisa diketemukan pada bait-bait kedua dan ketiga yang kemudian 
disimpulkan pada bait keempat dalam kata-kata: "Cinta adalah bahaya yang lekas 
jadi pudar". Kesimpulan yang menggeneralisasikan, mencari makna terdalam dari  
data-data yang dilihat dan dihadapi  penyair. Menukik ke dasar soal untuk 
mendapatkan hakekat.  Pertemuan dengan makna beginilah yang barangkali disebut 
oleh Goenawan Mohamad sebagai "makna yang muncul menghilang dalam kebebasan dan 
kesendirian kita". Tapi kalau pun "menghilang", "makna" itu masih meninggalkan 
tanda tak terhapus dari  lubuk jiwa terdalam pembaca dan atau pendengar 
sebagaimana kata-kata Shakespeare "to be or not to be" atau "You too, Brutus!". 
 Mengangkat hakekat ke permukaan hidup, boleh jadi, salah satu usaha yang 
diharapkan dari penyair dan penulis. Puisi Chairil di atas pun bagiku 
memperlihatkan bagaimana ia melihat hakekat hubungan "cinta" antara seorang 
lelaki dan perempuan yang sekali pun semalam mereka baru saja seranjang tapi 
kemudian "besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu".    Kesimpulan yang 
lebih keras dari kesimpulan Walt Whitman ketika ia tak berani menyapa orang 
ketika papasan di jalan dalam masyarakat kapitalistik yang egois. [lihat: Walt 
Whitman, "Leaves of Grass"].

Sistematika begini pun, kudapatkan pada cerpen Xiao Lan berjudul "Toast". 
Persoalan diajukan oleh Xiao bahkan sejak kalimat pertama cerpen: 

''Mana yang kamu pilih: rindu atau sepi?'' 

Kalimat pertama yang meyodorkan permasalahan tanpa kembang-kembang, membuat 
pembaca tersentak dan muncul hasratnya untuk terus membaca. Tertarik bagaimana 
penulis menjawab pertanyaan yang disodorkannya. Apalagi kalimat permasalahan 
ini segera disusul oleh kalimat kedua:

''Kenapa kamu bertanya begitu?'' laki-laki itu balik bertanya kepadaku. 

Untuk membuka cerita, kukira, kalimat pertama mempunyai arti sangat menentukan. 
Hal beginilah jugalah yang dikatakan oleh Gabriel Garcia Marquez, pemenangan 
Nobel Sastra dari Columbia, ketika mengisahkan pengalamannya dalam menulis dan 
betapa ia harus membuang lembar demi lembar kertas corat-coretnya untuk 
mendapatkan kalimat pertama. Kembali aku terkenang pada alm. kakekku. Jika ia 
gagal menemukan kalimat pertama cerita lisannya, aku pun langsung tenggelam 
dalam tidurku. Dan kukira, kalimat pertama Xiao Lan, apalagi disusul oleh 
kalimat keduanya, secara psikhologis telah mengusik rasa ingin tahu pembaca. 
Apalagi tema yang dipilihnya rindu dan  sepi yang kemudian dikembangkannya 
dengan "hati dan tubuh". Tema laris di pasar kalangan kelas menengah dan 
remaja, selaris cerita sinetron dengan tema-tema serupa, yang tentu berdampak 
besar pada pemirsa.  Apalagi jika kritik sastra dan filem yang tidak 
menyertainya. Tentu saja menghadapi cerita takhayul, erotik dan seksis, aku 
kira tidak akan menyelesaikan soal jika menggunakan cara-cara adminstratif. 
Berkembangnya kritik dan debat ide sastra dan filem, barangkali lebih mendidik 
dibandingkan dengan tindakan administratif, lebih-lebih  dengan pembuatan 
Undang-undang, yang tidak efektif dan menambah cadar kemunafikan. Paling celaka 
lagi, jika ditunggangi oleh suatu manipulasi politik atas nama agama dan 
moralitas. Dari segi ini, aku gembira, jika untuk menghadapi  kemunafikan 
dominan di negeri ini, cerita  model cerpen Lan Fang ini digencarkan. Asalkan 
para penulisnya tahu benar apa yang diinginkan dan mau kemana serta didampingi 
oleh kritik dan debat sastra yang sehat dan nalar. 

Seusai mengetengahkan persoalan secara jelas, lalu  Xiao Lan, perlahan-lahan 
mengembangkan tuturan dan idenya  dengan menggunakan Cali , si bar tender café. 
Memperlihatkan konflik-konflik, terutama konflik-konflik pikiran dan 
psikhologis, terutama  dalam bentuk dialog, yang  meromok dua tokoh utama 
cerpen "Toast" yaitu "aku" Lan Fang dan Cali.  [Lihat: Lampiran serie 1 tulisan 
ini].  Xiao Lan sesungguhnya ada di kedua tokoh kembar cerpen ini. Tokoh yang 
saling melengkapi. Melalui kedua tokoh kembar inilah  Xiao Lan menyampaikan 
"makna" dan mungkin juga "pesan".

Kemudian untuk menyimpulkan permasalahan yang dia ajukan, Xiao Lan menggunakan 
tokoh "aku" untuk berucap: 

"Aku tertawa. Sungguh-sungguh tertawa. 
Menertawakan kesepianku yang konyol dan tolol. 
Aku tidak mabuk, bukan murahan, juga bukan kacangan, kalau aku memintanya 
menciumku. 
Aku cuma ingin membunuh sepi itu sebelum sepi itu yang lebih dulu membunuhku". 

Atas dasar sistematika yang kukatakan di atas, maka sebagai struktur, kukira, 
cerpen "Toast" Xiao Lan adalah cerpen yang berstruktur padu. Aku sama sekali 
tidak heran, jika Xiao Lan menggunakan sistematika begini, karena ia adalah 
seorang sarjana hukum yang tak asing dari pergaulan kecermatan berbahasa, 
menggunakan kata, sistematika dan metode. Apakah hal ini merupakan pengaruh 
dari pendidikan formalnya yang sarjana hukum?! Ataukah suatu kebetulan dan 
penafisran subyektifku sebagai pembaca yang berdaulat? Tapi tidak berlakukah 
hukum dialektika dan saling hubungan dalam soal ini?

Masih ada beberapa  ciri lain yang agak khas dalam cara Xiao Lan bercerita.


Paris, Juli 2006.
----------------------
JJ. Kusni


[Bersambung.....] 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke