Surat Kembang Gunung Purei:
"UNTUK APA BELAJAR FILSAFAT?" 4. Terakhir, aku mencoba memperlihatkan apa yang dipelajari siswa-siswa "terminales" tentang filsafat. Untuk keperluan ini, aku mengacu kepada buku pegangan [text-book] resmi yang digunakan oleh kelas "terminales" berjudul "Philosophie Terminales A et B" yang terdiri dari dua jilid. Tome 1 et Tome 2 [Jilid 1 dan Jilid 2]. Kedua jilid "buku pegangan" ini dicetak dalam huruf Times New Roman, sebesar 10 points setebal 878 halaman, diterbitkan oleh Hatier, Paris, 1989 . Ditulis oleh Elisabeth Clément [Professeur certifié de Philosophie] dan Chantal Demongue [Professeur certifié de Philosophie] bekerjasama dengan M.N. Echelard, O. Hansen-Love dan A. Lagarde [Professeurs agrégés de Philosophie]. Dengan menyebut besar huruf yang digunakan serta tebal kedua jilid buku ini, aku ingin menunjukkan tebalnya buku pegangan yang harus dipelajari oleh siswa-siswa kelas "terminales" sehingga mudah-mudahan terbayang tuntutan sekolah kepada para siswa yang kemudian dituntut menulis semacam "skripsi" tentang macam-macam tema seperti yang kututurkan di atas. Dituntut menulis sejenis "skripsi" artinya para siswa tidak bisa melakukannya berdasarkan sistem menghapal. "Skripsi" menagih keniscayaan pemahaman, peresapan makna, mengacu pada buku pegangan. Untuk itu, para siswa dipaksa berpikir dan mengungkapkan buah pikiran, hasil renungan mereka secara runtun, sistematik, argumentatif, atas masalah-masalah yang diberikan kepada mereka. Dalam berpikir, kiranya, di sini pun terdapat juga adanya unsur kreativitas para siswa. Tuntutan berani berpikir, barangkali salah satu cara untuk melawan kemalasan berpikir dan menjadi burung tiung [bahasa Dayak Katingan untuk menamakan béo] atau menjadi "his master's voice". Jika kita memperhatikan bagaimana anak-anak Perancis sejak usia 2-5 tahun dididik dalam keluarga, maka kita akan bisa menebak atau membaca bahwa sejak dini kebiasaan berani berpikir, berbicara secara berargumentasi sudah dimulai. Misal: Ketika si kecil bertanya pada sang ibu, mengapa ada petir, mengapa udara panas, dan lain-lain... pertanyaan sejenis yang tak gampang dijawab dengan sederhana, maka sang ibu akan menjawab dengan satu patah kata saja: "Parce que" [Karena]. Dan si kecil sudah puas dengan jawaban "parce que" itu. Demikian pula si kecil jika ditanya oleh ibunya "Mengapa kau tak makan sekarang" , "Mengapa kau menangis, Sayang", dan lain-lain..., maka si kecil pun akan menjawabnya dengan "parce que" jika ia merasa kemampuan berbahasanya tidak padan untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Kata "tidak boleh", "jangan" jarang kudengar digunakan oleh sang ibu tanpa alasan. Kalau "tak boleh" atau "jangan" tanpa penjelasan, maka si kecil akan mengejar sang ibu dengan pertanyaan: "Pourquoi?" [Mengapa?]. "Puorquoi" dan "parce que" adalah dua kata yang sangat akrab dengan bocah-bocah keluarga Perancis. Artinya anak-anak sejak dini dibimbing dan dilatih bertanya dan berargumentasi. Bertanya adalah berpikir. Berargumentasi adalah belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan secara runtun. Percobaan Sylvie Truc dengan "l'atelier de philosophie"nya di Sekolah Taman Kanak-kanak Eliette Santoni, jadinya bisa dipahami sebagai usaha mengkonsolidasi apa yang sudah didapat di dalam keluarga. Apa yang dilakukan di dalam keluarga sebagai entitas terkecil dan dasar masyarakat, merupakan dasar sosial sekaligus dari adanya "l'atelier de philosophie". Keadaan begini, juga bisa dilihat di kalangan masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari orang Perancis. Tercermin dari ungkapan umum: "Oui, mais..." [Ya, tapi...]. Kata "mais" di sini kupahami sebagai petunjuk selalu meragukan, mempertanyakan, bukan menelan mentah-mentah, suatu pernyataan dan menagih alasan serta penjelasan atas suatu pernyataan. Cara berpikir dan bersikap begini, tentu saja tidak lahir dalam sehari saja, jika kita lihat sejarah Perancis yang dilanda revolusi [tanpa tanda kutip] berkali-kali sehingga lahir istilah "citoyen", "citoyenne" [warganegara] bahkan sampai sekarang ada Partai Politik yang bernama Partai Citoyen pimpinan mantan menteri pendidikan dan pertahanan Jean-Pierre Chevenement. Pada suatu kurun sejarah tertentu, sesama penduduk saling memanggil dengan kata "citoyen", "citoyenne". Ini adalah bagian dari kebesaran Perancis sekali pun pertarungan terhadap dirinya masih saja belum berakhir. Panggilan ini, kukira, mempunyai dasar filosofis dan merupakan hasil dari pertarungan para pemikir Revolusi Perancis yang berani "menentang arus", istilah Mao Zedong dalam sebuah puisinya "Changsa". "Menerjang angin" [Against the Wind] jika menggunakan istilah May Swan, sastrawan Singapura kelahiran Jakarta, penulis antara lain kucerpen "Matahari Di Tengah Malam". Walau pun bukan terjang asal terjang. Menentang bukan asal menentang. Dan memang apa yang dilakukan oleh para pemikir Perancis bukanlah sekedar "menerjang angin", "menentang arus" tapi berdasarkan kenyataan, lalu mengajukan alternatif jalan keluar yang tanggap. Tentangan dilakukan dengan konsekwen, [bukan menyerah karena iming-iming kedudukan atas nama apa saja atau menjadikannya sebagai "ijazah" untuk mendapatkan posisi baru yang tidak jauh dari kapitulasi], sampai terkadang terpaksa meninggalkan tanahair sendiri seperti antara lain dilakukan oleh Emile Zola dan Victor Hugo. Brecht, Thomas Mann, Heine, Chaplin, jika mengambil contoh dari negeri-negeri lain di luar Perancis, bahkan menantang maut, seperti Michèle dan André Malraux atau seniman-seniman Kommunar seperti Eugène Pottier, Pierre Degeyter, yang masih sanggup berkata di tengah masakre pemerintah Thiers tentang "perjuangan dan kemenangan penghabisan". Pengajaran filsafat [yang pernah mau dihapuskan atas nama reform oleh pemerintah kanan Perancis] di "terminales" sekarang, jika memperhatikan isi dua jilid buku pegangan di atas, yang akan aku beberkan lebih rinci, tidak lain dari usaha melanjutkan apa yang ditradisikan oleh angkatan-angkatan pendahulu. Apakah angkatan pendahulu, di negeri kita hari ini ketika "uang adalah raja" dan "pola pikir serta mentalitas mie instant dominan" masih dipandang punya makna? Dengan pertanyaan ini, aku seperti melihat jelas sosok Kraeng Galesong menebah dada di makamnya di Jawa Timur. O, Kraeng, yang tidak hiraukan ke-kraeng-annya demi mimpi manusiawi, dari belahan Barat planet, ingin kepadamu, Galesong, kuberikan sekuntum mawar merah sewarna darahku yang selalu kau gelorakan bagai laut daerah taifun, angin puting beliung. Galesong! Galesong yang bagiku hanyalah mati jasad dan tahu mengartikan kematian jasad. *** Paris, Juli 2006. --------------------- JJ. Kusni [Bersambung...] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

