Surat Kembang Gunung Purei:
"UNTUK APA BELAJAR FILSAFAT?" 5. Mengenai bahan-bahan yang dipelajari oleh para siswa kelas "terminales", bisa disimak dengan jelas dari dua jilid buku pegangan setebal 878 halaman yang kusebutkan di atas. Jilid pertama, mencakup masalah-masalah: "kesadaran dan ketidaksadaran" , "keinginan, nafsu dan birahi", "kasihsayang", "ilusi", "sesama" [autrui] , ruang [l'espace]," persepsi, ingatan, waktu, eksistensi dan kematian", "alam dan kebudayaan", "sejarah", "bahasa", "imajinasi", "penilaian dan ide", "pembentukan konsep-konsep ilmiah", "teori dan pengalaman", "logika dan matematika", "pengenalan akan makhluk-makhluk hidup", ,"sosiologi", "makna dan ketidaknalaran", "kebenaran. Tema-tema ini dilihat dari empat periode, yaitu : masa antikitas [l'antiquité], Abad Tengah, periode modern dan akhirnya periode kekinian. Sedangkan di jilid kedua, masalah-masalah yang diangkat sebagai bahan pelajaran adalah: "kerja", "pertukaran", "tekhnik", "seni", "kenyataan-kenyataan agama" , "masyarakat, kekuasaan dan negara", "kekerasan", "hukum", "keadilan", "kewajiban", "keinginan", "manusia", "kebahagiaan", "kebebasan", "antropologi", "metafisika", dan "filsafat". Untuk mempelajari tema-tema tersebut, penulis kedua jilid buku, berpedoman pada ketentuan Kementerian Pendidikan Nasional, berdasarkan tema-tema di atas, menyertakan pilihan teks para filosof Perancis dan Eropa dari empat periode yang kusebutkan di atas. Tentu saja dengan titikberat pada filosof-filosof Perancis sendiri. Melalui cara ini maka para siswa dengan bantuan sang guru, secara tidak langsung mengenal sejarah pemikiran Perancis dan Eropa Barat dari kurun waktu satu ke kurun zaman yang lain. Bukan "lebih mengenal Yunani Kuno dari pada mengenal Tiongkok" seperti kritik Mao Zedong pada cendekiawan Tiongkok sebelum 1949, bukan lebih mengenal Amerika dan Barat dari pada mengenal Indonesia. Sekali pun tinggal di Indonesia tapi asing dari Indonesia. Mereka juga, dengan cara ini, mengenal rupa-rupa arus pemikiran dalam sejarah Perancis dan Eropa, sehingga mempunyai acuan padan berupa berbagai macam arus pikiran yang ada untuk menjawab tantangan zaman mereka di hari ini. Hampir tidak ada nama filosof-filosof penting Perancis dan Eropa, dari zaman antikitas hingga periode kekinian, yang tidak disebut, diperkenalkan apa-siapa dan ikhtisar pandangan-pandangan mereka. Dari Plato ke Husserl, Adorno, Levinas, hingga Milan Kundera. Dari Aristoteles melalui Habermas, hingga Sartre, Simone de Beauvoir, Paul Ricoeur, Ellul, Foucault, Bachelard, dan Jean Baudrillard. Semuanya diperkenalkan. Termasuk nama Hegel, Durkheim, Karl Marx dan Gramsci. Nama Karl Marx dan Gramsci serta nama-nama pemikir kiri lainnya yang ide-ide mereka di Indonesia pernah ditabukan bahkan sampai sekarang masih "terlarang" secara hukum, sampai-sampai pernah dilancarkan suatu tindakan menggelikan dan anti intelektualitas, berbentuk "sweeping buku-buku kiri", di sini dipelajari dan diperkenalkan dengan leluasa. Mempelajari dan mengenal sesuatu, tidak serta-merta menjadikan yang mempelajarinya akan menjadi pengikut pandangan yang dipelajari dan dikenalnya. Dengan mempelajari dan mengenal sesuatu ide, jika seseorang menjadi anti, maka ia tahu benar apa yang tidak sukai dan ia tentang serta benci. Suka dan tidak suka, akhirnya dilakukan dengan sadar . Ia tidak menjadi "yes man" jika menggunakan istilah perempuan dari milis [email protected], Yuli Arti. Berikutnya ia pun menjadi tahu, bagaimana secara nalar menghadapi perbedaan serta hal-hal yang tidak ia sepakati ketika ia menerima hidup di dalam satu rumah negara bernama republik dan nilai-nilai republiken serta bangsa yang bernama Perancis. Saban kali menyentuh masalah perbedaan dan rupa-rupa pandangan ini, selalu saja aku teringat akan pendapat Prof. Dr. Moh. Arkoun yang melihat bahwa Barat maju, bukan karena kulit mereka putih, tapi karena memberi ruang pada kebenaran lain selain divine truth [wahyu]. Adanya ruang pada kebenaran lain ini, memungkinkan orang bertanya dan bertanya merupakan gerbang terbuka bagi perdebatan memburu kebenaran, sekali pun untuk mendapatkan ruang begini Galileo mesti mengorbankan nyawanya. Di samping memperkenalkan apa-siapa sang pemikir dan buah pikirannya, dua jilid buku pegangan ini pun juga mencantumkan sederetan bibliografi, guna mendalami masalah lebih lanjut. Kepentingan begini diberikan syarat pemenuhannya oleh adanya perpustakaan-perpustakaan yang bertaburan di setiap kartir Paris dan kota-kota besar Perancis lainnya. Perpustakaan François Mitterrand yang megah berdiri di pinggir sungai Seine, merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan diperlengkapi dengan kemudahan-kemudahan canggih di dunia, tanpa usah menghitung L'Institut du Monde Arab, atau Perpustakaan George Pompidou. Terkesan padaku bahwa di negeri ini masalah belajar mendapat perhatian sangat utama. Setiap kotapraja, menyediakan kursus-kursus gratis atau dengan beaya amat rendah bagi semua orang, sehingga akhirnya tergantung pada niat seseorang, apakah ia mau terus berkembang atau tidak. Belajar, maju dan mengembangkan diri, merupakan suatu hak. Hak ini diberikan benar segala fasilitas. Jika orangtua anak tidak menyekolahkan anak-anaknya yang dalam usia belajar, orangtua tersebut akan dipermasalahkan oleh pemerintah. Republik dan Perancis sama sekali tidak dirugikan apa pun, apabila warganya berkembang dan cerdas serta makin cerdas. Bahkan sebaliknya, mutunya sebagai republik dan bangsa akan turut meningkat. Kemampuan warganya sebagai warga negara pun meningkat. Pengajaran filsafat, agaknya merupakan bagian penting untuk menjadi warganegara dan manusia yang sadar akan kewarganegaraan dan kemanusiaannya. "Aku adalah seorang manusia yang juga punya harga diri", ujar Catherine, seorang gelandangan perempuan yang saban malam tidur di beranda Koperasi Restoran Indonesia, 12 rue de Vaugirard, 75006 Paris, mengadu kepadaku saat ia sedang tidur, diganggu oleh penghuni apartemen yang segedung dengan kami. "Aku memang miskin, tapi aku adalah anak manusia", ujar Catherine dengan marah. Sementara aku hanya diam mendengarkan curhatnya. Ucapan Catherine ini membuatku merenung dan makin diam. Dari kasus Catherine ini ingatanku melayang ke unjuk rasa para pelacur kota Paris yang menuntut haknya sebagai "pekerja seks". Pekerja legal. "Kami pun membayar pajak", pekik mereka. Keadaan-keadaan begini, mulai dari pengajaran filsafat di kelas "terminales", melalui kasus Catherine, sampai ke unjuk rasa para "pekerja seks" kota Paris, cinta dan rinduku pada Indonesia, seperti angin buritan mendorong laju pikiran dan renunganku pada negeri kelahiran ini. Padanya ada hutang moral [moral debt] yang belum terbayar. Hutang cintaku! Padahal cinta tak berakhir di ucapan kata untuk tidak disebut munafik. Agar kata tidak menjadi gelembung sabun atau semacam permainan kelereng masa kanak, tapi merupakan terjemahan relatif utuh dari tindakan mewujudkan mimpi. Kata adalah terjemahan tindakan, jika kita memahami arti kata dan bahasa. Bisa berkata dan berbahasa bukan hanya bisa berbicara. Dari belahan barat bumi, aku memandangmu Indonesia, sambil bertanya: Apa bagaimana kau sekarang? Masihkah kau negeri layak bagi kehidupan manusiawi? Meldiwa, anakku. Dalam keadaan apa pun, janganlah kau menangis tapi cepatlah besar dewasa dan jadi manusia Indonesia seperti sering dengan tegas kau katakan kepadaku dengan suara kanakmu: "Aku Indonesia, Pah!", sementara Indonesia membuang ayahmu hingga jadi pengembara dan kita jadi terpisah. O, pandangan filosofis apakah gerangan ulah begini?! "Cordoba sayup dan sepi buah zaitun di kantong pelana terasa ajal menungguku di Cordoba" tulis Federico Garcia Lorca yang akhirnya dibunuh oleh Guarda Civil Franco, dan ingin kubikin variasi menjadi: " Indonesia sayup dan sepi buah ketapi di kantong kembara terasa ajal menungguku di Indonesia". Jika begini, filsafat apa gerangan yang mendasari penguasa politik dan yang dominan di Indonesia sekarang? Filsafat republiken dan berkindonesiaankah? Quo vadis para pemikir dan fakultas filsafat kita? Paris, Juli 2006. --------------------- JJ. Kusni [Selesai] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

